
Sekar mengulangi kembali permintaan anak bungsunya itu. Soal membuat rujak dari jambu air yang tumbuh di belakang rumah. Dan Jani mengangguk mantap. Dia memang menginginkan itu.
" Kak Radi atau Mas Dika aja ya yang manjat itu pohon," tawar Aryo kepada putrinya.
" No, maunya ayah yang manjat" kata Jani sambil menatap ayahnya.
Aryo langsung lemas. Ia heran kenapa putrinya bisa aneh gini. Dika yang merasa ada sesuatu pada adiknya langsung mendekat dan mencoba memeriksanya. Jani tentu tidak mengerti apa yang dilakukan oleh kakak keduanya itu. Dia tampak acuh.
" Dah yah, turutin aja. Calon cucu otw."
Aryo yang tadi lemas kini mendadak bersemangat. Senyum lebar ia tampilkan. Pun dengan Sekar ia langsung memeluk tubuh Jani, sedangkan Jani masih tetap tidak paham, yang ada dalam pikirannya saat ini ingin segera memakan rujak jambu air itu.
Silvya dan Hasna pun tersenyum kedua kakak ipar Jani itu ikut senang. Dengan begitu Nataya dan Yasa akan punya sepupu dan teman bermain.
" Si, inget nggak pas kamu minta dibikinin nasi goreng sama kak Radi?" tanya Dika kepada sang istri. Silvya hanya tersenyum malu saat mengingat saat itu. Radi yang ada di sana juga terkekeh geli. Saat itu padahal nasi goreng yang dia buat Radi sungguh tidak enak tapi Silvya bisa menghabiskannya sendiri.
" Semoga kucrit nggak minta aneh-aneh sama kita ya Ka?" ujar Radi yang ditanggapi acungan jempol oleh Dika. Tapi Dika mengatakan sebaiknya untuk lebih jelasnya di periksakan ke Dokter Lisa. Dan pasti ini Charles juga belum tahu.
Namun, sebuah kalimat syukur di ucapkan oleh Sekar dan Aryo. Dibalik apa yang terjadi ini ada sebuah kabar baik meskipun itu belum pasti.
***
Usai dengan rujaknya baik Dika maupun Radi segera kembali ke rumah masing-masing. Tentunya mereka harus antisipasi kalau si bontot itu minta aneh-aneh. Dna benar saja, Jani saat ini sedang menghubungi suaminya.
" By, kapan pulang?"
" Bentar lagi sayang, ada apa hmm?"
" By, nitip kerak telor ya. Sama es selendang mayang, dan nasi padang."
Di kantor WD, Charles kesusahan bernafas mendengar semua permintaan sang istri. Kerak telor mungkin masih ada. Lah es selendang mayang, dimana mendapatkan itu di jam-jam sore seperti ini. Tapi dia tetap menyanggupi apa yang diinginkan istrinya meski harus memutar otaknya.
__ADS_1
" Abang kenapa, kek frustasi gitu. Masih soal Vernon?" Tanya Cilla saat melihat Charles mengacak rambutnya.
" Bukan, kakak iparmu tuh. Kemarin tengah malam minta gudeg, abang bilang jam segitu nggak ada. Eeh ganti coto makasar, untung Ben dapet. Sekarang minta kerak telor sama es selendang mayang. Dimana coba nyari es itu?"
Cilla mengerutkan alisnya mendengar curahan hati sang baang. Tapi detik berikutnya Cilla tersenyum yang membuat Charles merasa heran.
" Kamu ih, orang abang lagi pusing juga malah senyum-senyum begitu."
" Bang, turuti aja. Mungkin itu maunya abang junior."
" Aku junior? Maksudmu?"
Cilla mengangguk dan Charles membulatkan matanya. Jantungnya berdegup kencang rasa senang di hatinya membuncah saat ini. " Apa maksudmu Jani hamil?"
Cilla kembali mengangguk. Tapi kemudian Cilla mengatakan, itu baru perkiraan. Charles ingat, Jani menjadi lebih agresif sata mereka berhubungan. Ia pun mengambil ponselnya dan mencoba mencari tahu melalui laman pencarian. Sebuah fakta ia dapat dari sana bahwa wanita hamil memang bisa menjadi lebih agresif sata berhubungan intimm.
Charles langsung bangkit dan bergegas keluar. Ia ingin mencari aoa yang diinginkan oleh sang istri. Sebisa mungkin Charles ingin memenuhi acara ngidamnya sang istri. Namun sebuah kekhawatiran pun muncul dibalik rasa senangnya.
" Aku harus lebih hati-hati lagi, Vernon masih menjadi ancaman."
Setelah memutari kota Charles tetap tidak bisa mendapatkan es yang diminta oleh Jani. Ia pun pulang ke rumah mertuanya hanya membawa kerak telor dan nasi padang. Wajah Charles murung, ia merasa tidak bisa memenuhi keinginan Jani yang sangat sederhana itu.
" Kenapa bang, kok murung gitu." Sekar yang melihat menantunya badu pulang itu langsung bertanya. Pasalnya wajah Charles ditekuk. Charles sedikit terkejut, ia kemudian mengucapkan salam dan mencium punggung tangan Sekar.
" Jani minta es selendang mayang bund, tapi udah saya puterin ini kota tapi tetep nggak nemu."
Sekar tersenyum, rupanya putrinya itu memesan makanan kepada sang suami. Ia merasa bahagia, Charles terlihat begitu berusaha untuk memenuhi keinginan Jani.
" Sudah tidak perlu dipikirkan, masuk yuk. Biar bunda buatkan saja. Bunda bisa kok."
Charles tersenyum. Ia langsung masuk ke rumah dan segera menemui Jani. Rupanya Jani berada di kamar. Terlihat istrinya itu sedang membaca sebuah buku.
__ADS_1
Melihat kedatangan Charles, Jani langsung bangkit. Mencium tangan dan membantu melepaskan pakaian kerja semuanya.
" Es nya nggak ada sayang, maaf ya."
" Nggak apa by, terimakasih sudah mau direpotkan. Aku nggak tahu kenapa jadi aneh-aneh gini maunya. Maaf ya kamu jadi harus double capeknya. Udah capek kerja ditambah capek nurutin maunya aku. Makasih by, makasih udah ngerti dan sabar ngadepin aku."
Charles langsung menarik Jani dan membawa ke dalam pelukannya. Ia berkali-kali mencium pucuk kepala istri kecilnya itu. Sungguh ia tidak menyangka, dirinya bisa begitu sayang dan cinta kepada Jani seperti saat ini.
" Aku mencintaimu istriku, Rinjani Nestia Dwilaga. Aku sungguh mencintaimu. Mari kita hidup bersama hingga maut menjemput."
" Aku juga mencintaimu om suami. Om-om ganteng nan seksi ini sungguh membuatku tidak akan bisa berpaling."
Keduanya tertawa bersama. Saat seperti ini mereka kembali mengingat kejadian dulu sebelum menikah. Dan tiba-tiba Jani ingat akan sesuatu hal. Surat perjanjian yang mereka buat waktu itu.
" By, surat perjanjian yang kita buat waktu itu, apakah milikmu sudah dibuang?"
" Kenapa menanyakan itu. Sudah sayang. Setelah kita melakukan 'itu' aku langsung menghancurkannya."
Pluk
Jani menepuk keningnya sendiri dengan telapak tangan. Dia melupakan hal penting itu. Seketika ekspresi wajah Jani menjadi cemas.
" Kenapa sayang, jangan membuatku takut."
" By, aku lupa. Aku belum membuang surat perjanjian itu. Aku juga belum menghancurkannya. Dan itu sepertinya ada di rumah kita by."
Charles menghela nafasnya pelan. Ia pikir ada sesuatu yang berbahaya. Misal, kertas itu jatuh tercecer di kampus. Rupanya ada di rumah.
" Owalah ku pikir apa. Ya sudah ngak pa-pa. Besok aku akan mengambilnya dna menghancurkannya. Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang makan dulu kerak telor sama nasi pandangnya. oh iya kata bunda, beliau mau membuatkan es selendang mayang itu. Turunlah dulu ke bawah aku akan mandi."
Jani mengangguk, ia pun turun ke bawah terlebih dulu. Namun hati dan pikirannya tidak tenang sola surat perjanjian itu. Dia merasa ada firasat buruk yang akan terjadi.
__ADS_1
" Semoga ini hanya perasaanku saja."
TBC