
Jani merengek terus untuk meminta pulang. Ia merasa sudah bosan berada di rumah sakit. Tapi sepertinya sang kakak belum memperbolehkan nya.
" Maaas pulaaang, aku bosen banget ini," rengek Jani kepada Dika saat kakaknya yang berprofesi dokter itu memeriksanya.
" Dua hari atau tiga hari lagi baru boleh pulang Kucriit," jawab Dika pelan.
" Om Bisma, pulang ya please."
Kali ini Jani meminta kepada sang om yang berkedudukan sebagai Dirut RSMH. Ya Bisma, adik sari Sekar itu saat ini sedang menjenguk sang keponakan. Mendapat kabar ponakannya kecelakaan Bisma langsung bergegas datang ke bangsal.
" Jangan dulu ya, belum saatnya."
Jawaban Bisma jelas membuat Jani mengerucutkan bibirnya. Ia sungguh bosan. Di sisi lain Charles hanya terkekeh geli melihat tingkah istri kecilnya itu. Tapi Charles yang melihat rengekan Jani merasa kasihan, ia tahu Jani merasa sudah tidak nyaman berada di rumah sakit.
" Dokter Dika, apakah Jani tidak bisa dirawat di rumah saja?"
Kali ini Charles angkat bicara, mata Jani jelas berbinar saat suaminya membela dirinya. Dika pun tersenyum kecil mendengar pertanyaan Charles. Ia kini tahu Charles benar-benar peduli terhadap adik bungsunya.
" Besok ya bang, besok Jani boleh pulang."
" Yes!!!"
Jani bersorak, paling tidak dia hanya akan di rumah sakit sampai malam ini saja. Ia pun mengucapkan terimakasih kepada Charles menggunakan gerakan bibir saja.
Selesai memeriksa Dika dan Bisma keluar dari bangsal Jani.
" Sepertinya mereka tidak seperti terpaksa menikah?" ucap Bisma kepada Dika.
" Iya Om, syukurlah. Mereka bisa menerima satu sama lain."
" Seperti kamu dan Silvya dulu bukan?"
__ADS_1
Dika terkekeh geli. Jika mengingat kisahnya dengan sang istri tak ada bedanya dengan Jani dan Charles. Sama-sama dituduh tanpa melakukan yang sebenarnya dituduhkan. Tapi kini dia bisa menjalani pernikahannya dengan sangat baik.
Di dalam ruang rawat, Charles duduk di kursi sebelah brankar. Ia kemudian mengusap lembut rambut istrinya itu. Sungguh Charles bari merasakan perasaan sedih saat melihat orang yang dicintainya itu terbaring sakit. Jani yang biasanya lincah melakukan segala hal terlihat tidak berdaya sekarang.
" Aku akan cari ART nanti. Biar bisa membereskan rumah," ucap Charles tiba-tiba.
Jani hanya mengangguk, ia tentu tidak bisa menolak seperti waktu itu. Pasalnya ia pun pasti tidak alan bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik mengingat bahunya yang terluka.
" Om, apakah boleh aku menginginkan sesuatu. Maksudku, aku ada hal yang ingin ku lakukan nanti."
" Apa itu?"
Jani mengambil nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. Sekarang dia sudah bersuami jadi apapun keinginannya ya harus ia sampaikan kepada suaminya. Bukankah jika suami ridho dengan apa yang dia lakukan akan melancarkan apapun yang dikerjakan?
" Om aku pengen buka toko kue. Jujur aku nggak pandai dalam bidang akademik. Aku nggak pinter kayak Kak Radi atau Mas Dika, aku juga nggak seluwes Bang Andra di depan kamera. Aku kadang ngerasa nol ketimbang ketiga kakak lelakiku. Tapi aku bersyukur mereka begitu menyayangiku. Nah aku merasa aku punya kelebihan di bidang memasak terlebih membuat kue. Nah aku pengen sekali bisa membuka toko kue. Apakah boleh?"
Charles awalnya sedikit terkejut. Ia tidak menyangka gadis yang ia anggap cuek dan sesukanya sendiri itu juga bisa merasa minder. Tapi jika dipikir-pikir apa yang dikatakan Jani ada benarnya juga.
" Lakukan, bila perlu besok kita bikin toko kuenya. Aku akan membuatkannya untukmu. Pilihlah desain yang kamu suka kita akan membuatnya."
" Waah terimakasih om. Aku sungguh senang tapi tidak."
Charles mengerutkan kedua alisnya. Ia bingung dengan istri kecilnya itu. Bukankah tadi Jani minta membuatkan toko kue? Tapu setelah charles setuju tiba-tiba Jani bilang tidak.
" Aku nggak ngerti sayang maksudmu."
" Om aku nggak mau langsung bikin. Aku maunya pelan-pelan aja dulu. Terima orderan kecil-kecilan, kalau udah jalan dan banyak yang suka baru buat tokonya."
Cup
Charles langsung mencium bibir mungil sang istri. Ia begitu gemas kepada istri kecilnya itu. Jani sungguh pribadi yang mandiri. Untuk ukuran bungsu wanita satu-satunya keluarga kaya raya Jani benar-benar diluar ekspektasi.
__ADS_1
" Sesuai keinginan ratu ku. Apapun yang kamu inginkan maka lakukan selama itu positif."
Jani tersenyum senang dan Charles kembali mencium bibir istrinya itu. Selanjutnya keduanya kembali saling menyesap sehingga suara cecapan terdengar merdu di ruang rawat yang hanya ada mereka berdua.
" Haishh sayang malam pertama kita harus ditunda lagi sampai kamu bener-bener sembuh," keluh Charles tiba-tiba.
Jani terkekeh kecil, ia baru ingat sebelum berangkat camping kemarin mereka sepakat untuk melakukan malam pertama setelah pulang dari camping. Tapi siapa sangka kemalangan menimpa Jani. Alhasil apa yang sidah direncanakan pastilah gagal.
" Maaf om, kan nggak ada yang tahu aku bakal kayak gini."
" Nggak apa-apa sayang. Mungkin aku disuruh sabar dulu ya kan, Tapi nanti aku tidak akan melepas mu."
Charles terkekeh dan Jani hanya merinding disko mendengar selorohan sang suami.
Di luar ruang rawat ada Rosa, Roberth dan Sekar, Aryo, mereka awalnya hendak masuk tapi urung saat melihat kemesraan Charles dan Jani. Orang tua kedua anal manusia yang berada di depan ruang rawat itu memilih balik kanan dan pergi.
" Sepertinya mereka begitu bahagia," ucap Rosa kepada Sekar.
" Iya mbak alhamdulillaah, semoga selamanya begitu sampai tua seperti kita."
" Aamiin."
Mereka berempat memilih pulang ke kediaman masing-masing. Tampaknya mereka memang harus membiarkan Jani dan Charles untuk berdua. Terlebih mereka juga belum melakukan bulan madu. Selepas Jani sembuh, Rosa akan meminta sang putra untuk membawa menantunya honeymoon.
" Semoga mereka selalu bahagia. Aamiin."
TBC
Hay readers, maaf ya hari ini othor up nya cuma satu yang Om Charles and Jani. Othor lagi pilek dna batuk parah.
Besok Othor usahakan up lebih ya
__ADS_1