Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 36


__ADS_3

Rombongan komunitas pecinta alam Universitas Nusantara sampai di lokasi. Satu per satu turun dari bis. Jani mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


Udara dingin, sejuk dan bisa dibilang sangat minim dengan polusi itu benar-benar menyegarkan untuk pernafasan. Jani mengeratkan jaket nya.


Ketua komunitas mulai memanggil dan mengumpulkan semuanya di sebuah padang. Hal yang pertama mereka lakukan adalah mendirikan tenda. Setiap kelompok yang berisi 4 orang akan mendapatkan satu tenda. Dimana mereka akan mendirikan tenda-tenda itu sendiri.


Di sini kerja sama kelompok akan dilihat. Tak hanya tenda, mereka juga diberikan alat masak untuk bisa memasak makan mereka sendiri. Meskipun nanti saat malam tim akan mengadakan acara barbeque tapi untuk makan siang dan mereka harus memasak sendiri.


" Huh, ini nih yang gue nggak suka kut acara beginian. Ribet banget iuuuuh."


Gerutuan keluar dari bibir Sella. Tidak hanya sekali tapi sepanjang kegiatan ia terus saja mengomel hingga teman sekelompok Sella jengah.


" Lo dari pada ngoceh nggak jelas mendingan bantuin kita, jangan sok jdi princes di sini," ucap anggota lain geram.


Bukannya menuruti apa yang katakan rekan kelompoknya, Sella malah melenggang pergi. Gadis itu mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Paundra. Sella benar-benar berusaha menempel kepada Paundra. Tekadnya mendapatkan Paundra sungguh sangat besar.


Tapi, tampaknya saat ini Sella sangat kesal karena melihat Paundra tengah berada di depan tenda milik Jani. Tangan Sella mencengkeram erat. Ia berjalan menghampiri mereka sembari menghentakkan kakinya.


" Oooh pantes cepet selesai, dibantuin. Gue juga bisa kalau gitu."


" Eh taun putri kalau nggak tahu nggak usah banyak ngemeng deh. Kita bukan kayak lo yang manja ya, tenda kita bisa berdiri karena kita berdiri sendri dan ini cowok yang lo kejar-kejar sama sekali nggak nyentuh barang secuil pun bagian dari tenda kami."


kali ini Jani berucap tegas dan pedas. Ia sungguh kesal dengan ulah Sella yang semakin hari semakin rusuh. Dia sudah berusaha untuk diam tapi bukannya diam, Sella malah semakin menjadi.


Paundra yang mendengar ucapan Jani merasa sedikit malu dan kesal. Pria itu malu kepada Jani karena faktanya memang dia tidak melakukan apapun. Dan, dia kesal kepada Sella yang kembali merusak rencananya mendekati Jani.

__ADS_1


" Ya udah Jan, aku balik ke tempat ku. maaf kalau mengganggumu."


" Ya silahkan, dan bawa juga nih tuan putri. Males banget gue ngadepin dia. Dan inget ya buat lo Sel, nggak ada sedikitpun niat gue buat deket sama Paundra. Gue nggak tertarik sama sekali."


Jleb


Paundra langsung ciut. Belum juga confers dia udah di cut duluan. Pria itu langsung melenggang pergi mengacuhkan Sella yang berteriak memanggil namanya dan mengekor.


Tari hanya terkekeh geli. Gadis itu mengacungkan kedua jempolnya tepat di depan wajah sang sahabat.


***


Acara hari itu berjalan dengan lancar. Kelompok Jani tentu sangat senang pasalnya Jani begitu pandai memasak. Bahkan Jani juga memberi bahan makanan dari rumah sehingga menu makanan mereka bervariatif. Jani juga mendapat pelajaran memasak nasi dari para kakaknya ketika naik gunung dan saat ini hal itu begitu berarti.


Malam hari acara ramah tamah dimulai. Bukan hanya sekedar bersenang senang tapi mereka juga membahas rencana-rencana komunitas mereka kedepannya.


Ia ingin menghubungi Charles dan bertanya, tapi apa daya signal tidak menjangkau daerah puncak. Jani membuang nafasnya kasar.


" Kenapa Jan," tanya Tari.


" Eh, nggak ada apa-apa kok."


Jani sedikit tergagap saat Tari menanyakan ada apa dengan dirinya. Tarui sendiri merasa aneh. Tidak biasanya sang sahabat begitu. Biasanya Jani akan selalu fokus terhadap sesuatu hal yang ia lakukan. Meskipun begitu Tari tidak ingin bertanya lebih. Dia juga tahu Jani adalah pribadi yang tidak suka jika urusan pribadinya terlalu dicampuri, kecuali gadis itu bercerita dengan sendirinya.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Udara sungguh sangat dingin, Jani yang mengambil air untuk wudhu pagi itu bergidik. Bulu kudunya merinding saat air menyentuh tubuhnya.


" Brrrr dingin bangeet," ucap Jani singkat.


Tari dan teman lainnya berinisiatif untuk memasak air dan membuat minuman hangat. Kebetulan sekali satu diantar teman kelompok mereka membawa wedang uwuh. Minuman yang berisi rempah-rempah itu tentu bisa membuat hangat tubuh karen ada potongan Jahe di dalamnya.


" Sini Jan, kita minum bareng-bareng dulu. Kita nggak perlu bikin sarapan kan?"


" Iya Tar nggak, soalnya dari penyelenggara nanti ada sarapan bareng."


Keempat gadis itu menikmati minuman hangat mereka. Tidak ada satu pun yang tahu termasuk Tari bahwa salah satu gadis itu ada yang sudah berubah statusnya. Dari belum menikah menjadi sudah menikah, hanya soal waktu saja mengubah hakikatnya dari perawan menjadi seorang wanita sudah menikah.


Tepat pukul 07.30, semua berkumpul di bagian tengah untuk melaksanakan sarapan. 30 menit waktu yang diberikan untuk mereka makan pagi. Setelah itu mereka harus mulai bersiap untuk menjalankan acara selanjutnya yakni penanaman seribu pohon. Bibit pohon sudah disiapkan oleh pihak perhutani. Ya, pihak universitas rupanya memang bekerjasama dengan pihak perhutani untuk penyelenggaraan acara ini.


" Baiklah, semuanya berkumpul sekarang. Setelah ini kita akan sedikit treking. Kita akan menanam pohon. Tidak ada batasan untuk setiap orang mau menanam berapa pohon. Tapi kita akan usahakan semua bibit yang diberikan oleh pihak perhutani bisa kita tanam semua."


Semua mengangguk paham dan lagi-lagi hanya satu orang yang terlihat enggan untuk melakukan itu. Sella, gadis itu bahkan tidak ikut acara ramah tamah semalam dan juga sarapan pagi. Ia memilih berada di tenda.


Pagi ini pun jika tidak terpaksa dia juga enggan untuk berkumpul. Tapi tiba-tiba sebuah seringai terbit di bibir gadis itu.


10 menit berlalu setelah pengarahan. mereka mulai berjalan sedikit ke atas sambil mulai menanam bibit pohon di bagian lahan yang sekitarnya tepat untuk ditanami. Terlihat wajah antusias di masing-masing anggota. tidak terkecuali Jani. Bahkan Jani mulai meninggalkan Tari dan beberapa rekanya karena ia begitu cepat melakukan tanam bibit pohon tersebut.


sambil bersenandung kecil Jani mulai menyekop tanah lalu mengeluarkan bibit itu dari polyback dan memindahkannya ke tanah. Saat jani hendak menutup lubang tersebut, tiba-tiba tubuh Jani terhuyung. Dia merasa ada sesuatu yang mendorongnya.


" Aaaaaah ... "

__ADS_1


TBC


__ADS_2