Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku-Perjaka Tua 08


__ADS_3

" Sorry om telat ... ."


Jani menghempaskan bokongnya di sebuah kursi tepat dimana ada Charles yang sudah duduk di sana. Jani, gadis itu benat-benar terlihat seperti gadis yang cuek. Penampilan Jani tidak seperti gadis-gadis kebanyakan. Bisa dikatakan Jani sedikit tomboy. Ia mengenakan celana panjang cargo warna army dipadukan dengan kemeja flanel. Jangan lupakan tas daypack di punggungnya. Sekilas Charles tahu apa yang dipakai Jani itu adalah merek Naure Outdoor kepunyaan sang teman Arjuna Dewantara.


" Hampir setengah jam aku menunggumu di sini. Kamu sungguh tidak disiplin ya."


" Bukan gitu om, tadi tuh ke sini aku ngangkot. Motorku entah kemana, ilang diparkiran kampus. Semua gara-gara cewek rese itu."


" Motor?"


Jani mengangguk mendengar pengulangan kata yang dilakukan oleh Charles. Sepertinya pria dewasa itu benar-benar tidak habis pikir dengan gadis di depannya. Siapa yang tidak tahu keluarga Dwilaga, dan ini putro bungsunya sepertinya suka sekali membuat dirinya lain dari keluarga.


" Oh iya kapan kamu lulus?" Charles bertanya menyelidik.


" Ehmmm, harusnya sih satu tahun lagi om."


" Harusnya?"


" Iya, tapi kayaknya bakalan mundur soalnya aku beberapa nggak lulus makul gara-gara bolos."


Pluk


Charles menepuk keningnya pelan. Tampaknya hari-harinya bakalan menjadi berat setelah menikahi Jani nanti. Sepertinya aku akan jadi pengasuh kali ini, batin Charles dalam hati.


Meskipun mereka sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing yang mana sudah mereka tuliskan dalam surat perjanjian tapi bagaimanapun mereka menikah secara agama dan negara. Dimana hal tersebut menjelaskan bahwa mereka benar-benar suami istri yang sah.


Charles jelas tidak bisa menutup mata, ada banyak hal tugas suami yang akan dia emban nanti. Salah satunya mendidik sang istri.


Charles akui, dia bukanlah ahli agama. Tapi petuah dari mommy dan daddy nya mengenai tugas seorang lagi sebagai kepala rumah tangga menjadi pemikirannya sendiri.

__ADS_1


Laki-laki sebagai kepla rumah tangga bukan hanya sekedar mencari nafkah. Menyayangi, dan membimbing istri juga adalah hal yang tak kalah penting. Dan satu lagi, turut andil dalam pendidikan anak-anak nya di rumah.


Mengapa sepertinya Charles tahu begitu banyak? Roberth lah yang mencontohkannya langsung kepada anak-anaknya. Bagaimana Robeth dulu menyempatkan mengajak main anak-anak setelah pulang kerja. Ikut membantu menyuapi anak-anak, membagi tugas dengan Rosa dalam mengerjakan pekerjaan rumah.


Satu hal yang ditekankan Roberth kepada Charles," Kamu itu menikahi wanita bukan untuk kau jadikan sebagai pembantu di rumah yang mengurusi segala keperluan rumah dan keperluanmu sendiri. Menikah itu adalah kerja sama, jadi bekerja sama lah dalam mengurus rumah dan juga mengurus anak-anak."


Kini saat melihat Jani, Charles membuang nafasnya kasar. Tampaknya tugasnya tidak akan mudah kali ini.


" Baiklah kalau begitu, tapi aku harap kamu bisa menyelesaikan kuliahmu dengan benar."


" Jangan mulai deh om, kan kita udah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing"


" Iya tahu, tapi bagaimanapun juga selama setahun ke depan kita adalah suami istri. Ada hak dan tanggung jawab dari diri kita dalma rumah tangga ini. Bukankah begitu?"


Jani sesaat terdiam apa yang dikatakan pria dewasa yang saat ini duduk di depannya itu 100% benar. Jani pun membuang nafasnya kasar. Ia kemudian mengangguk setuju dengan ucapan Charles.


" Aku nggak suka repot om, simple aja udah."


Charles sebenarnya sudah tahu jawab Jani. Tapi mau bagaimana juga dia harus bertanya. Charles tidak mau terkesan semuanya dia yang mengaturnya.


" Baiklah, aku akan mengirim WO ke rumah nanti. Pilihlah sesuai keinginanmu."


Jani hanya mengangguk sebagai respon dari ucapan Charles. Suasana menjadi sunyi saat tidak ada lagi pembicaraan dari keduanya. Charles meminum kopi panasnya dan Jani memakan chiffon cake favoritnya. Mereka asik dengan kegiatan mereka masing masing hingga ponsel keduanya sama-sama berbunyi.


" Halo."


Baik Jani maupun Charles berbicara melalui panggilan telepon. Keduanya terlihat sama-sama mendengarkan dengan seksama apa yang orang dari seberang itu bicarakan. Tapi jelas sekali perbedaan ekspresi keduanya. Jika Jani terlihat begitu senang, maka Charles sepenuhnya tidak. Kening pria itu berkerut dan hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya.


" Kenapa?" Keduanya bertanya bersamaan. Tapi Charles berkata untuk Jani bicara dulu." Kamu dulu."

__ADS_1


" Motorku ketemu, tadi yang telepon Kak Radi. Katanya motorku udah ketemu."


" Bagus. Kalau begitu segeralah ambil motormu. Aku akan mengantarmu."


Jani hanya terpaku saat Charles bangkit dari duduknya dan berlalu dari hadapannya. Ia pikir, Charles akan mengatakan siapa yang menghubunginya tadi. Terlebih bisa Jani lihat wajah Charles begitu kusut.


Sesampainya di mobil Jani akhirnya memberanikan diri untuk bertanya mengenai apa yang terjadi. " Lalu, om belum memberitahuku Siapa yang menelpon Om tadi."


" Agatha Cyntia, dia datang ke kantor mencari ku dan ... sedikit membuat kekacauan."


Jani hanya ber-oh ria tapi seketika matanya membulat saat mendengar nama model terkenal itu disebut oleh Charles. Keningnya berkerut, Jani mencoba menelaah ada hubungan apa antara Charles dan Agatha Cyntia. Apakah mereka berkencan? Jani kemudian menggelengkan kepalanya cepat. " Itu semua bukan urusanku," gumam Jani lirih.


Mobil Charles melaju dengan cepat membelah jalan raya menuju Universitas Nusantara. Sesampainya di depan gedung Universitas, Charles menurunkan Jani. Jani mengucapkan terimakasih sejenak lalu pergi dari sana berlari masuk ke dalam lingkungan kampus.


Di parkiran sudah ada sang kakak yang melipat kedua tangannya di dada. Dengan pandangan mata yang tajam, Radi melihat ke arah adik bungsu perempuan satu-satunya itu. Dosen muda tersebut membuang nafasnya kasar. Tidak habis-habis adiknya itu membuat ulah.


" Wohooo, tunggu ini bukan ulah ku ya kak. Ada yang sengaja mengerjai ku."


" Kamu cari gara-gara dengan dia memangnya?"


Jani menggeleng cepat, ia tidak pernah mencari masalah dengan si Drazela itu. Tapi gadis itu selalu yang mencari gara-gara dengannya. Bahkan saat di club tempo hari juga karena dia. Sungguh dia layaknya saudara tiri di drama cinderella. Bukan hanya namanya saja yang mirip tapi kelakuannya pun sama.


" Tuh udah kakak turunin dari pohon motormu. Lain kali bawalah mobil Jan."


" Males kak, macet. Enakeuuun motor ye kan. Bisa selap selip. Ya udah Jani pulang dulu."


Radi hanya membuang nafasnya kasar. Terbesit doa dalam diri pria itu semoga adiknya bisa berubah ketika sudah menikah nanti.


TBC

__ADS_1


__ADS_2