Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 57


__ADS_3

Holla Readers, kalian semua belum bosen kan sama Charles & Jani. Kalau udah bosen, Othor udahan nih hehehe. Terus dukung Charles -Jani ya, biar masih bisa eksis. Jangan lupa sawerannya. Kalau belum bosen bilang ya di komen heheh. Happy reading guys.


...****************...


Cilla merasa bingung dnegan apa yang dikatakan oleh Darius tadi. Ia merasa pria yang baru beberapa kali bertemu dengannya itu memiliki ketertarikan pada dirinya. Bukannya gede rasa atau ge-er, tapi Darius memnag bersikap aneh.


Pluk


Sebuah tepukan di bahunya membuat Cilla terperanjat. Saat menoleh ke belakang rupanya sang abang lah yang melakukannya.


" Jangan ngelamun mulu nanti jodohnya jauh."


" Berarti abang dulu tukang ngelamun ya. Tuuh, umur 33 tahun baru ketemu sama Kak Jani."


" Kampret."


Cilla tertawa terbahak-bahak. Senjata makan tuan itu namanya. Niat hati Charles ingin mengejek sang adik, malah dia yang kena mental karen omongannya dikembalikan oleh Cilla.


" Makanya, ngaca dulu sebelum ngomong. Kan jadi boomerang."


" Aish, gie slepet juga nih bocah. Lagi mikirin apa? Jangan-jangan lagi mikirin cowok tadi ya."


Cilla langsung mengalihkan pandangannya ke arah kertas-kertas yang ada di meja. Ia tidak ingin ketahuan oleh abangnya kalau memang sedang memikirkan Darius.


" Nggak usah sok sibuk. Kalau memang iya juga nggak pa-pa. Lagian kamu udah cukup umur buat nikah. Tapi jangan keburu-buru. Kenali dulu orang itu, bagaimana pribadinya. Jangan sampai menyesal belakangan."


Charles mengusap kepala Cilla lalu melenggang keluar dari ruangan sang adik. Gadis itu tersenyum, abangnya memnag begitu pengertian. Umur yang sedikit berjarak antara dia dan Charles malah membuat keduanya begitu dekat.


" Abang selalu yang terbaik."

__ADS_1


Charles berjalan ke ruangannya sambil berpikir. Ia senang Cilla mulai memikirkan kehidupan pribadinya. Tapi sejenak ada rasa tidak rela dalam hati Charles. Adik kecilnya itu yang dulu ia sering gendong mulai dewasa dan mungkin sebentar lagi akan di bawa orang lain pergi dadi rumahnya.


Seketika Charles teringat kepada istrinya. Jani adalah bungsu dari empat bersaudara, dan ketiga kakaknya laki-laki. Ia yakin saat Jani menikah perasaan kehilangan dari ketiga kakak lelakinya pasti begitu besar.


" Sekarang aku ngerti apa yang dirasakan Radi, Dika dan Andra. Mereka pasti berat juga melepas Jani. Keinginan dalam hati mereka pasti ingin Jani mendapat kasih sayang lebih dari pendampingnya dan diperlakukan dengan baik, karena itu yang saat ini aku rasain. Aku ingin Cilla sapat pria yang baim dan bisa menyayangi Cilla. Jadi aku harus sellau baik sama Jani agar Cilla pun selalu diperlakukan baik sama suaminya kelak. Aaaiiih jadi kangen istri."


🍀🍀🍀


Di kantin kampus jam nakan siang, Jani hampir tersedak kuah bakso saat mengetahui Tari dan Lim berpacaran. Beberapa waktu dia tidka masuk ke kampus, sudah banyak sekali berita yang ia lewatkan.


" Kampreet, lo bikin gue hampir pindah alam gara-gara tersedak bakso. Kan nggak lucu nanti beritanya, putri pemilik kampus gone gara-gara keselek kuah bakso saat jajan di kampus."


Plak


Tari menepuk lengan kiri Jani sedikit lebih keras. Bicara nyablak Jani masih belum berkurang sedikit pun meskipun sudah menikah.


" Kalau ngomong sembarangan ih."


Tari memutar bola matanya dengan malas mendengar penuturan Jani. Awalnya dia tidak mau bercerita, tapi ia butuh saran dari Jani. Jujur Tari masih ragu dan takut dengan keputusannya berpacaran dengan Lim.


Lim Eka Prayoga adalah pertama keluarga Prayoga yang memiliki bisnis kuliner lumayan besar di kota J. Chinese Food merupakan unggulan dari restoran milik Keluarga Prayoga. Terlebih memang Lim adalah keturunan China-Jawa. Hal itulah yang membuat Tari minder. Ia takut jika hubungan mereka di tentang.


" Jadi maksud lo, lo nggak mau lanjutin hubungan lo ini? Lo nggak cinta ma tuh bocah?"


Pertanyaan Jani ditanggapi dengan anggukan kepala saja oleh Tari. Tapi detik selanjutnya gadis itu menggeleng.


" Apa an dah, gue nggak ngerti."


" Iya dan enggak Jan. Iya gue mau stop jalanin ini sama Lim, meskipun gue akui, gue cinta sama dia tapi sebaiknya gue sadar diri. Sebelum cinta ini berkembang gie mending kubur dalam-dalam. Gue bakal kelarin kuliah dan kerja buat ngangkat derajat ortu gue dulu. Gue kemarin mikir mateng-mateng soal ini. Awalnya gue pikir buat terima Lim karena kita mau pengenalan ya pacaran dulu. Tapi dari yang dia bilang, dia udah serius ma gue. Bahkan 2 tahun lagi mau ngelamar. Bukannya gue nolak jodoh, tapi gue mau bikin bangga dulu ortu gue yang udah susah payah kuliahin gue di sini."

__ADS_1


Jani tentu paham pa yang dikatakan oleh Tari. Tidak semua orang memiliki ekonomi yang beruntung seperti dirinya. Kadang Jani merasa malu kepada Tari, dia selalu ogah-ogahan untuk kuliah padahal dari segi apapun dia begitu dimudahkan. Tapi Tari, temannya itu harus berusaha keras untuk bisa kuliah.


" Gue dukung setiap keputusan lo. Coba aja bicara baik-baik dengan Lim. Gue yakin dia bisa ngerti. Kalau kalian jodoh, mau 5 atau bahkan 10 tahun lagi pun tetap akan bersatu."


" Thanks Jan, lo emang selalu ngerti gue."


Tari menghambur ke pelukan Jani. Ia merasa sangat lega setelah mengatakan isi hatinya kepada sang sahabat. Sekarang PR nya hanya tinggal bicara kepada Lim.


" Hai, udah kelar makannya?"


" Pucuk dicinta ulam pun tiba. Selamat berbicara Tar, gue undur diri dulu. Nyari rujak enak kayaknya."


Jani melenggang pergi meninggalkan kedua temannya itu. Dia jelas tidak ingin ikut campur dalam urusan tari dan Lim.


" Ada apa hmm, mengapa Jani berkata begitu? Apa ada yang mau kamu katakan?" Tanya Lim langsung kepada Tari setelah Jani benar-benar berjalan pergi meninggalkan mereka.


" Ini soal kita Lim, Aku ... aku rasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini," ucap Tari dengan suara yang begitu pelan. Sebuah tarikan nafas dilakukan oleh Lim, ia sudah menduganya. Tari pasti akan mengatakan hal tersebut. Ia pikir Tari tidak akan berpikir hal itu.


" Gara-gara keluargaku?"


" Tidak sesederhana itu Lim, aku hanya ... ."


Tari mengulang perkataannya, yang tadi ia sampaikan kepada Jani kini ia sampaikan juga kepada Lim. Soal keinginan dan cita-citanya. Tentang harapan yang ingin dia lakukan untuk kedua orang tuanya. Semuanya ia sampaikan kepada Lim.


Lim terlihat diam saja. Tidak ada reaksi yang bisa Tari tangkap. Apakah pria di depannya itu mengerti atau tidak, Tari tidak tahu.


" Huuuft, jadi seperti itu. Aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku sebelum suatu saat menikah. Maaf." Kalimat itulah yang Tari gunakan untuk menyelesaikan semua isi hatinya kepada LIm.


" Aku paham, lakukanlah itu. Aku mengerti apa ang kamu maksud. Dan ... aku akan menunggu. Kejarlah cita-citamu, wujudkan keinginanmu, tapi ... jangan pernah menyuruhku untuk pergi dari mu."

__ADS_1


TBC


__ADS_2