
" Hei, pa kamu tidak apa-apa?"
Seorang gadis SMA menghampirinya saat Ia terjatuh dari motonya. Waktu Vernon baru saja jatuh dari motor. Dia tidak berkata apapun tapi gadis itu membantunya berjalan ke samping jalan. Ia juga membantu untuk mendirikan motor nya yang jatuh.
" Lukamu lumayan? Apa mau ke rumah sakit? Aah sebentar,"
Gadis itu membuka tasnya. Sebuah kotak P3K dikeluarkan dari sana. gadis berseragam putih abu-abu dengan motor jadulnya itu membatu mengobati luka yang ia dapat di tangan dan kaki nya. Balutan lukanya sungguh rapi. Vernon sama sekali tidak merasa sakit karena selama gadis itu mengobati, ia terus melihat wajahnya. Cantik natural, gadi itu tidak menggunakan make up, malah saat ini wajahnya dialiri keringat. Namun, itu membuat wajah gadis itu semakin menawan.
" Baiklah, sudah. Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit. Nanti aku dicari ayah dan bundaku kalau tidak segera pulang. Bye ... semoga lekas sembuh."
Gadis itu terus bicara. ia memasukkan kembali kotak P3K nya dan beranjak, siap untuk pergi mengendarai motornya.
" Tunggu, siapa namamu?"
" Aaah, aku Rinjani.Panggil saja aku jani."
" Aku jayden, terimakasih Jani untuk pertolongannya."
Gadis SMA yang menolong Vernon itu rupanya adalah Jani. Jani mengacungkan ibu jarinya ke udara lalu melesat pergi dengan motor lawasnya itu. Vernon tersenyum, baru kali ini dia melihat gadis yang mau naik motor seperti itu.
Kecantikan alami jani membuat Vernon mulai membuat desai perhiasan. ya, itulah awal mula dia membuat sebuah desai perhiasan. Ia memperuntukan desain itu bagi Jani. Tapi setelah pertemuan pertama itu, Vernon tidak pernah lagi menemui Jani. Sialnya juga dia tidak bisa melihat informasi sekolah yang biasanya berada di baju seragam. Soalnya waktu itu Jani mengenakan jaket. Alhasil pertemuan pertama itu menjadi pertemuan terakhir bagi Vernon.
Dan beberapa tahun berlalu Vernon sungguh terkejut saat melihat foto Jani di media sosial. ia awalnya senang karena bisa melihat Jani lagi. Wajah Jani sama sekali tidak berubah. Tapi rasa senangnya harus luruh saat melihat Jani bersanding dengan Charles diatas podium. Terlebih saat Charles yang adalah bos nya itu mengumumkan pernikahan mereka.
Vernon sungguh tidak terima. Ia tidak suka Jani dimiliki orang lain. Dan niat buruk Vernon pun di mulai.
" Arghhhh, kenapa sih. Kenapa aku baru nemuin kamu sekarang. Kenapa kamu jadi istri Si Charles. Tidak, aku tidak bisa membiarkan ini. Aku dulu yang menemukanmu. Aku yang berhak memiliki kamu. Bukan laki-laki lain apalagi Charles. Lihat saja, aku pasti akan bisa mengambil kamu dari sisi pria tua itu."
Vernon mengeram marah di ruangannya. Ia semakin benci melihat Charles. Dan kebencian itu bertambah saat mengingat senyum Charles yang mengembang saat mengenalkan Jani sebagai istrinya.
__ADS_1
Vernon mengambil tablet nya, Ia membuka file desain yang pertama kali ia ciptakan. Vernon tersenyum saat kembali melihat desain itu. Ia kemudian memiliki sebuah ide.
" Hallo Martin, aku ingin buat satu perhiasan. Ini khusus, jika kamu mengizinkan aku akan memberimu 3 buah desain gratis. kamu tidak perlu memberi aku royalti untuk 3 desain itu. Bagaimana?"
" Boleh saja, bawa kemari desain perhiasan itu. Nanti aku akan membuatkannya. Dan perlihatkan kepadaku 3 desain yang kamu janjikan."
" Oke, nanti malam aku akan ke rumahmu. Aku tidak ingin lagi bertemu di perusahaan mu sebelum masa kontrakku dengan William Diamond berhasil."
Martin menyetujui keinginan Vernon. 3 desain gratis tanpa royalti sama sekali, tentu itu menguntungkan baginya. Bagi bisnisman seperti dia maka hal itu adalah sebuah tambang emas. Terlebih Vernon kemarin meminta royalti 15% dari setiap desain yang dia buat.
🍀🍀🍀
Selesai ujian Jani bergegas untuk pulang. Tidak, Jani tidak Jani pulang. ia tiba-tiba ingin ke perusahaan milik sang suami. Awalnya Jani ingin memesan ojek online, tapi mengingat Charles masih melarangnya untuk naik motor maka dari itu Jani akhirnya memilih memesan taksi online.
Jalanan siang itu sedikit macet, sekitar satu setengah jam Jani baru sampai ke William Diamond. Semua memberi salam kepada Jani, mereka tahu wanita yang baru saja urun dari mobil itu adalah istri dari bosa mereka sekaligus seorang putri dari keluarga Dwilaga.
Pak Pur, security dari William Diamond itu langsung berinisiatif untuk mengantar Jani ke ruangan Sang Bos.
" Terimakasih pak."
Saat Jani masuk ke lift, Vernon keluar dari lift yang satunya. Vernon melihat sepintas Jani, tapi saat ia hendak memanggilnya, pintu lift tersebut sudah menutup.
" Itu jani, aku yakin itu adalah Jani."
Vernon menekan tombol lift dan ingin segera mengejar jani. Tapi sialnya lift tak kunjung terbuka. Vernon pun berlari menuju tangga. ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang telah menggetarkan hatinya semenjak pertama bertemu.
Tring
Suara lift berbunyi menandakan lantai yang dituju sudah sampai . ak Pur langsung menunjukkan ruangan Charles. Jani mengucap terimakasih lalu masuk ke dalam ruangan bos besar William Diamond.
__ADS_1
"Om suamiiii i'm comiiiing!!!"
Tanpa basa-basi Jani langsung menghambur ke pelukan Charles. Di luar Pak Pur sedikit terkejut. Tapi kemudian ia tersenyum, terlihat sekali wajah bos nya begitu bahagia di datangi oleh sang istri.
" Kenapa tidak bilang mau kemari hmmm?" tanya Charles sambil menyingkirkan surai rambu sang istri yang mengenai wajahnya.
" Om Suami pasti nggak mungkin pulang cepet, maka dari itu mending aku samper ke sini. Betul apa betul?'
Charles terkekeh geli melihat istrinya yang semakin hari semakin menggemaskan itu. Tapi sebuah suara membuat Jani terkejut. rupanya di ruangan itu tidak hanya ada suaminya melainkan ada asisten suaminya. Seketika Jani melepaskan pelukannya terhadap Charles. Wajah Jani memerah layaknya tomat yang masak di pohon. Malu, itulah yang Jani rasakan.
" Hallo Nyonya Bos, apakah ujiannya lancar hari ini,"tanya Benzo basa-basi.
" Eeeh, Alhamdulillah baik kak Ben," jawab jani sedikit gagap.
Sebuah kontak mata di dapat Ben dari Charles. Ia tentu paham betul bahwa dirinya harus segera menyingkir dari tempat itu. lagi pula jika dia tetap berada di sana, percayalah hanya akan terbakar melihat pasangan pengantin yang hitungannya masih lumayan baru ini.
" Kok nggak ngomong sih kalau ada Kak Ben di sini?'" protes Jani kepada Charles.
" Laah, kamu nya yang langsung nyruduk aja."
Charles hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat bibir Jani yang manyun. Tapi detik selanjutnya Charles sudah meraup bibir Jani. Gayung pun bersambut, jani membalas ciuman Charles. Ciuman itu semakin dalam dan menuntut saat Jani mulai melonggarkan dasi dan membuka kancing baju Charles satui per satu. Tangan Jani sudah mulai bergerilya meraba dada bidang sang suami.
" Sayang, apa yang kamu lakukan hmmm. Apa kamu menginginkannya? Aku tidak punya ruang istirahat di sini."
" By, ayoo pulang ... ."
Charles mengangguk, Jani menggigit pelan leher Charles sebelum mereka kembali ke kondisi normal. Charles sedikit heran dengan istrinya, Jani tampak berinisiatif lebih dulu. Meskipun begitu, Charles tentu suka dengan apa yang Jani lakukan. Terlebih jani sedikit agresif dari pada sebelumnya.
Apa yang Jani dan Charles lakukan baru saja ternyata dilihat oleh seseorang. Orang itu mengepalkan tangannya marah. Dia tamak tidak suka dan tidak terima dengan apa yang Charles lakukan kepada Jani.
__ADS_1
" Tidak, tidak boleh. Dia hanya milikku!"
TBC