
" Selamat Tuan Charles dan Mbak Jani, kalian akan jadi orang tua sebentar lagi. Kehamilan Mbak Jani sudah 2 minggu. Selalu jaga kesehatan ya. Saya akan meresepkan vitamin. Jangan stress dan terus makan makanan yang bergizi."
Semua mendengar penuh rasa bahagia dan haru saat Dokter Lisa mengatakan hal tersebut. Terlebih print usg itu sudah berada di tangan Jani dna Charles. Air mata Jani lurus juga oun dnegan Charles. Keduanya jelas tidak menyangka akan diberi rezeki yang cepat seperti ini.
" Terimakasih sayang," ucap Charles memeluk sang istri.
Sekar, Dika dan Andra bergantian memberi selamat kepada Jani dan Charles. Kehamilan Jani menjadi berita bahagian bagi keluarga besar Dwilaga dan William. Rosa dan Roberth bersorak senang. Ini adalah cucu pertama bagi mereka.
Hal ini semakin menjadikan Charles lebih waspada dan protect terhadap Jani. Charles menjadi mantap untuk tinggal sementara di rumah mertuanya. Di sana ia yakin lebih aman.
" Jadi mari kita pulang."
" By, ke rumah kita dulu yuk. Ambil buku. Kemarin buku-bukunya belum sempet dibawa semua."
Charles mengangguk. Ia kemudian mengatakan kepada Sekar dan Andra bahwa mereka akan pulang sebentar. Sekar mengerti, ia terlebih dulu akan kembali bersama Andra.
" Sayang, mau bunda bikinkan makanan apa untuk makan siang?"
" Ehmm, apa aja bund. Lagi nggak pengen apa-apa sekarang."
Sekar tersenyum. Mereka kemudian berpisah di parkiran. Charles dan Jani menuju kediaman pribadi mereka, lalu Sekar dan Andra pulang ke kediaman Dwilaga.
Sepanjang perjalanan ke rumah Jani tampak tidak tenang. Sedari tadi Charles lihat istrinya itu meremass kedua tangannya sendiri. Jani sesekali juga mengusap perutnya yang masih rata.
" Ada apa? Kok gelisah gitu kayaknya?"
" Entah by, aku nggak tahu. Tapi ... perasaanku nggak enak."
" Istighfar sayang."
__ADS_1
Jani melakukan apa yang Charles katakan. Selama di dalam mobil menuju ke rumah pribadi mereka Jani tak putus untuk beristigfar.
Ckiiit
Charles menghentikan kendaraannya tepat di depan rumah. Ia melihat ke sekeliling rumah tapi semua terlihat baik-baik saja dan apa yang dikhawatirkan Jani tidak terbukti. Namun lain dengan Jani, ibu hamil itu langsung turun dna bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Charles. Ia memindai seluruh isi rumah, tidak terjadi apapun di sana. Tapi Jani masih belum juga tenang.
" Sayang, pelan-pelan. Semua oke kok."
" Nggak by, aku merasa rumah kita ada sesuatu."
Charles tidak mengerti, semenjak hamil Jani memang sedikit berbeda. Tapi Charles membiarkan itu, ia memilih pergi ke dapur untuk membuat minum.
Jani kemudian masuk ke dalam kamar mereka. Tidak yang berbeda di sana. tapi ada satu hal yang Jani sadari. Ada sebuah perubahan di tempat tidur mereka.jani yakin saat meninggalkan rumah, kasur itu tertata rapi. Tapi ini gulingnya jatuh ke lantai. Jani semakin yakin ada seseorang yang memasuki rumah mereka.
ia pun memeriksa semua barang yang ada di sana. Tidak ada tanda-tanda pencurian. Jani kemudian duduk dan mengambil nafasnya dalam-dalam.
Jani berdiam sejenak. Ia mencoba berpikir sesuatu yang sepertinya ia lewatkan.
Sreeet tap tap tap
Jani bangkit dari duduknya dengan cepat hingga sprei di atas ranjang sedikit ketarik karena tadi tangannya mencengkeram saat berpikir. Ia berjalan dengan sedikit berlari menuju ke kamar sebelah.
ternyata pintu kamar sebelah, kamar yang ia tempati dulu saat pertama kali ke rumah itu sudah terbuka sedikit. Jani bergegas masuk. ia terkejut saat mendapati lemari bajunya terbuka dan tidak ada satupun pakaiannya berada di sana.
Jani mendekat dan memastikan lagi. Benar, semua bajunya hilang dan yang membuat Jani terduduk lemas adalah surat perjanjian itu pun juga tidak ada. Jani hanya menemukan sobekan kertas kecil yang tersisa di sana.
" By ...!!!!" Teriak Jani begitu keras. Charles yang masih berada di daur sungguh kaget. ia meletakkan gelas yang abru saja dia ambil lalu berlari ke arah istrinya.
" sayang, kamu kenapa? Jani, kamu jatuh? sayang ... ." Wajah Charles seketika pucat saat melihat Jani yang duduk di lantai. pikiran Charles sudah melayang kemana-mana. Yang ada dalam pikirannya Jani jatuh. tapi Charles kemudian bernafas lega saat jani menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Terus kenapa berteriak. Aku hampir jantungan tadi."
" By, ada yang masuk ke rumah kita by. Lihatlah semua baju ku hilang. Tapi bukan itu yang penting, yang penting adalah surat perjanjian itu hilang. Aku meletakkannya di lemari itu. Bodoh ... bodoh ... Aku sungguh bodoh tidak segera menghancurkan kertas itu. by, itu pasti akan jadi masalah. Maaf, maafkan kecerobohanku."
Jani menangis tergugu sambil terus memukuli kepalanya. Charles langsung memeluk sang istri. Sungguh istrinya ini sangat sensitif sekarang. Charles mencium pucuk kepala Jani lalu mengusap pelan punggungnya agar lebih tenang.
" Apakah Vernon yang melakukannya? sebentar mari kita cek kamera pengawas."
Sebenarnya Charles juga panik, tapi dia harus bisa tenang di depan sang istri. Dalam pikiran Charles sudah jauh ke depan, ia sudah memprediksi apa yang kira-kira akan dilakukan oleh pria obsesi itu.
Charles membawa Jani menuju ke ruang makan. ia mengambilkan minum dan meminta istrinya itu untuk minum agar lebih tenang. Charles kemudian membuka ponselnya dan membuka kamera pengawas yang terhubung ke ponsel. Jani setelah menenggak air putih yang diberikan Charles ikut melihat apa yang terjadi.
Dan benar saja, orang yang masuk ke rumah mereka adalah Vernon. Jani bergidik ngeri saat melihat apa yang dilakukan Vernon. Ia bahkan sampai menutup mulutnya sendiri dengan tangan karena saking terkejutnya.
Vernon menciumi setiap pakaian milik Jani. Ia juga mengusap-usap bantal yang ada di kamar itu dan sejenak merebahkan tubuhnya di sana. Ekspresi Vernon yang membuat Jani merinding, kadang tertawa dan kadang juga marah.
" By, itu sungguh menakutkan."
" Sakit, dia sakit sayang. Ini sungguh berbahaya."
Mereka melihat semuanya hingga kahir. Dan part ini adalah part yang paling penting yakni surat perjanjian itu benar-benar diambil oleh Vernon. Vernon terlihat menyeringai dan tertawa puas saat melihat surat perjanjian itu.
" By, kita harus segera menemukan dia dan menghancurkan surat itu. Aku yakin ini akan jadi maslah besar. Ya itu memang kita pernah kita lakukan dulu. tapi sekarang kita sudah menerima pernikahan ini. bahkan aku sedang mengandung anak mu."
" Iya sayang, aku tahu. Kamu jangan panik ya. Inget, kata Dokter Lisa kamu tidak boleh stres. Serahkan ini pada ku. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah hati-hati. Sebaiknya utuk sementara ini jangan pergi kemana-mana dulu oke."
Jani mengangguk, ia tentu tidak akan kemana-mana. vernon ini sungguh sakit. bukan perkara mudah menghadapi orang yang punya sakit jiwa seperti itu.
TBC
__ADS_1