Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 45


__ADS_3

Jani benar-benar tidak melepaskan pandangan matanya dari sang suami. Kemanapun Charles bergerak Jani mengikutinya.


" Ada apa hmmm,mengapa dari tadi melihatku. Apa ada yang salah dengan diriku?" Charles yang selsai menjalankan kewajiban 4 rakaat itu melipat sajadah dan sarungnya lalu naik ke atas tempat tidur dan bersandar di headboard sebelah sang istri.


" Nggak ada yang salah om, tapi aku baru menyadari bahwa Om begitu tampan dan pastinya seksii." Jani berucap secara gamblang membuat Charles sedikit terkejut. Tapi sedetik kemudian pria itu tersenyum. Rupanya istri kecilnya itu memang suka berterus terang akan sesuatu hal, seperti saat ini. Jani memuji Charles dengan cara terang-terangan.


" Aduuh, aku jadi ingin menunjukkan betapa seksinya aku tanpa pakaian sama sekali, mau melihatnya?"


Mata Jani membulat sempurna saat Charles mengatakan hal tersebut, terlebih saat Charles membuka kaso yang membalut tubuh kekarnya itu.


"Om mau apa, aku masih sakit ini?"


" Emang kamu mikirnya aku mau apa hmm? yang sakit kan tanganmu tapi bawah itu nggak."


Tambah syok saja Jani mendengar ucapan frontal suaminya. ia tidak menyangka Charles akan berkata seperti itu. Apalagi saat ini bibirnya sudah dicium oleh Charles dengan lembut. Pria itu juga menarik tangan kiri Jani dan meletakkan ke otot perutnya.


" Bagaimana apakah kamu bisa merasakan otot itu, asal kamu tahu, itu semua milikmu,"


Charles berbisik tepat ditelinga Jani membuat bulu kuduk Jani merinding. Rasa panas mulai menjalar ketika sang suami mencium lehernya.


" Om."


" Ya sayang, apa hmmm"


Jani sudah tidak bisa berbicara apapun saat tangan Charles mulai menjelajah tubuhnya. Tapi detik selanjutnya semua itu dihentikan oleh Charles.


" Aku akan menunggumu sampai kamu pilih. Oh iya mana tempat yang ingin kamu tuju untuk bulan madu kita?"


" Eeh, mana aja sih om, manut aja."


" Baiklah kalau begitu, aku akan mencari tempat yang nyaman. Mari kuta tidur, kamu harus segera pulih."

__ADS_1


Jani mengangguk, ia lalu membetulkan posisi tidurnya. Charles menarik selimut lalu menutupi tubuh Jani hingga ke dada. Sebuah ciuman lembut Charles daratkan di kening sang istri. " Tidurlah sayang, semoga hari esok lebih indah dari pada hari ini. Aamiin."


***


Keesokan harinya, Jani ikut pergi ke kampus bersama Aryo. Awalnya Charles tidak mengizinkan, tapi Aryo menjelaskan bahwa Jani harus ikut untuk membuka kasus yang mencelakai Jani. Ternyata Radi juga datang ke rumah Charles untuk membawa ayah dan adiknya itu untuk berangkat bersama.


Hal ini berarti bahwa semua orang akan tahu bahwa Janin adalah putra Aryo Dwilaga Suseno. Terlihat Jani membuang nafasnya kasar.


" Kenapa Crit?" tanya Radi kepada adik bungsunya.


" Identitasku akan terbongkar, dan pasti nanti akan banyak yabg mendekatiku. Sok-sokan baik, sok-sokan mengaku teman. Haishhh, munafik lah itu semua nanti," keluh Jani dihadapan Ayah dan kakak pertamanya.


Aryo hanya menggeleng pelan. Permintaan Jani saat masuk ke kampus kepada dirinya untuk menyembunyikan identitas sungguh membuat Aryo tidak bisa menolak. Tapi saat ini sepertinya mau tidak mau identitas itu harus diungkap.


🍀🍀🍀


Dikediaman Kertajasa, Pujo Ketajasa merasa sedikit bingung. Dia tiba-tiba dipanggil oleh Aryo Dwilaga. Sejauh ini menjadi dewan komite Universitas Nusantara, Pujo bekerja sangat baik dna tidak pernah membuat masalah.


Pujo merapikan kemeja dan jasnya. Menghadap pemilik universitas tentu ia harus berpakaian pantas dan rapi. Pujo pun berjalan keluar dari kamar. Tidak ada istri membuat pria paruh baya itu melakukan semuanya sendiri.


" Pa,"


" Ada apa Sel?"


Pujo melihat Drazella sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Putri satu-satunya itu terlihat begitu gelisah. Seperti tengah ada beban berat yang dipikirkan.


" Sudah sarapan belum? Mari sarapan bersama papa."


Darzella tidak banyak bicara. Ia mengekor Pujo menuju ke ruang makan. Di sana ada adik Pujo, bibi dari Sella yang sedang menyiapkan makanan.


" Sandwich tuna kesukaan abang dan Sella. Ayo segera dimakan nanti telat ke kampus." Lidya berucap lembut. Wanita berusia 30 tahun itu menyiapkan semua keperluan rumah di kediaman Kertajasa. Lidya adik kandung dari Pujo memang ikut sang kakak sejak dirinya masih kecil. Dan saat mama dari Sella meninggal dialah yang mengurus segalanya. Berkali-kali Lidya meminta Pujo menikah tapi sang kakak tidak pernah mau.

__ADS_1


" Pa, Sella mau ngomong. Bisakah papa mengeluarkan seorang mahasiswa?"


" Uhuk uhuk ... Kamu uhuk ... Bicara apa Sella .. Uhuk"


Seketika Pujo tersedak, baru saja ia meminum kopi yang dibuatkan oleh Lidya sudah harus ia keluarkan kembali. Lidya bahkan sampai berlari dan menepuk punggung kakaknya itu.


" Bang, hati-hati. Sella, kenapa tiba-tiba bicara begitu. Memangnya siapa dia dan mengapa kamu mau mengeluarkannya. Lagian papa kamu ini kan hanya komite, tidak berhak memutuskan siapa yang akan dikeluarkan dari kampus. Memangnya orang itu salah apa, apa dia berbuat buruk kepada kamu?"


" Apa yang dikatakan bibi mu benar. Memang ada maslah apa?"


Sella hanya diam, bahkan kali ini dia sudah menunduk. Gadis itu sama sekali tidak berani menatap Pujo dan Lidya. Sungguh sangat jauh berbeda saat ia berlaku sombong dan angkuh. Kepercayaan diri gadis itu surut sudah sekarang.


" Apakah gue bakalan dipenjara jika ketahuan. Mampus, gue bener-bener mampus kali ini," batin Sella. Ia merasa tidka bisa berbuat apa-apa.


Usai makan Pujo berangkat ke kampus namun tidak dnegan Sella. Dengan dalih tidak merasa sehat gadis itu menghindari berangkat kuliah. Pujo berangkat sendiri. Perasaanya semakin tidak enak saat ia sudah sampai di parkiran kampus. Terlebih saat melihat mobil Aryo yang juga baru saja sampai. Dilihatnya 3 orang keluar dari sana.


" Itu bukannya Rinjani putri bungsu Pak Aryo, apa dia sedang sakit? Ada beberapa luka di wajahnya dan tangan kanannya juga dibalut begitu."


Pujo yang ingin menyapa urung karena ketiga orang itu terlihat terburu-buru masuk ke kampus. Namun Pujo seketika ingat bahwa dirinya dipanggil oleh Aryo, Pujo pun langsung bergegas menuju ruangan Aryo Dwilaga Suseno.


Semakin dekat dengan ruangan Aryo, semakin tidak enak saja hati Pujo. Jantungnya bahkan berdegup denan begitu cepat. Ia pun mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


" Selamat pagi Pak Aryo."


" Aah selamat pagi Pak Pujo, silahkan duduk pak."


Pujo duduk di sofa, di sana sudah Jani, Radi dan 2 mahasiswa lainnnya. Ia sungguh tidak tahu ada apa ini sebenarnya.


" Begini pak, saya ingin menyampaikan sesuatu. Anda melihat Jani, ya putri saya terjatuh saat kegiatan kampus di puncak. Dna kecelakaan itu bukan kecelakaan murni melainkan disengaja. Maaf saya harus menyampaikan ini tapi yang melakukan itu adalah Drazella putri Pak Pujo."


" Apa?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2