Cowok Misterius

Cowok Misterius
Sepuluh


__ADS_3

Bel tanda istirahat berbunyi.


"Anak-anak, materi kita hari ini sampai disini dulu. Ada belum paham, silakan tanyakan!"


hening.


Sudah bu Lusi duga. Siswa-siswinya ini tak mungkin bertanya, sekalipun tidak paham. Aneh bukan?


"Ya sudah kalo begitu, silakan istirahat. Selamat siang!"


"Siang buuu!"


Bu Lusi keluar kelas. Seketika kelaspun berubah menjadi pasar ikan.


Raisa menatap Bella dan Loli bergantian. "Kantin yuk."


Bella dan Loli mengangguk bersamaan, tanda setuju.


Mereka berjalan beriringan di koridor. Ketiganya saling diam tak ada berita hangat untuk digosipkan.


Tiba-tiba, Loli jadi teringat sesuatu. "Tadi, Aldo ngapain lo Bel?"


Raisa yang juga ikut penasaran, menoleh kesampingnya. Dia juga penasaran dengan jawaban Bella.


"Heem..." Bella berpikir sejenak. Sebenarnya dia tidak mengerti betul, apa maksud Aldo tadi pagi. "Mungkin, Aldo mau nembak gue!"


Uhuk.


Uhuk.


Mereka serempak berbalik. Ternyata Aldo dan ketiga temannya sudah berdiri di belakang mereka.


Samuel, Darel dan Nando terbatuk-batuk, entah karena apa. Sedangkan Aldo hanya diam dengan wajah datarnya. Sejak kapan mereka disitu?


"Kayanya ada yang mimpi disiang bolong nih!" Manik Samuel melirik kearah Bella, mengejek.


"Kaca gue pecah sam, jadinya gak bisa ngaca." Balas Darel, ikut mencemoh.


Samuel dan Darel terbahak keras. Nando menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. "Rel, kaca mana yang pecah?, perasaan, tadi kaca dikamar masih utuh."


Samuel dan Darel diam. Menatap Nando jengkel. Nih otak kemana sih? ingin sekali menjitak kepala Nando saat ini juga. Untung saja mereka masih fokus menghina Bella.


"Lo semua, pada ngeledek gue?" Jelas Bella tahu, itu kebiasaan Samuel dan Darel.


Samuel terkekeh pelan. "Kenapa, Lo tersinggung?"


Jelas Bella pasti tersinggung.


"Enggak, gue gak tersinggung. Aldo beneran mau nembak gue kok, kalo gak percaya tanya aja, tuh!" Dengan percaya dirinya, Bella menunjuk Aldo dengan dagunya.


Aldo menatap Bella dengan wajah yang sama, datar. Aldo ingin tau apa dikepala Bella masih ada otaknya? Tindakan Aldo ke Bella tadi, apa Bella berpikir itu ciri-ciri cowok nembak cewek?


Cewek aneh. Batin Aldo.

__ADS_1


"Emang bener Al, yang diomongin Bella?" Samuel memastikan. Dia harap jawaban Aldo 'enggak' atau 'najis'.


Aldo melirik kearah teman-temanya yang menatapnya penuh penasaran sesaat, lalu kembali meluruskan pandangannya.


"Hmm" Aldo tak perlu pikir panjang. Dia melangkah pergi begitu saja.


Samuel, Darel, dan Nando mematung, dengan mulut menganga. Ingin mencubit dirinya sendiri untuk memastikan, apa ini bukan mimpi buruk?


Loli juga sempat tidak percaya, tapi dia tidak terlalu ambil pusing. Itu juga bukan urusannya.


Sedangkan Raisa, biasa saja. Pasti Aldo juga sama dengan cowok-cowok lainnya. Terpesona oleh kecantikan sahabatnya itu.


Berbeda dengan teman-temanya. Bella ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya kepada dunia, bahwa dia berhasil menakhlukan Aldo. Aldo mengakui jika dia akan menembaknya.


Apa ini mimpi? Jika iya,


Bella tak ingin meninggalkan mimpinya ini. Namun ini bukan mimpi, ini nyata.


"Tuh kan, kalian dengar sendiri, kalo Aldo mau nembak gue." Bella histeris bahagia. Dia merasa puas melihat Samuel tak bisa berkata-kata lagi.


Bella melengang pergi, di ikuti dua sahabatnya.


"Rel bunuh gue. Dulu lo yang rebut Bella dari gue, sekarang Aldo!" Nando menggoncangkan tubuh


Darel. Dia frustasi dua kali tersaingi sahabatnya sendiri. Nasib buruk.


*****


Aldo dan Samuel duduk bersampingan dikantin. Darel duduk diseberang meja Samuel. Sedangkan Nando berseberangan dengan Aldo. mereka menikmati makanan masing-masing dalam diam.


Apa Nando marah pada Aldo?


Tentu iya, bahkan waktu Bella pacaran dengan Darel, ia sempat mengusir Darel pergi dari rumah, tapi sayangnya Darel tak menghiraukannya.


Samuel menelan makananya yang sudah dia kunyah, sebelum akhirnya dia bersuara. "Al, lo yakin mau pacaran sama Bella?"


Aldo melirik Samuel sekilas. "Enggak."


Darel mulai bingung dengan kalimat Aldo "Tapi Bella tadi bilang, lo mau nembak dia!"


"Hmm."


BRAK.


Nando berhasil menarik perhatian sebagian penghuni kantin. Memukul meja yang tak bersalah dihadapannya. Emosi Nando sudah tak terbendung lagi. "Al, lo kalo ngomong serius dong! Jangan cuma 'hmm gak hmm gk' kalo lo kekurangan kosa kata bilang! biar gue kompalin sama bu Lusi."


"Eh krupuk terasi, lo kenapa jadi bawa-bawa Bu Lusi!" protes Samuel. Tak terima guru cantiknya di libatkan.


"Kan, Bu Lusi guru Bahasa Indonesia, bisa minta tambahan kosa kata, Sam."


Ada benarnya juga Nando. Samuel pun mengangguk mensetujui perkataan Nando.


"Gue akan nembak Bella."

__ADS_1


"Serius?" Samuel memastikan. Mungkin Aldo bercanda, tapi Aldo tidak pernah bercanda. lalu apa yang Aldo ucapkan barusan?


Aldo mengangguk, meng'iya'kan. "hmm"


seperti ada petir yang menyambar hati Nando. Nando menyandarkan tubuhnya pada bahu Darel, sambil memegangi dadanya yang sesak mendengar pernyataan dari Aldo. "Rel, hati gue, pecah berkeping-keping. Rasanya sakiiit bangett. Gue....gue gak bisa hidup tanpa Bella. Gue gak bisa pisah sama Bella. Rel, bunuh gue!"


Lebay.


Rasanya, Darel ingin melayangkan sepatunya ke wajah Nando. "Lo ngapain sih, nyandar di bahu gue, berat. Gue mau makan ****, Kalo bunuh orang gak masuk penjara, mungkin gue udah bunuh lo sejak dulu, tanpa lo minta."


"Emang lo tega bunuh gue?" Nando masih bersandar di bahu Darel. Berharap Darel bisa menenangkannya.


"Pengen banget malahan. Bukan gue aja Samuel juga, iya kan, sam?" Darel menatap Samuel. Samuel mengangguk setuju. "Jadi mungkin kalo lo minta gue bunuh lo, gue mau kerja sama dengan Samuel"


Kerja sama?


Sungguh teganya teman-temanya ini. Padahal Nando sedang patah hati. "Rel, gue butuh tempat bersandar, biarin gue bersandar dibahu lo, ya."


Nando memang benar-benar butuh sandaran saat ini.


hacuh.


Rambut keribo Nando masuk kehidung Darel, membuatnya bersin-bersin.


"Do, rambut lo bau ikan asin." Darel memang selalu bisa, jika disuruh mengejek Nando.


Nando menegakkan tubuhnya, menatap Darel, sambil memanyunkan bibirnya. Seingat Nando, pagi tadi dia keramas minta sampo Darel. Jika saat ini rambutnya bau ikan asin. Berarti rambut Darel juga bau ikan asin.


Samuel terkekeh. "Do, lo butuh sandaran?"


Nando mengangguk lemas.


"Kalo lo butuh sandaran, ada kok yang bersedia menjadi sandaran lo kapanpun lo mau." Samuel menunjuk kesuatu arah dengan sendok yang ia pegang. "kesitu aja."


Nando menolehkan kearah yang dimaksud Samuel. "Tembok?"


Samuel mengangguk. mengiyakan ucapan Nando, lalu terbahak-bahak sampai menangis.


Nando kini benar-benar marah. teman-temannya bukannya menenangkannya, malah menambah emosi saja.


"BANGhamm."


Darel berhasil menyumpal mulut Nando yang hendak mengumpat. memang Darel selalu gerak cepat. Samuel dan Darel tertawa pecah.


Aldo semenjak tadi hanya diam, melihat kelakuan ketiga temannya itu. Tak sedikitpun ingin ketawa karena kekonyolan mereka.


manusia memang aneh! Batin Aldo.


*****


Author ngambek nih,


Tapi canda wkwkwk

__ADS_1


Like and coment ya!


__ADS_2