Cowok Misterius

Cowok Misterius
Empat Tujuh


__ADS_3

Berdiri disamping jendela kamar. Manik Bella terpejam, merasakan dinginnya angin malam yang menyentuh kulit wajahnya.


"Siapa Toni parthenios?"


"Lo kenal dia kan? dan sekarang dia dimana? Beritau gue, gue juga akan beritau lo semua tentang gue."


Manik Bella kembali terbuka. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman manis. "Gue heran sama lo Al, sama calon ayah mertua kok gak kenal sih."


Ingin sekali Bella segera menjawab pertanyaan kekasihnya itu, tapi tadi harus tertunda karena Samuel dan Raisa mendatanginya. Bella menghela nafas, tangannya menopang dagunya. Menatap langit yang gelap itu, malam ini tak ada bulan dan bintang disana tapi Bella masih tersenyum, membayangkan bagaimana reaksi Aldo nanti ketika mengetahui siapa itu Toni parthenios.


"Gue harap lo gak gila bel."


Senyuman Bella pudar. Maniknya menatap Loli yang sudah berdiri disampingnya. "Sejak pertama ketemu Aldo, gue emang udah gila kok."


"Ih..." Loli menatap Bella jijik, Lalu berjalan menuju kasur. "Oh ya, lo mau baca novel temen gue gak?"


"Gak."


"Mau dengerin? gue bacain ya."


"Gak."


Berdecak. Loli menatap Bella kesal. "Terus lo maunya apa?"


"Aldo."


hah?


"Bella, Loli!" Raisa berlari menghampiri. Duduk disamping Loli, Raisa menatap dua temannya bergantian. "Samuel barusan bilang sama gue, dia ternyata udah tau tentang keluarga Aldo."


Semakin penasaran. Bella berjalan menghampiri Raisa. "Apa?"


"Aldo bilang ke Samuel, orang tuanya udah meninggal sepuluh tahun lalu. Dan kalian tau kenapa orang tua Aldo meningal?" Raisa menatap dua temannya yang hanya serempak menggeleng. Tentu mereka tak tau. "Mereka dibunuh oleh teman papanya Aldo, dan katanya sih aldo mau balas dendam."


"Balas dendam?" Loli memiringkan kepalanya, menatap Raisa bingung. "Maksud lo, Aldo mau bunuh orang yang udah bunuh keluarganya?"


Raisa mengangguk ragu. "Mungkin."


"Gak!" Bella tak terima, kekasihnya dicurigai sebagai pembunuh. Mana mungkin Aldo sampai hati melakukan pembunuhan. "Kalian pikir Aldo psikopat apa, yang hobinya bunuh orang."


"Kalo memang benar Abila sama Beni mati karena Aldo." Raisa menatap Bella yang masih berdiri disamping ranjang. "Lo mau ngakuin kalo Aldo itu emang psikopat?"


Bella merapatkan bibirnya, tak mengelak. Memang ia juga yakin penyebab kematian dua siswa Dhanista itu karena Aldo. Tapi Bella tak mau menerima, jika faktanya nanti memang Aldo adalah pembunuh. Tentu siapapun pasti tak mau, mempunyai pacar seorang pembunuh?


*****


Duduk disofa berseberangan dengan dua temannya yang sudah sibuk dengan ponselnya masing-masing. Samuel mengacak kasar rambutnya yang sudah ia tata rapi. Menyesal, kenapa tadi malam ia memberi tau rahasia Aldo kepada Raisa.


Jika Aldo tau, pasti Aldo tak akan mempercayainya lagi sebagai sahabatnya. "Ah...udah terlanjur."


Hah?


Samuel menatap dua temannya yang memandangnya bingung.

__ADS_1


"Terlanjur apa?" Tanya Darel dan Nando serempak.


"Ya, ter-terlanjur," Samuel terbata. Kenapa ia selalu mengucapkan kalimat yang seharusnya tak di ucapkan didepan temannya? Menatap Dua temannya yang masih menatapnya aneh. Samuel berdiri. "Terlanjur benci sama kalian berdua."


Lalu melenggang pergi begitu saja, meninggalkan dua temannya. Samuel tak mau membuang-buang waktunya di hari minggu ini, ia akan segera pergi kemakam kekasihnya.


"Akhir-akhir ini Samuel aneh banget, kaya banyak banget masalahnya. Lo tau masalahnya apa?" Darel menoleh kearah Nando. Nando hanya mengangkat bahu tanda tidak tau. "Jangankan masalah Samuel, masalah hidup lo aja, lo juga gak tau."


"Bukannya gue gak tau masalah gue, tapi emang gue dari lahir gak punya masalah sih." Nando cekikikan. Maniknya menatap Aldo yang baru keluar dari kamar. Tumben hari ini Aldo tidak pergi. "Tanya sama dia noh."


Darel menatap arah yang ditunjuk Nando dengan dagunya. Aldo duduk disofa seberangnya. "Al, lo tau Samuel ada masalah?"


"Gak." Aldo menatap Darel dan Nando datar. "Kalo kalian, tau nama lengkap Bella?"


"HUAHAHAHA!" Nando terbahak-bahak sampai terjungkal. Aldo masih menatapnya datar, sedangkan Darel bingung. Kembali keposisi duduknya, Nando memegangi perutnya yang masih terasa melilit. "Rel, lo salah tanya masalah Samuel ke Aldo. Jangankan masalah Samuel, nama lengkap pacarnya aja dia gak tau!"


Darel meringis, ada benarnya juga ucapan Nando. Nando lagi-lagi terbahak. Darel kembali menatap Aldo. "Lo serius gak tau nama lengkap Bella?"


Aldo menjawab dengan satu anggukan.


Darel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa Aldo itu memang aneh. Dulu waktu Darel dan Bella pacaran, ia sangat semangat mencari tau nama lengkap Bella, nama keluarga Bella sampai tanggal lahir Bella pun Darel pasti tau. Tidak seperti Aldo, yang hanya tau nama panggilan Bella saja. Padahal Bella adalah cewek paling populer di Dhanista, pasti semua orang tau nama lengkap Bella.


"Bella Chalandra." Ucap Nando setelah selesai terbahak.


Bella Chalandra. Itu nama yang disebut oleh Raisa saat dirinya dulu mencari Bella. Tapi kenapa kemarin Bella malah menanyakan marganya pada Aldo, saat Aldo bertanya tentang manusia bernama Toni. "Chalandra itu marga keluarga Bella?"


"HUAHAHAHA!" Nando kembali terbahak, bahkan sampai menangis. Sungguh, baginya Aldo sangat lucu saat ini.


"Parthenios."


"Iya, itu marga keluarga Bella. Sekarang lo udah taukan marga pacar lo." Darel menatap Nando yang belum juga selesai dengan tawanya. "Dan sekarang udah gak ada yang lucu, keribo!"


Tangan Aldo mengepal. Ternyata ini alasan kenapa Bella dekat dengan manusia yang telah membunuh keluarganya, Dan ini juga Alasan kenapa Bella ditakdirkan menjadi pacarnya. Makasih Damballa.


*****


Berjalan disepanjang trotoar jalan yang mulai ramai. Seperti biasa, hari minggu Alisa selalu menggantikan seruni berbelanja ke mini market yang cukup jauh dari rumahnya.


Langkahnya terhenti. Alisa membenarkan posisi kaca matanya, menatap cewek yang berdiri sepuluh meter darinya. "Kak Balla!"


Alisa segera berbalik. Berharap Bella tak melihatnya. Alisa tak ingin lagi berurusan dengan Bella, pasti seniornya itu ingin menanyai tentang Aldo lagi.


"Cewek cupu, itu lo kan?"


Benar. Bella ternyata sudah melihatnya. Alisa menggeleng cepat.


"Pertanyaan gue kemarin belum lo jawab!"


Teriakan Bella semakin jelas. Apa Bella berjalan menghampirinya? Tanpa pikir panjang, Alisa berlari meninggalkan Bella. Ia harus menghindar dari Bella.


"Tunggu!" Bella ikut berlari mengejarnya. Bagaimanapun caranya Alisa harus memberitau rahasia Aldo padanya.


Alisa terus Berlari, berlari, berlari dan terus berlari. Sesaat, menoleh kebelakang. Bella masih jauh, ia harap Bella kehilangan jehaknya.

__ADS_1


BRUK!


"Aw.." Alisa terjatuh, tak sengaja menabrak orang. Tangan Alisa terulur mengambil buket mawar putih milik orang didepannya, yang terjatuh juga karenanya. "Maaf."


"Lo gak pa-pa?"


Alisa mendongak. Tentu saja suaranya seperti Alisa pernah dengar, ternyata... "Kak Samuel!"


Berdiri. Alisa meraih tangan Samuel. "Kak Sam, tolongin saya. Saya di kejar-kejar sama kak Bella!"


"Lo dikejar sama Annabell!"


Alisa menggeleng. "Bukan Annabell, tapi kak Bella."


"Cewek cupu tunggu!"


Suara cempereng itu terdengar lagi. Alisa dan Samuel serempak menatap, tak jauh Bella berlari menghampiri mereka.


"Yaudah buruan masuk kemobil!" Titah Samuel yang dibalas anggukan oleh Alisa.


Sedangkan Bella semakin mempercepat larinya, saat maniknya menangkap Alisa masuk mobil bersama Samuel. "Cewek cupu jangan lari lo dari gue!"


Namun Bella terlambat. Mobil yang ditumpangi Alisa sudah melaju. Bella menghentikan langkahnya. Mencondongkan tubuhnya, tangannya terulur kelutut. Nafasnya tak lagi beraturan. "Lo pikir lo bisa lari dari gue!"


Sedangkan dalam mobil. Alisa menatap seksama buket mawar putih yang ia pegang. Walau sedikit kotor karena terjatuh, mawar itu tetap cantik dan wangi. "Maafin saya ya kak, bunganya jadi rusak. Tapi saya janji bakal ganti.."


"Gak pa-pa." Samuel tersenyum tipis pada Alisa, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan. "Lagian gak penting juga kok bunga itu."


Jika tidak penting kenapa Samuel membelinya? Bunga secantik ini pasti harganya lumayan mahal, tapi mungkin murah bagi orang seperti Samuel. Tangan Alisa terulur, membersihkan debu kotor pada bunga itu. "Tetap cantik walau udah jatuh kena debu."


"Hmm." Samuel mengangguk. "Kaya lo."


Tertegun. Apa yang barusan Samuel katakan tadi? Alisa tertunduk. Ia benar-benar sangat malu.


Samuel terkekeh. "Lo tadi kan juga jatuh, kaya bunga itu. Walau udah jatuh tetap cantik. Emang salah ya gue ngomong?"


Salah, sangat salah. Samuel sudah membuat Alisa malu. Ini pertama kalinya Alisa di gombali oleh cowok. Ternyata begini rasanya.


Tak jauh dari mobil yang ditumpangi Samuel dan Alisa, montor berwarna hitam itu mengikutinya dari belakang.


Ini pertama kalinya Bella naik montor. Dia harap rambutnya tak rusak karena helem yang ia gunakan. Bella sudah memohon kepada abang tukang ojek yang memboncengnya, supaya dia diperbolehkan tidak pakai helem, tapi abang ojeknya malah tak ingin mengantarnya jika Bella tak mau pakai helem. Menyebalkan!


Tak lama, akhirnya mobil yang dibuntuti Bella berhenti. Tepat dihalaman depan rumah yang sangat sederhana. Apa ini rumah Alisa? Bella turun dari montor, melepas helemnya. Memberikannya pada tukang ojek itu. "Udah cupu, miskin lagi. Sumpah jijik banget!"


"Dari pada kaya, cantik, tapi sombong." Mengambil helem yang di sodorkan Bella. Abang tukang ojek itu langsung pergi.


"Bilang aja nyindir gue. Heran deh, dia tuh tukang ojek apa tukang nyindir sih?" Bella mendesis. Berbalik, menatap Samuel dan Alisa yang baru keluar dari mobil. "Cupu!"


___________________________________


Yang udah selesai baca part ini silakan angkat kaki!...


Eh maksudnya angkat jempol, lalu klik vote๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2