
"Bella!"
Pria paruh baya datang dari pintu utama rumah. Bajunya lusuh penuh darah, keringat bercucuran. Nafasnya terengah-engah. Pandangannya menjuru keseluruh arah ruangan. Hingga terhenti pada gadis kecil berumur tujuh tahun yang duduk dilantai, dikelilingi mainan yang berhamburan.
Mata gadis kecil itu membulat. "A-ayah kenapa?"
Sang ayah menghampiri. Menggenggam tangan mungil putrinya. "Ayo ikut ayah, kita pindah rumah sekarang!"
"Kenapa sekarang? bunda belum pulang ayah!" Bella kecil itu mencoba menolak ajakan ayahnya. Dia harus menunggu sang bunda.
Sang ayah tak menghiraukan. Menarik paksa tangan putrinya. Membawanya masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir di halaman depan rumah.
"Ayah ini mobil siapa?" Bella semakin penasaran dengan ayahnya.
"Diam Bella."
"Tapi Ayah, bunda..."
"DIAM!"
Air mata mulai mengalir. Membasahi pipi bulat yang penuh milik Bella.
Apa salah Bella, hingga sang ayah membentaknya?
*****
Bella kecil duduk di depan teras rumahnya. Rumah barunya yang baru ia tempati malam tadi. Rumahnya yang sekarang terlalu besar, jika dibandingkan dengan rumahnya yang lama.
Dari mana sang ayah mendapatkan uang untuk membeli rumah ini? Rumah sebesar ini tentu pasti memiliki harga yang mahal.
"Bunda kenapa belum pulang?" Bella sangat khawatir. Apa bundanya sudah tahu Bella dan sang Ayah pindah dirumah ini?
Tentu saja, rumah barunya ini tempatnya sangat jauh dari rumah lamanya. Jika bundanya berjalan, sehari mungkin tak akan sampai. Kenapa ayahnya tak menjemput bundanya dengan mobil baru? pikiran Bella terus berkeliaran, dia sangat cemas dengan keberadaan sang bunda.
Bella mendongak, saat merasakan usapan lembut pada puncak kepalanya. "Ayah, kenapa Bunda belum pulang?"
Bella berdiri ketika sang Ayah meraih tangannya.
Sang ayah tersenyum. "Kita masuk kedalam rumah dulu yuk, Nanti ayah cerita tentang bunda."
Bella mengangguk menurut. Mengikuti ayahnya yang menuntunnya ke dalam kamar. Ayahnya berjongkok didepan Bella, menyamai tinggi putri kecilnya itu.
"Ayah mau cerita apa tentang Bunda, kenapa Bunda belum juga datang?" Tanya Bella semakin penasaran dengan keberadaan Bundanya.
Sang ayah tersenyum, menenangkan putrinya. "Nanti ayah ceritain. Sekarang Bella disini dulu ya, jangan kemana-mana. Di dalam rumah aja, Ayah pergi sebentar."
"Ayah mau kemana? Ayah mau jemput Bunda, kan?" Bella tidak tau, disaat Bella seperti ini kenapa ayahnya malah ingin pergi tanpa Bella. Setau Bella ayahnya ini pengangguran. tidak punya pekerjaan. Tidak ada hal penting yang harus diurus diluar sana. Jika ingin menjemput bundanya, kenapa Bella tidak diajak?
"Ayah mau ke.." sang ayah memberi jeda. Bella menatapnya dengan penuh rasa penasaran. "Pemakaman Bunda."
"Pemakaman?" Bella membeo.
Ayahnya mengangguk. tubuh
Bella lemas seketika. Ucapan ayahnya bagai petir yang menyambar dirinya. Dadanya sesak, air mata mulai membasahi pipinya.
"Bu-bunda...." Bella terisak. Dia ingin berlari keluar kamar, tapi sang ayah sudah mendahuluinya, menguncinya dari luar. Meninggalkan Bella sendiri dalam kamar.
Bella menggedor pintu kamarnya, namun sang ayah tak juga membukakannya.
__ADS_1
Apa yang dikatakan ayahnya itu benar? Jika iya, kenapa bundanya meninggal? Apa penyebabnya? Kenapa dirinya tak diajak kepemakaman bundanya? Kenapa dirinya tak diperbolehkan melihat bundanya terakhir kalinya? kenapa ayahnya tega meninggalkannya dirumah?
Bella terus berteriak histeris. "Ayah, Bella ingin liat Bunda!"
Bella terduduk dibalik pintu. Memeluk dirinya sendiri. semakin terisak.
"Bundaa."
"BUNDAA!"
*****
"BUNDAA!"
Beringsut duduk. Bella menatap sekelilingnya, masih dikamarnya. lebih tepatnya kamar Raisa. Lagi-lagi mimpi buruk yang sama.
"Bella."
Pandangannya lurus, Raisa sudah berdiri diambang pintu kamar. Sejak kapan?
"Lo baru bangun? gue sama Loli udah nungguin dari tadi. Cepat mandi gue tunggu dimeja makan!" Perintah Raisa.
"Hmm." Bella menatap Raisa yang sudah melengang pergi dengan sorot malas.
Mimpi tadi mengingatkan Bella pada kejadian sepuluh tahun lalu. Kejadian yang tidak akan pernah hilang dalam ingatannya.
Sudahlah, mengingat masa lalu hanya bisa membuat hatinya kembali terluka. Bella beranjak dari kasur. Dia meringis, punggungnya terasa nyeri, tidak seperti biasanya.
Apa dia sakit?
Bella menggeleng pelan. Dia harus sekolah demi bertemu Aldo, sekarang itu yang dia pikirkan. Tubuhnya sakit, pasti karena kemarin Aldo menghempasnya ketembok. Bella harus meminta tanggung jawab dari Aldo, mungkin jika Aldo menembaknya hari ini, rasa sakit ditubuhnya pasti hilang.
*****
"Lo kenapa, Bell?" Raisa merasa sedikit ada yang aneh pada Bella.
Sejak dirumah tadi terus-terusan memegangi punggungnya. wajahnya juga tidak seperti biasanya, sedikit pucat. Apa Bella sakit?
Bella menggeleng. Berjalan gontai mendahului Raisa dan Loli yang masih diam ditempat.
Bella mendudukkan Bokongnya di kursi.
Raisa duduk di kursi sebelah Bella. Masih khawatir dengan keadaan Bella. "kalo sakit bilang Bel, biar gue anterin ke UKS."
Bella tetap menggeleng. Dia melipat tangannya diatas meja bersiap untuk tiduk sejenak. Menunggu jam pelajaran pertama mulai, mending tiduran akan mengurangi rasa sakit ditubuhnya.
Belum sempat memejamkan mata. Pandangannya kini terarah
pada pintu kelas. Samuel dan Aldo diikuti Darel dan Nando dibelakangnya.
"Aldo." Panggil Bella lirih, namun masih di dengar. Bella berdiri, pandangannya lurus pada Aldo.
Ketiga teman Aldo ikut menghentikan langkahnya. Padahal yang dipanggil cuma Aldo, tapi semua perhatian tertuju pada
Bella.
Aldo menatap Bella, datar "Kenapa?"
"Kenapa lagi tuh Bella?"
__ADS_1
"Biasa, main drama mungkin."
Bisikan teman-teman sekelasnya mulai terdengar. Bella acuh, itu sudah biasa baginya. Wajar cewek populer banyak yang iri. Dia kembali fokus pada Aldo. "Gue minta tanggung jawab dari lo."
Hening.
Semua murid tercengang, mendengar ucapan Bella.
Apa maksudnya?
Apa yang Aldo lakukan ke Bella?
Semua tatapan penuh penasaran, kini tertuju pada Aldo. Apa jawaban yang diberikan ke Aldo?
"Hmm." datar.
Aldo melangkah pergi menuju kursinya, tak peduli dengan sorotan semua teman sekelasnya.
"Apa yang dilakuin Aldo, ke Bella?"
"Berani banget mereka ngelakuin itu."
"Minta tanggung jawabnya didepan kita, gak malu apa?"
Cewek-cewek kembali berbisik lagi.
Samuel, Darel dan Nando masih diam ditempat. mereka tidak bisa berpikir lagi, apa Aldo benar-benar melakukannya. tapi kapan?
"Aldo." Samuel menghentikan langkah Aldo. menghampirinya.
Aldo berbalik Samuel sudah berada di depannya, tatapannya lurus pada Samuel.
Samuel menatap Aldo curiga. Pantas saja Aldo selalu keluar malam. ternyata itu yang dilakukan. "Lo udah ngelakuin 'itu' sama Bella?
Darel dan Nando menghampiri. Semua siswa diam. Mendengarkan baik-baik pembicaraan dua orang didepan kelas itu.
Aldo diam, bingung. Apa yang dimaksud 'itu' oleh Samuel? "Gue gak paham."
Nando emosi. Cewek incaranya direbut Aldo. Dia menatap Aldo sinis. "Ya elah, Al. Lo udah ngelakuin gituan, masih aja gak paham!"
Aldo menatap Samuel dan Nando bergantian. "Apa yang gue lakuin ke Bella?"
Kenapa Aldo balik tanya?
Salah satu cewek berambut sebahu bersuara "Jangan-jangan Aldo diberi minuman aneh-aneh sama Bella, Terus Aldo gak sadar udah ngelakuin 'itu' ke Bella."
"Iya tuh, bisa jadi." Teriak salah satu siswa lainya.
Oke, sampai sini Aldo paham arah pembicaraan mereka.
Samuel menatap Bella. "Eh, ondel-ondel. Lo beneran gituin Aldo?"
Bella berjalan gontai. Menghampiri Aldo. "Seterah kalian, mau bilang gue giniin Aldo, lah. gituin Aldo, lah. Se-te-rah!"
Bella menatap manik Aldo. "Al, gue..."
Ucapan Bella menggantung. Tiba-tiba badan terasa lemas, gemetar. pandangannya semakin memudar, kepalannya sangat pusing. "gu-e..."
Aldo dengan sigap menopang tubuh Bella yang hampir jatuh kelantai.
__ADS_1
Bella pingsan.