
Bella terus terisak. Sesaat, ia memejamkan maniknya, mencoba melupakan ingatannya tentang Aldo. Tapi tak bisa, ia semakin terisak.
Mengkedipkan maniknya, air mata Bella kembali menetes. Suara langkah kaki mendekatinya. "Aldo sama Samuel kesini mau ngapain, Sa?"
Tak ada jawaban.
Tangan Bella mengepal. "Aldo sama Samuel usah kalian suruh pergi kan?"
Hanya suara langkah kaki yang terdengar.
"Sa, jawab dong!"
Masih tak ada jawaban. Langkah kaki itu terhenti.
Berdecak kesal. Bella membuka selimut yang menutupi pandangannya.
Nyaris tak percaya. Bella mengkedipkan matanya beberapa kali, memastikan apa yang dilihatnya saat ini bukan ilusi. "Al.."
Menatap Bella dingin. Aldo duduk ditepi ranjang, samping Bella. "Gue gak akan pergi, sebelum lo mau maafin gue!"
"Aldo." Bella berucap serak, suaranya nyaris tak terdengar. "Gue mau lo jujur, apa hubungan lo sama cewek pela.."
Bella merapatkan bibirnya, jari telunjuk Aldo menempel pada bibir Bella.
"Jangan panggil Alisa dengan sebutan itu lagi!" Aldo mencondongkan tubuhnya, menatap dalam manik Bella. Bella masih terdiam. "Gue akan cerita semuannya."
Menegakkan kembali tubuhnya. Aldo menatap lurus. "Lo tau nama lengkap Alisa?"
Beringsut duduk. Bella menatap Aldo yang kini memunggunginya. "Buat apa gue tau nama dia, gak penting!"
"Sebelum gue cerita semuanya, lo harus janji sama gue." Aldo tersenyum miring. "Jangan pernah ceritain semua ini ke siapapun, ini rahasia gue dan Alisa."
Bella semakin bingung, ternyata Aldo dan Alisa memiliki rahasia bersama. Sedekat apakah hubungan mereka?
"Dan lo juga harus janji."Aldo menoleh, menatap Bella. "Lo harus jadi milik gue selamanya!"
deg.
Denyutan aneh mulai terasa dihati Bella. Bella sesak, ingin ia teriak sekeras-kerasnya saat ini. "Mak-maksud lo?"
"Gue mau.." Aldo memberi jeda. Bella masih menunggu kalimat Aldo selanjutnya. "Lo jadi cewek gue, selamanya!"
Bella masih terdiam.
Aldo kembali meluruskan pandangannya. "Gue gak maksa, kalo lo gak mau, gue juga gak akan cerita rahasia gue dan Alisa."
Nyaris Berdiri. Aldo terhenti, Bella memeluknya dari belakang.
"Don't go, Aldo!" Bella semakin mengeratkan pelukannya. "I want to be yours forever."
Selalu mudah mendapatkan Bella. gue gak perlu bantuan kalian lagi, hantu bod*h. Aldo menyeringai lebar.
Melepaskan tangan yang memeluk tubuhnya. Aldo berbalik menatap Bella, manik mereka saling menumbuk. "Gue akan ceritain semuannya."
Tersenyum. Bella mengangguk setuju. "Okey."
Tangan Aldo terulur, mengacak surai Bella. "Tapi bukan sekarang."
__ADS_1
"What!"
*****
"Jadi, sekarang lo udah tau rahasia Aldo?" Raisa menatap Samuel penuh penasaran.
Raisa, Loli dan Samuel berkumpul diruang tengah. Mereka memberi waktu untuk Aldo dan Bella berduaan dikamar.
Menggeleng. Samuel terkekeh. "Enggak!"
Raisa berdecak kesal. "Tadi lo mau bicarain rahasia Aldo."
"Kapan gue bilang gitu?" Samuel mengangkat satu alisnya. Raisa menatapnya malas. "Kata gue, kan 'Mending kita bicarain rencana buat cari tau rahasia Aldo' gue gak ada bilang, kalo gue udah tau rahasia Aldo."
Raisa mendesis. "Gak bilang dari tadi."
Samuel menyenderkan tubunya pada punggung sofa. Dua cewek didepannya ini, sifatnya memang mirip Bella. Samuel benar-benar malas membantu mereka, tapi dirinya sendiri saja juga penasaran dengan Aldo.
"Yaudah gimana rencana selanjutnya?" Samuel menatap Raisa dan Loli bergantian. "Gue gak ada ide, nih."
"Tunggu!" Loli mengangkat telapak tangannya. Samuel dan Raisa menatapnya bingung. "Sebaiknya kita jangan lama-lama biarin Aldo dan Bella berduaan dikamar."
Samuel mendelik. Benar juga ucapan Loli. Bella cewek agresif, sedangkan Aldo selalu diam walaupun Bella melakukan sesuatu kepadanya. "Gue setuju sama Loli, mereka gak boleh dibiarin berduaan!"
"Kan lo yang suruh kita buat biarin Aldo sama Bella berduaan." Raisa berdiri. "Gara-gara lo sih, kalo Bella sampai kenapa-kenapa, gimana?"
Berdiri. Samuel melotot. "Kok jadi nyalahin gue sih. Gue yakin kalo Bella gak genit, Aldo gak bakal ngapa-ngapain dia."
"Jadi lo nyalahin Bella?" Protes Raisa tak terima. Itu semua salah Aldo, sudah pelukan sama cewek lain, sekarang mau ngapa-ngapain Bella. Dasar playboy.
Sedangkan dikamar, Bella masih terus-terusan membujuk Aldo untuk menceritakan semua rahasiannya dan Alisa. Namun Aldo sangat keras kepala, tak mau menceritakannya.
"Yaudah deh," Bella mengerutkan Bibirnya, sok merajuk. "Gue marah lagi aja!"
Kenapa gue harus berurusan sama cewek ini?. Menghela nafas berat. Aldo mempertipis jarak wajahnya dan Bella. Berbisik. "Ini bukan waktunya Bela!"
Mengulum senyum. Bella suka posisinya saat ini, sangat dekat dengan Aldo. "Ini udah waktunya Aldo!"
Tangan Bella terulur, melingkar pada leher Aldo. Mempertipis jaraknya dengan Aldo. Matanya mulai terpejam. Sekarang Bella yakin, ia akan mendapatkannya.
Kenapa Bella selalu menginginkannya? Pikir Aldo.
"BELA!!"
Manik Bella terbuka. Bella sudah berada dijarak yang sangat dekat dengan Aldo, tapi Bella lagi-lagi gagal mendapatkan bibir Aldo.
Tangan Bella terlepas dari leher Aldo. Berdecak kesal, Bella menoleh. Dua sahabatnya dan Samuel sudah berdiri didepan pintu kamar. "Ganggu!"
"Buset, Aldo!" Samuel berjalan menghampiri Aldo. Dua cewek dibelakangnya mengikutinnya. "Lo bilang mau minta maaf, kok malah ciuman sama kuntilanak ini sih!"
Aldo berdiri, menatap Samuel datar. "Gue udah jelasin semuannya ke Bella."
Hah?. Bella berkedip beberapa kali. Kapan Aldo jelasin semuannya, bukannya Aldo tadi tidak jadi menjelaskan, Aneh. pikir Bella.
"Yaudah pulang yuk, gue gak betah disini, digodain terus sama dua cabe-cabean ini." Samuel menunjuk Raisa dan Loli dagunya.
Eh, kapan?
__ADS_1
Raisa melipat dua tangannya didepan dada. Menatap tajam Samuel. "Lo.."
"Gue pulang, bye!" Samuel memotong ucapan Raisa, lalu melenggang pergi begitu saja.
Menahan nafas. Raisa menatap Samuel yang melangkah pergi.
Bella menatap Aldo yang masih berdiri disamping ranjang. "Al, jangan pulang ya!"
Raisa dan Loli serempak membelalak.
"Bella, lo suruh Aldo tidur disini!" Bentak Raisa. Nyaris tak percaya, untung saja mereka segera menghampiri ke kamar, kalo terlambat, mungkin Aldo dan Bella sudah melakukan sesuatu yang lebih.
"Gue pergi." Aldo melangkah pergi.
Berdecak. Bella menatap kedua temannya kesal.
*****
Melajukan mobilnya, menyusuri jalanan yang mulai sunyi. Samuel menoleh, menatap teman yang duduk disampingnya, lalu kembali meluruskan pandangannya pada jalanan.
"Al," Samuel memecah keheningan. "Gue penasaran banget sama rahasia lo."
Aldo tersenyum. Akhirnya teman satunya ini jujur juga. Melirik Samuel lewat ekor matanya. "Gue juga mau jujur sama lo, tentang keluarga gue."
Sesaat, menatap Aldo lalu kembali fokus pada jalanan. Samuel tersenyum. "Gue janji gak bilang ke siapapun."
"Gue percaya sama lo," Walau lo nanti berhianat. Imbuh Aldo dalam hati.
Samuel mengangguk ragu. Aldo ternyata mudah percaya dengan orang, Samuel tak yakin dirinya tak membagi informasi ini dengan orang lain. Karena dirinya sudah bersepakat dengan Raisa.
"Jadi, kedua orang tua gue udah meninggal sepuluh tahun yang lalu." Aldo menatap kosong mengingat semua kejadian yang menyakitkan dalam hidupnya. "Orang tua gue dibunuh sama teman papa, yang bekerja sebagai supir pribadi mama."
Samuel hampir tak percaya. Ternyata selama ini Aldo sudah tak punya orang tua, lalu dengan siapa Aldo tinggal. "Sepuluh tahun, berarti lo waktu itu masih bocah?"
Aldo hanya mengangkat kedua bahunya. Samuel semakin bingung.
"Lo tau kenapa teman papa, itu bunuh orang tua gue?" Aldo menatap Samuel. Samuel hanya menggeleng tentu ia tidak tau. Aldo kembali meluruskan pandangannya. "Dia iri dengan keberhasilan papa, dia menginginkan harta papa."
Samuel mendengarkannya. Aldo terus bercerita.
"Padahal papa sama mama udah bantu dia, udah ngasih pekerjaan untuk dia, tapi apa yang keluarga kami dapat dari dia?" Aldo tersenyum kecut. "Nyawa papa sama mama hilang ditangan dia."
"Setelah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia pergi membawa semua harta milik papa." Aldo menyeringai lebar. "Tapi sekarang gue udah nemu petunjuk keberadaan dia, yaitu disini, dikota ini dia tinggal."
"Itu alesan gue, kenapa pindah di SMA DHANISTA, karena salah satu siswa disekolah itu, tau keberadaan orang yang bunuh keluarga gue."
"Siapa?" Samuel menatap Aldo penasaran. Ternyata rahasia sebesar ini, Aldo simpan sendiri.
Bella. Jawab Aldo dalam hati. Menoleh menatap Samuel yang masih menunggu jawabannya. "Gue juga kurang tau soal itu."
"Gue janji Al, bakal bantu lo cari tuh orang." Samuel mengepalkan tangannya diatas setir. "Kita beri pelajaran orang yang udah bunuh keluarga lo!"
Aldo merasa beruntung saat ini, Samuel ternyata berbeda dengan manusia lainnya.
Tingalin jejak ya..
Like and comment, biar Author tambah semangat..
__ADS_1