Cowok Misterius

Cowok Misterius
Tujuh


__ADS_3

Samuel, Darel dan Nando masih berada di ruang tengah, dengan kesibukannya masing-masing. Aldo tiba-tiba keluar dari kamar, berjalan kearah pintu keluar rumah itu.


"Al..lo mau kemana?" Tanya Darel ketika melihat Aldo memakai jaket hitam dengan tudung dikepalannya.


"Ada urusan, bentar." jawabnya datar.


Samuel yang masih memfokuskan pandanganya pada benda pipih ditangannya, menyahut. "Hati-hati lo, nanti di culik kuntilanak cabe-cabean."


Aldo hanya tersenyum tipis. Kuntilanak mana yang berani menculik dirinya? Kalo perlu dia yang menculik kuntilanak. Dia pun melangkah pergi.


Manik Nando mengekori Aldo yang sudah berjalan keluar. Berucap lirih pada dua temannya. "Eh, kalian ngerasa gak kalo Aldo itu aneh?"


Samuel mengalihkan pandangannya ke arah Nando, bingung. Mengerutkan keningnya. "Aneh gimana?"


"Dia gak pernah kertawa, jangankan kertawa senyumpun jarang." 


Samuel dan Darel tertawa pecah.


Nando bingung dengan kedua temannya ini. padahal ucapannya bukan sebuah guyonan.


Darel yang duduk lebih dekat dengan Nando, langsung memukul punggungnya, hingga Nando mengaduh kesakitan.


"Lo pengen tau kenapa Aldo gak pernah ketawa?" Tanya Darel ditengah tawanya. Nando mengangguk cepat.


"Emang lo pikir Aldo tuh kuntilanak apa, yang suka ketawa.." Sahut samuel yang masih tertawa pecah.


Nando berhasil dibuat marah. kedua temannya itu memang tidak bisa serius. "Eh sam, kenapa dipikiran lo tuh kuntilanak terus!" 


Samuel tak menjawab. Ia dan Samuel terus-terusan tertawa.


Nando beranjak pergi dan masuk ke kamarnya, meninggalkan kedua temannya.


Nando marah. Tapi Samuel dan Darel tak mempedulikan, mereka sudah biasa dengan sifat Nando, bahkan mereka menganggap marahnya Nando sebagai candaan.


*****


Selesai makan malam, Loli langsung bergabung dengan kedua sahabatnya yang sedang menyibukkan diri di dalam kamar tidur. Sesampainya, Loli hanya berdiri di ambang pintu kamar. Raisa seperti biasa, sibuk dengan laptopnya. Sedangkan Bella menggulingkan badanya kekanan, kekiri diatas kasur. Apa Bella masih layak di sebut waras?


Loli menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, dia menghampiri Raisa. "Sa!"


"Hmm." Jawab Raisa tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor.


"Bella kenapa ya?"


Raisa pun menolehkan kepalanya ke Bella, yang masih berguling-guling dikasur. "Semenjak tadi siang Bela jadi aneh, gue juga gak tau kenapa."


Raisa dan Loli berjalan, menghampiri Bella.


"Bella!" Bella tak menghiraukan panggilan dari Raisa. Masih berguling-guling.


"BELA..!!!!" Suara Raisa menggema di ruang kamar itu. Loli menutup telingannya dengan kedua telapak tangannya.


Seketika Bela langsung berhenti berguling-guling dan duduk diatas kasur.


"Lo kenapa sih?" Tanya Raisa, khawatir.


"Gak papa kok." Jawab Bella lesu.


Raisa mendengus kesal. Dia kembali berjalan ke laptopnya. Loli duduk di samping Bella, membawa novelnya untuk dibaca.

__ADS_1


"Lo yakin gak papa?" Tanya Loli memastikan, maniknya sudah fokus pada novelnya.


Bella memutar matanya. "Gak percaya banget sama gue."


Tiba-tiba Bella teringat kejadian tadi siang disekolahannya.


Bela berjalan dikoridor menuju toilet. Menggerutu pada dirinya sendiri. "Ih, kenapa sih gue ngantuk banget, perasaan tadi malam gue gak bergadang!"  


Tak sengaja Bela melewati perpustakaan yang pintunya masih tertutup, namun Bella mendengar suara orang berbicara nyaring dalam perpustakaan itu. 


"Gue kaya denger suara orang!"


Bela menempelkan telinganya ke pintu perpus itu. Memastikan apa yang dia dengar itu benar. "Iya suara orang. Tapi siapa....jam pelajaran kaya gini kok malah keperpus" 


Sangking penasaranya Bella membuka sedikit pintu perpus itu untuk melihat di dalamnya. Maniknya membulat saat melihat siapa orang yang sedang bicara dalam ruangan itu.


"Aldo!"


 Aldo seperti berbicara dengan seseorang, namun Bella tak melihat siapapun disitu selain Aldo. Bella membuka sedikit lagi pintu itu agar dirinya bisa mendengarkan Aldo berbicara.


Bela tak mendengar jelas


"Kalian."


"Manusia tua."


Itu yang hanya dia dengar, Bella semakin penasaran. Saat Bella hendak membuka pintu itu sedikit lagi. Aldo berbalik, dengan cepat Bella langsung berlari meninggalkan tempat itu sebelum ketahuan oleh Aldo. 


Seketika, Bella langsung mengacak-acak rambut panjaknya dengan kedua tangannya. Loli yang sudah mulai larut kedalam alur cerita novelnya terganggu, menoleh pada Bella yang ada disebelahnya.


Bella bener gak waras? Loli menggeleng tak percaya.


Suara bel rumah itu berhasil menghentikan tangan Bella yang mengacak-acak rambutnya kasar.


"Biar gue yang buka pintunya." Raisa nyaris berdiri dari duduknya.


"Gue aja, itu pasti bokap gue." Bella langsung beranjak dari atas kasur. Berjalan gontai keluar kamar, dengan tampilan baju piyama yang berantakan. Rambutnya sudah hampir menyamai rambut keribonya Nando.


Bela berjalan menuju pintu utama rumah. Hening, hanya langkah Bella yang terdengar. Bella meraih kenop pintu dan mulai membukanya secara perlahan.


kreet.


Bunyi deret pintu memecah hening di ruangan itu. Seketika manik Bella membulat saat melihat orang yang berdiri di hadapannya saat ini.


"Bella, kenapa lo disini?" Tanya cowok yang ada dihadapan Bella dengan penasaran.


Bella masih tertegun. mengedipkan maniknya beberapa kali. Apa orang didepannya saat ini, memang Aldo?


"Lo aneh banget sih. Seharusnya gue yang tanya, kenapa lo kesini? Ya kalo gue sih tinggal disinilah." Terang Bella, yang masih bingung dengan keberadaan Aldo saat ini.


"Berarti ini rumah lo?" Tebak Aldo.


Bela memutar bola matanya malas. Sebenarnya dia malas menjelaskan semuanya ke Aldo. "Ini tuh rumah Raisa, tapi gue sama loli tinggal disini untuk beberapa saat dan seb..."


"Gue mau ketemu orang tua Raisa!" Aldo memotong penjelasan Bela.


Bela mengerutkan dahinya "Lo mau melamar Raisa?"


Bella tak rela.

__ADS_1


"Panggilkan orang tua Raisa, sekarang!" Ucapnya Aldo setengah teriak.


Bela mendengus kesal. "Gak ada!"


"PANGGILKAN!"


Bella tertegun. Aldo membentaknya.


"Nyo-nyokap, bokap Raisa tuh tinggal diluar kota, dan hampir gak pernah kerumah ini." Bella mulai gugup.


Aldo hanya diam, manikya terus menatap tajam gadis didepannya ini.


Gugup, takut, itu yang dirasakan Bella saat ini.


"Gue pergi." Berbalik membelakangi Bella. Iris manik Aldo sudah berubah merah, kedua tangannya mengepal. Dia pun mulai melangkah maju.


Bella masih berdiri diambang pintu. pandangannya terus menatap punggung Aldo yang semakin menjauh dari hadapannya.


Tamu macam apa itu? Bella tak habis pikir.


Aldo menghentikan langkahnya di halaman depan rumah itu.


kenapa berhenti? apa dia...


Aldo menolehkan kebelakang. Menatap tajam ke arah Bela yang masih berdiri di depan pintu itu.


Deg.


Jantung Bella lagi-lagi dibuat dua kali lipat berdetak lebih cepat. Padahal Aldo menatapnya dalam jarak yang cukup jauh. Bella segera masuk dan menutup pintunya dengan rapat.


"Aduh kenapa nih jantung, padahal Aldo udah jauh tapi malah pengen copot, huh." gumamnya sambil mengunci pintu itu.


Bella berlari menyusul kedua temanya di kamar. Memeluknya erat.


"Ih, lo kenapa?" Tanya Loli bingung, ketika Bela tiba-tiba memeluknya.


Bela melepaskan pelukannya "Gue takut Li."


Raisa yang mendengarnya pun menolehkan ke arah dua temannya. "Bel, lo tenang aja, hantu tuh gak bakalan ganggu kita, kalo kita gak ganggu mereka."


Bella menoleh kearah Raisa. "Gue gak takut hantu. Gue takut sama Aldo."


"Hah.. Aldo. Kenapa Aldo?" Bukannya Bella suka dengan Aldo, kenapa jadi takut? Satu alis Loli terangkat.


Bela menghelai nafas panjang. "Tamu tadi sebenarnya Aldo, dan dia tuh aneh. Masa tiba-tiba pengen ketemu sama nyokap, bokapnya Raisa, buat apa coba?"


Loli dan Raisa saling menatap, kemudian beralih ke Bella dan mengangkat bahunya bersamaan, tanda tidak tahu.


"Kayanya kita harus cari tau deh, Aldo itu dari mana asalnya." ucap Raisa, membuat kedua temannya memfokuskan pandangan padanya.


Raisa sepertinya mulai penasaran tentang cowok dingin itu.


sedangkan Aldo masih berdiri di halaman Rumah Raisa, iris merahnya menatap tajam tiga sosok hantu kini menampakan wujud dihadapannya. "Kalian bodoh. Tidak ada bedannya dengan manusia!"


Tiga hantu itu menunduk. menatap tanah dibawahnya. Dio merasa Aldo benar-benar marah kali ini. "Maaf kami salah, kami tidak mengikuti manusia itu saat pergi, kami kira dia pergi untuk bekerja dan ini rumahnya."


Tiga hantu itu terlihat sangat takut dengan Aldo. Seakan-akan Aldo itu majikannya yang sedang marah. Ya, Aldo memang bisa dibilang majikan mereka.


"Ingat, aku membunuh kalian untuk membantuku menemukan manusia itu. Jika kalian tidak berhasil, kalian pasti tau apa akibatnya," Ancam Aldo. Irisnya semakin membara.

__ADS_1


__ADS_2