Cowok Misterius

Cowok Misterius
Sebelas


__ADS_3

Setelah pulang sekolah, Bella menghempaskan tubuhnya kekasur, tanpa mengganti seragamnya.


Bella menempelkan punggung tangannya ke keningnya. "Kayanya gue demam deh, Sa."


Raisa yang tadi hendak mengambil baju ganti di lemarinya, tertunda. Dia berjalan ke arah Bella, duduk disisi kasur samping Bella. Raisa menempelkan telapak tangannya kekening Bella, lalu ke keningnya bergantian. Mengernyit bingung. "Kayanya, suhu tubuh lo, sama kaya gue."


Tiba-tiba Bella tersenyum misterius. Raisa menatapnya ngeri. Apa yang terjadi dengan sahabatnya itu?


"Gue emang demam kok Sa." Bela memberi jeda. Senyumannya semakin lebar. "Demam cintanya Aldo.. emhhh."


Bella mengambil boneka sapi milik Loli disebelahnya, memeluk erat boneka itu. Mungkin Bella membayangkan boneka sapi itu adalah Aldo. Raisa menggelengkan kepalanya tak percaya. Benar, Bella sudah gila. Gila cintanya Aldo.


Loli memasuki kamar. Membawa kantong plastik yang berisi beberapa buku novel yang dia beli di toko buku.


Loli melihat Bella memeluk erat boneka sapi kesayangannya. Jika boneka sapi itu bernyawa, mungkin sudah minta tolong dilepaskan dari terkaman Bella. Dia merebut paksa boneka sapi itu dari pelukan Bella.


"Kamu gak pa-pa kan sapi?" Loli memastikan sapinya baik-baik saja. Padahal sapinya tak menjawab pertannyaannya.


Bella memutar matanya malas. "Gue gak ngapa-ngapain sapi lo kok Li."


Loli mengusap lembut kepala boneka sapinya. Dia sangat menyayanginya. "Tapi, Lo tadi peluk sapi gue erat banget, sampai dia gak bisa bernapas."


Bukannya Boneka sapi itu memang tak bernafas. Batin Bela, tak paham. Dia menahan nafas. Hari ini dia sedang bahagia, jadi Loli aman dari amukannya.


"Sekarang, gue cuma bisa meluk Boneka. Tapi besok, gue meluk dia langsung." Bella mengulum senyuman manis. Dia sedang berhayal tinggi.


"Lo mau peluk sapi yang asli Bel?" Tanya Loli begitu polos.


"Meluk Aldo, lah. Ngapain gue meluk sapi? Lo aja yang meluk sapi beneran, sono!" Bella mendesis geram. Dia sudah mulai jengkel dengan Loli. Membalik badannya, telungkup. Tangan Bella memukuli kasur yang tak bersalah dengan gemas.


Loli menatap Raisa, yang juga menatapnya. Raisa hanya mengangkat bahunya, tidak tau apa yang dialami Bella.


Mungkin benar firasat Raisa, Bella sudah tidak waras, dan penyebabnya adalah....Aldo.


*****


Malam harinya, diruang makan.


Bella tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman dibibirnya. Dia melahap satu suap makanan, mengunyah pun tak luput dari senyumnya.


Raisa dan Loli hanya menatapnya ngeri.


"Bel, Lo yakin.." Raisa menelan ludah, saat Bella kini menatapnya. " Aldo mau nembak lo?"


Bella mengelilingkan matannya. Ia berpikir sejenak, dan akhirnya menggelengkan kepalanya lemas. "Gak tau."


Senyumnya memudar. Bella bertopang dagu, menatap lurus. "Padahal, gue tadi


yakin banget, kalo Aldo mau nembak gue. Tapi..."

__ADS_1


Raisa menarik nafas, menghembuskannya pelan. "Lo telpon deh, minta penjelasan sama Aldo."


Raisa memberi saran yang bagus. Diantara dirinnya dan Aldo, memang Bella yang paling peka. Mungkin Aldo malu menyatakan cintanya pada Bella. Begitu pemikiran Bella.


"Tapi gue gak punya kontak Aldo." Jawaban yang mengecewakan.


Biasannya, Bella hanya butuh waktu Lima menit berkenalan dengan cowok, dan langsung mendapatkan nomor telponnya.


Kali ini, dia sudah beberapa hari kenal dengan Aldo. Semenjak Aldo pindah di Sekolahannya, Bella belum juga mendapatkan nomor cowok tampan itu.


"Telpon Samuel deh."


Apa-apaan Raisa. Sudah tau Samuel itu musuh terbesar Bella. Bella menggeleng dengan cepat. "Kalo gue nelpon dia, pasti bakal direject, kaya gak tau Samuel aja lo."


Benar juga. Raisa memikirkan sesuatu. "Darel?"


"Darel mantan gue, nomor gue dah di blok sama dia."


"Nando"


"Ogah, Najis!"


"Pilihan lo cuma ada dua, Bel. Samuel atau Nando?" Raisa memberi dua pilihan yang sangat sulit untuk Bella.


"Gue coba telpon samuel aja deh." Putus Bella, terpaksa. Dari pada menelpon Nando, tentu Bella milih Samuel, lebih sedikit baik.


Bella mengambil benda pipih miliknya, yang tergeletak disamping piring dihadapannya.


Nando masih marah dengan Aldo. Tapi kedua sahabatnya tidak peduli, apa lagi Aldo. Dan saat ini Aldo entah kemana. Pamitnya keluar sebentar, tapi sudah dua jam Aldo belum juga pulang.


Aldo memang lebih sering keluar malam, tanpa teman-temannya. Samuel dan Darel sebenarnya penasaran, namun lebih baik diam dari pada terlalu kepo dengan urusan orang.


Samuel yang sudah fokus pada gamenya, terus menembaki musuh. Tiba-tiba sebuah panggilan memenuhi layar telponnya. Ingin rasanya mengumpat, apalagi setelah membaca nama si penelpon yang tertera di layar telponya 'Jelangkung'.


Samuel mendengus, kesal. "kayanya, bentar lagi kiamat deh."


Darel dan Nando menatap Samuel, bingung. "Lo tau dari mana?"


"Nih." Samuel menunjukan layar telponnya ke Nando, dan Darel bergantian.


"Bella?" Darel sedikit tercengang. Dia tau nama 'jelangkung' itu pasti ditujukan pada Bella. Tumben Bella menelpon Samuel.


Samuel mengangguk sesekali.


Nando langsung merampas ponsel Samuel, paksa. "Bella salah sambung, pasti dia pengen telpon gue, mau maaf. Pasti dia nyesel milih Aldo bukan milih gue"


Nando memang sangat percaya diri. seharusnya dia melihat kaca dulu, sebelum Bella yang menyuruhnya.


Akhirnya yang menerima panggilan dari Bella adalah Nando. "Hai.. Cantik."

__ADS_1


tut..


tut..


tut..


Panggilan terputus. Nando kecewa. Kenapa Bella menutup telponnya?


Samuel dan Darel hanya bisa menahan tawa.


"Bella serangan jantung, gara-gara denger suara lo." Darel terkekeh pelan. Pasti Bella saat ini ingin membanting ponselnya karena suara Nando.


Nando mengerutkan bibirnya. emang suaranya seperti apa? sampai Bella serangan jantung mendengarnya.


drtt..


drtt..


Ponsel Samuel yang masih digenggaman Nando bergetar kembali. Membuat Nando menyunggingkan senyuman lebar, ketika


melihat layar ponsel itu 'jelangkung' menelpon kembali.


"Tuh kan, telpon lagi." Teriak Nando dengan penuh semangat. Tak menunggu lama, Nando segera mengangkatnya. "Hallo... Cantik"


tut..


tut..


tut..


"HUAHAHAHAHA." Kali ini Samuel dan Darel tak bisa menahan, tawanyapun pecah. Ini sudah dua kalinya. Bella benar-benar menguras emosi Nando.


Disisi lain, Raisa dan Bella masih diruang makan, sedangkan Loli sudah kekamar.


"Kenapa Bel?" Raisa mulai penasaran melihat ekspresi wajah sahabatnya itu kebingungan.


"Gue bingung deh, yang gue telpon kan Samuel, tapi suaranya yang keluar kutu kambing."


Raisa pasrah. Kenapa dia dikelilingi teman-teman yang tidak tau cara menggunakan otaknya?


"Mungkin hape Samuel dipegang Nando." Raisa berusaha tetap tenang. Sebenarnya dia sudah tidak tahan, ingin sekali berteriak didepan wajah Bella.


Bella membulatkan mulutnya, dan mengangguk mengerti. Dia pun menyambungkan panggilan ke nomor Samuel.


Diriject.


Bella menghela nafas, kecewa. Pasti ponsel Samuel sudah dipegang oleh empunya.


"Sabar." Raisa mengelus bahu Bella pelan, lalu melenggang pergi.

__ADS_1


*****


__ADS_2