
Aldo memakai kaos putih.Dengan celana jeans hitam. Ia duduk ditepi kasur memainkan telponya.
"Kapan kamu dekatin Bella?"
"Bukanya kamu ingin segera menemukan manusia tua itu!"
"Jika kamu tidak segera memiliki Bella, kamu pasti sulit mendepatkannya. Buruan, Al."
Aldo melirik sesaat tiga hantu yang duduk dilantai kamarnya itu. lalu kembali menatap beda pipih yang ada ditangannya. Saat ini dia harus menahan diri untuk tidak bicara dengan hantu itu, Jika ada salah satu temannya yang melihat, bisa bahaya. Dikira Aldo gak waras ngomong sendiri.
"Al."
Samuel sudah ada diambang pintu kamar. Untung Aldo tidak meladeni tiga hantu itu.
"hmm" jawab Aldo. tanpa mengalihkan pandangannya dari telpon.
"Gebetan lo tuh, nyariin" Samuel terkekeh. Mendekati Aldo.
"Bella?" tanya salah satu hantu pada Samuel. Namun Samuel tak mendengarnya.
"Bella?" Mengajukan pertanyaan yang sama dengan hantu itu kepada Samuel.
Samuel tertawa.
"Gak lucu! Receh banget lo." teriak Dio, salah satu hantu.
Selalu receh. Batin Aldo.
Samuel duduk disamping Aldo. Ia mencoba menghentika tawanya. "secara gak langsung, Lo ngaku kalo Bella emang gebetan lo!"
Aldo tersenyum miring. "Bella emang cewek gue!"
Tiga hantu itu bertepuk tangan serempak. Mereka bersorak atas pengakuan Aldo kali ini.
Samuel terdiam. Mengucek telingannya. apa dia salah dengar?
"cepat temuin Bella, Al !" teriak kegirangan hantu bernama Ruka.
"Tapi didepan.." Samuel memberi jeda. Aldo mengangkat alis. "Vera."
Tiga hantu itu serempak membuka mulut lebar-lebar. Tidak percaya dengan ucapan samuel. Aldo menatapnya. Mereka menggeleng. Jangan sampai Aldo menemuinya.
Aldo mengambil hoodie misty milikya, lalu melangkah pergi.
"Kamu jangan berpaling dari Bella, Al." teriak tiga hantu kompak. Aldo acuh.
Tiga hantu itu merangkak naik keranjang. Mendekati Samuel. "Kenapa diam, ayo larang Aldo. Jangan biarin Aldo dengan perempuan itu, Jika Bella tau gimana?" ucap Dio.
Samuel mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang. "Lama-lama, kamar gue horor juga!"
Tiga hantu itu terkekeh geli. Andra berbisik ditelinga Samuel. "coba aja, Aldo gak larang kami, buat nunjukin wujud kami ke kamu. Pasti tambah horor!"
Samuel bergidik. Ia pun berlari keluar kamar.
__ADS_1
*****
Bella sengaja memakirkan mobilnya agak jauh dari rumah Samuel. Ia menunggu didalam mobil, lama. Sebenarnya ia mau masuk kerumah itu, menemui Aldo langsung, tapi terlambat. Mobil Vera sudah terpakir dulu dihalaman rumah itu.
Hampir satu jam Bella menunggu. Akhirnya Vera keluar dan Aldo juga. Tangan Bella mengepal. "Dasar cabe-cabean! gue gak biarin lo ngerebut cowok gue!"
Bella mengikuti mobil Vera dari belakang. hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah parkiran Club malam.
Bella menggeleng. Tak percaya. Seorang Aldo Altair yang selalu acuh pada cewek, kini bisa diluluhkan oleh Vera. Cewek yang membuat kepala Bella pusing jika memikirkannya.
Vera keluar dari mobil. Menggandeng tangan Aldo. Memasuki sebuah club malam.
Apa yang harus Bella lakukan?. Apa Bella harus ikut masuk ke tempat itu?. "aargh!. gue kan gak bisa masuk tempat itu!"
Bella berpikir. Umurnya sudah mencukupi, tapi bukan itu masalahnya. Bella tidak tahan dengan bau alkohol. Ia pernah masuk tempat itu dan akhirnya Bella muntah, padahal ia cuma mencium aromanya, bukan meminumnya.
Berpikir. Sesaat ia menunduk. Mendongak. "arghh!" Bella menjambak rambutnya. Kenapa ia menggunakan piyama? Pasti Bella akan dibilang tidak waras. Tempat itu banyak cewek sexy, tapi Bella malah menggunakan piyama. Penjaga club itu pasti melarangnya masuk karena pakaiannya.
"Setelah malam ini gue jamin, Aldo udah gak perjaka lagi"
"GAK BOLEH!" Teriak Bella histeris. ucapan Vera masih terngiang di ingatanya. Ia menarik nafas dalam, menghembuskanya.
Keluar dari mobil. Mencari alasan untuk si penjaga agar di bolehkan masuk. Dan Akhirnya Bella bisa masuk dengan alasan, temannya sudah memesan kamar untuknya, dan juga sudah membawakan baju yang sangat sexy untuknya.
Bella berjalan. Memasuki club. Sudah ia duga. Aroma alkohol bercampur dengan berbagai farfum menyengat. Bella menahan nafas. Kepalanya juga sudah terasa pusing, karena deguman keras dari musik.
Ibu jari dan jari telunjuk Bella menjepit hidungnya. Menahan nafas. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh arah. Terlalu banyak orang, Bella kesusahan menemukan Aldo.
Kemana?, Kemana?, Kemana?.
Bella menghampiri Cowok dan cewek yang duduk disofa. Tak peduli dengan orang disekitarnya yang menatapnya aneh. Emang sekarang penampilannya aneh. Bella mengakui itu.
Disisi lain. Vera menyodorkan gelas tanggung, berisi wine ke Aldo. Aldo menerimanya.
Setelah ini kamu akan jadi milik ku, Aldo. Ucap Vera dalam hati.
Aldo tersenyum miring. Menatap gelas yang ia pegang. "Jangan mimpi"
Menyisikan rambutnya kebelakang telinga. Vera menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Aldo. "Tadi kamu ngomong apa ya, Al?"
Aldo mengangkat bahu. Tatapanya tidak lepas dari gelas cantik itu. "Enggak, gue cuma mau minta ma'af, gue lupa kalo ada janji sama lo."
Vera mengangguk. Tersenyum. "iya, gak papa" padahal hatinya sedikit sakit. Kenapa Aldo bisa lupa janjinya. Padahal Vera tadi menunggunya lama, tapi Aldo tak kunjung datang menjemputnya. Tidak apalah, yang terpenting Aldo sekarang disisinya.
Menatap Aldo lama. Wajah Aldo memang tampan, siapapun yang melihat pasti terpana. Bahkan beberapa cewek di club itu menatap Aldo penuh minat. Untung Vera disampingnya.
Vera baru sadar. Aldo belum meminum minumanya. "Jangan cuma diliatin, diminum ya, Al."
Aldo mengangguk. Mulai meletakan ujung gelas pada bibirnya.
Tangan Aldo tertahan. Sebuah tangan mencekal pergelangannya.
Aldo dan Vera serempak menoleh.
__ADS_1
Bella.
Vera geram. Kenapa Bella bisa tau Aldo ditempat ini. "Lo ngapain disini?"
Bella meacuhkan pertanyaan Vera. Ia mencengkeram kuat pergelangan Aldo. Merengek manja. "Aldo pulang.."
Vera baru sadar. seketika tawanya pecah. Bella menatapnya bingung. "Bel, lo gak ngigo-kan, lo pake piyama."
Bella menunduk malu. Ia harus segera membawa Aldo pergi. Bella menarik tangan Aldo lagi. "Ayo pulang, Al."
Aldo berdiri. Vera tak ingin melepas Aldo begitu saja. Ia menahan tangan kiri Aldo. "Al, gue udah pesen kamar buat kita."
"what. kamar!" Bella teriak. Tak percaya.
Vera menarik tangan kiri Aldo. Bella tak mau kalah ia menarik tangan kanan Aldo. Aldo hanya diam menjadi rebutan. tak peduli dengan beberapa sorotan mata.
terlalu banyak human. gue gak bisa membuat permainan di tempat ini. Pikir Aldo.
Basah. Vera tertawa. wine di gelas Aldo tumpah kepiyama Bella.
Bella menganga. piyama kesayangannya..argh, Bella benci aroma alkohol.
"Udah deh, mending lo pulang, ganti piyama terus bobo cantik!" Vera tertawa lagi.
Aldo menghela nafas. "Ra, gue pulang" Aldo menggenggam pergelangan Bella, lalu membawanya pergi.
Kini Vera yang menganga. Tak percaya. Kenapa selalu kalah dengan Bella?, walaupun Bella berpenampilan seperti itu, tetap saja ada yang terpikat. Aneh.
*****
Aldo membawa Bella keluar dari club. Berhenti tepat di samping mobil Bella, Lebih tepatnya mobil milik Raisa.
Aldo berbalik. Mereka berhadapan. "Sorry"
Bella mengulum senyum. Ia menunduk dalam, jantungnya ingin sekali meloncat dari tempatnya. Sungguh Bella bahagia sekali malam ini. "Gak pa-pa kok, Al"
"Kita pulang!" putus Aldo.
Bella mengangguk. sesaat memejamkan mata. Pusing, mual. Aroma Alkohol ini melekat dibajunya. Bella ingin segera pulang, mandi, ganti baju. Tapi ia masih ingin meningmati waktu-waktu ini dengan lambat, agar Aldo selalu disisinya.
Aldo tau apa yang dirasakan Bella saat ini. Ia melepas hoodie miliknya, lalu memberikan ke Bella "Nih pake!"
Bella menatap hoodie dan wajah Aldo bergantian. untuk apa?
"Pake aja, lo gak suka bau Alkohol, kan?"
Bella menerimanya. Ternyata Aldo itu cowok yang peka. tapi aneh, dari mana Aldo tau Bella tidak tahan dengan bau Alkohol. Bella menggeleng. Itu tidak penting baginya.
Bella terperanjat. Aldo tiba-tiba merampas kunci mobil di tangannya.
"Gue yang nyetir." Ucapnya datar. Aldo masuk mobil begitu saja.
Bella mengerutkan bibirnya. Aldo memang peka, tapi tidak bisakah romantis sedikit saja. Ia memakai hoodie milik Aldo, lalu masuk mobil.
__ADS_1
*****