Cowok Misterius

Cowok Misterius
Dua Puluh


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan Lima jam lebih. Akhirnya mobil Raisa sampai di kota kecil, tempat kelahiran Bella. Tempat ini memang kota, tapi anehnya tidak seramai kota-kota lainnya. Kendaraan yang berlalu-lalang dijalanan juga tidak banyak. Rumah-rumah terlihat begitu sepi. Bahkan sebuah toko besar disisi jalan juga tak ramai pembeli.


"Ini beneran kota kelahiran lo, Bel?" Raisa memastikan. Semoga mereka tidak tersesat.


"Iya, gue yakin kok. Gue dulu sering main disana tuh." Bella menunjuk  sebuah taman. Taman yang dulunya ramai kini bahkan tak ada satu pun orang yang bermain disana. Bella juga bingung kenapa kota kelahiranya ini berubah.


Loli celingukan memandang keluar jendela mobil. "Lo lahir di kota ini, Bel?"


Bella mengangguk mengiyakan pertanyaan Loli. "Dulu disini rame banget, Sekarang kok kaya kota mati."


Disepanjangan jalan tiga sahabat itu sangat bingung. Kota ini terlalu sepi, mereka sedikit takut jika ada begal atau todong yang menghentikan mereka.


Raisa terus melajukan mobilnya hingga sampai disebuah TPU. Mobil terparkir, mereka turun.


Raisa memandangi sekelilingnya. TPU ini begitu luas bagaimana cara mencari makam bundanya Bella. "Bel, Li, kita mendingan pisah aja deh."


"ih, Sa gue kan takut sendirian apa lagi dikuburan." Protes Loli tak terima.


Bella mendengus. Menatap Loli jengkel. "Loli, lo tuh penakut banget sih. Siang bolong kaya gini gak bakalan ada hantu, Li"


Loli mengerutkan bibirnya.


"Ya udah lo boleh ikut gue atau Bella. Sekarang kita cari, nanti kalo udah ketemu kabarin gue ya, Bel." Raisa pun melenggang pergi.


Bella pun pergi kearah berlawanan dengan Raisa.


Loli bingung. Ia masih diam ditempat. menoleh kekanan-kekiri, siapa yang harus ia ikuti. "Raisa aja, deh" putusnya.


*****


Nando duduk, menyenderkan tubuhnya ke punggung sofa. Memainkan game pada ponselnya. Hari minggu ia merasa seperti pengangguran.


Darel keluar dari kamarnya berjalan menuju pintu utama.


"Rel, main game bareng yuk!" Teriakan Nando menghentikan langkah Darel.


Darel menatap Nando lempeng. "Males, gue mau makan diluar." Ia pun melenggang pergi begitu saja.


Nando melanjutkan gamenya. Samuel keluar dari kamar.


"Sam," Samuel berhenti. Nando memperhatikan penampilan dari kaki sampai ujung rambut, terlalu Rapi. "Lo, mau pergi kondangan," Nando tertawa.


Samuel mencengir. "iya mau ikut."


Nando menggeleng. "Silakan, Lo aja."


Samuel melemparkan ciuman lewat angin kepada Nando. Nando bergidik jijik. Samuel tertawa sambil melambaikan tangan. "Bye Nando." Samuel pergi.


Nando menatap kepergian Samuel. Mengeleng tak percaya. Sepertinya Samuel memang gay. Nando mengusap wajahnya. "amit-amit." Ia melanjutkan gamenya.


Nando dirumah sendirian. Teman-temannya sudah pergi masing-masing. Aldo malah sudah pergi keluar sejak pagi tadi. Nando mengusap dadanya. "Semoga gue betah sampai lulus, dirumah api ini."

__ADS_1


*****


Samuel menghentikan mobilnya tepat di depan toko bunga. Turun dari mobil, Ia berjalan menghampiri bunga yang tersusun didepan toko itu.


"Satu buket mawar putih, kan?" Seorang perempuan dengan rambut dikucir satu, tersenyum lembut kepada Samuel.


Samuel menatapnya. Membalas sersenyum. "iya."


"Seperti bisa. Kalo gitu tunggu sebentar." perempuan itu masuk kedalam toko.


Samuel menunggu. Memang ini sudah biasa, setiap hari minggu ia membeli satu buket mawar putih ditoko ini, sampai si penjualnya pun hafal apa yang akan dibeli Samuel.


Tak lama perempuan itu datang membawa satu buket mawar putih yang cantik.


"ini, mawar putihnya." Memberikan buket itu pada Samuel. Samuel menerimanya. "Pacarnya suka banget ya sama mawar putih, sampai seminggu sekali dibawain."


Samuel hanya tersenyum tak menjawab. Memberikan uang.


Perempuan penjual bunga itu menerima. "Semoga hubungan kalian langgeng, ya."


Samuel mengangguk, lalu pergi.


Samuel meletakan buket bunga itu ke jok sampingnya.


"Semoga hubungan kalian langgeng, ya."


Ucapan penjual bunga tadi membuat Samuel tersenyum pilu. Samuel menjalanka mobilnya laju.


*****


Raisa tidak enak hati dengan Bella. Kemarin dirinya yang memaksa Bella kesini, tapi sekarang ia mengecewakannya. "Ma'afin gue ya, Bel."


Satu alis Bella terangkat. "Kenapa lo minta ma'af, emang lo yang nyembunyi'in makam bunda gue?"


"Ya, kan gue yang maksa lo buat datang kesini. Gue juga udah yakinin lo, kalo kita pasti nemuin makan bunda lo."


"Gimana sih, Sa. Lo kan yang bilang, usaha dulu." Bella lebih mendekat ke Raisa. "Ini kan kita usaha, kalo hasilnya gini yaudah gak pa-pa juga."


Loli juga ikut mendekat. "yaudah jangan lama-lama, yuk pulang."


Tiba-tiba Bella teringat sesuatu. "Kalian mau gak temanina gue?"


Raisa dan Loli menatap Bella penasaran.


"Gue kangen sama rumah lama, pengen liat lagi." Bella tersenyum "Kalian mau, kan?"


Raisa dan Loli mengangguk. "Pastinya," Jawabnya serempak.


Mereka pun segera memasuki mobil. Melajukan mobil ketempat tujuan berikutnya.


Hingga akhirnya Sampai dirumah sederhana bernuansa putih dan coklat. Mereka keluar dari mobil. Ternyata jarak Rumah lama Bella dengan makam tak begitu jauh.

__ADS_1


Raisa menatap Rumah didepannya saat ini. Rumah ini masih bersih, halamannya juga bersih dan luas. Bunga-bunga yang tertanam di halaman rumah ini juga masih sehat. "Rumah lo, udah ada yang nempatin?"


Bella mengangkat bahu. Tentu dia juga tidak tau. Ia berjalan mendekati Rumah tersebut. Rumahnya tetap sama tak berubah, hanya catnya yang sudah mulai terkelupas.


"Kalian siapa?"


Sebuah suara mengkagetkan mereka. Ketiga sahabat itu serempak mebalik badannya.


Seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka. "Kalian datang kesini ada perlu?, sepertinya kalian bukan orang sini, saya tidak pernah melihat kalian sebelumnya."


Bella tersenyum manis. "ma'af sebelumnya, kami memang bukan orang sini, kami hanya berkunjung saja."


Perempuan itu mengangguk, mengerti dengan ucapan Bella. "Jadi, kalian mau menginap dirumah itu?"


Bella segera menggeleng. "oh, kami hanya mampir untuk beristirahat sebentar. Ma'af jika kami lancang masuk kehalaman rumah orang tanpa ijin, kami akan segera pergi."


Bella sudah hendak mengajak kedua temannya pergi, karena mungkin perempuan didepannya ini pemilik rumah lamanya itu.


"Tidak apa-apa" perempuan itu tersenyum ramah. Bella mengurungkan niatnya. "Saya pikir kalian ada perlu dengan orang yang tinggal dirumah itu. Saya cuma ingin memberi tahu kalian, orang yang tinggal dirumah itu sudah pindah seminggu yang lalu."


Walaupun orang dirumah itu belum pindah, Bella juga tidak mau ketemu, karena bukan siapa-siapanya. Jika itu bundanya mungkin Bella bersemangat mencari tau.


"Kalo saya boleh tau, orang dirumah ini pindah kemana?" Tanya Raisa. Ia jadi penasaran.


"Saya juga tidak tau, waktu mereka pamit dengan para tetangga, mereka tidak memberi tahu mau pergi kemana." Jawab perempuan itu jujur.


Bella tau Raisa hendak bertanya lagi. Entah kenapa Raisa sekarang menjadi kepo. Bella segera memotongnya. "Kalo begitu kami pamit pergi dulu, sebelum hari gelap."


"iya, hati-hati dijalan. Anak gadis memang tidak boleh pulang sampai malam!"


Bella pun segera menarik tangan Raisa dan Loli. Membawanya masuk ke mobil.


Raisa menjalankan mobilnya. Menyusuri jalanan yang sepi itu.


"Bel, lo buru-buru amat sih, masih banyak yang gue pengen tanyain sama ibu-ibu tadi." ucap Raisa begitu kesal dengan Bella.


Bella melirik Raisa malas. "Sejak kapan lo jadi tukang kepo?"


"Siapa tau gue dapat info tentang kuburan Bunda lo."


Ada benarnya juga ucapan Raisa. Tapi sudah terlanjur, tidak mungkin kembali lagi, dan belum tentu juga ibu-ibu tadi tau soal bundanya. pikir Bella.


"Bel, sa, liat Rumah itu." Loli menunjuk sebuah Rumah. Bella dan Raisa melihatnya.


Rumah begitu mewah besar seperti istana. Tapi kotor, banyak rumput liar merambat di pagar rumah dan dinding sampai atap. Rumput dihalamanya juga sudah lebat, dan panjang mungkin sampai lutut orang dewasa.


Sangat disayangkan Rumah sebagus itu tak dirawat. Kemana pemiliknya? Kenapa tidak dijual saja?


Raisa menjalankan mobilnya lamabat, agar bisa melihat Rumah itu lama. Tapi entah kenapa tiga sahabat itu merasakan aura yang aneh, tiba-tiba bulu kuduk mereka meremang. Raisa menancap gas mobilnya, menjalankannya laju.


*****

__ADS_1


Eitzz jangan lupa like and comment.


Author butuh penyemangat nih!


__ADS_2