
Setelah merapikan barang-barangnya, Aldo bergabung dengan ketiga temannya yang sudah duduk disofa, ruang tengah.
Menatap ketiga temannya bergantian, mereka lelah selesai membantunya. Aldo tersenyum samar. "Thanks ya kalian udah bantu gue."
"Untung lo ganteng. Kalo kagak, lo gak mungkin bisa temenan sama kami. Kami bertiga, kan jajaran cowok tampan." Melemparkan cengiran. Nando menyisiri rambut keribonya, dengan jari tangannya.
"Emang lo ganteng?" Darel mencebik. Lagi-lagi dia meremehkan secuil ketampanan yang dimiliki seorang Nando Danendra.
"Hem jelas." Dengan segudang kepercayaan diri, Nando selalu memuji dirinya.
Lagi-lagi, perut Darel terasa mual mendengar ucapan Nando yang berada disampingnya saat ini.
Sebelum Aldo pindah di SMA Dhanista. Samuel dan Darel adalah cowok tertampan disekolahnya, dan selalu jadi incaran siswi Dhanista, termasuk Bella. Darel pernah berpacaran dengan Bella namun Darel segera sadar bahwa Bella hanya memanfaatkan uangnya saja.
Sedangkan Samuel juga pernah didekati Bella, namun Samuel sudah kebal dengan rayuan cewek seperti Bella. Tidak seperti Nando yang selalu tebar pesona kepada kaum hawa, namun tak ada satupun dari mereka yang kagum dengan Nando. Mungkin.....karena Nando memiliki kulit paling hitam diantara temanya, ditambah rambut keribonya yang dia tidak pernah sisir. Apalagi Nando terkadang, sering gugup saat bicara dengan cewek yang sedang marah.
Nando pernah bilang, dia sangat benci dengan cewek yang sedang PMS.
"Oh ya Al, lo tadi kesini naik apa, gue gak liat lo bawa montor atau mobil?" Nando mulai penasaran. Ya mana mungkinkan Aldo jalan kaki membawa barang-barangnya sebanyak itu.
Aldo menatap lurus Nando. Kenapa manusia yang satu ini terlalu kepo? Berbeda dengan dua temannya. "Ada, tadi diantar mobil"
"Kenapa lo gak bawa mobil sendiri?" Satu alis Nando terangkat, Aldo benar-benar mencurigakan. Kenapa harus diantar? Lebih mirip anak gadis saja Aldo.
Samuel mendengus, kesal. Kenapa hal seperti itu harus Nando pertanyakan? tidak penting. "Do, cerewet banget sih lo, kayak emak-emak beli sayur aja!"
"Emang keturunan emak-emak sih!" Darel melirik Nando lewat ekor matanya.
Nando balas melirik Darel, mencebik. "Emang lo bukan keturunan emak-emak? terus yang lahirin lo siapa, bapak lo?"
"Tau tuh si Darel." Samuel mengambil ponsel disampingnya, sesaat menyorot Darel mengejek.
__ADS_1
Darel menghela nafas. Tadi dia membela Samuel yang sedang mengejek Nando, kenapa sekarang dirinya yang disalahkan?
Aldo hanya menatap datar. Ketiga manusia di dekatnya itu memiliki pemikiran yang aneh.
******
Malam itu, dirumah Raisa Sangat hening. Rumah sebesar istana itu sengaja di bangun untuk tempat tinggal Raisa, selama sekolah di SMA Dhanista. Kedua orang tuanya tinggal diluar kota. Namun, Raisa tidak sendiri, dia ditemani sahabatnya yaitu Loli. Tapi jika sudah larut dalam kesibukannya masing-masing, rumah itu seperti tidak berpenghuni.
Suara detikan jam dinding yang menunjukan waktu telah larut malam, namun Loli masih fokus membaca novel di kasur. Sedangkan Raisa sibuk dengan laptopnya.
dindong!
suara bel rumah berhasil memecah keheningan di antara mereka.
"S-siapa sa? udah hampir tengah malam kaya gini, kok ada tamu!" Loli sedikit ketakutan, ia beranjak dari kasur mengampiri Raisa.
Raisa juga agak merinding, ia menatap sejenak jam dinding dikamarnya, pukul sebelas malam. Raisa menarik nafas. "Yaudah, yuk kita lihat!"
Raisa memberanikan diri meraih kenop pintu itu.
dreet.
Pintu terbuka. Raisa dan Loli membulatkan mata. Seorang cewek cantik, bersurai panjang sepunggung, memakai hoodie pink**, berdiri di depan mereka. Membawa dua koper besar, cewek cantik itu menyunggingkan senyuman manis.
"Bella!" Ucap serempak kedua sahabat itu.
Setelah membawa masuk kopernya ke kamar Raisa. Bela merebahkan tubuhnya ke kasur yang cukup besar dan empuk. Sedangkan Raisa dan Loli seperti budak, mereka memasukan pakaian yang ada dikoper Bella ke Lemari. Mereka bukan budak, tapi sahabat berjiwa budak.
"Lo ngapain sih, tengah malam kaya gini kabur kesini, kaya Setan aja lo." Raisa memang tak mengerti tujuan Bella tiba-tiba datang kerumahnya membawa semua pakaiannya. Bahkan tadi disekolah Bella tak mengucapkan apapun jika dirinya mau kerumahnya.
Bela menghela nafas panjang, lelah. "Pokoknya mulai sekarang, gue bakalan tinggal disini."
__ADS_1
Bella memiringkan tubuhnya, menghadap ke arah dua temannya berdiri.
"Gue udah gak betah dirumah gue. Setiap hari, ayah bawa perempuaannn terus dan.... perempuan yang dibawa ayah, juga beda-beda, setiap harinya. Gue gak mau, Sa ada orang lain, yang gantiin Bunda. Gue masih sayang sama bunda."
Raisa tersenyum, sebenarnya ia kasihan melihat Bella, ditinggal bundanya sejak kecil. Bella juga pernah cerita, setelah kematian Bundanya, Ayahnya mendadak kaya. Memiliki harta berlimpah entah dari mana, Bella pun tak mengetahuinya. Karena harta itu Bella tak mendapat kasih sayang dari orang tua. "Yaudah lo boleh tinggal di sini, sampai kapanpun lo mau."
"Thanks, Sa." Bella tersenyum bahagia. Ternyata dirinya masih beruntung, memiliki sahabat seperti Raisa dan Loli. Bella lebih bahagia disini, bersama sahabatnya dari pada harus tinggal dengan ayahnya yang selalu membawa perempuan-perempuan yang hanya memanfaatkan hartannya.
Sebenarnya Bella masih penasaran dengan kematian Bundanya. Saat itu Bella memang tak melihat jasadnya. Kadang Bella tak menerima kenyataan ia berpikir Ayahnya membohonginnya, dan bundanya masih hidup. Tapi jika itu benar, Seharusnya Bundanya mencari dirinya.
*****
Aldo terbangun dari tidurnya, manikya menatap samuel yang masih tertidur di sampingnya. Jam menunjukan pukul dua belas malam. Dia segera beranjak pergi dari tempat itu.
Setelah berhasil keluar dari rumah, tanpa sepengetahuan temannya. Aldo berjalan menyusuri jalanan yang sangat sepi. Dia memakai jaket hitam dengan tudung yang menutupi sebagian kepalanya. Tangannya dimasukkan dalam saku jaket itu, Suasana malam itu sangat mencekam, suara burung hantu mengiringi langkahnya. Namun tak ada sedikitpun gambaran takut diwajah tampan cowok dingin itu.
Aldo menghentikan langkahnya dipertengahan jalan yang tak jauh dari rumah yang ia tempati.
Tepat didepannya, muncullah tiga sosok laki-laki seumurannya. Wujudnya seperti manusia, berwajah pucat dan mereka tidak menginjak tanah, tetapi melayang diudara.
"Gimana?" tanya Aldo datar.
Tiga sosok dihadapanya serempak menggelengkan kepalanya pelan, seakan sudah tau maksud dari pertannyaan Aldo.
"Cari sampai ketemu!" Perintah Aldo. Mereka menghilang seperti uap.
"Tugas kalian hanya menemukan keberadaan manusia tua itu dan aku yang akan melenyapkanya!" Gumam Aldo pada dirinya sendiri, satu sudut bibirnya mulai terangkat. Manik hazelnya perlahan berubah jadi merah membara.
Sekolah di SMA Dhanista adalah petunjuk Aldo. Bukan untuk belajar tapi petunjuk untuk menemukan seseorang yang ia cari. Seseorang yang menjadikannya seperti ini. Manusia tua itu memang tak mungkin masih sekolah, tapi mungkin kunci utama petunjuk selanjutnya ada di sekolah itu.
Untung saja dia mempuyai tiga sosok hantu yang mejadi budaknya, mereka yang akan membantu Aldo mencari semuanya.
__ADS_1