
Cewek cantik bertubuh kurus itu menghampirinya. Surai panjangnya di terpa angin. bibir pucatnya menyunggingkan senyuman manis.
"Lia." Samuel tersenyum, sudah dua jam ia duduk diayunan taman, akhirnya gadis yang ia tunggu datang juga.
Berdiri. Memberikan sebuket mawar putih yang ia bawa pada gadis didepannya. Samuel menggenggam salah satu tangan Delia. "Kenapa kamu pengen ketemuan ditempat ini? Aku kan bisa kerumah kamu, jadi kamu gak perlu datang jauh-jauh kesini. Kamu harus banyak istirahat, biar cepat sembuh."
Menggeleng pelan. Delia masih tersenyum. Mata sayunya menatap Samuel dengan sorot putus asa. "Aku gak mungkin sembuh."
Tangan Samuel terurur, mengusap surai panjang gadis cantik itu. "Kamu pasti bisa, Lia!"
Matanya mulai menggenag. Delia melepas genggaman Samuel pada tangan mungilnya. "Sam, kita putus aja ya."
Sesaat, Samuel tertegun. Menatap kekasihnya tak percaya. "Gak, aku gak mau!"
"Sam, umur aku gak lama lagi.."
"Lia, kamu gak boleh pergi, kamu harus selalu disisi aku!"
"Sam, hidup aku gak lama lagi."
"LIA, KAMU GAK BOLEH PERGI!"
Tak menghiraukan bentakan Samuel, Gadis itu berbalik, berlari sekuat tenaganya utuk menjauhi Samuel.
"LIA!"
*****
"Siapa Lia?"
Menoleh. Samuel menatap Aldo yang berdiri disamping ranjang. Aldo sudah memakai seragam sekolah. Samuel beringsut duduk. "Jam berapa?"
Aldo mengambil telponnya dinakas. Menyalakannya, lalu memperlihatkan layar benda pipih itu pada Samuel.
Mata Samuel membulat. "Buset, lo gak bangunin gue?"
Aldo tak menjawab. Samuel melompat dari ranjang, berlari kekamar mandi.
Siapa Lia?
Aldo menatap pintu yang baru dilewati Samuel. Bingung, siapa orang yang disebut-sebut Samuel tadi.
Darel dan Nando selesai sarapan, duduk disofa ruang tengah.
Pandangan Darel tertuju pada Aldo, yang keluar dari kamar. "Mana Samuel?"
Menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Aldo menatap Darel datar. "Mandi."
__ADS_1
Hah!
Darel dan Nando terperanjat. Tidak seperti biasanya Samuel telat bangun. Diantara mereka Samuel yang paling rajin, selalu disiplin. Tapi hari ini, tumben.
"Ayo berangkat!"
Samuel keluar dari kamar. Penampilannya masih acak-acakan. Ia memang rajin sampai tak mau telat satu detik pun untuk sekolah. Temannya hanya mengikutinya.
Perjalanan dari rumahnya kesekolah, tak memerlukan waktu lama, hanya dua puluh lima menit, biasanya empat sekawan itu sudah sampai. Tapi hari ini perjalanan mereka hanya memakan waktu sembilan belas menit, Samuel memang tidak ingin terlambat, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Melirik arloji ditangannya. Samuel bernafas lega, ia memiliki waktu enam menit untuk merapikan penampilannya sebelum pelajaran dimulai. "Kalian kekelas duluan aja, gue mau ke toilet sebentar."
Empat cowok itu keluar dari mobil. Samuel langsung berlari kearah toilet.
Darel yang mulai melangkah terhenti. Menoleh ke Nando yang masih diam ditempat. "Lo gak kekelas."
Kalo gue kekelas cewek itu mungkin sempat. Dari pada setiap hari gue denger Darel sama Samuel yebut nama Samiyem terus. Masa cewek secantik dia namanya Samiyem. Kaya tukang urut didesa gue dong.
"Woy, ditanya bukannya jawab malah melongo!" Darel Berhasil menyadarkan lamunan Nando.
Nando menyisir rambut keribonya dengan jari tangannya. "Gue ada urusan. Bye.."
Melenggang pergi begitu saja. Akhirnya Nando menggunakan alasan yang sering dipakai Aldo.
"Mau kemana tuh bocah?" Tanya Darel. Maniknya masih menatap kepergian Nando.
Menoleh. Darel berdecak kecal. "Gak ngajak-ngajak kalo pergi. Sebenarnya mamanya Aldo ngidam apa sih, sampai anaknya kaya kulkas gitu?"
*****
Nando sudah sampai didepan kelas sebelas IPB3. Didalam kelas itu hanya ada beberapa siswa, sebagian bangku masih kosong, gadis yang ia cari juga tidak ada, mungkin belum datang.
Nando masih menunggu. Hingga seorang gadis dengan rambut diikat satu hendak masuk kekelasnya. Nando menghentikan langkahnya. "Eh, tunggu!"
Cewek tomboy itu berhenti. Mengamati Nando dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Ia tau cowok didepannya ini seniornya. "Apa?"
"Lo kenal sama cewek pake kacamata, rambutnya panjang pake poni, tingginya hampir sama kaya gue, munggkin lebih tinggi gue tiga centi. Dia siswi kelas ini"
Cewek itu berpikir. Ciri-ciri siswi yang disebutkan seniornya ini, sepertinya mirip dengan..."Lisa bukan?"
"Ya gue gak tau, kalo gue udah tau namanya pasti langsung sebutin namanya ke elo." Nando mengingat-ingat lagi. "Kalo gak salah dia siswi baru, kan?"
"Iya, Lisa tuh. Dia baru pindah, gue gak deket sama dia, anaknya gak seru sih, pendiam gitu. Tapi temen-temen gue manggil dia Lisa gitu sih. Mungkin namanya Lisa." Cewek itu menengok kedalam kelasnya. "Kayanya dia belum datang, tunggu aja kak, dia keliatan rajin kok, gak mungkin bolos."
Cewek itu masuk kekelasnya. Tak menghiraukan Nando lagi.
Nando masih menunggu. Senyumannya tiba-tiba terukir saat maniknya menangkap seorang cewek tertunduk, berjalan kearahnya. "Hai!"
__ADS_1
Mendongak. Ia masih ingat didepannya ini senior yang menabraknya beberapa hari yang lalu. "Maaf kak, saya harus masuk kelas. Sebentar lagi pelajaran mulai."
Nando terkekeh. Membuat cewek didepannya bingung. "Lo kebayakan minta maaf, santai aja sama gue."
Gimana mau santai, melihatnya saja membuat gadis itu ketakutan. Menelan ludah gadis itu memberanikan diri. "Maaf kak, Saya mau masuk kelas!"
Gadis itu hendak melangkah. Nando menahan tangannya, membuat gadis itu tertegun.
"Gue cuma pengen tanya, sebentar aja." Nando melepas cekalannya pada tangan gadis cantik itu. "Nama lo siapa?"
"Na-nama saya Alisa Al.."
"Alisa!"
Mereka berdua tertegun. Guru yang mengajar di kelas Alisa sudah datang.
Menatap dua muridnya bergantian. "Kalian gak dengar bunyi bel masuk kelas."
Alisa tertunduk takut. Jangan sampai dia mendapat masalah disekolah barunya. "Maaf bu, tapi Senior ini melarang saya masuk tadi."
Bu Maya melotot ke arah Nando. Nando hanya cengingisan. "Kamu senior?"
Nando mengangguk cepat.
"Bukannya memberikan contoh yang baik untuk juniornya, malah seperti ini!"
Wajah Bu Maya sudah memerah. Nando tau Bu Maya ini guru yang ditakuti dikelas IPB. "Maaf Bu, saya tadi disuruh ketua osis untuk menanyakan langsung nama siswi baru, dikelas sebelas."
Menenangkan emosinya. Bu Maya tersenyum, membuat Nando sedikit lega. Lalu membentak Nando lagi. "Kamu kira saya tidak tau anggota osis di sekolah ini. Nama Nando Danendra itu tidak ada didaftar anggota osis, buat apa ketua osis nyuruh-nyusuh kamu."
Nando tersenyum kikuk. Ia memikirkan sesuatu untuk menjadi alasan. "Saya mau ketoilet, permisi bu!"
Nando berlari pergi. Bu maya hanya menggeleng, lalu menatap siswi didepannya. "Alisa ayo masuk."
Alisa mengangguk lalu masuk kekelasnya, lalu duduk di bangkunya. Menghelan nafas lega. Untuk dia tidak mendapat masalah hari ini.
"Nanti kalo Alisa udah sekolah, Alisa pengen kaya kakak ya ma. Juara terus disekolah."
"Iya cantik. Makanya banyak makan, terus kalo udah gede sekolah kaya kakak."
Air mata menggenang. Rindu dengan keluarganya. berbisik. "Ma, Pa, Kak, Alisa kangen."
.........
Yang udah baca, Jangan lupa tinggalin jejak ya.
Like and Commet, ditunggu sama Author hehehe..
__ADS_1