
Malam semakin sunyi. Porsche Boxster merah yang ditumpangi Aldo dan Bella, menyusuri jalanan yang sepi itu. Tidak ada satupun orang berlalu lalang. Tentu, semua orang mungkin sudah berlayar ke pulau kapuk.
Bella, tak henti-hentinya menghisap aroma wangi yang menempel pada hoodie yang ia gunakan saat ini. Aroma Alkohol yang masih melekat di piyamanya pun terkalahkan. Sungguh Bella menyukainya, ia ingin sering-sering meminjam hoodie Aldo nantinya.
Melirik Bella lewat ekor mata. Aldo menahan nafas. lalu meluruskan pandangannya pada jalanan lagi. "Kenapa?"
Menoleh. Bella mengulum senyum. "Gue suka aroma farfum lo"
"gue gak pake farfum." ucapnya datar.
Benarkah? Ini Berarti aroma asli dari tubuh Aldo. Bella menunduk. memejamkan mata. Menghisap aroma ini lebih dalam. "Tapi gue suka."
"Bau bunga kenanga, atau melati?"
Bella menatap Aldo yang juga menatapnya. Manik mereka saling menumbuk sesaat. Aldo kembali meluruskan pandangannya pada jalanan.
"B-bukan itu kok." Bella mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Sepertinya ia ingin cepat-cepat sampai rumah saat ini.
Diam. Tak ada pembicaraan. Entah kenapa bulu kuduk Bella jadi berdiri. Sesekali Bella melirik Aldo. Wajah tampanya yang selalu datar. Bella menelan ludah susah. Menatap keluar jendela mobil, semakin merinding. Bella bergidik.
Tenang, Bell. disebelah lo kan ada Aldo, kenapa lo harus takut. Bella mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"gak usah takut, kita sebentar lagi sampai kok."
Eh?
Kenapa Aldo tau, Bella saat ini sedang ketakutan? Bella menggeleng cepat. "gu-gue gak ketakutan kok, kan disebelah gue ada lo."
Aldo tersenyum miring. Melirik spion dalam mobil. Pantas saja Bella merinding, tiga hantu yang menjadi pengikut Aldo kini duduk di jok belakang.
Salah satu hantu bernama Ruka menahan tawa. Ia yang dari tadi usil menjahili Bella. Mengelus leher Bella hingga Bella meremang.
"Ssttt, Ruka jangan gangguin Bella, nanti kita ketahuan Aldo" ucap Dio setengah teriak.
Andra memutar kedua bola mata. Ia duduk di jok Belakang Aldo. "Kita udah ketahuan"
Ruka dan Dio serempak menoleh. Menatap Andra, lalu Aldo bergantian.
Aldo mulai kesal dengan tiga hantu itu. Andai Bella tidak ada disampingnya mungkin, Aldo sudah mencekik satu persatu hantu gentayangan itu.
Aldo melirik Bella. Ruka sudah berhenti menjahilinya. Tapi tetap saja Bella mengusap tengkuknya. Aldo menatap lurus pada jalanan. "Mana tangan lo?"
__ADS_1
Bella menatap Aldo bingung. Apa Aldo tidak bisa melihat kedua tangan Bella? Bella mengangkat tangannya yang ia gunakan untuk mengusap tengkuknya tadi. "emm..ini tang.."
Ucapan Bella terpotong saat tiba-tiba Aldo menggenggam erat tangan Bella. Bella menatap Aldo. Tak percaya ternyata Aldo bisa seromantis ini.
"Lo gak usah takut, gue ada disamping lo." ucap Aldo yang masih fokus pada jalanan. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Bella.
Bella membuka mulut hendah berkata, tapi tertutup kembali. Bella kehabisan kata-kata. Ia menjerit bahagia dalam hati. Ingin selalu seperti ini. Bella mengulum senyum. Terus menatap wajah tampan Aldo.
Aldo menatap spion lagi. Tiga hantu itu sudah menghilang, entah kemana. Aldo bisa merasakan dari genggamannya, Bella sudah mulai nyaman, tidak takut seprti tadi.
Seharusnya lo juga takut sama gue. Gumam Aldo dalam hati.
Genggaman ditangan Bella tak terlepas, malah semakin erat. Keduanya tak ada yang berucap, hanya diam menikmati sunyinya malam.
Setelah beberapa jam. Aldo memakirkan Porsche Boxster Merah itu dihalaman rumah Raisa. Mereka sudah sampai. Aldo melepas genggamannya.
Aldo genggam tangan aku lagi. Pinta Bella dalam hati.
Aldo keluar dari mobil terlebih dahulu. Bella mengerutkan bibirnya. Dan akhirnya keluar juga.
Bella menghampiri Aldo. Berhadapan. Manik mereka saling menumbuk. "Al, makasih udah nganterin gue sampai rumah, seharusnya gue yang nganter lo, kan lo gak bawa mobil."
"Gak masalah, gue bisa pulang sendiri," ucap Aldo datar.
"Masuk." perintah Aldo datar.
Bella mengangguk. Senyuman manisnya tidak luput dari wajahnya. Malam semakin larut, Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama didekat Aldo, tapi waktu malah berjalan begitu cepat.
Bella menatap lekat wajah tampan Aldo yang begitu dingin. Rasanya tak ingin meninggalkannya. "Gue masuk rumah, ya.
Aldo mengangguk.
Bella berbalik. Membelakangi Aldo. Mulai melangkah. Langkah pertama, Langkah kedua, Bella berbalik lagi. "Al, gu..."
Aldo mana?
Bella mengedarkan pandangannya. Kemana perginya Aldo, apa dia sembunyi? Secepat itukah Aldo. Bella menelan susah ludahnya. Mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang lagi. Bella bergidik. Segera berlari memasuki rumah.
*****
Samuel memiringkan tubuhnya kesamping. Menatap Kasur sebelahnya yang kosong. Biasanya Aldo tidur disampingnya. Samuel lagi-lagi khawatir. Sudah tengah malam seperti ini Aldo belum juga pulang. Apalagi saat ini, ia tau Aldo bersama Vera. Cewek yang sering keluyuran malam.
__ADS_1
Samuel mencoba menutup matanya rapat-rapat. Kembali membukanya lagi. Samuel langsung terduduk saat melihat Aldo sudah berdiri disamping ranjang.
Aldo mulai duduk disamping ranjang. Menatap Samuel bingung. "kenapa?"
Samuel tentu masih terkejut. Ia tadi tak mendengar suara langkah kaki atau deret pintu kamar. Tapi tiba-tiba Aldo sudah ada disampingnya.
"Lo sejak kapan disitu?"
"Baru aja," jawab Aldo.
"O-oh, yaudah." Samuel kembali merebahkan tubuhnya dikasur, menarik selimut sampai atas kepala. Entah kenapa ia sedikit merinding.
Aldo hanya tersenyum miring.
*****
Raisa menepati ucapannya pada Bella kemarin. Raisa dan Loli menemani Bella kemakam Bundanya. Hari ini hari minggu jadi mereka tidak perlu repot-repot ijin sekolah.
Sebelum Berangkat ketiganya sarapan pagi diruang makan. Mengemasi peralatan dan cemilan yang akan dibawa. Jarak Kota kelahiran Bella dengan kota saat ini, bisa memakan waktu Lima sampai enam jam. Jadi mereka banyak membawa persediaan makanan dimobil.
Setelah semuannya sudah siap. Mereka berangkat. Porsche Boxster merah milik raisa meninggalkan halaman rumah mewah itu.
"Gimana kalo kita beneran gak bisa nemuin makam Bunda?" Ucap Bella. Entah sejak kapan Bella menjadi orang yang selalu putus asa seperti ini.
Raisa melirik Bella yang duduk di jok sampingnya. Lalu kembali fokus pada jalanan. "Kita cari dulu, Bell. Yang penting kita usaha dulu, bukan menyerah duluan."
Loli yang duduk dijok belakang sendirian ikut bersuara. "iya Bel, jangan nyerah gitu dong. Kaya gue!"
Bella menoleh. Menatap Loli bingung. "Maksudnya kaya lo?"
Loli menyunggingkan senyuman. "Gue tetap betah baca novel, walau kadang novel yang gue baca sering bosenin."
"Lah, kalo bosenin kenapa lo tetap baca." Sahut Raisa.
"Gue pengen jadi suport buat para Author. Ya, gue hargain cerita mereka. Gue juga tau walau sebagian novel itu pasti ada yang bosenin, tapi para Author tuh juga pake otak nulis semuanya. Pasti mereka sedih kalo cerita yang mereka tulis gak ada yang ngasih vote, gitu atau isi komentarnya cuma promosi karya Author lainnya. Kasian kan, gak ada yang ngasih semangat."
Raisa mengangguk. Tumben Loli berpikir sedalam itu.
Bella yang dari tadi mendengar setiap kalimat Loli, nyaris ta berkedip. "Li, lo gak salah makan, kan?
"Atau belum minum obat," Tambah Raisa.
__ADS_1
Loli menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Menatap Bella dan Raisa bergantian. "Emang gue tadi makan apa?"