Cowok Misterius

Cowok Misterius
Dua Tujuh


__ADS_3

Jam pelajaran sudah selesai. Bel istirahat sudah berbunyi. Seluruh siswa DHANISTA Berhambur keluar kelas, mencari tempat tongkrongan untuk mengisi perut.


SMA DHANISTA termasuk salah satu sekolah tingkat atas, yang memiliki murid terbanyak dikota ini. Jadi, wajar saja jika sekolah sebesar DHANISTA terlihat sangat ramai oleh muridnya.


Selain ruang kelasnya yang terbagi beberapa ruang. Kantin DHANISTA juga terbagi Empat ruang, yang sangat luas. Jadi semua siswa nyaman ketika makan dikantin, tidak berdesak-desakan.


Biasanya saat jam istirahat, Bella mencari makanan bersama dua sahabatnya. Tapi kali ini Bella memilih kekantin sebelah untuk bertemu kekasih barunya, Aldo.


Berjalan menyusuri kantin. Bella tersenyum, tangannya terulur menyentuh bahu Aldo dari belakang. "Hai sayang."


Empat cowok yang duduk disatu meja makan itu, serempak menatap Bella.


Samuel yang sedang mengunnyah makanannya, menutup mulut dengan tangannya. Menatap Darel dan Nando yang ada diseberang meja. "Kalian punya kantong plastik gak?"


Darel menatap Samuel bingung. "Buat apa, Sam?"


"Gue mau muntah!" Samuel membungkuk, berpura-pura mengeluarkan isi perutnya.


Darel dan Nando menahan tawa melihat tingkah salah satu sahabatnya, untuk mengejek Bella.


Meringis kesakitan. Samuel mengelus belakang kepalanya yang baru saja dipukul Bella. "Lo kenapa pukul gue?"


Bella menatap Samuel dengan sorot marah. "Pikir aja sendiri!"


"Aneh." gumam Samuel pelan.


Bella mendengarnya. "Apa lo bilang?"


Samuel tak menjawab. Memilih fokus dengan makanannya.


Bella menghela nafas. Menatap Aldo yang masih mengaduk-aduk makanannya. Oke Bella, focus on your goals. Gak usah pikirin Samuel, yang bakalan ngerusak rencana lo.


Aldo meletakan sendok yang ia pegang kepiringnya. Menatap Bella dingin, saat Bella sudah duduk dipangkuannya. Tangan Bella terulur melingkar dilehernya.


Samuel menatap kedua pasangan kekasih itu, risih. Semua anak penghuni kantin juga melihatnya. "Kalian kalo mau pacaran cari tempat aman dong!"


Tak menghiraukan ucapan Samuel. Aldo dan Bella sama-sama diam. Manik mereka saling menumbuk.


Bella tersenyum. Tangannya semakin melingkar erat dileher Aldo. Jaraknya dan Aldo sangat dekat saat ini. Bella berbisik manja. "Al..."


"Minggir, gue mau makan." Dengan nada datar. Aldo berhasil membuat bella termangau.


"What did you say, Aldo?"


"Minggir, gue mau makan!" Aldo mengulang kalimatnya.


Berkedip beberapa kali. Bella tak yakin Aldo adalah pacarnya. Ini semua pasti pengaruh Samuel. Samuel memang pengaruh yang buruk untuk Aldo.


Atau Aldo memang gak suka dengan Bella?


Bella berdiri. Menatap tiga teman Aldo yang menahan tawa. Bella kali ini benar-benar malu. Aldo benar-benar tak menyukainya. Ia emosi. "Al, kita putus!"


Bella melenggang pergi.


Samuel menatap Aldo, tak percaya. "Al, lo serius, pacaran sama Bella cuma dua hari."


Aldo masih diam. Menatap kosong.


Kalo Bella putusin gue berarti...

__ADS_1


"Berarti kamu gak bisa lagi cari tau keberadaan manusia tua, ingat kunci utama kita adalah Bella."


Aldo menoleh. Dio sudah berdiri disampingnya. Benar kata Dio, kunci jawaban dari semua yang ia cari ada pada Bella, dan Aldo belum mendapatkannya tapi Bella sudah pergi.


Berdiri. Aldo melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan tiga temannya yang masih menatapnya bingung.


Aldo berjalan cepat menyusuri koridor. Dio masih setia mengikutinya. "Ajak Ruka dan Nandra kesini, suruh bantu cari Bella!"


"Lo ngomong sama siapa?"


Aldo berbalik. Menatap dua cewek yang tadi berdiri dibelakangnya. Ternyata Dio sudah tidak ada dibelakangnya. "Mana Bella?"


"Bella Calandra?" Raisa memastikan.


Memangnya ada berapa Bella disekolah ini, pikir Aldo. "Gue gak tau nama lengkap Bella. Yang jelas Bella teman kalian."


Raisa menautkan alisnya. Berpikir. "Bukannya Bella tadi kekantin langganan lo sama tiga temen lo?"


Tiba-tiba Dio muncul di samping Aldo. "Bella ada di toilet cewek."


Aldo masih menatap lurus kedua cewek didepannya, yang juga menatapnya, bingung.


"Di toilet ada..." Dio memberi jeda. Aldo masih mendengarkannya. "Ruka."


"Ruka." Aldo membeo.


"Aku suka sama Bella!"


"Kalo boleh, jadikan Bella seperti kami. Hantu yang mengabdi padamu."


Menggertakan giginya. Tangan Aldo mengepal. Beraninya Ruka mengganggu Bella.


"Ruka siapa sih?" Raisa menyadarkan lamunan Aldo.


Aldo melangkah pergi. Raisa dan Loli masih menatapnya bingung.


Raisa semakin curiga. Kenapa Aldo mencari Bella, dan siapa Ruka?


*****


Setelah selesai mencuci wajahnya, Bella menutup keran didepan wastafel. Menatap pantulan dirinya dicermin. Make up diwajahnya sudah luntur karena air. Tapi wajahnya tetap saja cantik.


Bella tersenyum kecut. "Aldo gak suka sama gue!"


"Tapi aku suka sama Bella."


Tangan Bella mengepal. "Gue harus cari pengganti Aldo."


"Sama aku aja!"


Bella menatap pantulan dirinya dengan sorot kecewa. "But I still love Aldo."


"Aduh, Bella ngomong apa sih?"


Ruka setia berdiri disamping Bella. Terus membalas ucapan Bella, padahal Bella tal bisa mendengarnya. Ruka cengingisan. "Yaudah, kita main yuk."


Kaget. Bella menatap keran didepan wastafel yang tiba-tiba terbuka sendiri. "Sekolah sebagus ini, keran rusak aja gak dibenerin."


"Kerannya gak rusak Bella," Ruka cengingisan. Membuka keran lagi yang baru ditutup Bella.

__ADS_1


Mata Bella membulat. Menatap sekelilingnya. "SIAPA YANG BERANI KERJAIN GUE, SINI LO. GUE TAU YA LO SEMBUNYI."


Ruka tertawa sampai terjungkal ke lantai. "Kamu makin lucu kalo teriak gitu, Bel."


Bella berjalan membuka setiap bilik toilet, tapi tak menemukan satu pun orang. Menoleh, keran itu terbuka lagi, lalu tertutup dengan sendirinya, terbuka lagi, tertutup, terus seperti itu. "LO PIKIR GUE TAKUT, KELUAR LO!"


Ruka ngesot dilantai, menghampiri Bella. Berdiri, lalu menarik rambut Bella, hingga Bella terjatuh kelantai. "Yakin kamu gak takut?"


Mengelilingkan pandangannya, mencari siapa yang baru saja menarik rambutnya. Bella semakin ketakutan. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. "SIAPA LO, SINI TUNJUKIN DIRI LO DIDEPAN GUE!"


Ruka semakin terbahak. Bella masih saja menantang, padahal sudah ketakutan seperti itu. "Aku pengen dengar Bella nangis."


Bella nyaris merangkak, ingin keluar dari tempat ini. Kakinya sangat berat, seperti ada yang menahan. Tak ada siapapun disini selain dirinya. Bella mulai terisak. Ia berusaha menarik kakinya yang berat. "Gue pasti bisa."


Ruka berjongkok di samping Bella. Mendekatkan bibirnya ketelinga Bella, Berbisik. "Aku cinta kamu."


Bella mendengarnya. Disekelilingnya tak ada orang, lalu siapa?


"Aku Ruka."


"SIAPA LO!"


Bella terus berteriak histeris. Kini ia bisa mendengar suara itu, tapi tetap saja tak bisa melihat. Ia semakin ketakutan. Merangkak lagi, nyaris sampai pintu. Kaki Bella terseret dengan sendirinya, semakin jauh dari pintu keluar.


Terisak-isak. Bella sudah sangat ketakutan. Kakinya Berat, tubuhnya semakin lemas. Kenapa tak ada orang yang mendengarnya, padahal ia sudah teriak sampai kerongkongannya terasa kering.


Merangkak, lagi-lagi Bella terseret semakin jauh dari pintu. Hampir putus asa, Bella terus merangkak, walau akhirnya ia terseret lagi.


"Aaaa!!!" Pekik Bella histeris, saat darah mengalir di lantai, entah dari mana asalnya.


Darah terus menggenang disekelilingnya, bau anyir menusuk hidung Bella. Perutnya mual, Bella memutahkan semua isi perutnya.


Bella semakin histeris, saat ia memutahkan cairan busuk bercampur Belatung.


"I Love you Bella!"


"I Love you Bella!"


"I Love you Bella!"


"I LOVE YOU BELLA!"


Matanya terpejam. Bella menutup kedua telinganya. Suara itu menggema, semakin keras hingga membuat telinga Bella sakit. "BERHENTI! JANGAN GANGGU GUE!"


Pintu nyaris didobrak. Aldo berlari, menghampiri Bella. Berjongkok didepannya.


Tangannya terulur memegang bahu Bella, menggoncangkan tubuh cewek didepannya agar tersadar. "Bella."


Bella terus berteriak, ketakutan. Matanya masih terpejam.


"Bella, ini gue Aldo!"


Terbuka. Bella menatap manik hazel didepannya. Berucap parau. "Al...do."


Bella masih panik. Mengedarkan pandangan disekelilingnya. Lantai sudah kembali bersih, tak ada darah, atau belatung. Suara yang mengganggunya juga sudah hilang.


Aldo menarik Bella dalam dekapannya. Menatap tajam Ruka yang masih tertunduk dibelakang Bella. Irisnya berubah merah. "Pergi!"


Beri semangat Author yuk!

__ADS_1


Tinggalkan jejak berupa like and commet.


Dapat Like dari kalian itu bikin author tambah semangat lho..


__ADS_2