
Kaki berbalut jeans hitam itu melangkah. Memasuki ruang ICU. Menghampiri gadis cantik yang masih terpejam. Selang oksigen masih terpasang dihidungnya. Tubuhnya semakin kurus, dan pucat.
Satu tahun koma, gadis cantik itu belum bangun juga. Kehidupannya hanya ditampung obat dan alat medis. Apa dia masih hidup?
Tangan terulur, membelai surai panjangnya. Manik hazel itu tak sanggup lagi melihat gadis didepannya. Menahan air mata yang hampir jatuh. Bibirnya berbisik parau. "Jangan pergi, Delia."
"Jangan pergi!" Bibir itu masih berbisik. Berharap gadis bernama Delia itu mendengarnya.
*****
Tak sanggup menahan. Air mata itu pun jatuh. Tangannya masih mengusap nisan dihadapannya yang bertuliskan nama Delia Arily.
Buket mawar putih itu sudah ia letakkan di depan nisan. Samuel menghapus air matanya.
"Semoga hubungan kalian langgeng, ya."
Lagi-lagi ia tersenyum pilu. Ucapan penjual bunga itu mustahil untuk menjadi nyata.
Hampir tiga tahun Delia pergi, tapi Samuel tak bisa melupakannya. Ia semakin rindu dengan Delia. Samuel terisak. "Delia, kenapa kamu pergi?"
"Kamu suka banget sama bunga, Lia."
"Enggak semua bunga juga, Sam. Aku suka mawar putih, cantik dan wangi."
"Kaya kamu dong."
"ih Sam, gombal."
"itu fakta, Lia."
"Sam, aku pengen kaya gini terus. Nanti kalo kita udah lulus SMP, kita lanjut di SMA DHANISTA ya."
"Kenapa harus DHANISTA?"
"Sekolahnya bagus, aku suka."
"cuma itu alasannya."
"Iya, kamu pengen apa?"
"emp...pengen kamu hehehe..."
"Sam!"
"Tapi kamu harus janji, kalo kita masuk DHANISTA kamu tetep sama aku jangan cari cowok lain."
"Aku janji. Kita berangkat sekolah bareng, kekantin bareng, kalo bisa kita satu bangku aja, gimana setuju?"
Samuel berucap parau. "Lia, kenapa gak nepatin janji kamu, kenapa kamu pergi, kenapa kamu tinggalin aku, kenapa Delia?"
Samuel memeluk nisan dihadapannya. Rindunya dengan sosok gadis cantik itu tak pernah terobati. Sampai kapan Ia tetap seperti itu, mencinta orang yang tak akan pernah kembali lagi?
__ADS_1
*****
Bella dan dua sahabatnya merebahkan tubuhnya di kasur secara bersamaan. Mereka baru sampai, Lelah itu pasti.
"Gue penasaran sama rumah tadi." Ucap Bella yang masih menatap langit-langit kamarnya.
Loli menoleh. Menatap Bella bingung. "Kenapa, lo penasaran sama rumah lo sendiri?"
Bella melirik Loli sekilas. Hanya berdecak tak menjawab pertanyaan sahabat disampingnya itu.
Raisa menggeleng. Dia tau maksud ucapan Bella. "Li, Rumah yang kelihatan angker tadi lho."
Loli membulatkan bibirnya. Sekarang ia paham. "Kenapa penasaran?"
"emp.." Bella berpikir. Sejak kapan ada rumah angker dikota kelahirannya. "Seingat gue, dulu gak pernah tuh lihat rumah kaya gitu."
"Mungkin waktu lo masih kecil, tuh rumah masih ditempati orang." pikir Raisa. Sebenarnya ia juga penasaran dengan rumah itu, kenapa rumah semewah itu menjadi angker seperti itu, bahkan melihatnya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
Loli terduduk. Menatap Bella dan Raisa bergantian. "Cari tau aja!"
Bella dan Raisa serempak menggeleng. Mereka tak mau berurusan dengan sesuatu berbau horor. Bukannya Loli yang paling penakut diantara mereka, kenapa malah bersemangat mencari tau?
Melihat dua sahabatnya menggeleng tidak mau. Loli menjadi bingung. Tadi mereka penasaran tapi tidak mau mencari tau. "kenapa?"
"Emang lo berani masuk rumah itu?" Tanya Raisa mengejek.
Loli tersenyum lebar. Menggeleng cepat. "Kalian berdua aja."
Bella dan Raisa menghela nafas. Sudah mereka duga, pikiran Loli selalu seperti itu. Membahayakan orang lain.
"Aaaaa!!!" pekik Bella. Ia langsung terduduk.
Raisa juga ikut terduduk. "Kenapa Bel?"
Bella menelan ludah. Menatap wajah kedua temannya yang semakin penasaran. Menghirup nafas dalam, Bella membaca ulang pesan notifikasi di ponselnya. "Seorang siswi SMA DHANISTA ditemukan sudah tidak bernyawa."
Loli menutup mulutnya yang menganga lebar.
"Siapa, Bel. Bukan teman sekelas kita, kan?" Raisa memastikan. Ia semakin penasaran.
Kembali membaca. Bella menggeleng. "Bukan teman sekelas kita"
Raisa bernafas lega.
"Siswi yang masih menggunakan seragam sekolahnya ini di temukan di halaman sekolah, pihak polisi dan sekolah menduga siswi ini bunuh diri, loncat dari atap sekolah."
Raisa dan Loli masih mendengarkan. Bella terus membaca.
"pihak polisi juga tidak menemukan sidik jari pelaku pembunuhan, atau luka sayatan. Jadi sudah jelas siswa ini bunuh diri, tapi pihak kepolisian dan sekolah masih mencari tau apa penyebab siswi ini bunuh diri. Pihak keluarga mengaku tidak pernah melakukan kekerasan pada korban dan tidak pernah melihat korban ini mengalami depresi sebelumnya."
"Siswi SMA DHANISTA kelas sepuluh IPA4, bernama Amira Yolanda."
__ADS_1
Badan Loli sudah gemeteran takut, mendengar berita itu. "Lama-lama sekolah kita horor juga."
"Gue sih, gak kenal sama siswi diberita itu. Jadi gue gak terlalu ngerasa horor. kalo yang mati teman sekelas kita, baru itu horor," ucap Raisa santai.
"Bener kata Raisa," Bella tersenyum. Melirik Loli disebelahnya. "Apalagi yang mati lo, Li. Pasti tambah horor."
"Ih, Bella! Gue masih pengen hidup." Loli mengerutkan bibirnya. Melihat kedua temannya yang malah ketawa.
*****
Diruang tengah. Selesai makan malam empat cowok tampan itu berkumpul. Sibuk dengan ponselnya masing-masing. Samuel, Darel dan Nando memainkan game bareng. Sedangkan Aldo hanya mengotak-atik ponselnya, entah apa yang ia lihat di posel itu.
"Bangke!" Nando mengumpat. Sebuah notifikasi memenuhi layar ponselnya.
"Kenapa lo log out?" tanya Samuel tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Baca notifikasi nih dari sekolah."
Beberapa detik Samuel dan Darel, ikut mengumpat. Mereka terpaksa meninggalkan game yang seru-serunya demi membaca notifikasi itu.
"WAAAAA!!!!" Nando melempar ponselnya kesembarang arah. Samuel dan Darel menatapnya bingung. Aldo hanya menatapnya datar.
"Kenapa lo, diputusin Samiyem?" Tanya Darel serius.
Nando menggeleng. Ekspresinya masih ketakutan. "Baca berita di hape kalian masing-masing!"
Samuel dan Darel segera membuka notifikasi chat di telponya. Berbeda dengan Aldo, ia tak mendapatkan notifikasi yang sama dengan teman-temannya. Ia kembali mengotak-atik ponselnya dengan santai.
"GILA!!" Samuel teriak histeris.
Darel menatap Samuel. Ia tahu Samuel juga membaca pesan yang sama dengannya. "Orang mati kok lo bilang gila sih!, Innalilahi ,Sam."
"Sorry, salah sebut gue." Samuel menatap Nando. "Berita ini yang lo baca tadi?"
Nando mengangguk. "Gue kenal sama Amira, anak kelas sepuluh. Gue pernah gebet dia dulu tapi gagal."
Darel menyipitkan pandangannya kearah Nando. "Jangan-jangan dia bunuh diri gara-gara liat lo sama Samiyem, dia frustasi. Padahal dia cinta mati sama lo, tapi malu nerima cinta lo, karena lo jelek."
Nando ketakutan. Iya menggeleng cepat. "Enggak! Amira gak mungkin gentayangan."
Samuel terkekeh geli melihat ekspresi Nando seperti itu. "Do, biasanya nih kalo hantu matinya penasaran atau bawa dendam dia pasti gentayangan."
Samuel dan Darel tertawa. Rasa takut Nando tiba-tiba hilang melihat kedua sahabatnya ini tertawa keras. Sekarang ia tau, ia hanya ditakut-takuti untuk dijadikan guyonan.
Tawa Samuel terhenti saat ia sadar Aldo menatapnya tajam. "Kenapa lo liat gue kaya gitu?"
Aldo kembali menatap ponselnya. "Gak apa-apa, gue tersinggung aja."
"Bener juga lo kan jadi incaran cewek, jangan-jangan Amira mati gara-gara kesaingan sama Bella." Darel kembali tertawa.
Nando juga ikut ketawa. Ia bahagia akhirnya pembulian beralih pada Aldo.
__ADS_1
Samuel diam. Kedua temannya salah tanggap ucapan Aldo. Tapi Samuel justru paham maksud Aldo 'Tersinggung'. Ia semakin penasaran dengan sosok Aldo saat ini.
Jangan Lupa Like and Comment!