Cowok Misterius

Cowok Misterius
Tiga Satu


__ADS_3

Bella masih tak percaya dengan ucapan Aldo tadi sore. Beni bunuh diri, pasti ada alasannya. Dan yang masih membuat Bella penasaran, rahasia Aldo yang diketahui Beni. Disaat Beni sudah tidak ada, Bella malah ingin menemuinya. Kenapa Beni tak langsung memberitahu rahasia Aldo lewat pesan ditelponnya. Bella semakin frustasi.


Raisa duduk tepi ranjang samping Bella. "Lo masih kepikiran penyebab kematian Beni?"


Bella hanya mengangguk lemas.


Loli yang sejak tadi membaca novel sambil rebahan, teringsut duduk. "Entah kenapa gue yakin banget, kalo Beni bunuh diri itu karena takut sama Aldo. Kalian tau sendiri kan, Beni itu penakut."


Ada Benarnya juga ucapan Loli, tapi kenapa harus bunuh diri?


"Sa, lo pernah bilangkan sama gue tentang jimat, kan?" Bella menatap Raisa serius. Raisa mengangguk ragu. "Gue yakin Aldo itu punya benda sejenis jimat."


Raisa dan Loli masih mendengarkan Bella.


"Soalnya Aldo pernah bilang, dia gak pernah bakalan mati, walau ditusuk beribu pisau!"


Sepertinya bukan itu rahasia Aldo, tapi bisa ada benarnya juga. Raisa memikirkan sesuatu. "Kalo emang iya, Aldo pasti nyembunyiin benda itu ditempat tinggalnya sekarang."


"Rumah sewanya Samuel?" Loli memastikan. Raisa mengangguk setuju.


"Kita kerja sama dengan Samuel aja, buat cari tau rahasia Aldo!" Saran Raisa pasti berhasil, apa lagi jika bergabung dengan Samuel yang mempunyai otak genius juga.


"Tapi.." Bella mengerutkan bibirnya. Raisa dan Loli menatapnya bingung. "Kenapa harus Samuel sih?"


Ya, memang jika Bella dan Samuel tak bisa disatukan. Menurut Raisa diantara tiga cowok sahabat Aldo, hanya Samuel yang bisa dimembantu mereka saat ini, walau sedikit sulit membujuk Samuel. "Sekali ini aja Bel, Kalo kita ngajak Darel atau Nando yang ada malah kacau. Please, ya Bel demi tau siapa Aldo yang sebenarnya."


Bella berpikir. Jika tanpa bantuan salah satu teman Aldo, tentu pasti akan sulit mencari informasi tentang Aldo. Bella mengangguk mensetujui ucapan Raisa.


"Terus sekarang gimana?" Loli menatap kedua temannya bergantian, dan malah balas menatapnya.


*****


Aldo duduk ditepi ranjang. Berpikir bagaimana cara menanyakan informasi orang yang ia cari pada Bella.


Bella pasti curiga kalo gue langsung tanya, Sebenarnya apa hubungan Bella dengan manusia itu?


Aldo mengacak kasar rambutnya. Disaat pikirannya kacau seperti saat ini tiga hantu yang menjadi budaknya malah tak datang, padahal Aldo membebaskan mereka dari hukuman.


Mengumpat dalam hati. Samuel yang sejak tadi sibuk bermain game sambil rebahan disamping Aldo, tiba-tiba mendapat pesan dari sahabat musuhnya.


Raisa


"Sam, gue sama Bella, mau minta bantuan lo."


Samuel berdecak. Para cewek itu hanya akan menyusahkannya.


Samuel


"Ogah!"


Raisa


"Samuel Xaviero, please gue minta tolong, ini ada hubungannya sama Aldo."


Samuel mendelik. menatap Aldo yang memunggunginya. Membuat Samuel semakin penasaran saja.


Samuel

__ADS_1


"Gue harus bantuin apa?"


Raisa


"Gak bisa gue omongin lewat chat, kita ketemuan aja!"


Samuel


"Ya iyalah gak bisa lo omongin lewat chat, tapi bisa lo ketik kok!"


Raisa


"Gue serius SAMUEL XAVIERO!"


Samuel


"Gue juga serius RAISA ELVARETTA!"


Raisa


"Yaudah kita ketemuan sekarang!"


Samuel


"Jangan sekarang deh, gue lagi main game, besok aja disekolahan."


Raisa


"Game mulu lo, yaudah deh besok."


Menoleh. Aldo berbalik, wajahnya kembali datar. "Gak."


"Gue kira lo nyesel balikan sama Bella," Samuel terkekeh. Aldo menatapnya dingin.


Merebahkan tubuhnya kembali. Samuel melanjutkan gamenya yang belum selesai.


Sama sekali gak ada penyesalan buat balikan sama Bella, karena itu emang tujuan gue. Aldo tersenyum miring.


*****


Empat cowok itu, keluar dari mobil milik Samuel. Berjalan beriringan, langkah mereka terhenti, tiga cewek cantik menghampiri mereka.


"Sam ayo!" Raisa langsung menarik lengan Samuel.


Tiga cowok itu menatap Raisa bingung. Sedangkan Samuel sudah paham tujuan Raisa.


"Kalian duluan aja kekelas, gue ada urusan sama tiga cabe-cabean ini." Setelah memberi titah kesahabatnya. Samuel mengikuti Raisa dan Loli yang sudah menarik kedua tangannya.


Tak mengikuti kepergian dua temannya. Bella masih berdiri dihadapan Aldo, padahal sebelum berangkat sekolah tadi Raisa sudah memperingatkan jangan dekati Aldo untuk sementara waktu. Tapi itu tak mungkin bisa untuk Bella. "Al, ikut aku bentar yuk!"


Menatap Bella datar. "Kemana?"


"Udah ikut aja." Bella langsung menarik pergelangan Aldo, membawanya pergi. Aldo menurut mengikutinya.


Darel menghela nafas berat. "Tinggal kita berdua, Do."


"Berdua," Nando mendelik. Darel menatapnya bingung. "Lo sendiri aja, gue pengen ketemu Alisa dulu. Bye.."

__ADS_1


Setelah melambaikan tangan, Nando melenggang pergi. Darel hanya berdecak. Menatap beberapa anak yang mengitari garis polisi.


Belum lama garis polisi itu dilepas karena kematian Amira Yolanda sudah diselesaikan, kini terpasang lagi karena kasus bunuh diri Beni Savian. Darel merasa ada yang aneh. "Amira dan Beni sama-sama bunuh diri, tempat dan cara mereka bunuh diri juga sama persis, memang aneh."


*****


Samuel menggeberak meja didepannya. Membuat dua cewek diseberang meja itu kaget.


"Lo nyuruh gue geledah barang-barang Aldo buat cari jimat?" Samuel menatap tajam Raisa dan Loli bergantian. Dua cewek itu serempak mengangguk. "terus kalo gue belum sempat nemuin tuh benda, Aldo udah mergokin gue gimana?"


Jika Samuel tak mau, lalu siapa lagi. Raisa harus berhasil memaksa Samuel. "Sam, kan lo juga sekamar sama Aldo. Masa kita suruh Bella sih?"


Samuel berpikir pasti Aldo marah jika mengetahuinya menggeledah barang-barangnya. Samuel tak mau persahabatannya dan Aldo rusak. "Gue setuju kalo Bella, dia kan pacarnya Aldo. Gak mungkinlah Aldo marahin pacarnya cuma gara-gara bongkar barang-barangnya."


"Gue gak yakin sama Bella, Sam." Raisa sudah tau betul sifat satu temannya itu. Bella terlalu luluh dengan ketampanan Aldo. "Bukannya nyari bukti, Bella milih berduaan dikamar Aldo nanti!"


Benar juga pendapat Raisa. Samuel mulai berpikir, apa dia harus menuruti saran Raisa. "Sebenarnya Aldo pernah bilang, kalo dia nyimpan rahasia. Gue bakalan tanyain dia nanti apa rahasiannya."


"Terus lo pikir Aldo mau jujur gitu aja," Raisa menggeleng. "Aldo pasti gak bakalan cerita sama lo."


"Ya di coba dulu Raisa. Kalo gak berhasil kita cari lain." Samuel menatap Raisa yang hanya mendengus. "Gue yakin kok, Aldo bakalan cerita semuannya ke gue!"


"Yakin banget." Gumam Raisa. Bertopang dagu, Raisa menatap kearah lain. Matanya membulat. "Bella!"


Samuel dan Loli serempak menoleh kearah Raisa tatap. Bella berjalan sambil bergelayut manja pada lengan Aldo. Melangkah mulai memasuki kantin.


"Kuntilanak kalian ngapain bawa Aldo, sih?" Samuel mulai panik. Semuanya bisa kacau kalo Aldo tau pembicaraannya dan dua sahabat Bella ini. "Gimana nih kalo kuntilanak tuh bawa Aldo kesini, terus Aldo curiga?"


Padahal Raisa sudah memperingatkan Bella jangan dekati Aldo mulai detik ini, tapi tetap saja keras kepala. "Jangan panik, kita mainin drama."


"Gila, lo pikir gue kaya kalian, yang hidupnya penuh drama, gak gue gak bisa!" Samuel berdiri, lalu melenggang pergi begitu saja.


"Sam!" Panggil Raisa setengah teriak.


Tak menghiraukan suara perempuan yang memanggilnya. Samuel terus melangkah hingga berpapasan dengan Bella dan Aldo.


Samuel. Jika Samuel disini berarti kedua temannya juga. Padahal Bella mengajak Aldo kekantin untuk menghidarkan Aldo agar tak membuntuti Samuel, tapi Bella salah memilih tempat.


"Be*o!" Setengah teriak didepan wajah Bella, Samuel kembali melangkah pergi.


Menganga, berkedip beberapa kali. Bella tak terima cemohan Samuel. Nyaris mengejar Samuel, tangan Bella ditahan Aldo.


Mendongak. Satu alis Bella terangkat. "Why?"


Menatap Bella tajam. Cekalan Aldo pada tangan Bella semakin kuat. Bella meringis kesakitan. "Lo tau, Samuel dan dua temen lo itu ngerencanain sesuatu?"


Tentu saja Bella tau ini juga termasuk rencana Bella. Bella menggeleng cepat.


Aldo tersenyum miring. Dua teman Bella masih duduk dikursi kantin yang sama. "Gue percaya sama lo."


Bella menatap Aldo tak percaya. Semudah itukah Aldo dibohongi.


"Kita kekelas aja!" Tanpa menunggu persetujuan Bella. Aldo menarik tangan Bella paksa, Bella mengikutinya.


Like and commentnya jangan lupa.


Boleh juga vote and rate. Sekalian follow Author, biar kita tambah dekat😊

__ADS_1


__ADS_2