Cowok Misterius

Cowok Misterius
Dua Lima


__ADS_3

Setelah Porsche Boxster merah terparkir dihalaman rumah tujuannya. Bella keluar dari mobil. Berjalan menghampiri pintu utama rumah itu.


Merapikan beberapa anak rambut yang kusut diterpa angin. Bella mengetuk pintu.


tok.


tok.


tok.


Entah kenapa pintu tak kunjung terbuka. Dingin, Bella memeluk dirinya sendiri. Sudah tau, dingin angin malam sampai menembus tulang, tetap saja Bella memakai drees tanpa lengan. Hanya demi bertemu Aldo.


Hacuh.


Bersin. Bella menutup hidung dan mulutnya bersamaan, dengan kedua telapak tangannya. Kepalanya tertunduk. Perlahan Bella mendengar suara deret pintu yang mulai terbuka. Maniknya tak dapat menatap orang yang ada didepannya, karena terhalang rambut Bella yang kini sudah menutupi sebagian wajahnya.


"KUN-KUNTILANAK!!"


Mendongak. Bella menatap orang yang kini berdiri dihadapannya, dengan wajah ketakutan.


"KUN-KUNTI!!" Pekik Samuel histeris. Maniknya menatap dua sahabatnya yang masih diam disofa. Samuel tak berani memandang keluar pintu lagi.


"KUN-KUN.."


BUK!


Sebuah tas kecil mendarat tepat di wajah Samuel. Samuel meringis kesakitan.


Bella menyelonong masuk begitu saja. Sambil merapikan rambutnya yang sudah mulai berantakan.


"Bella!" Sudah Darel duga. Kuntilanak yang dimaksud Samuel, selalu cewek yang paling hitz di sekolahnya.


Bella melirik Samuel dengan sorot murka. "Gak bisa ya, sehari aja gak panggil gue kuntilanak? Gue punya nama, Bella Calandra gak ada embel-embel kuntilanak di nama gue. Ngerti!"


Samuel berdecak kesal. "Barusan lo nakutin gue, penampilan lo tadi emang mirip kuntilanak kok!"


"Ih, Sam. Gue tadi.." Bella menutup mulutnya. Percuma berdebat dengan Samuel, akan memperpanjang waktunya saja.


Samuel mengangkat satu alisnya. "Gue tadi, apa?"


"Mana Aldo?"


"Aldo gak ada dirumah, barusan keluar," Jawab Darel jujur.


Bella menatap Darel, tak percaya dengan ucapannya. "Bohong!"


Bella berjalan menyusuri setiap ruangan dirumah itu tanpa ijin sipemiliknya.


"Ngeyel banget sih!" Samuel menatap Bella yang berjalan ke arah kamarnya. "Woy, ini rumah cowok jangan sembarang masuk dong!"


Tak menghiraukan teriakan Samuel. Bella memasuki salah satu kamar. Sepi, tak ada siapa pun dikamar itu. "Ini pasti bukan kamar Aldo."


Bella keluar. Memasuki kamar satunya lagi, yang berada disamping kamar barusan. Sama saja tak ada Aldo disana. "Mereka sembunyiin Aldo dimana, sih?"


Bella melangkah lagi. Memasuki ruang dapur. Tidak ada orang. Bella berdecak kesal. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sama saja. "Aldo kemana sih?"

__ADS_1


Dengan wajah kesal. Bella menghampiri tiga cowok yang duduk disofa tengah. "Kalian sembunyiin Aldo dimana sih?"


"Nih, disaku celana gue." Samuel menunjuk saku kanan celananya.


Tiga cowok itu terbahak-bahak. Padahal Bella sedang serius.


Ditengah tawanya, Samuel menatap Bella yang masih berdiri ditempat. "Udah deh, mending lo sekarang pulang!"


"Gue gak mau pulang sebelum, gue ketemu Aldo!"


"Seterah! Lo emang gak takut, sama kami." Samuel menunjuk dirinya dan kedua temannya. "Kami bertiga bisa aja nyerang lo kapan pun, kami juga cowok normal. Apa lagi kalo ada cewek sexy datang kerumah."


Tiga cowok itu lagi-lagi tertawa.


"Serang aja!" Bella berhasil membuat tiga cowok itu diam seketika. "Ayo sini buruan serang!"


Samuel menelan ludah. Menatap Bella tak percaya. Ternyata cewek didepannya saat ini sudah tidak waras.


Samuel bangkit dari duduknya. Kedua temannya masih diam. Samuel menghampiri Bella menarik tangannya kasar. Bella merintih kesakitan, Samuel tak peduli. Menarik paksa Bella, membawanya keluar rumah.


Samuel melepaskan cekalannya pada tangan Bella. Samuel berdiri ditengah pintu, menghalangi Bella yang ingin masuk kerumahnya lagi. "Sekarang lo pulang!"


"Sam, gue cuma pengen ketemu Aldo. Lo kan tau hari ini, hari pertama gue sama Aldo jadian." Bella menatap Samuel dengan sorot memohon. Menarik tangan Samuel. "Ayo beritahu gue, Aldo kemana."


"Sam, lo tega banget sih. Coba lo bayangin seandainya gue tuh lo, terus Aldo itu cewek lo yang tiba-tiba ngilang. Gimana perasaan lo, Sam?"


"Sam, kita putus aja ya."


"Gak, aku gak mau!"


"Sam, umur aku gak lama lagi.."


"Sam, hidup aku gak lama lagi."


"Lia, kamu gak boleh pergi!"


Samuel memejamkan matanya rapat. Ingatan masa lalunya datang lagi, sangat menyakitkan untuknya. Rasa marah dan sedih menjadi satu dihatinya.


"SAM!"


Teriakan Bella menyadarkannya. Samuel. Menatap Bella bingung. "kenapa?"


"Aldo dimana?"


Samuel menghela nafas. "Gue juga gak tau Aldo kemana."


Bella mengerutkan bibirnya. Tentu ia kecewa dengan jawaban Samuel.


"Tapi gue bantu lo cari Aldo."


"Serius?" Mata Bella membulat. Samuel mengangguk lemas. "Nah gitu dong!"


Bella kegirangan. Ia langsung menarik Samuel kedalam mobilnya.


*****

__ADS_1


"Selanjutnya, apa yang kamu lalukan ke Bella?"


"Apa kamu langsung bertanya ke Bella dimana manusia tua itu?"


Aldo hanya diam. Sudah dua jam Aldo duduk dikursi taman itu, ditemani dua sahabat hantunya yang terus-terusan memberinya pertanyaan.


Berdiri. Aldo menatap dua sahabatnya, yang masih duduk dikursi yang ia duduki tadi. "Apa tidak ada kalimat lain, selain pertannyaan?"


"Aldo." Ruka mengangkat tangan. Aldo mengankat satu alisnya. "Aku suka sama Bella!"


Ruka Cengingisan. Aldo tetap menatapnya dingin. "Kalo boleh, jadikan Bella seperti kami. Hantu yang mengabdi padamu."


"Enggak! Setelah kalian, gak ada lagi hantu yang akan ku jadikan, budakku lagi. Cukup kalian!"


"Aldo!"


Aldo berbalik. Bella sudah berdiri dibelakangnya bersama Samuel.


"Lo ngomong sama siapa?" Bella menghampiri Aldo. Memperhatika kursi yang kosong didekat Aldo. "Lo.."


"Gak." Aldo memotong ucapan Bella. Bella menatapnya bingung. "Gue gak ngomong, sama siapa-siapa."


Bella tak percaya. Jelas ia tadi mendengar sendiri, Aldo menghadap kekursi itu dan berbicara. Ini kedua kalinya bagi Bella memergoki Aldo bicara sendiri. Sebenarnya apa yang Aldo rahasiakan darinya.


Aldo tau Bella bukan orang yang mudah dibohongi. Bella masih penasaran tentang dirinya. Aldo segera mengalihkan pembicaraan, agar Bella tak banya bertanya lagi.


"Ngapain lo kesini sama Samuel." Aldo memandang Samuel sesaat, lalu kembali menatap manik Bella. "Lo selingkuh?"


"Idih, amit-amit." Samuel bergidik jijik. "najis."


"Al, gue tuh masih waras, jadi gak mungkin gue berpaling dari lo terus milih Samuel, iuhh."


Samuel menahan nafas. Tak terima dengan ucapan Bella, yang secara tidak langsung menyatakan bahwa orang yang pacaran dengan Samuel itu tidak waras. Dari pada harus menahan emosi, Samuel memilih pergi meninggalkan Aldo dan Bella.


"Sam." Aldo menghentika langkah Samuel yang hendak pergi. Samuel menatapnya. "Kemana?"


"Gue harus pulang. Lo disini aja pacaran sama anak kunti, tuh." Samuel menunjuk Bella dengan dagunya. Bella memutar kedua matanya, kesal.


"Kita pulang bareng." Aldo kembali menatap Bella yang sepertinya hendak protes. "Bisa kita lanjutin besok."


Bella menghela nafas berat. Mau tidak mau ia harus menuruti Aldo, dari pada ditinggal disini sendirian. "Yaudah deh, yuk pulang."


Bella sudah hendak melangkah. Manik Aldo tertuju pada Ruka yang melayang di belakang Bella. Ruka hendak memeluk Bella. Dengan sigap Aldo menarik lengan Bella, membuatnya menubruk dada Aldo.


Bella tertegun. Kenapa dengan Aldo?


Aldo menatap Ruka, murka. Ruka menunduk takut, lalu menghilang diikuti dengan Andra.


Menunduk. Menatap manik Bella. "Sorry."


Bella mengulum senyum. "Malam ini, Lo pengen kencan kan sama gue?"


Samuel yang melihat kedua pasangan didepannya, risih. "Yaudah Al, kalo mau pacaran. Pacaran aja gue bisa pulang sendiri kok."


"Gue juga mau pulang." Aldo menatap Bella, berbisik. "Kalo gue gak narik lo, lo mungkin bisa kesurupan."

__ADS_1


Aldo tersenyum miring pada Bella, lalu melenggang pergi. Samuel mengikuti Aldo. Bella masih diam ditempat, menatap punggung dua cowok yang semakin menjauh.


"Maksudnya Aldo apa?" Bella mengusap tengkuknya, entah kenapa tiba-tiba meremang. Menatap sekelilingnya, lalu berlari menyusul kedua cowok yang sudah jauh.


__ADS_2