
"Mati buat gue ya!"
Bella menggeleng, memberontak. Aldo semakin mengeratkan pelukannya. Tak membiarkan Bella lepas. Bella menangis sesegukan.
Samuel dan teman-temannya hanya diam. Mereka juga takut jika selanjutnya, mereka yang akan dilenyapkan oleh Aldo.
Cukup lama Aldo memeluk Bella, hingga akhirnya ia melepaskan pelukannya. Menyisipkan rambut Bella ke belakang telingannya. Aldo mencium kening Bella singkat.
Manik sayu dan berair milik Bella menatap lurus manik Aldo. Ini hal teromantis yang Bella dapatkan dari Aldo, namun bukannya senang Bella malah tambah takut dengan cowok didepannya ini. Apa selanjutnya yang akan Aldo lakukan pada dirinya?
Lagi-lagi Aldo mencium kening Bella, kali ini lebih lama. Berharap bisa menenangkan Bella dari takutnya.
Manik Bella terpejam. Tangannya yang penuh luka sayatan itu menggenggam erat sisi lengan jaket Aldo. Bibirnya yang masih bergetar, berucap lirih. "Jangan bunuh gue. Gue masih pengen hidup Al, gue masih pengen meluk bunda gue. gue mohon Al!"
Aldo melepaskan ciumannya pada kening Bella. Tatapannya berubah lembut. "Lo nyesel kan suka sama gue? lo sekarang nyesel kan jadi pacar gue? iya kan?"
Sebenarnya Bella ragu. Apa dia menyesal bertemu dengan Aldo? Apa dia menyesal mencintai Aldo? Entahlah, saat ini Bella rasa......Gue masih sayang sama lo, walau sekarang gue udah tau siapa lo. Gue tetep cinta sama lo walau lo udah mati. Gue tetep mau jadi pacar lo, walau lo udah bunuh ayah gue.
"Sekarang gue tau." Aldo tersenyum. Ini pertama kalinya Bella melihat Aldo tersenyum. "Walau hati gue udah mati, tapi.....gue mulai suka sama lo."
Tangan Aldo terulur mengusap surai Bella. Bella tertegun. Apa maksudnya?
"Kita beda Bel, walau kita saling suka..." Aldo tersenyum miris. "Kita gak akan pernah satu, sampai kapanpun."
Satu ciuman singkat lagi-lagi mendarat dikening Bella. "Gue pergi!"
Menggeleng, tak mengijinkan cowok didepannya ini pergi. Bella semakin menguatkan genggamannya pada jaket Aldo. Aldo mulai berdiri. Bella mengikutinya, memaksakan kakinya yang semakin sakit untuk berdiri. Namun lagi-lagi Bella terjatuh, hingga genggaman Bella terlepas begitu saja.
Aldo melangkah mundur, memberi jarak dengan Bella. Menatap Alisa dan teman-temannya yang masih berdiri ditempat. "Alisa maaf kakak gak bisa jagain kamu..."
Alisa menggeleng, tak terima dengan ucapan kakaknya. Ia masih ingin melihat Aldo lebih lama lagi, walau semua itu membuatnya takut.
"Sam." Manik Aldo terarah pada Samuel. Samuel semakin tegang. "Jagain Alisa, jangan biarin Alisa dekat dengan Nando."
Nando hendak protres. Namun mengingat siapa Aldo sekarang, Nando mengurungka niatnya itu.
Tatapan Aldo kini mengarah pada Seruni. "Tante seruni saya minta maaf, karena saya telah membunuh suami tante. Sekarang tugas saya sudah selesai tante. Saya titip Bella dan Alisa, tolong jaga mereka!"
Semua dibuat bingung dengan Aldo, 'tugasnya sudah selesai?' berarti artinya....Aldo tak jadi membunuh Bella, juga mereka semua.
Aldo menatap arah tempat jasad Toni tergeletak. "Kita pergi!"
Eh, 'kita'?
Ruka dan Andra mengangguk. Ruka melambaikan tangan ke Bella. Namun percuma Bella tak bisa melihatnya.
Aldo memejamkan maniknya. Seketika, semua lampu dirumah itu pecah. Raisa dan Loli berteriak histeris.
__ADS_1
Gelap. Seruni meraba benda di sekelilingnya, untuk membantunya berpegangan. Berjalan kearah putrinya yang masih menangis, memanggil nama Aldo. Seruni memeluk Bella erat, menenangkannya. "Sayang bunda disini sayang."
"Aldo, jangan pergi!"
"Bella..." Seruni sedih. Kenapa putrinya jadi seperti ini? "Tenang Bella."
Bella terus berteriak, hingga teriakannya melengking. "Aaaaaaaargh!"
*****
"Bella. Bangung sayang!"
Terjaga. Bella duduk spontan. Nafasnya memburu, dia mengedarkan pandangannya dan bundanya duduk disampingnya sambil menatap cemas.
Seruni tersenyum, dia tau apa yang terjadi dengan putrinya ini. "Mimpi buruk lagi?"
Bella mengangguk. Seruni mengusap keringat dingin dipelipis Bella. Menyuruh putrinya segera mandi untuk bersiap berangkat sekolah, karena Alisa sudah menunggu.
Setelah selesai membersihkan diri dan merapikan penampilannya didepan cermin, Bella langsung berangkat sekolah dengan Alisa. Seperti biasa mereka di jemput dua temannya yaitu Raisa dan Loli.
Melihat Bella duduk disampingnya, termenung. Alisa menghela nafas, setelah Aldo menghilang Bella jadi seperti ini. "Kak Bella gak pa-pa?"
Bella hanya menggeleng lemas.
Raisa dan Loli yang melihatnya juga bingung. Kenapa dengan Bella, setelah tinggal bersama dengan bundanya, Bella jadi lebih pendiam tidak seperti sebelumnya.
Manik Bella memandang ke luar jendela mobil sampingnya. Dua bulan sudah kejadian itu berlalu, tak ada yang mengingatnya. Tentang Aldo dan kematian ayahnya, hanya dirinya, Samuel, dan Alisa yang masih kenal dengan Aldo Altair. Mungkin Aldo sudah menghapus ingatan semua temannya termasuk bundanya, Seruni.
"Lo pasti tau kan..." Raisa menatap Alisa, lalu meluruskan pandangannya pada Bella. "Apa yang terjadi dengan Bella?"
Benar. Alisa memang tau apa yang membuat Bella menjadi seperti ini. Namun Alisa sepakat untuk merahasiakan kejadian dua bulan lalu pada semuannya. Jika Aldo menghapus ingatan mereka, berarti Aldo tak mengijinkan mereka tau. Cukup dirinya, Bella dan Samuel yang menyimpan ingatan itu.
Menggeleng. Alisa tersenyum pada Raisa. "Walaupun saya tinggal satu rumah dengan kak Bella, tetap saja kak Bella enggak pernah berbagi cerita dengan saya. Mungkin sampai kapanpun kak Bella akan tetap nganggap saya ini musuhnya."
"Sabar ya Lis." Tangan Raisa menepuk pelan pundak Alisa. "Gue juga bingung, apa yang nyebabin Bella jadi benci ama lo? Apa lo pernah buat salah sama Bella?"
Tentu, dulu Alisa pernah membuat Bella kesal karena menyembunyikan rahasia Aldo darinya. Alisa juga membuat Bella terpisah dari bundanya. Dan kesalahan yang sekarang Alisa lakukan yaitu mencintai Samuel Xaveiro, yang notabenya adalah musuh Bella.
"Saya hanya berusaha sebaik mungkin untuk bisa berteman baik dengan kak Bella, seperti kalian." Alisa tersenyum tipis, lalu melenggang pergi.
"Kasihan Alisa ya." Manik Loli masih menyorot kepergian Alisa. Raisa mengangguk, mensetujui ucapan sahabat disampingnya ini.
*****
Pulang sekolah......
Berjalan sendiri di troroar, dibawah terik matahari yang membakar kulit. Ini hal yang paling Bella benci. Kehidupannya memang berbanding balik dari sebelumnya. Walau dulu sang ayah tak memperhatikannya, tapi Bella selalu dimanjakan harta. Bahkan teman-temannya selalu merawatnya dengan baik.
__ADS_1
Sekarang, semuannya berbeda. Bahkan untuk membayar taxi saja uangnya tak mencukupi. Raisa dan Loli memang masih mau memberinya tumpangan, namun jika harus semobil dengan Nando dan Darel juga, lebih baik Bella memilih berjalan.
Sedangkan Alisa, tak lagi memikirkan dirinya jika sudah bermesraan dengan Samuel. Sungguh menjijikan.... kenapa adik ipar dan musuhnya di takdirkan bersama.
Bella mendengarkan musik lewat earphond yang ia gunakan, jari-jarinya masih sibuk mengotak-atik benda pipih itu. Kakinya terus melangkah, hingga sampai pada jalanan yang sunyi, tak ada seorangpun disana kecuali dirinya. Namun Bella tak perlu takut, matahari masih bersinar terang tak mungkin ada kuntilanak yang menghampirinya.
Jika ada todong dia tak perlu takut. Apa yang harus Bella berikan, uang pun tak ada. Jika si todong menginginkan tasnya, dia tak keberatan memberikannya.
Namun.....Bagaimana jika ada orang gila yang mau memperkosanya. Bella, kan cantik dan tentunya masih perawan.
Semakin mempercepat langkahnya, semakin cepat, dan semakin cepat!
Pandangan Bella tak lepas dari layar ponsel.
Bruk.
"Awh." rintih Bella kesakitan saat terjatuh, earphond-nya terlepas.
"Lo gak pa-pa?"
Suara itu..... Bella mendongak, menatap orang didepannya yang barusan dia tabrak. Maniknya membulat tak percaya. "A...Aldo!"
Bella berdiri. Tangannya terulur meraih wajah cowok didepannya yang lebih tinggi sepuluh centi darinya. Aldo tak seperti dulu yang selalu menatap dirinya dingin, kini Aldo lebih lembut. Ini membuat Bella lebih nyaman dan semakin luluh, hingga Bella lupa siapa Aldo sebenarnya.
Tanpa sadar Bella sudah memeluk Aldo erat. Semakin erat, melepaskan kerinduannya selama dua bulan ini. Tangan Bella meremas sisi Belakang hoodie Aldo. Bibinya berucap lirih. "Jangan tinggalin gue, Al. Jangan pergi lagi. Please!"
Aldo membalas pelukan Bella. Mengusap lembut surai cewek yang mulai terisak dalam dekapannya itu. Wajah Aldo kembali dingin, seringai lebar mulai terukir di bibirnya. "Gue gak akan pergi lagi Bel, mulai sekarang gue selalu ada di samping lo. Selamannya!"
Selamanya?
Bella melepaskan pelukannya. Mendorong tubuh Aldo untuk melepaskannya, namun Aldo semakin mendekapnya erat.
"Aldo bisa lepasin gue sebentar gak?" Bella berusaha tak panik. Dia tau Aldo dan dirinya berbeda mana bisa selamannya bersama? mungkin Aldo hanya berusaha menenangkannya. "Kalo lo meluknya seerat ini, gue gak bisa nafas Al."
Tak mempedulikan ucapan Bella, Aldo hanya diam.
"Al!" Bella semakin tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Aldo terlalu berlebihan, apa Aldo juga rindu dengannya?
Bella tertegun. Rasa nyeri, perih dan panas menjadi satu. Aldo melepaskan pelukannya, Bella tertunduk. Darah segar bercucuran, menembus kemeja putihnya. Manik Bella menggenang, terarah pada tangan Aldo yang masih memegang pisau berlumurkan darah.
Kakinya tak sanggup lagi menahan tubuhnya, Bella terjatuh.
Aldo berjongkok dihadapannya. Seringainya semakin lebar. "Kita bersama selamanya kan?"
~Tamat~
Eaa....Ada yang gak suka ama endingnya? Gak ada dong.
__ADS_1
Silakan ramaikan kolom komentar, jangan lupa rate and like yup😘
Btw ini ending yang paling menarik bagi saya😂😂😂