
Setelah beberapa lama, akhirnya mobil yang ditumpangi mereka sampai didepan rumahnya. Alisa bernafas lega, ia tak sanggup lagi harus menahan malu didepan Samuel.
Alisa segera keluar dari mobil Samuel. Meletakan buket mawar putih itu dijok tempat duduknya tadi.
"Alisa." Samuel menghentikan Alisa. Alisa menatapnya bertanya. "Kalo mau ambil aja."
Tersenyum. Alisa mengangguk, lalu kembali mengambil buket mawar itu. "Makasih kak."
Alisa menutup pintu mobil. Samuel ikut keluar dari mobilnya.
"Cupu!"
Samuel dan Alisa serempak berbalik. Bella berlari menghampiri.
Alisa Panik. Ternyata Bella mengikutinya sampai rumah. Gawat, bagaimana jika Bella terus-terusan menanyainya di depan Samuel? Jangan sampai terjadi, Samuel juga bisa ikut-ikutan curiga dengannya.
"Cupu udah gue bilang lo gak bisa lari dari gue, ngerti gak sih lo!" Bella mencekal pergelangan Alisa. Alisa memberontak. "Lo gak bisa kabur lagi dari gue!"
Samuel melepaskan cekalan Bella pada pergelangan Alisa, lalu mendorong Bella kasar.
"SAMUEL!" Teriak Bella tak terima.
"Lo ngapain sih Bel, mau bully Alisa lagi? Lo gak liat ini?" Samuel menunjuk rumah Alisa. "Lo mau bully Alisa didepan tantenya? Gila lo!"
"Bodo!" Manik Bella menatap Alisa tajam. Alisa tertunduk, memeluk erat buket mawar itu. "Gue gak akan bully dia kok, kalo dia mau ceritain semua rahasia Aldo ke gue!"
Samuel menatap Alisa tak percaya. Ternyata selama ini... "Lo tau rahasia Aldo?"
Bagaimana ini? Sesaat, Alisa melirik Samuel yang berdiri disampingnya. Alisa tertunduk kembali. Apa yang ia harus katakan sekarang? Aldo tak mungkin membantunya lagi, tentu saja. Sekarang Aldo tak ada ditempatnya ini.
"Alisa, kenapa temannya gak disuruh masuk!"
Menghela nafas lega. Suara merdu itu, Alisa tau siapa.
Samuel dan Alisa berbalik. Menatap seruni yang tadi mereka punggungi.
"Iya tante." Alisa tersenyum. "Oh iya tante, ini ada seniornya Alisa yang belum Alisa kenalin ke tante."
Samuel yang menghalangi pandangan seruni pada Bella menyisi.
Manik Bella seketika membulat, saat tatapannya bertemu dengan perempuan paruh baya dihadapannya sekarang. Nyaris tak percaya, air mata Bella menggenang. Benarkah yang ia lihat sekarang? bibir Bella yang bergetar berucap lirih. "Bunda."
Ucapan serak Bella membuat Samuel dan Alisa serempak kaget.
"Bunda?" Satu alis Samuel terangkat. Apa dia tidak salah dengar?
Bella berlari, memeluk erat Seruni. Seruni membalas pelukan Bella. Air matanya sudah membasahi pipinya. "Bella ini beneran kamu kan nak?"
Ini seperti mimpi bagi Seruni bisa melihat kembali putrinya yang sepuluh tahun menghilang. Sekarang Bella sudah tumbuh dewasa, Seruni nyaris tak mengenal putrinya saat ini.
"Jadi kak Bella....." Ucapan Alisa menggantung. Ia baru sadar, ternyata Aldo mendekati Bella karena Bella anak dari Toni, manusia yang telah membunuh keluargannya. Berarti tidak hanya Toni yang akan mati, berarti Bella juga.
*****
Duduk sendiri di sofa berwarna coklat bercampur bercak darah yang sudah mengering. Sesaat Aldo tersenyum bengis. Maniknya menatap kosong. Tangannya terus memainkan pisau yang ia pegang.
"Bella..." Wajahnya kembali dingin. Aldo menoleh, menatap lantai yang dipenuhi ceceran darah yang sudah kering hingga berwarna kecokelatan. Sudah berapa tahun, darah itu tak juga hilang dari lantai rumahnya.
Lagi-lagi Aldo tersenyum bengis. Ruangan nan megah namun redup cahaya. Disinilah tempat dimana Aldo dan kedua orang tuanya dibunuh. "Gue pastikan darah keluarga parthenios juga akan tumpah!"
Aldo menjatuhkan pisau ditangannya. Suara dentingan pisau dan lantai menggema dalam ruangan sunyi itu. Satu sudut bibir Aldo terangkat.
__ADS_1
"Aldo." Dio menampakan wujudnya bersama Andra dan Ruka. "Kenapa kamu menyuruh kami kesini?"
"Beritahu Damballa.." Aldo menatap tiga hantu dihadapannya. "Kita akan berpesta darah malam ini!"
Menganguk serempak. Dio dan Andra menghilang.
"Aldo." Ruka tertunduk ketika tatapan Aldo kembali dingin. "Selanjutnya darah siapa yang kamu berikan ke Iblis ular itu?"
"Manusia tua..." Aldo memberi jeda. Ruka membulankan bibirnya sambil mengangguk. "Dan Bella."
Manik Ruka nyaris keluar. Senyuman sumeringah itu mulai terukir di bibirnya. Ini kabar terbaik yang ia pernah dengar. Akhirnya cewek yang ia sukai akan hidup di alam yang sama dengannya. "Aldo, biarkan aku yang menikmati darah Bella. Darah manusia tua saja yang kamu serahkan pada Damballa."
"Pergi!"
Aldo acuh dengan ucapan Ruka. Ruka mengerutkan bibirnya. Biasaya, iblis ular bernama Damballa itu yang paling Ruka benci didunia ini, tapi sekarang Ruka sangat membeci mayat bernama Aldo. Ruka pun menghilang begitu saja dari hadapan Aldo.
"Udah saatnya lo mati Bel!" Aldo mengambil pisau yang ia jatuhkan tadi, lalu memasukannya kedalam saku jaket hitamnya.
*****
Bella terus menangis. Tangannya tak melepaskan pelukan pada Seruni. Seruni terus menenangkan putrinya. Mereka sudah duduk disofa ruang tengah, bersama Alisa dan Samuel.
"Nangisnya udahan ya sayang, yang penting kamu dan Bunda udah ketemu. Kita bersama lagi kaya dulu." Seruni mengelus lembut surai panjang Bella. Menenangkannya, mungkin Bella sangat rindu dengannya sampai tak mau melepaskan pelukannya.
"Iya kak Bell, jangan nangis terus nanti mata kak Bell bengkak lho." Alisa ikut menenangkan Bella.
"Lagian lo kok gak bilang sih, kalo lo tinggal ama bunda gue hiks hiks." Bella masih terisak, tangannya tak mau melepaskan pelukannya. "Kalo lo bilang ke gue dari awal, gue pasti udah lama ketemu bunda hiks."
"Maaf kak Bell." Alisa tertunduk. Ia kira ketika Bella didepan bundanya sikapnya akan berubah lebih baik, ternyata sama saja.
"Udah gak usah nyalahin Alisa." Tangan seruni menyisipkan rambut Bella ke belakang telinga. "Ini juga karena Alisa, Bunda bisa ketemu sama kamu sayang."
Menatap Bella dengan sorot Malas. Samuel menghela nafas. "Lagi nangis sempat-sempatnya nyalahin orang."
Seruni menatap arah yang ditunjuk Bella dengan dagunya. Lalu tersenyum pada putrinya. "Sayang, Samuel itukan pacar Alisa."
Eh!
"Bu...bu-bukan tante!" Alisa tergagap. Ternyata Seruni masih benar-benar menganggap Samuel pacarnya. "Kak Sam itu...."
"Saya cuma teman Alisa tante." Potong Samuel cepat.
Nyaris tak percaya dengan ucapan bundanya. Bella tertawa renyah. Dua musuhnya berpacaran? Berarti...."Kalo kalian pacaran, Cupu bakal gak gangguin gue sama Aldo lagi."
Tertegun. Alisa meremas jarinya. Kenapa Bella membahas Aldo didepan Seruni. Bagaimana jika.....
"Aldo?" Nama yang tak asing bagi Seruni. Tiga remaja dihadapannya menatapnya. "Aldo Altair?"
Bella tersenyum sumeringah. Ternyata Bundanya sudah mengenal Aldo. Apa ini yang dinamakam jodoh? "Bunda tau dari mana tentang Aldo?"
Seruni menatap Alisa yang tertunduk. Ada yang aneh dengan anak itu. "Aldo kan kakaknya Alisa."
Samuel dan Bella serempak menatap Alisa kaget. Kenapa Alisa tak pernah mengatakannya? Bella jadi merasa bersalah telah membully calon adik ipar sendiri.
Tangan Bella terulur menyentuh tangan Alisa yang basah karena keringat dingin. "Maafin gue cupu...eh maksudnya Alisa. Restuin gue sama Aldo ya."
"Restuin!" Seruni sangat bingung dengan anaknya ini. "Aldo kan sudah meninggal, sayang."
hah?
Serempak membelalak. Bella dan Samuel memang tak percaya apa yang dikatakan Seruni. Aldo bukannya masih hidup?
__ADS_1
Tangan Alisa semakin gemetar. Ia sudah tak bisa lagi menutupi semuanya. Maafin Alisa kak. "Kak Aldo memang udah meninggal."
Samuel dan Bella menatap Alisa bingung.
"Tapi...."
Kalimat Alisa menggantung, membuat Bella semakin penasaran. "Tapi apa?"
"Kak Aldo hidup kembali.." Alisa mendongak menatap Bella. "Tapi kak Aldo yang sekarang bukan manusia. Dia iblis, yang akan membalaskan dendam keluarga kami kepada om Toni."
"A..ayah?" ucap Bella tak percaya. Bingung kenapa Keluarga aldo ingin balas dendam dengan ayahnya? "Kenapa Ayah..."
"Ayah kamu...." Seruni memotong pertanyaan Bella. "Yang bunuh keluaga Alisa."
Manik Bella terpejam. Menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Bella mengingat kembali ucapan Raisa tadi malam.
"Aldo bilang ke Samuel, orang tuanya udah meninggal sepuluh tahun lalu."
Pertanyaan Aldo kemarin.
"Siapa Toni parthenios?"
Ternyata ini Alasanya.
Seruni akhirnya bicara apa alasan suaminya membunuh keluarga Alisa. Ia juga menjelaskan kepada Bella dan Samuel, kenapa Alisa sampai selamat dan keluarganya tidak.
Samuel dan Bella akhirnya tau. Walau tak bisa berpikir jernih tentang Aldo sekarang. Seperti tahayul tapi nyata.
Sampai malam tiba Samuel dan Bella akhirnya pulang dari rumah seruni. Sebenarnya Bella ingin sekali memeluk bundanya sampai tertidur. Tapi ia harus menemui Raisa dan Loli untuk menceritakan semuanya.
Sempat menolak tumpangan dari Samuel. Terpaksa Bella menurut, karena bundanya yang menyuruh.
Dalam perjalanan Samuel dan Bella masih terdiam. Ingin sekali mereka mengelak fakta Aldo sekarang. Ternyata ini rahasia terbesar Aldo.
Bella mengacak surainya secara tiba-tiba. Samuel menatapnya aneh. "Gue gak nyangka cowok setampan Aldo ternyata hidup tanpa darah. Ahh... gue belum siap putus sama Aldo!"
"Ya gak usah putus lah." Samuel kembali meluruskan pandangannya. Bella mendesis kesal. "Gue juga gak nyangka sahabat gue ternyata bukan manusia, tapi mayat!"
"Jadi kalian udah tau tentang gue!"
Samuel menginjak rem mobilnya seketika. Entah firasatnya sekarang tak enak. Menatap Bella yang juga menatap kearahnya takut.
Mereka menoleh ke jok belakang secara bersamaan. Manik mereka membulat, saat cowok tampan berjaket hitam itu menyeringai kepada mereka.
kenapa tiba-tiba Aldo ada disitu? sejak kapan?
Bella segera membuka pintu mobil sampingnya, berniat untuk kabur. Panik, kenapa pintu mobilnya tak bisa terbuka. "Sam jangan dikunci dong."
Samuel menekan berkali-kali tombol kunci pintu pada mobilnya. Tetap saja pintu tak bisa di buka. "Bel gimana nih?"
"Sam jangan nakutin gue dong!" Bella terus berusaha membuka pintu mobil itu. Sesekali menoleh ke arah Aldo yang masih menyeringai kepadanya.
"Bell bisa!" Samuel mencekal pergelangan Bella, saat ia berhasil membuka pintu di sampingnya. Menarik Bella keluar mengikutinya.
Satu kali tangkisan tangan Bella terlepas dari cekalan Samuel. Samuel sudah keluar. Pintu kembali tertutup. Teriakan Bella memanggil namanya masih terdengar dalam mobil itu. Mobil berjalan. Samuel mengejarnya, namun apa daya kecepatan mobil lebih laju. Samuel pasrah. "BELLA!"
Mengacak rambuknya kasar. Segera Samuel mengambil ponselnya di saku hoodienya. "Jangan sampai Raisa, Loli, Darel, dan Nando juga.... jadi korban!"
_______________________________
Makin gak tega sama BellaðŸ˜
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan vote and comment kalianâš
Support saya terus ya😉