
"Sa...gue laper!" Duduk di kursi ruang makan. Bella merengek pada Raisa, sambil memegang perutnya.
"Yaudah tunggu bentar." Raisa berdecak, lalu melenggang pergi.
Bella dengan sabar menunggu Raisa. Sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja makan. Dia bertopang dagu.
gue yakin banget pasti Aldo pengen banget cium gue tadi. Tapi kenapa gak jadi ya? Bella mulai berpikir. Mungkin saja Aldo akan menembaknya terlebih dahulu. Bella mengangguk yakin.
Raisa keluar dari dapur membawa semangkuk mie yang baru dia masak. Menyodorkannya dimeja depan Bella. "Nih makan sampai habis!"
"Wah...thanks ya sa." Bella mulai meniup mie-nya itu, lalu memakannya.
"Sa, kapan ya Aldo nembak gue?" Tanya Bella ditengah makannya makannya.
Raisa hampir tersedak ludahnya sendiri. Sekarang apa yang ada diotak Bella? Tadi ciuman sekarang pacaran? "Bel, lo yakin cinta sama Aldo, bukannya lo sekarang lagi pedekate ama Beni ya?"
Bella berpikir sejenak. Beni? bahkan sepertinya Beni sudah tidak ada dimemori otaknya. Bella menggeleng. "Gue kan udah bilang sama lo, Beni itu cuma gue deketin kalo tugas sekolah numpuk."
"Jadi...." Raisa memberi jeda. Bella terus menyuap makanannya. "Lo yakin kalo diri lo tuh masih waras?"
Bella ingin sekali menyemburkan makanannya ke wajah Raisa. "Lo apa-apaan sih? kalo gue pacaran beneran sama Beni baru gak waras."
"Tapi kayanya lo gak waras deh, Bel," Raisa mencibir. Bella hanya menatapnya sinis.
"Hah? jadi Bella gila." Loli baru keluar dari kamar. Dia duduk di kursi sebelah Bella. "Kita harus segera bawa Bella ke Psikiater, Sa!"
"Lo gampang banget percaya omongan orang, Li." Bella menggeleng, heran. Jika itu sebuah candaan apa Loli juga akan percaya?
Loli menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. "Jadi lo sebenarnya gila gak sih, Bel?"
"Iya, gue gila." Ucap Bella dengan santainya. Loli menganga tak percaya. Bella mulai mengulum senyum. "Gue gila karena Aldo."
Loli mengangguk, mengerti. "Jadi, perlu dibawa ke Psikiater gak, Bel?"
Bella ingin sekali mencelupkan kepala Loli kemangkuk mie-nya saat ini. kenapa dirinya mempunyai sahabat seperti Loli? "Gue gak gila, Loli."
Kini Loli semakin dibuat bingung. "Tadi lo bilang lo gila, gimana sih Bel?"
Raisa menghela nafas. "Li, Bella gak gila kok, cuma gejalanya aja."
Loli membulatkan bibirnya, tanya mengerti. "Jadi, ada kemungkinan Bella akan gila."
"Iya kita tunggu aja nanti." Raisa tertawa kecil. Bella mendengus kasar.
__ADS_1
Loli tak habis pikir. Kenapa Bella jadi tiba-tiba mengidap penyakit gangguan jiwa? Dan Bella bilang penyebabnya adalah Aldo. Kenapa orang setampan Aldo bisa membuat Bella gila. Loli menggelengkan kepalanya, pusing.
"Oh ya Li, lo punya Drama Korea yang ada adegan kiss-nya gitu?" Bella menyadarkan lamunan Loli.
Raisa tertegun. Apa yang ditanyakan Bella barusan?.Apa Bella akan benar-benar mengikuti saran Loli.
Loli berpikir sejenak. "Emp...ada gak ya? gue lupa, sekarang kan gue lebih suka baca novel dari pada nonton."
"Gak ada, di laptop udah gue hapus semua." Raisa terpaksa berbohong. Dia tidak bisa membayangkan jika Bella mengikuti saran Loli dan menyerahkan ciuman pertamanya untuk Aldo. Bahkan Raisa tidak tau betul Bella benar-benar mencintai Aldo atau tidak. Itu sama saja untung di Aldo, rugi di Bella.
"Yah.. terus gimana, Li?" Kecewa, Bella harap Loli masih mempunyai saran yang bagus lagi.
Raisa berharap Loli kehabisan akal. Bagi Raisa mengikuti saran Loli sama saja menjerumuskan diri kejurang.
"Kayanya...."Loli memberi jeda. Kini ia menata Raisa."Lo tanya Raisa, deh"
Raisa lega. Akhirnya Loli menunjuk dirinya untuk memberikan saran ke Bella.
"Gimana, Sa?" Bella tersenyum sumeringah, tak sabar menunggu saran dari Sahabat satunya itu.
Raisa semangt memberi saran panjang lebar untuk cewek Chalandra itu. "Kalo menurut gue Bel, lo harus buang jauh-jauh keinginan buruk lo itu. Lo pikir baik-baik itu ciuman pertama lo, lo gak bisa seenaknya biarin ciuman pertama lo diambil cowok, yang lo gak tau jelas asal-usulnya."
Bella mengkedipkan maniknya beberapa kali. "Berarti kalo gue udah tau asal-usul Aldo, gue boleh cium dia?"
Bella mengulum senyum. Mulai saat ini, ia harus tau siapa itu Aldo. Dari mana asalnya? Siapa keluarganya? Baru dia akan memberikan ciuman pertamanya untuk Aldo. Bella sudah tidak sabar menunggunya.
Loli hanya diam mengamati Bella melahap makananya sambil senyum-senyum. Perut Loli berbunyi."Sa..."
"hmm."
"Laper."
Raisa menoleh "Kebiasaan, tuh ambil didapur, udah gue masakin mie juga buat lo."
"Makasih Raisa." Loli berlari kegirangan menuju dapur, seperti anak kecil yang akan mendapatkan hadiah.
Raisa hanya tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan. Melihat kedua sahabatnya yang selalu manja dengannya, walaupun kedua sahabatnya itu memiliki otak yang sangat terbatas, tapi dia sangat suka hidup dikelilingi sahabat seperti Bella dan Loli.
Dingdong!
"Sa kok malam-malam gini ada tamu sih?" tanya Bela di sela kunyahannya.
"iya nih, gue samperin dulu ya" ucap Raisa. Beranjak pergi.
__ADS_1
Raisa meraih kenop pintu itu, dan membukanya secara perlahan.
"O-om!"
Mata Raisa membulat sempurna ketika melihat siapa orang di depan pintu rumahnya itu. Dia lalu berlari menghampiri Bela di ruang makan.
"Bel, tamunya..." Raisa memberi jeda. Ia sedikit ragu mengucapkannya pada Bella. Bella masih terus melahap makanannya. "Bokap lo."
Bella hampir tersedak makanannya. Apa barusan yang diucapkan Raisa benar? Ya, memang benar, buat apa Raisa berbohong disaat seperti ini. Bella langsung beranjak pergi meninggalkan Raisa dan makananya dimeja.
Bella berdiri dihadapan pria yang dipanggilnya Ayah itu. Sedikit bingung, Kenapa Ayahnya tau dia berada disini. "Ayah ngapain kesini?"
"Ayo pulang!" Perintahnya dengan tegas.
Bela menaikan alisnya. Kenapa baru sekarang? Bella tersenyum sinis. "Ngapain Ayah nyuruh Bella pulang? Bella lebih nyaman di Rumah ini. Dari pada dirumah sama Ayah, yang setiap malam bawa perempuan murahan."
"Lagian Ayah pasti lebih bahagia,kan kalo Bela gak ada dirumah? jadi Ayah bisa sepuasnya bawa perempuan jenis apapun"
Ayah Bella geram. Berani sekali Bella berucap seperti itu pada Ayahnya sendiri. "Kalo kamu memang tetap tinggal disini, silakan! tapi jangan harap, Ayah gak akan pernah izinin kamu menginjak rumah Ayah lagi!"
Sang ayah pun beranjak pergi, menghampiri mobilnya yang terparkir dihalaman rumah Raisa.
Mata Bela terus menatap tajam Ayahnya yang sudah masuk ke dalam mobil.
Cuma gitu doang? gak niat banget ngajak anak pulang. Jengkel Bella dalam hati. Memang sepertinya sang Ayah lebih bahagia jika Bella tidak ada dirumah.
Tiba-tiba manik Bella menangkap sebuah bayangan putih yang ada dibelakang mobil ayahnya. Ia berkedip beberapa kali. Tidak hilang, malah semakin jelas. Seperti bayangan manusia, tapi berwarna putih. Mesin mobil sang Ayah menyala. Bella memejamkan matanya rapat-rapat lalu membukannya kembali. Bella bergidik ngeri saat bayangan itu sudah tidak ada ditempatnya. Dia segera masuk rumah.
Bela berlari menghampiri temannya yang sudah berada di kamar. sampai kamar Bela langsung memeluk Raisa yang masih diruang makan. Tubuhnya masih merinding.
"Bel.. lo jangan sedih kan ada kita disini." Raisa menenangkan, dia tahu. Pasti sahabatnya ini dijemput sang Ayah. Dipaksa pulang dan Bella pasti membantahnya.
"Iya Bel.." Tambah Loli. Mensetujui ucapan Raisa.
Bella langsung melepaskan pelukannya, mengernyit. Bella memang tidak sedih. Untuk apa dia sedih?
"Gue meluk kalian bukan sedih karena ayah gue." Bella memberi jeda. Kedua temannya jadi bingung. "Gue takut sama hantu."
Raisa dan Loli pun tertawa pecah.
"Bel..lo tuh ada-ada aja." ucap Raisa ditengah ketawanya.
Bella mengerutkan bibirnya. Membuang pandangannya ke arah lain. "Gue kan serius"
__ADS_1
*****