Cowok Misterius

Cowok Misterius
Empat Dua


__ADS_3

"Bila, gue gak bisa bareng lo, gue udah dijemput nyokap."


"Gua juga Bil, supir pribadi bokap udah datang."


"Gue mau pulang bareng sama pacar."


Abila tak bisa melarang. Biasanya dia selalu pulang bareng teman-temannya. Tapi Abila juga tak bisa memaksa mereka untuk selalu bersamanya, karena mereka ada urusan masing-masing.


Ruang kelas sebelas IPS1 sudah sepi, hanya Abila yang masih berada didalam kelas itu. Mengemasi buku-buku yang masih berserakan dimejanya. Abila tertegun, suara bantingan pintu terdengar keras di dalam ruangan itu.


Berbalik, manik Abila membulat. Aldo menghampirinya. Pintu kelas sudah tertutup rapat.


Menyeringai lebar. Tangannya terulur, menyelipkan rambut Abila kesisi telinga. Aldo mempertipis jarak wajah mereka. "Cantik, gak usah takut sama gue."


Abila menggeleng. Seluruh tubuhnya sudah gemetar. Abila melangkah mundur, memberi jarak dari Aldo. Namun Aldo semakin mendekat.


"Cewek cantik kaya lo itu, gak boleh.." Wajah Aldo kembali dingin. Mendekatkan bibirnya pada telinga Abila, lalu berucap lirih. "Mati!"


Bibir bawahnya bergetar. Abila memberanikan diri menatap manik Aldo. "Ka-kamu pasti ingin mem-membunuh kak Bella, kan?"


"Enggak!" Aldo mencengkeram kuat rahang Abila. Membuat gadis itu semakin takut. "Yang ingin gue bunuh itu, lo!"


Aldo mendorong Abila, kasar. Tubuh Abila terhuyun kebelakang, menghantam beberapa kursi kelas. Abila mulai terisak.


Aldo menghampiri. Menjambak rambut gadis itu. Abila mendongak, merintih kesakitan.


"Mau main sama gue?" Seringai Aldo semakin lebar. Abila menggeleng cepat. "Okey, Cantik!"


Menyeret Abila secara paksa. Sepanjang koridor, Abila hanya pasrah mengikuti Aldo yang entah kemana membawanya.


Langkah Aldo terhenti. Mereka sudah berada dalam ruangan gudang sekolah yang sudah lama tidak terpakai. Aldo mendorong Abila hingga terjatuh ke lantai yang penuh debu itu.


Abila terus terisak. Kakinya lemas tak bisa berdiri. Abila sudah tak bisa berpikir lagi, mustahil baginya untuk melarikan diri. Aldo pasti mempunyai seribu cara untuk mengejarnya


Kabut hitam menutupi suluruh tubuh Aldo. Maniknya merah membara. Abila tau cowok dihadapannya ini bukan manusia, tubuh Aldo sekarang sudah sepenuhnya dikendalikan oleh iblis.


Abila tertegun. Benda basah dan amis menyusuri lehernya. Abila berteriak histeris, sebuah tangan bersisik mulai mencekiknya.


Aldo hanya diam, menatap Abila yang berusaha meloloskan diri dari terkaman iblis berbentuk ular itu. Maniknya tertutup, entah kenapa setiap melihat korbannya dibunuh, Aldo selalu teringat kejadian sepuluh tahun yang menimpa keluargannya.


Sebenarnya Aldo tak tega melihat orang mati tersiksa seperti Abila saat ini. Tapi jika dibiarkan hidup, mereka akan membongkar semua rahasia Aldo. Pilihan satu-satunya untuk anak indigo seperti Abila dan Amira, yaitu mati. Ingtan Anak indigo juga tidak bisa dihapus oleh Aldo.


"Aldo Altair."


Manik Aldo kembali terbuka. Abila sudah tak bernyawa. Darah segar mengalir dari mulut dan hidung Abila. Iblis bersisik itu, menjulurkan lidah panjangnya.


"Darah anak indigo memang lezat."

__ADS_1


Aldo mendengus. "Aku sudah memberikanmu darah anak indigo, minuman favorit mu. Sekarang aku minta kembalikan wujud Ruka, Dio dan Andra!"


"Tidak semudah itu." Iblis itu tersenyum memamerkan semua gigi runcingnya. "Masih ada satu manusia yang mengetahui rahasia mu, dan dia harus mati juga."


Aldo berpikir, siapa manusia yang dimaksud iblis ular ini.


"Alisa Altair." Iblis itu, kembali menjilat darah Abila. "Ingat, satu manusiapun tidak boleh mengetahui rahasia mu, Aldo."


"Alisa selalu mendukung ku, dia tidak akan membongkar semua rahasiaku pada siapapun!" Aldo berbalik, memunggungi iblis yang masih menikmati cairan kental berbau anyir itu. "Aku tak akan membunuh Alisa, karena Alisa pasti juga ingin menyaksikan manusia tua itu mati ditanganku!"


"Baiklah, jika itu keinginanmu." Iblis itu berdiri, ekor panjangnya melilit seluruh tubuh Abila. "Aku akan menuruti semua keinginanmu, wujud tiga temanmu akan ku kembalikan seperti semula. Asalkan kau tidak menghianatiku dan ikut bersamaku dineraka."


"Aku tak akan menghianatimu!" Ucap Aldo lirih, tapi masih didengar iblis bersisik itu.


"Baiklah, pergilah!" Iblis itu berjalan melewati Aldo, ekor panjangnya digunakan untuk menyeret gadis berseragam SMA. "Aku akan lempar bangkai cantik ini dari atap."


*****


"SAMUEL!!!"


Bella terus memukuli lengan Samuel yang sedang mengemudikan mobil. Membuat Samuel kesusahan.


"Bel lo bisa diam gak sih?"


"Gak!" Melipat dua tangannya didepan dada. Bella mendengus kesal. Percuma ia menjambak, memukul, Samuel juga tak akan menghentikan mobilnya. "Sebenarnya lo mau ngapain gue sih?"


Bella mendesis. "Gak penting banget hukum gue!"


"Ya pentinglah." Menatap Bella kesal. Samuel kembali meluruskan pandangannya. "Kalo lo gak dihukum, lo tuh makin berulah."


"Bodo!" Bella memutar kedua matanya, malas. "Padahal gue tadi pengen ketemu sama Abila Gleara, anak kelas sebelas."


"Tumben lo akrab sama para junior." Samuel terkekeh. "Oh gue tau, lo mau bikin grub bully ya, kan?"


"Grub bully pale lo!" Bella menghadapkan tubunya ke Samuel. "Abila tadi ngajak gue ketemuan, dia mau ngomongin tentang rahasia Aldo."


"Rahasia Aldo?" Samuel membeo. Kenapa Abila bisa tau rahasia Aldo? "terus apa katanya?"


Bella mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tau. "Belum sempat Abila ngomong, Aldo tiba-tiba datang, dan Abila kaya ketakutan gitu, terus langsung pergi deh."


Menyipitkan pandangannya. Bella berpikir, ada yang ganjil tentang Aldo. Abila bilang dia indigo, dan... "Kata Abila, semua anak indigo pasti tau rahasia Aldo."


"Do, biasanya nih kalo hantu matinya penasaran atau bawa dendam dia pasti gentayangan."


"Kenapa lo liat gue kaya gitu?"


"Gak apa-apa, gue tersinggung aja."

__ADS_1


"Gue jadi penasaran.." Samuel menginjak rem mobilnya. Menatap Bella serius. "Jangan-jangan Aldo itu...."


Ucapan Samuel menggantung. Bella semakin bingung. "Aldo itu, apa?"


"Gue juga gak tau."


"Sam!" Bella berdecak. Apa yang dirahasiakan Aldo sebenarnya, sampai Samuel teman dekatnya juga tidak mengetahuinya.


"Tadi Aldo bilang, dia bakal pulang telat karena ada urusan. Lo mau gak ikut gue, bongkar barang-barang Aldo di kamar?" Samuel menunggu jawaban Bella. Berharap kali ini, Bella mau bekerja sama dengannya. Walau nanti, jika Aldo mengetahuinya Aldo akan marah. Persahabatannya dan Aldo juga pasti akan hancur, begitupun dengan hubungan Bella saat ini.


Tapi itu tak ada dipikiran Bella. Bella malah senang bisa membongkar barang-barang pribadi Aldo. "Gue mau kok bantu lo!"


"Oke, kita kerumah sekarang!"  Samuel kemabali menjalankan mobilnya. Menyusuri jalanan ramai, menuju rumah yang ditempati Samuel dan ketiga temannya. Semoga Darel dan Nando belum pulang, Samuel tak ingin banyak orang tau soal rahasia Aldo, termasuk dua temannya itu.


Beberapa menit kemudian, Samuel dan Bella sudah sampai. Tak menunggu lama, dua remaja itu langsung memasuki kamar tidur Aldo dan Samuel.


Tangan Bella terulur meraih kenop lemari tempat Aldo menyimpan bajunya. Tapi Samuel dengan cepat menepisnya.


"Ih, kenapa sih sam?" Teriak Bella tak terima.


"Ini tempat Aldo nyimpan pakaiannya." Samuel menghela nafas. Bella berdecak kesal. "Lo tau kan Aldo itu cowok?"


"Gak!"


"Buset, lo selama ini pacaran sama Al.."


"Ya gue tau, lah Aldo itu cowok." Bella memotong ucapan Samuel yang baginya hanya membuang-buang waktu.


Samuel mempertipis jarak wajahnya dan Bella. "Nah cewek itu gak sopan bongkar-bongkar lemari pakaian cowok, kalo bukan suaminya."


"Lulus sekolah gue langsung nikah sama Aldo!"


Samuel menjitak kepala Bella. Cewek itu meringis kesakitan. "Mimpi!"


Selalu seperti ini. Padahal Samuel tak jadi menghukum Bella dan ingin bekerja sama untuk mencari tau tentang Aldo. Tapi tetap saja, Bella dan Samuel memang tak bisa menyelesaikan masalah bersama.


Samuel mengambil ponselnya di tas sekolah. "Gue mau telpon Raisa deh, ngak ada gunanya lo disini. Yang ada waktu gue habis gara-gara berantem mulu sama lo!"


Bella mendesis. "Seterah!"


PRAK!


Samuel dan Bella serempak menatap asal suara itu. Manik mereka membulat, tak percaya.


....


Jangan lupa like and comment ya..

__ADS_1


Thanks buat kalian yang udah support Author sampai sini, jangan pernah bosen baca cerita ini;-)


__ADS_2