
Bella duduk dikursi rias. Menatap pantulan dirinya pada cermin didepannya. Mengoleskan lipstik berwarna peach pada bibir tipisnya secara perlahan.
Raisa dan Loli duduk ditepi kasur. Diam, mengamati Bella yang tengah berdandan.
Malam ini Bella akan mengajak Aldo berkencan diluar. Tapi Belum memberi tau Aldo, Bella ingin datang sebagai surprise.
Raisa hampir tak percaya, Bella berdandan menghabiskan waktu dua jam, tapi belum juga selesai. "Lo mau dandan kaya apa sih, Bel?"
Meletakkan lipstiknya di meja. Bella menatap pantulan dirinya lalu tersenyum manis, Senyum yang akan ia gunakan untuk bersama Aldo nanti. "Gue tau, gue tuh udah cantik dari lahir. Tapi khusus malam ini buat Aldo, gue harus bener-bener cantik, Lebih cantik dari biasanya."
"Gue rasa Aldo bakalan gak peduli soal itu deh, Bel." Raisa menatap Bella, yang juga menatapnya lewat cermin. "Dari sikap Aldo yang kaya gitu kesemua cewek. Gue bisa tau, Aldo itu bukan tipe cowok yang terlalu peduli sama penampilan ceweknya."
Bella diam. Ucapan Raisa ada benarnya juga. Waktu diclub malam itu, Aldo juga lebih milih pulang bersama Bella yang penampilannya super kacau, dibandingkan Vera yang saat itu lebih cantik dan sexy.
"Tapi apa salahnya kalau Bella dandan." Loli kini bersuara. Dua sahabatnya menatapnya. "Walaupun Aldo gak peduli sama penampilan Bella, Tapi orang yang liat mereka berdua akan memberi kritikan, iya kan?"
Bella dan Raisa masih mendengarkan.
"Kalo Bella gak dandan, pasti ada yang bilang gini." Loli mengambil gerakan, seolah-olah bermain drama. "idih, kok mau sih pacaran sama cewek kucel kaya Bella."
"Nah bener tuh, lebih baik gue dandan untuk Aldo." Bella mensetujui ucapan Loli. Ia kembali menatap cermin, mengoleskan beberapa make up di wajahnya.
Raisa menghela nafas. Menatap pantulan bayangan Bella dicermin. "Bilang aja lo emang hobi dandan."
Bella cengingisan. Setelah selesai mengoleskan make up pada wajahnya, Ia berdiri menghampiri dua temannya. "Gimana gue udah cantik?"
Raisa dan Loli serempak memandangi Bella dari bawah sampai puncak kepala Bella.
Malam ini Bella memang terlihat sangat cantik dengan polesan make up flawless, tidak terlalu menor. Bella menggunakan cocktail dress berwarna navy tanpa lengan, dan panjangnya tak melebihi lutut. Ditambah Angkle strap heels berwarna hitam yang ia gunakan, memperlihatkan kaki jenjangnya yang begitu mulus.
Penampilan Bella memang bisa membuat para cowok tergoda jika melihatnya. Raisa dan Loli mengangguk, mengiyakan pertanyaan Bella.
"Ya jelas dong gue cantik, Gak ada sejarahnya, Bella Calandra itu jelek." Bella tertawa renyah. Kedua temannya hanya diam. "Yaudah gue berangkat, bye.."
Setelah mengambil tas selempang kecilnya. Bella melambaikan tangan, lalu keluar dari kamar.
Raisa dan Loli masih merapatkan bibirnya, menatap pintu yang baru dilewati Bella.
Bella kembali lagi, menghampiri Raisa yang masih diam. Masih cengingisan "Gue lupa, pinjem mobil ya."
Raisa tak menjawab. Bella mengambil kunci mobil dinakas lalu pergi.
Setelah menutup pintu utama rumah. Bella langsung masuk kedalam Porsche Boxster merah milik Raisa. Mengeluarkannya dari halaman, Bella menjalankan mobilnya menyusuri jalananya yang mulai sepi.
__ADS_1
Disepanjangan jalan Bella tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman manis. Ia sudah tak sabar ingin cepat-cepat menemui Aldo. "Aldo sayang, sabar ya. Tunggu aku dirumah!"
Sedangkan dirumah Samuel, diruang tengah. Seperti biasa, Samuel bermain game dengan dua temannya, Darel dan Nando.
Nando menghentikan gamenya. Menatap Darel lalu Samuel. "Sam," panggilnya. Samuel tak menjawab, tetap fokus pada layar benda pipih itu. "Sam, gue mau tanya serius sama lo."
Samuel menghentikan gamenya. Menatap Nando jengkel. "Apa?"
Darel juga ikut menatap Nando. Hal serius yang membuat Nando sepenasaran ini pada Samuel.
"Sebenarnya.." Nando memberi jeda. Samuel masih menunggu ucapannya. "pacar lo siapa sih?"
Samuel hendak membuka mulut tapi tertutup kembali.
Kini Darel menatap Samuel. Apa Samuel memang sudah punya pacar. tapi.."Kalo lo punya pacar, kenapa lo gak kenalin ke kami?"
Samuel masih diam. Ia tak berani menatap manik kedua temannya itu.
Darel tersenyum sinis. "Lo takut cewek lo gue rebut?"
Ucapan Darel berhasil membuat Samuel menatapnya. "Enggak!"
"Terus kenapa?" Nando masih penasaran, kenapa Samuel tak mau menceritakan tentang kekasihnya.
Samuel diam. Matanya tertuju pada Aldo yang baru saja keluar dari kamar. "Al, mau kemana?"
"urusan apasih?" Selalu itu alasan Aldo untuk keluar rumah. Nando semakin penasaran urusan seperti apa yang dilakukan Aldo diluar rumah. "Lo sama aja kaya Samuel, main rahasia-rahasiaan sama temen sendiri."
Satu alis Aldo terangkat. "Apa yang Samuel rahasiain dari kalian?"
"Bukan apa-apa kok, gak ada yang gue rahasiain dari kalian!" Samuel tak mau Aldo juga ikut penasaran, seperti Darel dan Nando. Samuel pikir kisah cintanya tak perlu ia beritahu siapapun termasuk ketiga temannya ini.
"Enggak ada gimana?" Darel menatap Samuel sinis. "tadi siang lo bilang ke kami, kalo lo udah punya pacar. Tapi lo gak mau ceritain, siapa cewek yang jadi pacar lo ke kami. Apa itu bukan rahasia?"
Samuel menghela nafas berat. Teman-temanya ini tak mengerti perasaan Samuel sekarang, Padahal Samuel saat ini berusaha melupakan masa lalunya, tapi mereka hanya membuat Samuel semakin ingat. Mereka hanya bisa menambah beban untuk Samuel. "Bukan saatnya gue ceritain semua kekalian!"
Darel dan Nando hanya berdecak. Secantik apakah cewek yang menjadi pacar Samuel. Sampai Samuel menutup rapat identitas cewek itu, kesemua temannya.
Aldo diam. Menatap Samuel dalam. Samuel tidak seperti biasanya. Samuel yang selalu humoris, malam ini berubah menjadi pendiam, dan terlihat murung. Apa yang Samuel pikirkan?
Apa yang Samuel rahasiakan?
Samuel baru sadar, Aldo masih berdiri ditempatnya, menatap Samuel. Aldo mungkin sama dengan kedua temannya, kepo. "Lo gak jadi pergi?"
__ADS_1
"Gue pergi!" Aldo berbalik. Membelakangi ketiga temannya yang masih duduk di sofa.
Aldo hendak melangkah tapi terhenti. Kembali membalik tubuhnya. Aldo menatap Samuel yang masih termenung.
"Sam." Aldo memanggilnya dingin. Ketiga temannya menatapnya. "Bener kata Nando."
Aldo memberi jeda. Membuat ketiga temannya semakin bingung.
"Gue sama kaya lo, Sama-sama mempunyai rahasia yang besar. Gue tau lo pasti bingung, apa rahasia lo itu harus lo bagi, walau dengan sahabat terdekat lo sendiri." Aldo menatap Darel dan Nando bergantian. "Jangan karena gue sama Samuel gak ceritain rahasia kami ke kalian, kalian kira kami gak percaya sama kalian. Salah! Cepat atau lambat kalian pasti tau rahasia itu. Jadi bersabar dan bersiaplah untuk mengetahuinya!"
Aldo berbalik. Melangkah pergi begitu saja.
Ketiga cowok itu masih menatap pintu yang baru dilewati Aldo. Nyaris tak berkedip. Darel dan Nando kini menatap Samue.
Samuel termenung. Ia menoleh saat menyadari dua sahabatnya menatapnya perihatin. "Lo berdua ngapain liatin gue kaya gitu."
Tangan Darel terulur menyentuh bahu Samuel. "Maafin kami, Sam."
Samuel menepis tangan Darel. Bergidik ngeri. "Gue lebih suka sikap kalian yang tadi, dari pada kaya gini."
tok.
tok.
tok.
Perhatian tiga cowok itu, tertuju pada suara ketukkan pada pintu utama.
"Siapa, Sam." Tanya Darel, tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu utama.
"Kenapa lo tanya gue?" Samuel balik tanya pada Darel. Darel menoleh menatapnya bingung. "Gue kan disini kalo lo gak tau, gue juga gak tau ****!"
"Yaudah sono liat!" Darel mendorong Samuel.
Samuel mengurungkan niatnya yang hendak protes ke Darel. Kenapa harus Samuel yang disuruh membuka pintu?
Samuel berjalan. Meraih kenop pintu. Pintu terbuka secara perlahan.
Seketika mata Samuel membulat, melihat siapa orang dibalik pintu itu.
"KUN-KUNTILANAK!!"
Like and Comment ya!
__ADS_1
Author sayang banget sama kalian yang udah tinggalin jejak..
Love you..