
Ruka tertunduk. Kenapa Aldo bisa tau Bella disini, apa Dio yang memberitahunya?
Kesal. Padahal Dio tadi sudah berjanji padanya, tidak akan memberitahu Aldo. Ruka tak berani menatap manik Aldo. Ia tau, jika pupil mata Aldo merah, berarti Aldo sangat marah, dan tidak bisa diganggu lagi.
"Pergi!"
Rukapun menghilang bagai uap. Tapi Amarah Aldo belum reda, beraninya Ruka mengganggu Bella.
Aldo terperanjat. Bella mendorongnya kasar, hingga Aldo melepaskan pelukkannya. Aldo menatap Bella bingung, apa Bella masih marah.
Menghapus air mata dipipinya, dengan kasar. Kenapa Aldo menyuruhnya pergi?
"Gue tau sekarang gue bukan pacar lo, tapi kenapa lo harus peluk gue, jika akhirnya lo ngusir gue!"
Satu alis Aldo terangkat. "Maksud lo?"
"Aldo mata lo.."
Belum selesai Bella berucap. Aldo memejamkan maniknya sesaat, lalu kembali menatap Bella. "Kenapa?"
Bella mengkedipkan matanya beberapa kali, ia tak mungkin salah liat. Barusan pupil mata Aldo merah. Keringat dingin kembali membanjiri tubuh Bella "Lo siapa?"
Ini semua gara-gara Ruka. Pulang sekolah Aldo pastikan akan memberikan hukuman untuk Ruka yang paling berat. Aldo harus mencari alasan agar Bella tak curiga. "Bella kita harus pergi."
"Lo bukan Aldo!"
Aldo mendekat. Bella menarik tubuhnya semakin mundur. Aldo mengulurkan tangannya. "Gue Aldo, Bella."
Bella menepis kasar tangan Aldo yang hampir menyentuh bahunya. Menggeleng cepat. "Lo bukan Aldo!"
Aldo berdiri. Bella tersudut. Aldo meraih bahu Bella, untuk membantunya berdiri.
Bella berdiri, bahunya masih ditahan Aldo. Tubuhnya masih gemetaran. Bella menatap manik Aldo, takut.
"Harus dengan apa gue buktiin ke lo, kalo gue beneran Aldo?" Aldo menatap dalam manik Bella. Bella semakin takut. "Gue tadi cari lo, akhirnya gue temuin lo. Disini, lo teriak-teriak sendiri."
Bella menelan susah ludahnya. "Lo beneran Aldo, kan?"
"Sekarang, kita keluar dari tempat ini!" Tak mempedulikan pertanyaan Bella. Aldo merangkul bahu Bella membantunya berjalan.
Bella dan Aldo melangkah keluar. Badan Bella masih lemas karena tadi terseret beberapa kali. Baru melewati pintu keluar mereka berpapasan dengan Vera, membuat kepala Bella makin berdenyut.
Vera menatap Aldo dan Bella bergantian. "Lo berdua habis ngapain? Terus lo Aldo, ngapain ditoilet cewek?"
Bella memutar kedua matanya. "Gak usah kepo deh!"
Aldo menarik Bella, membawanya pergi meninggalkan Vera. Bella mengikutinya tanpa protes.
__ADS_1
"Aldo sama Bella pacaran, kan?" Vera masih menatap kepergian dua teman sekelasnya itu. Matanya membulat, Vera menutup mulutnya yang menganga lebar. "Wajah Bella pucat, mereka cuma berduaan ditoilet, jangan-jangan mereka..."
*****
"Gue bakalan bawa Alisa kerumah, jadi kalian siap-siap aja." Nando menatap Samuel dan Darel bergantian.
Mereka bertiga masih duduk dikursi kantin.
Samuel tengah mengaduk makanannya dipiring. "Maksud lo Samiyem."
Samuel dan Darel serempak terbahak-bahak.
Nando mendengus. Menatap kedua temannya, kesal. Kali ini Nando tak mau protes, sebentar lagi ia akan menunjukkan siapa itu Alisa. Setelah tau gebetan Nando adalah cewek secantik Alisa pasti dua temannya akan memujinya. Nando berdiri, nyaris melangkah. "Mending gue nyusul Aldo."
"Sam, bilang sama Alisa yuk. Ada yang mau cariin Bella nih." Darel terkekeh.
"Siapa juga yang mau cari Bella." Nando mencebik, melirik Samuel dan Darel.
"Lah, lo kan yang bilang mau ikut Aldo. Aldo aja lagi ngejar Bella tadi." Samuel menahan tawa, Nando mengerutkan bibirnya.
"Yaudah gue mau kekelas." Nando melenggang pergi.
Samuel hendak membuka mulut. Darel memotongnya. "Udah, mungkin dia mau belajar. Biar bisa nyaingin lo."
Samuel dan Darel tertawa keras.
*****
Melirik Aldo dengan ekor matanya. Sesaat, Bella berbipikir apa yang semua ia lihat ditoilet tadi hanya ilusi. Menghentikan langkahnya. Aldo masih berjalan mendahuluinya. "Aldo!"
Langkah Aldo terhenti. Berbalik, Menatap lurus manik Bella. Mungkin Bella akan menanyakan siapa dirinya, Bella banyak mengetahui rahasianya. Bicara sendiri, pupil matanya yang tiba-tiba merah, pasti Bella sangat penasaran dengan itu.
Melihat Aldo masih menatapnya dingin. Bella menghampirinya. Menggenggam tangan cowok dihadapannya. "Lo tadi bilang, lo cari gue kan. Kenapa?"
Tebakan Aldo kali ini salah. Ternyata Bella tidak seperti manusia pada umumnya, yang mempunyai rasa penasaran tingkat dewa. Aldo tersenyum dalam hati. "Gue pengen hubungan kita lanjut."
Bibir Bella terbuka, kembali merapat. Menyunggingkan senyuman manis. Aldo berhasil membuat hati Bella berdenyut aneh lagi. "Oke, kita masih pacaran."
Ternyata, mendapatkan Bella sangat mudah. Dan siap-siap aja untuk mati, manusia tua. Aldo tersenyum miring.
Mengelilingkan pandangannya. Koridor terlihat semakin sepi. Bella tersenyum lebar. "Aldo, gue boleh minta sesuatu gak dari lo?"
Wajah Aldo kembali lempeng. "Apa?"
"Nunduk!"
Aldo tak berpikir panjang. Ia menundukkan kepalanya, menuruti permintaan kekasihnya.
__ADS_1
Melingkarkan lengannya pada leher Aldo. Bella berjinjit, hampir menyamai tinggi Aldo. Menatap bibir Aldo, Bella menelan ludah. Mempertipis jarak wajah mereka, lalu berbisik manja. "you are only mine."
Gak akan pernah!
Aldo hanya diam. Membiarkan Bella melakukan sesukanya.
Bella nyaris memejamkan matanya. Saat bibirnya hampir menyentuh bibir Aldo. Namun...
Bukk!
"Auwh..!" Bella meringis kesakitan saat tubuhnya terdorong kasar, menghantam dinding. Memegangi punggungnya yang terasa panas. Bella menatap tajam seseorang yang sudah menggagalkan rencananya.
"Ma-maaf Bella, aku gak su-suka kamu main gitu sama Aldo." Gugup. Cowok memakai kacamata bulat itu tertunduk dalam. Saat Bella berjalan menghampirinya.
"Lo gak suka?" Bella menatap Beni sinis. Beni menatapnya takut, lalu mengangguk. "Bukan urusan gue!"
Mata Beni membelalak. Ucapan Samuel waktu itu, kini terbukti. Selama ini Bella memang memanfaatkannya. Sungguh cewek yang sangat kejam. Padahal Beni tulus mencintai Bella.
Bella jahat..
Mata Beni terarah pada Aldo, yang menatapnya dingin. "Sebelum kamu sekolah disini, Bella itu sukanya sama aku. Kamu udah ngerebut Bella dari aku!"
Bella mendesis. "Siapa juga yang suka sama cowok cupu kaya lo? Lo aja yang ****, mau gue manfaatin. Seharusnya lo itu sadar diri, kalo cowok kayak lo itu, gak ada pantesnya dipasangin sama cewek secantik Bella Calandra!"
Aldo sangat terhibur mendengar cemoohan Bella. Ternyata cewek yang menyukainya ini, cukup sadis hanya dengan menggunakan bibirnya, Bella mampu merobek hati Beni.
Air mata nyaris keluar dari kelopak mata Beni. Kenapa Bella jadi setega ini dengannya, apa karena Aldo?
Aku benci sama cowok ini..
Satu alis Aldo terangkat. Beni membencinya Aldo tau itu, tapi ia acuh. Ia sangat menyukai orang yang membencinya. Andai Beni seperti Nando yang mengungkapkan kebencian secara terang-terangan, Aldo pasti lebih menyukainya.
Bella memutar matanya. Semuanya gagal gara-gara cowok cupu itu, padahal Bella sedikit lagi mendapatkannya.
"Arghh!" Bella mengacak surainya kesal. Kedua cowok dihadapannya menatapnya bingung. Bella menarik tangan Aldo. Membawanya pergi meninggalkan Beni yang masih diam.
Aldo mengikuti Bella yang membawanya pergi. Sesaat Aldo menoleh kebelakang, menatap tajam manik Beni.
Beni menaikan kaca matanya, lalu mengucek maniknya beberapa kali. Membenarkan posisi kaca matanya kembali. Ia tertegun, ternyata bukan ilusi manik Aldo berubah merah. Beni semakin takut ketika Aldo menyeringai kepadanya.
*****
Kuy Like and Comment..
Buat kalian yang udah setia baca cerita aku terus tinggallin jejak.
Thanks banget ya...
__ADS_1
Author berterimakasih banyak, jangan bosen baca cerita aku ya hehehe