Cowok Misterius

Cowok Misterius
Empat Puluh


__ADS_3

Memakirkan mobil tepat dihalaman depan rumah tujuannya. Samuel dan Alisa keluar dari mobil bersamaan.


Manik Samuel menatap rumah didepannya. Rumah yang sederhana bernuansa putih. Samuel tak menyangka ternyata Alisa anak dari keluarga sederhana.


"Kak Sam, ini tempat tinggal saya dan tante saya.." Dari mobil yang dipakai Samuel, Alisa bisa tau seniornya ini anak dari keluarga sangat berada. Alisa sedikit malu, mengajak Samuel ke rumahnya. Tapi melihat ekspresi wajah Samuel yang biasa-biasa saja, Alisa sedikit tenang. "Masuk kerumah dulu yuk kak!"


Alisa berjalan mendahului Samuel. Samuel membuntutinya.


Perempuan paruh baya keluar dari rumah. Sesaat, membelalak. Alisa pulang lebih awal. Wajahnya pucat, Alisa memakai jaket. Seruni mulai panik. "Alisa kamu kenapa? Kamu sakit, tumben jam segini pulang?"


Alisa tersenyum manis. "Tante, Alisa gak kenapa-napa kok."


Manik seruni beralih ke cowok memakai seragam SMA yang berdiri disamping Alisa. "Alisa, ini pacar kamu."


"Tante..." Wajah Alisa langsung merah padam. Tantenya ini selalu bisa membuat Alisa malu.


"Saya Samuel, tante." Samuel mengulurkan tangannya mengajak salaman. "Saya seniornya Alisa."


Seruni menjabat tangan Samuel. Tersenyum hangat. Melihat samuel, Seruni jadi ingat anaknya. Mungkin sekarang putrinya itu seumuran dengan Samuel.


Alisa melihat Seruni menatap Samuel dengan sorot sedih. "Tante kenapa?"


"Samuel jadi ngingetin Tante, sama anak tante!" Tangan Seruni terulur menyentuh bahu Samuel. "Mungkin sekarang anak tante seumuran kamu Samuel."


Samuel bingung. Alisa memanggil perempuan dihadapannya ini dengan sebutan tante, berarti Alisa bukan anaknya. Lalu...."Anak tante kemana?"


Alisa tak ingin Samuel semakin banyak tau siapa dirinya dan tantenya. Semua itu bisa saja, membuat Samuel tau hubungan Alisa dan Aldo yang berstatus sebagai saudara kandung. "Emp....Kak Sam, Tolong ijinin saya ke wali kelas saya ya, saya gak bisa masuk hari ini."


Menatap Alisa. Samuel merasa Alisa sengaja mengalihkan pembicaraan, lagian Samuel juga tak ingin terlalu kepo dengan kehidupan orang lain. "Yaudah, Tante saya pamit mau balik kesekolahan."


"Yasudah, hati-hati dijalan." Seruni tersenyum. Samuel berbalik melangkah pergi.


"Kapan-kapan kesini lagi ya." Teriak Seruni yang dibalas anggukan oleh Samuel.


Lagi-lagi Alisa tertunduk malu. "Tante kenapa suruh Kak Sam kesini lagi?"


"Buat jemput pacarnya." Seruni tersenyum menggoda.


"Kak Samuel bukan pacar Alisa, tante!"


*****


"Bella!"

__ADS_1


Bella dan kedua temannya serempak menghentikan langkah, ditengah koridor. Berbalik menatap lurus, ternyata Samuel sudah berdiri tiga meter dari mereka.


"Kalian duluan ke kantin!" Titah Bella pada dua Sahabat disampingnya. Maniknya masih menatap lurus. "Entar gue nyusul."


"Kena...." Ucapan Loli terputus. Nyaris terjungkal, Raisa menarik tangannya. Menatap Raisa, bingung. Loli berusaha menyamakan langkahnya dengan Raisa. "Kenapa Sa, Lo tarik gue?"


"Lo mendingan diam!" Raisa masih menarik pergelangan Loli. "Kalo Bella nyuruh pergi, lo ikutin aja perintah Bella tanpa komen!"


Sedangkan Bella masih berdiri ditempat. Samuel menghampirinya.


"Tumben lo gak panggil gue Annabell atau kuntilanak." Bella mencibir. Sebenarnya ia agak risih, Sorot humor dan cemoohan hilang, Samuel malah menatapnya tajam.


"Gue lebih suka lo genit sama semua orang, dari pada lo bully orang yang lemah!" Samuel mempertipis jarak wajahnya dengan Bella. "Hati lo jadi mati karena satu cowok!"


"Oh ya?" Bella bertanya sok polos. "Jadi lo gak suka, gue bully orang?"


Tak menjawab. Samuel hanya menatap Bella semakin tajam.


"Kalo gitu.." Bella tersenyum miring. "Gue akan terus bully Alisa, gue pastiin Alisa akan menderita setiap hari di DHANISTA."


"BELLA!"


"Karena..." Bella memberi jeda. Samuel semakin geram. "Gue suka ngelakuin hal yang membuat lo semakin benci sama gue!"


Nyaris melangkah pergi. Tangan Bella dicekal kuat oleh Samuel. Samuel menariknya, Bella memberontak. Beberapa pasang mata memerhatikan mereka, tak ada satupun orang yang ingin menolong Bella. Ya...tentu mereka tak ingin ikut campur.


Samuel tak menghiraukan dan terus memaksa Bella mengikuti langkahnya.


"Sam!"


Langkah Samuel terhenti. Menatap orang yang memanggilnya. Samuel mendesis geram.


Berjalan menghampiri Samuel dan Bella yang masih diam ditempat. Aldo menatap Samuel datar. "Lo mau bawa Bella kemana?"


Mendengus kesal. Samuel melepas cekalannya pada tangan Bella dengan kasar. "Gak jadi, kenapa?"


"Kalo lo gak ada perlu sama Bella." Aldo menatap Bella dingin. "Gue mau ngomong berdua sama dia."


Samuel tak bisa melarang, Bella memang pacar Aldo. Tapi Samuel pastikan akan menghukum Bella secepat mungkin. Cewek kejam seperti Bella tak mungkin dibiarkan menindas orang lain sesukannya. Samuel harus membalasnya, tanpa sepengetahuan Aldo.


Tangan Aldo terulur, nyaris menggenggam Tangan Bella. Bella menepisnya kasar.


"Ngomong aja disini." Bella geram, kembali mengingat Aldo mencium Alisa, hatinya kembali sakit. "apa yang mau lo omongin sama gue?"

__ADS_1


Semakin bingung. Aldo tak tau kenapa Bella semarah ini. Padahal ia akan menanyakan keberadaan orang yang ia cari, tapi Bella malah seperti ini. Mempersulit Aldo untuk segera mendapat petunjuk.


"Gak cukup pelukan?" Bella tersenyum sakit, air matanya mulai menggenag. "Sampai harus cium pelac*r itu!"


Sesaat, manik Aldo terpejam. Ia tahu betul sebutan 'pelac*r' itu untuk siapa. Aldo tak ingin membuat Bella semakin lepas darinya, ia harus tetap membuat Bella mencintainya. Aldo tak mau memarahi Bella lagi, walau Bella sangat memancing emosinya saat ini.


Jangan panggil Alisa dengan sebutan itu! Aldo mempertipis jaraknya dan Bella.


Bella melangkah mundur. "Mau marah gue sebut dia 'pelac*r' hah?"


"Enggak."


Samuel tertegun. Waktu itu Aldo marah besar, Bella menyebut Alisa dengan panggilan tak pantas itu. Sekarang Aldo tak peduli Bella menyebutnya seperti itu lagi. Sumpah, gue gak paham sama lo Al.


Menoleh, Aldo kembali menatap Samuel. "Lo boleh pergi sekarang."


Padahal gue mau balas perlakuan Bella tadi. "Yaudah, gue pergi." Samuel melenggang pergi.


Aldo masih menatap Samuel yang sudah menjauh. Bingung apa maksud Samuel 'perlakuan Bella tadi'. Apa yang dilakuin Bella ke Samuel?


Kembali menatap manik Bella yang sudah berkaca. Aldo menyentuh bahu Bella, kali ini Bella tak memberontak. "Sorry."


Enggak semudah itu Al. Bella tersenyum kecut. "Lo enggak salah kok, cewek berengs*k itu yang gak tau diri!"


"Kenapa lo harus nyalahin Alisa?" Aldo mempertipis jarak wajahnya dan Bella. "Gue yang meluk Alisa, gue yang cium Alisa."


"Karena cewek itu yang genit!" Nada Bella mulai meninggi. Untung saja koridor sudah mulai sepi, tidak banyak siswa yang menonton mereka. Bella tak ingin semua orang tau, hubungannya dan Aldo menjadi berantakan hanya karena cewek cupu seperti Alisa.


Menghelan nafas berat. Aldo berusaha tetap datar, jangan sampai amarahnya meledak karena ucapan Bella. Aldo tak habis pikir, ia sudah jujur dengan Bella bahwa ini kesalahannya, tetap saja Bella menyalahkan Alisa.


Tangan Bella mengepal. Air mata mulai menetes. Tapi gue gak akan nyerah Al, gue pasti bisa dapetin lo, gue pasti bisa bikin Alisa jauh dari lo.


"Gue harus lakuin apa supaya lo percaya sama gue?" Menatap manik Bella lembut. Aldo yakin pasti tidak sulit mendapatkan hati Bella kembali.


"Lo harus lakuin..." Bella memberi jeda, Air matanya sudah membasahi pipinya. "Apa yang lo lakuin Alisa, ke gue!"


Sesaat, tatapan Aldo kembali datar. Menarik bahu Bella, mempertipis jarak mereka. Aldo mencium kening Bella lama.


Manik Bella terpejam, senyuman keberhasilan mulai terukir dibibinya. Ternyata air mata tetap bisa digunakan sebagai senjata!


Aldo nyaris tak percaya. Ternyata Bella memang licik. Ia kira Bella memang benar menangis, ternyata air mata palsu.


Buat para Readers yang udah baca, tinggalin jejak ya.

__ADS_1


Like and Comment cerita ini!


Terimakasih..:)


__ADS_2