
Kaki jenjang itu terus melangkah, menyusuri setiap koridor. Para siswa menyisi, memberi jalan untuknya.
Langkah Bella terhenti, sepasang sepatu berdiri dua meter darinya. Bella menghampiri, nyaris berlari saat cewek berkaca mata yang ia hampiri malah mengindari.
"Tunggu!" Tangan Bella berhasil mencekal pergelangan Alisa. Bella tersenyum sinis, Alisa menatapnya takut. "Ikut gue!"
Alisa memberontak, melepaskan cekalan Bella pada tangannya. "Saya mau ke kelas."
Menatap Alisa dengan sorot marah. Bella menjambak rambut Alisa, hingga Alisa merintih kesakitan. Bella tak peduli, ia justru senang jika Alisa sakit.
"Ampun kak, saya salah apa?" Jambakan Bella semakin kuat. Alisa ikut menarik rambutnya berusaha mengurangi penderitaanya.
"Salah lo gak banyak kok!" Ucap Bella santai. Tatapanya semakin tajam. "Tapi ngerebut cowok orang itu, salah satu kesalahan terbesar!"
Sekarang Alisa tau, kenapa Bella setega ini dengannya. Ternyata Bella salah paham.
Bella melangkah, tangannya masih menarik kuat rambut panjang Alisa. Alisa mengikutinya. Beberapa siswa yang melihat, tak ada satupun yang berniat membantunya. Sungguh.....Alisa hanya pasrah apa yang akan Bella lakukan padanya.
Disepanjan koridor, Alisa terus merintih kesakitan, memohon pada Bella. Tapi Bella tak sedikitpun merasa kasihan pada Alisa. Hingga langkah Bella terhenti. Alisa menatap dua cewek dihadapannya, dengan beberapa ember yang terisi air. Untuk apa?
Bella melepaskan jambakannya. Mendorong Alisa hingga terjatuh kelantai. Bella mengambil beberapa langkah mundur. "Lakuin tugas kalian!"
"Baik kak." Dua siswi itu menuruti perintah senior didepannya.
Alisa tertegun.
Ternyata air didalam ember itu, untuknya. Dua siswi itu menyiramnya hingga tubuh Alisa basah kuyub. Tangan Alisa mengepal. Air matanya bercampur dengan air yang membasahi tubuhnya.
"Ini hukuman buat orang yang gak tau diri!" Bella tersenyum puas. "Dasar pelac*r!"
Kak Aldo. Alisa terus memanggil kakaknya dalam hati. Menangis sesegukan. Alisa masih terduduk, menunduk dalam.
"Tugas kalian udah selesai!" Bella menatap dua siswi yang masih berdiri dihadapannya. "Sekarang kalian boleh pergi, thanks udah bantu gue."
Dua siswi itu melenggang pergi. Sekarang hanya Bella dan Alisa yang masih ada ditempat itu.
Alisa menatap sepasang sepatu yang berjalan menghampirinya.
Berjongkok dihadapan Alisa. Bella tersenyum jahat. Tangannya terulur menarik dagu Alisa. Alisa menatapnya takut.
"Jauhin Aldo!" Sorot Bella semakin tajam. Alisa terus terisak. "Kalo lo gak jauhin Aldo, gue pastiin hidup lo semakin menderita di DHANISTA. Ingat disini gak ada satupun orang yang akan peduli sama penderitaan lo, jadi jangan harap mereka bakal peduli, terus bantuin lo dari hukuman ini, ngerti!"
Melepas kaca mata Alisa. Bella menjatuhkannya kelantai, lalu menginjaknya hingga kaca mata itu pecah, tak bisa dipakai lagi.
Alisa semakin sakit. Kenapa cewek secantik Bella memiliki hati sekejam itu.
"Annabell!"
Bella menoleh. Samuel menghampiri. Kenapa Samuel kesini?
__ADS_1
Menatap Alisa yang masih terduduk dilantai, pakaiannya basah dan ada beberapa ember disekelilingnya. Ternyata benar ucapan salah satu siswi yang tak sengaja Samuel dengar tadi. Bella membully Alisa.
"Bell!" Teriak Samuel pada Bella. "Lo lakuin semua ini kedia?"
Bella mengangguk, jujur.
"Gila lo!" Bentak Samuel tepat di depan wajah Bella. Membuat Bella mendesis geram. "Kalo Aldo tau soal ini, dia pasti marah besar sama lo!"
"Gue itu pacar Aldo, gak mungkin Aldo marah sama gue!" Bantah Bella.
Tangan Samuel terulur, membantu Alisa berdiri.
Bella melenggang pergi, tak mau menyaksikan pemandangan menjijikan dihadapannya. Dua musuhnya saling membantu. Sungguh...iyuhhh.
"Bella ngapain lo?" Tanya Samuel khawatir. Alisa tak menjawab, hanya menggeleng lemas. "Baju lo basah, lo pulang aja gih."
"Enggak, saya harus tetap sekolah!"
Alisa terlihat rapuh dimata Samuel. Bella sungguh kejam, beraninya menindas yang lemah. "Yaudah ikut gue!"
Mengikuti Samuel. Alisa memeluk tubuhnya yang sudah menggigil karena dingin. Koridor sepi, jam pelajaran sudah dimulai. "Saya harus masuk kelas."
Samuel menoleh. Cewek ini memang aneh, disaaat seperti ini tetap saja tak ingin bolos. "Percuma lo bakal diusir be*o, baju lo basah kaya gitu mau masuk kelas."
Alisa tertunduk. Hatinya kembali sakit.
Merapatkan bibirnya. Samuel salah berucap, cewek disampingnya saat ini sangat rapuh, Samuel malah mencemohnya dengan kata Be*o. "Yaudah kalo lo mau cepet-cepet masuk kelas, buruan ikut gue!"
*****
"Lo beneran lakuin itu ke Alisa?" Raisa bertanya lirih, sesekali mengamati Bu Rani yang sedang menuliskan materi dipapan whiteboard.
Melirik Raisa disebelahnya, Bella kembali meluruskan pandangannya pada papan whiteboard. Memberi jawaban pertanyaan Raisa dengan satu anggukkan.
Menghela nafas. Raisa menggeleng tak percaya. "Kalo Aldo tau gimana?"
"Gue bakalan hukum orang yang berani laporin semua ini ke Aldo!" Tapi... Bella menoleh kebelakang. Samuel tak ada dibangkunya, benar dugaan Bella. Samuel membantu Alisa.
Kejam banget sih lo Bel, cuma demi dapetin Aldo, lo lakuin berbagai cara yang merugikan orang lain. Raisa kembali mencatat. Percuma menasehati Bella. Sahabatnya itu sudah menjadi bucinnya Aldo.
"Termasuk Samuel!" Imbuh Bella. Raisa menatapnya bingung. "Gue bakal hukum Samuel juga, kalo dia gak mau diam soal ini."
Tak jauh dari tempat Bella duduk. Aldo terus menerus mengamati Bella dan Raisa. Apa yang Bella lakukan, sampai Raisa berkata Bella kejam?
Tempat duduk Aldo memang agak jauh dengan Bella. Ia tak dapat mendengar pembicaraan Bella dan Raisa, namun setidaknya Aldo masih bisa membaca pikiran mereka.
*****
Samuel membawa Alisa ketolilet cewek. Ia juga meminjamkan jaketnya untuk Alisa.
__ADS_1
Setelah mengganti bajunya yang basah dengan jaket Samuel. Alisa menghampiri Samuel, yang menunggunya diluar toilet.
"Kak, makasih udah..."
"Yaudah gue anterin lo pulang!" Potong Samue, lalu melenggang pergi.
Alisa ingin sekali menolak, karena ia tak mau bolos tapi benar kata Samuel, Alisa juga tak bisa masuk kelas dengan pakaian seperti ini.
Membuntuti kemanapun Samuel pergi. Alisa menghentikan langkah Samuel saat hendak membawanya masuk keruang guru.
Samuel menoleh, ketika Alisa menarik kuat ujung kemejanya yang sengaja tak dimasukan kecelana. "Kenapa?"
"Emp.." Alisa berucapa ragu. "Ke-kenapa kak Samuel bawa saya kesini?"
"Mau gue jual lo!"
hah?
"Ya ijin guru piket dong.." Samuel berdecak kesal. "Sekalian laporin ke guru BK kalo Bella udah bully lo."
Eh.
"Jangan kak!" Alisa panik. Jangan sampai Samuel melaporkan kejadian ini. Bukannya berhenti, bisa-bisa Bella tambah menyakitinya. "Ini salah saya, deketin pacar orang."
Alisa mengakuinya.
Alisa beneran deketin Aldo, bukannya Aldo yang dekatin Alisa. Samuel semakin bingung dengan hubungan Aldo dan Alisa. Apa keduanya memang saling suka?
Tangan mungil Alisa masih menggenggam erat ujung kemeja Samuel. Menatap manik Samuel, memohon. "Langsung antar saya pulang aja kak, saya gak papa kok bolos sehari."
Menyipitkan pandangannya. Samuel curiga dengan Alisa. Kenapa tiba-tiba Alisa berubah pikiran, bukannya dia tidak ingin bolos tadi.
Samuel menepis pelan tangan Alisa yang menggenggam ujung kemeja sekolahnya.
"Yaudah buruan." Samuel berjalan mendahului Alisa.
Menghela nafas lega. untungnya Samuel tak jadi masuk keruang guru. Alisa menatap punggung tegap Samuel yang sudah agak jauh darinya.
"Kak Sam!"
Langkah Samuel terhenti. Alisa berlari kecil menghampiri Samuel yang sudah mulai jauh.
"Jangan bilang sama kak Aldo kalo kak Bella udah bully saya." Alisa tersenyum manis. "Saya janji gak akan dekatin kak Aldo lagi."
Berpikir sejenak. Samuel mengangguk. "okey."
*****
Jangan bosen ya..
__ADS_1
Support Author, Like and Comment ditunggu!