Cowok Misterius

Cowok Misterius
Lima Belas


__ADS_3

Raisa masih duduk dibelakang setir mobil. Loli sudah turun. Raisa menoleh menatap Bella yang duduk disampingnya. Termenung. Apa yang Bella pikirkan?.


"Lo masih mikirin Aldo?"


Bella tak menjawab.


"Gue kan udah bilang, Aldo pasti juga suka sama lo."


Diam. Bella menatap kosong.


"Bell.."


"gue kangen sama Bunda." Akhirnya Bella bersuara. Membuat Raisa merapatkan bibirnya. "Sejak Bunda meninggal gue juga gak pernah kemakamnya."


Raisa sekarang tau, sahabatnya saat ini sangat rapuh. Rindu dengan sosok yang melahirkannya. Raisa berpikir, dia harus berusaha menguatkan Bella. "Gimana kalo kita ke makan Bunda lo?"


Bella berpikir. perjalanan ke kota tempat tinggalnya dulu sangat jauh, Dia juga belum pernah kemakam. Pasti sangat susah mencari makam Bundanya. Jika bertanya dengan sang Ayah, Belum pasti di beri tahu. Selama ini Ayahnya bahkan melarang Bella kembali ke tempat asalnya, walau hanya berkunjung. Entah karena apa, Bella juga tidak tau.


Putus asa. Bella menggeleng lemah. "Jauh, kita juga gak mungkin baca setiap nama di nisan satu persatu. Gue gak nyakin bisa liat makam Bunda. Kalo tanya Ayah, kan juga gak mungkin. Ayah gak mungkin ngasih tau makam Bunda."


Raisa tersenyum kecil. "Lo jangan mikirin yang belum terjadi, lakuin aja dulu. Besok kita berangkat, gak usah bilang sama Ayah lo."


"Tapi, Sa..."


"Bel, ada gue sama Loli yang siap bantu lo, Seberat apapun itu gue sama Loli pasti siap."


Tapi yang Bella pikirkan, bagaimana cara menemukan makan Bundanya? Dia menatap Raisa lagi. Raisa tersenyum tulus. Bella tidak boleh mengecewakan bantuan dari teman-temanya. Dia mengangguk setuju. Bella tersenyum. merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Raisa.


"Yaudah turun yuk!"


Bella baru sadar ternyata mobil Raisa sudah terparkir dari tadi. Bahkan Loli sudah tidak ada di jok belakang, pasti sudah sampai dikelas. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sangat merindukan sang bunda.


Turun dari mobil. Maniknya menatap empat sekawan berjalan sepuluh meter darinya. Yang paling menarik perhatiannya yaitu Aldo. Bella berlari menghampirinya meninggalkan Raisa yang masih merapikan surainya di sepion mobil.


Bella menggelayut manja di lengan kanan Aldo. mendongak. Ada yang aneh dengan Aldo.

__ADS_1


"Al..." Bella menelan ludah. Aldo menunduk. menatapnya dingin. "Wajah lo bukannya kemarin memar ya, dipukul Nando. sekarang udah bersih bahkan bekas memar aja gak kelihatan. Cepet banget sembuhnya"


Samuel, Darel dan Nando juga baru sadar memar di wajah Aldo sudah hilang. Tadi malam memar biru itu masih jelas terpampang di sebagian wajah Aldo ditambah pukulan Aldo tadi malam, seharusnya masih membekas. Tapi anehnya wajahnya bersih tak ada luka atau apapun. Aneh.


Salah satu sudut bibir Aldo terangkat. Pelukan dilenganya merenggang "Ini kelebihan gue."


Berkedip. Bella melepaskan lengan Aldo. "Maksudnya?"


Aldo tau Bella takut, begitu juga dengan tiga temannya terutama Nando yang sudah membuatnya babak belur. Aldo puas.


"Kalo lo punya pisau jangan sungkan, lo boleh jadiin tubuh gue buat percobaan seberapa tajamnya pisau lo. Tenang aja gue gak akan pernah mati." Aldo menatap lurus kedepan. Melangkah pergi.


Maksud gue, gak akan mati lagi. Imbuh Aldo dalam hati.


Bella, Samuel, Darel dan Nando diam mematung. Menatap punggung Aldo yang semakin menjauh. Selalu begitu, ucapan Aldo tidak pernah bisa dicerna oleh otak.


Raisa menghampiri. Kenapa dengan keempat orang ini? Bingung. "Kalian kenapa?"


Suara Raisa menyadarkan mereka yang sedang termenung. Menatap Raisa sejenak lalu pergi masing-masing, tanpa menjawab pertanyaan Raisa.


Raisa mengangkat satu alis. Menggeleng. Memang aneh.


*****


Menoleh kebelakang. Memperhatikan Aldo, jarak Bella dan Aldo hanya terhalang beberapa meja. Bella beralih menatap Raisa di sampingnya. Berbisik. "Sa, emang ada ya, Manusia yang hidupnya abadi?"


Raisa menoleh. Menatap Bella bingung. "Semua manusia pasti mati, gak cuma manusia. Makhluk bernyawa pasti mati. cuma Tuhan yang kekal."


Ucapan Raisa memang benar. Tapi mengingat ucapan Aldo, membuat Bella bingung. 


"Tapi..." Raisa menatap Bella serius. Bella lebih mendekat. "Gue pernah liat video, Manusia yang gak mati walau beribu-ribu peluru menembus badannya."


"Manusia yang menginginkan kehidupan abadi. Mereka berbelok dijalan yang salah. Menyembah yang seharusnya tidak disembah. Jimat! barang yang mereka gunakan untuk melindugi diri. mereka percaya jimat akan menyelamatkan mereka dari kematian. setau gue, jimat itu selalu dihuni jin, setan, iblis atau sebagainya. itu yang melindungi manusia yang memakai jimat."


Bella terus mendengarkan.

__ADS_1


"Berpaling dari yang menciptakan. Iblis memang mencari teman untuk menemaninya di neraka. padahal yang menentukan hidup matinya seseorang itu Tuhan bukan jimat. Pada akhirnya nanti mereka pasti menyesal. walaupun pake jimat jika Tuhan berkehendak mereka juga pasti mati kok. mungkin waktu, dunia kiamat."


Mendengar penjelasan Raisa. Bella semakin curiga. Jangan-jangan Aldo memakai jimat. Bella menggeleng. Menepis pikiran buruk tentang Aldo, Cowok yang kini sangat dia cintai.


Menoleh lagi. Aldo menetapnya dingin. Bella memalingkan wajahnya. Memejamkan matanya rapat-rapat.


Enggak, enggak, enggak! Aldo cowok baik, buat apa dia pake jimat. 


Bella membuka matanya. kembali mencatat. Sebaiknya Ia harus cepat menjadikan Aldo pacarnya, dan menjauhkan Aldo dari jimat. 


*****


Jam istirahat. Kali ini Nando tidak pergi kekantin bersama ketiga temannya. Sebenarnya emosinya juga sudah reda, tapi malah ia yang sekarang takut dengan Aldo.


Ucapan Aldo seperti sebuah alaram untuknya, bertandakan bahaya. Lebih baik dia mulai sekarang tidak usah berurusan dengan Aldo lagi. Dia harus mencari cara untuk mendapatkan Bella tanpa harus melenyapkan Aldo. Tapi bagaimana?


Nando mengusap wajahnya kasar. Melewati belokan koridor.


Brukk.


Cewek berkulit putih. Bersurai panjang dengan poni tebalnya hampir menutupi mata. Dia terjatuh kelantai karena menabrak cowok Berambut keribo itu.


Berdiri. Menepuki roknya membersihkan dari debu yang menempel. Cewek itu menatap cowok didepannya sesaat. Gugup, dia menunduk dalam. "Ma-ma maaf, sa-saya tidak sengaja."


Nando tersenyum kecil. "Iya gak pa-pa."


Gadis itu mendongak. Kacamatanya hampir melorot. Nando tak berkedip. Sejak kapan di SMA DHANISTA ada cewek secantik ini. Nando tidak pernah melihatnya. "Lo anak kelas sepuluh?"


Cewek itu menggeleng. "Sa-saya kelas sebelas IPB 3, saya baru pindah disini Lima hari yang lalu. Ma-maaf."


Nando tertawa. Cewek itu menatapnya bingung. Nando sudah berapa kali mendengar cewek itu minta maaf, Bahkan ia masih gugup, walau Nando sudah memaafkannya. "Santai aja gak usah takut sama gue, gue senior lo, senior terganteng, terbaik di SMA DHANISTA ini."


Apa benar senior didepannya ini baik? Entah kenapa cewek itu semakin takut. "Kalo gitu, sa-saya permisi." Dia langsung pergi melewati Nando.


Nando terus menatapnya cewek itu yang semakin menjauh. "Cantik, Lo bakal jadi milik gue!" Nando tersenyum lebar.

__ADS_1


*****


Author lagi duduk dipojok dapur, nungguin like and comment dari kalian yang udah baca.


__ADS_2