
"Mereka mau ngapain sih?" Dio duduk melayang bersama dua temannya di kamar Aldo. Menyaksikan dua manusia berseragam sekolah, sedang berdebat.
"Kayanya mereka mau nyari sesuatu." Andra mengusap dagunya, berpikir. "Tapi apa?"
"Kita beritahu Aldo saja?" Usul Ruka.
Dio menoleh menatap Ruka disampingnya. Nyaris membantah ucapan Ruka, Dio berkedip bingung. "Ruka wajah kamu kenapa?"
Ruka tak mempedulikan, pandangannya lurus pada Bella dan Samuel. "Gak usah sok amesia, wajah aku begini gara-gara iblis jelek itu!"
"Bukan!" Dio menempelkan telapak tangannya pada wajah Ruka. Ruka menoleh. "Wajah kamu gak jelek lagi."
Andra ikut menoleh. Mengamati wajah Ruka. "iya, wajah Ruka kembali mulus!"
Ruka menatap Dio dan Andra bergantian. "Wajah kalian berdua juga, kalian habis perawatan dari salon mana, gak ngajak aku?
Tertunduk, tangan Dio memegangi perutnya. "Pisau yang nancap diperut aku mana?"
"Jatuh mungkin." Andra mengedarkan pandangannya ke lantai sekitarnya.
"Kamu tadi habis gelantungan dipohon mana?" Ruka juga celingukan mencari pisau yang dimaksud Dio. "Mungkin pisaunya ketinggalan dipohon."
"Ada yang aneh sama wujud kita." Andra menatap dua temannya yang juga saling menatap bingung. "Kita.."
"Wujud kita tidak jelek lagi!" Ruka bersorak riang. "Iblis itu mengembalikan ketampanan kita, yey!"
Tiga hantu itu sangat senang. Melayang kesana-kemari, tak mempedulikan Bella dan Samuel lagi. Sangking gembiranya Ruka tak sengaja menjatuhkan laptop yang ada dimeja.
PRAAK!
"RUKA!!" Teriak Dio dan Andra bersamaan. Ruka hanya cengingisan.
Sedangkan Samuel dan Bella serempak menatap benda jatuh itu. Nyaris tak berkedip. Pintu kamar tertutup rapat, hanya mereka berdua di kamar, lalu siapa yang menjatuhkannya?
"Sam gue merinding deh." Mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang. Bella menatap Samuel yang masih diam mematung disampingnya. "Lo.."
"LAPTOP GUE!!" Teriak Samuel histeris. Berlari mengambil laptopnya.
Bella memutar kedua bola matanya. "Lebay banget sih lo, cuma laptop gitu aja."
"Eh annabell, gue beli laptop ini di Jepang." Samuel meletakkan laptopnya kemeja kembali. Membukanya, mungkin saja laptopnya masih bisa digunakan. "Di laptop ini, kan juga banyak fotonya Delia."
"Hah, siapa?" Bella menajamkan pendengarannya. Memastikan apa dia salah dengar. "Lo bilang tadi.."
"Jepang!" Samuel berbalik, menatap Bella yang terlihat curiga. Jika Bella tau tentang Delia. Samuel pastikan selamanya Bella akan mengejeknya 'gagal move on' walau kenyataannya memang Samuel tak bisa melupakan kekasihnya yang sudah meninggal. "Gue bilang, gue beli laptop ini di Jepang. Punya telinga jangan ditutup sama rambut, jadi tuli, kan lo?"
"Enggak, gue gak tuli!" Bella membantah. Menyisikan rambutnya disamping telinga. Bella tidak mungkin salah dengar, Samuel tadi menyebutkan nama seseorang. Sayangnya nama itu tak terdengar jelas. "Gue denger kok, lo bilang dilaptop lo ada foto..."
"Gue belinya di Jepang, Bella. Lo ngeyel banget sih dibilangin, kaya Nando lo." Samuel terkekeh. Menatap Bella humor. "Kalian berdua jodoh."
"idih amit-amit." Bella menatap Samuel dengan sorot malas. "Lagian lo tuh, beli laptop gitu aja jauh banget sih. Di negara kita ini, laptop yang lebih bagus dari itu juga banyak kok."
__ADS_1
"Seterah gue dong annabel, mau gue beli laptopnya di Jepang, di Hongkong, di kutub selatan. Gue juga gak minta duit lo, kan?" Samuel mulai menyalakan laptopnya. Tak mempedulikan Bella lagi.
Berdecak, Bella berbalik. Membuka lemari pakaian Aldo yang dilarang Samuel tadi.
Samuel menghela nafas lega. Untung saja laptopnya masih mau menyala, tapi layarnya muncul garis-garis putih. "Rusak sih, tapi gak pa-pa deh, masih bisa nyala gue bisa salin semua file-file tentang Delia."
"Gara-gara Ruka tuh!" Dio menatap Ruka lempeng. Ruka hanya meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf Samuel, aku terlalu bahagia karena wajah ku kembali tampan." Ruka cekikikan.
Manik Andra terarah pada Bella, yang sedang mencari sesuatu dilemari pakaian Aldo. "Bella!"
Dio dan Ruka serempak menoleh kearah Bella.
Tangan Dio mengepal. "Kita harus beritahu Aldo!"
*****
"Lo gimana sih Li, katanya mau nolong Bella tapi kok malah pulang ke rumah." Raisa menatap Loli kesal. Loli hanya cengingisan. Raisa sangat khawatir dengan keadaan Bella saat ini. Ia berharap Samuel tak jadi menghukum salah satu sahabatnya itu.
Mobil merah yang dikemudikan Loli, memasuki lingkungan rumah mereka.
"Sa, itu.." Ucapan Loli menggantung. Raisa menatap arah yang ditunjuk Loli.
"Bokap Bella!" Ucap serempak Kedua sahabat itu, setengah teriak.
Raisa dan Loli langsung turun dari mobil. Menghampiri pria paruh baya, yang berdiri diteras rumah mereka.
"Hai, om." Sapa Raisa ramah. Pria paruh baya berparas tampan itu membalas senyuman Raisa. "Om pasti mau ketemu Bella ya?"
"Emp, Bella...." Raisa berpikir, apa dia harus jujur dengan ayah Bella. Bagaimana jika Ayah Bella marah, putri semata wayangnya sedang disiksa teman sekelasnya.
"Raisa."
Suara berat itu menyadarkan Raisa. Berkedip beberapa kali. Raisa melirik Loli disampingnya. Li bantu gue cari alasan dong.
Melihat Raisa bingung. Loli tersenyum pada ayah Bella. "Bella lagi sama Samuel, om."
LOLI! Teriak Raisa dalam hati.
"Samuel siapa, pacar Bella ya?"
Raisa mengangguk kikuk. Loli menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Sebenarnya saya kesini mau minta maaf sama Bella, saya juga ingin Bela kembali kerumah." Tangan pria itu terulur, memegang bahu Raisa. "Nanti kalo Bella sudah pulang, bilanginnya kalo saya kesini."
Raisa hanya mengangguk. Pria itu tersenyum, lalu pergi begitu saja. Raisa dan Loli masih menatap Ayah Bella yang sudah masuk kemobilnya.
Raisa menghela nafas lega. Untung Ayah Bella tak bertanya macam-macam. "Loli, mulai sekarang lo banyak-banyak makan ikan ya, biar otak lo itu bisa digunain."
"Tenang Sa." Loli tersenyum sumeringah. "Otak gue dari dulu udah berguna banget kok."
__ADS_1
Raisa berjalan gontai memasuki rumah. "Sangking bergunanya, hampir menyesatkan orang lain."
*****
"Gue yakin banget Aldo nyimpan jimat itu di sini, tapi mana sih?" Tangan Bella terus menyusuri isi lemari itu. Tak sadar Samuel sudah keluar dari kamar meninggalkannya sendiri.
"Tuh Al." Dio menunjuk Bella dengan dagunya.
Tangan Aldo mengepal. Beraninya Bella membongkar barang-barang pribadi miliknya, tanpa ijin darinya. Sebenarnya apa yang dicari Bella?. Aldo melangkah pelan, menghampiri Bella.
Bella tertegun. Sebuah tangan memegang bahunya.
"Apa yang lo cari?"
Bella berbalik. Aldo sudah berada dihadapannya. Bella gugup, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Apa yang harus ia katakan pada Aldo?
"Jawab! Apa yang lo cari?"
Sesaat, manik Bella berkeliling mencari Samuel. Samuel sudah tak ada dikamar itu, pintu juga tertutup rapat. Apa Samuel menjebak Bella?
"Kenapa diam?" Tangan Aldo terulur kelemari, mengurung Bella. "Jawab!"
"Gu-gue...." Bella menggigit bibir bawahnya. Tak mungkin ia jujur dengan Aldo, pasti Aldo marah. Jika Aldo marah, bagaimana dengan hubungannya?
"Apa?" Aldo mempertipis jarak wajahnya dengan Bella. "Lo mau apa?"
Samuel tolong gue! Bella tersudut. Ia tak bisa melarikan diri. Samuel juga kemana, tidak mungkin Samuel menjebaknya.
"Kenapa lo minta tolong Samuel?" Aldo semakin geram. Bella menatapnya bingung. "Jawab!"
"Lo, bisa baca pikiran gue?" Bella menatap manik Aldo, semakin takut.
"Aldo jangan sampai Bella tau rahasia kamu, sebelum kita mendapatkan petunjuk tentang manusia tua itu!" Andra mengingatkan, bisa-bisa Aldo keceplosan gara-gara termakan amarah.
Tak menghiraukan ucapan Andra. Aldo menatap tajam manik Bella. "Iya."
"ALDO!" Tiga hantu itu serempak berteriak, tak percaya. Aldo sengaja mengucapkannya atau keceplosan?
"Gue bisa baca pikiran lo, jadi.." Aldo memberi jeda. Tubuh Bella semakin gemetar. "Jangan pernah bohongin gue!"
"Aldo!"
Menoleh, Aldo menatap Samuel yang sudah berdiri diambang pintu. Sejak kapan Samuel disitu, apa Samuel mendengarkan ucapannya pada Bella barusan?
Kembali menatap Bella. Aldo mendekatkan bibirnya pada telingan Bella, berbisik. "Lo berhak tau rahasia ini karena lo pacar gue. Gue percaya, lo pasti akan jaga semuannya. Jadi, jangan hianatin kepercayaan gue ke lo."
Aldo memberi jarak dari Bella, lalu berbalik menatap Samuel.
Sedangkan Bella masih mematung, seperti terhipnotis oleh kalimat Aldo, kalimat teromantis yang pernah Bella dengar dari bibir Aldo. Lagi-lagi hati Bella berdenyut aneh, wajahnya merah padam. Arghhh.... Aldo berhasil membuat Bella meleleh.
Jangan lupa tinggalkan like and comment ya..
__ADS_1
Maaf banget nih, Author lambat up🙏
Tapi jangan bosen ya baca cerita ini😁