
Suasana di SMA DHANISTA kini hanya sunyi. Tentu saja, semua guru sudah memasuki kelas sesuai jadwalnya. Menjelaskan materi kepada murid-muridnya. Walaupun hanya beberapa yang akan memahami pelajaran, tapi sang guru tidak pernah bosen untuk mengajarinya. Ya, itu karena tugas mereka tugas mereka.
Bu Raini menjelaskan materi terhenti, saat Aldo mengangkat tangannya.
"Ya ada apa Aldo?" tanya Bu Rani sambil tersenyum.
"Izin keluar sebentar Bu."
"Oh silakan." Bu Rani mengijinkan dengan senyuman manis. Walau Aldo datar, tak membalas senyuman bu Rani itu tak masalah. Yang terpenting bagi bu Rani, siswanya masih punya sopan santun. Meminta ijin sebelum keluar, itu sudah cukup.
Aldo berjalan menuju pintu keluar kelas. Manik Bu Rani hilang masih mengekori Aldo pergi, binirnya masih menyunggingkan senyuman. Namun seketika senyuman itu luntur, saat pandangannya menuju Bela yang sudah menempelkan pipinya ke meja, matanya tertutup.
Bella tidur dikelas?
"BELAA!" Teriak Bu Rani menggema diruang itu, membuat semua murid menutup telinganya.
Bella terjaga. Matanya sangat berat untuk dibuka. Sesaat, dia menguap lalu menoleh "Apasih, Sa."
Suara khas bangun tidurnya membuat Bu Rani semakin geram. Dia tidak menyadari Bu Rani sudah ada di depannya.
Bella bingung, saat kaki Raisa menyenggolnya dengan sengaja. Tapi Raisa tak berani menatapnya. "Lo kenapa sih, Sa?"
"Kamu lupa ini disekolahan!"
Sebuah suara berhasil membuat Bella membuka lebar matanya lebar. Menoleh keasal suara itu. Bella tersenyum kikuk. "Eh, Bu Rani."
"Keluar dan cuci muka cepat, atau ibu suruh kamu keliling lapangan!" Perintah bu Rani sambil menunjuk pintu keluar.
Bella hanya menghelai nafas dan segera berlari keluar. teman sekelasnya hanya menahan tawa termasuk Raisa teman sebangkunya sendiri.
*****
"Kenapa kalian menemuiku disaat jam seperti ini? disini sangat susah menemukan tempat sepi untuk menemui kalian, jadi sebaiknya kalian menemuiku saat malam hari." Aldo sangat kesal dengan tiga hantu dihadapannya ini. Mereka sangat keras kepala.
"Kami hanya ingin memberi tahu mu, bahwa kami sudah menemukan manusia yang kau cari itu." Jelas salah satu hantu bernama Dio.
"Jadi, kalian sudah menemukan manusia tua itu?" Aldo menatap tiga hantu itu datar. Mereka hanya mengangguk pelan.
Aldo tersenyum miring. Akhirnya Aldo menemukan orang yang ia cari. Ini informasi yang bagus untuknya. "Baiklah kalian boleh pergi."
Tiga hantu di hadapan Aldo pun menghilang dengan cepat.
__ADS_1
Setelah mendengar informasi dari tiga temanya yang bukan lagi manusia itu. Aldo beranjak pergi dan ingin kembali kekelas. Jika berlama-lama dengan alasan ke toilet pasti Bu Rani tidak akan percaya. Aldo juga tidak bisa jujur, jika dia jujur semua temannya akan mencapnya gila.
Langkah Aldo Terhenti di diambang pintu perpus, saat menyadari pintu itu terbuka walau hanya sedikit. Namun Aldo masih ingat betul saat masuk perpus, dia menutup rapat pintu itu. Seketika manik hazel milik Aldo berubah merah menyala. Tangannya mengepal, geram. "Bodoh, Lo pikir gue gak tau?"
Perlahan seringai mengerikan itu terukir di bibir Aldo.
Bela berlari memasuki kelasnya, langkahnya terhenti saat sudah di depan teman sekelasnya dan Bu Rani.
"Kamu kenapa Bela, Kan ibu gak suruh kamu keliling lapangan?" Tanya Bu Rani bingung melihat Satu murid dihadapanya yang mencondongkan badanya, tangannya memegang lutut, nafasnya memburu.
"Habis dikejar Kembarannya tuh bu," Teriakan Samuel.
Bu Rani menoleh ke arah Samuel dengan raut wajah bingung. "Sejak kapan Bela punya kembaran, dan siapa kembaranya?"
Samuel sedikit tak percaya, kenapa gurunya dengan mudah mempercayai ucapannya? Dia terkekeh. "Kuntilanak.. bu."
Tawa seluruh siswa di kelas itu, seketika pecah.
Bu Rani menggeleng kepalanya, aneh-aneh saja muridnya yang satu itu.
Bella sepertinya tak menghiraukan ledekan Samuel. Dia terus mengatur nafasnya. Dia juga tak memberi alasan kepada Bu Rani kenapa ia berlari-lari seperti ini.
"Yasudah Bela. Kembali ke tempat duduk kamu," Perintah Bu Rani.
"Bel lo gak papa kan?" tanya Raisa, khawatit. Dia juga penasaran apa yang terjadi dengan teman sebangkunya itu, namun Bela hanya menggeleng sambil mengumpulkan oksigen untuk paru-parunya yang hampir kosong.
Tak lama kemudian Aldo mengetuk pintu kelas, Bu Rani mengizinkan Aldo masuk. Aldo melangkah menuju bangkunya.
"Lo gak ketemu Setan, pocong, kuntilanak, anak tuyul atau sebagainya gitu, Al?" tanya Samuel dengan tawa renyah.
Aldo menoleh kearah Samuel dan menatapnya tajam "Kenapa?"
"Haha..tadi tu.."
"Samuel, Aldo ini masih jam pelajaran, kalo ngobrol silakan keluar!" Tegur Bu Rani, saat mengetahui dua siswanya malah asyik bercerita.
Samuel pun menutup bibirnya rapat, memperhatikan guru didepannya yang sedang menyampaikan materi. Aldo masih penasaran dengan ucapan Samuel yang terpotong.
Apa manusia ini yang lihat gue diperpus tadi. Aldo menatap Samuel curiga.
Saat jam pulang sekolah Samuel, Aldo, Darel dan Nando berpapasan dengan Bella, Raisa dan Loli di koridor.
__ADS_1
"Bel gimana, seneng gak ketemu sama kembaran lo?" Samuel terbahak. Dia sangat hobi jika meledek Bella.
Bella hanya menatap tajam samuel. Ingin sekali memarahi cowok yang menjadi musuhnya itu. Namun maniknya tiba-tiba mengarah ke Aldo yang juga menatapnya. Manik mereka saling menumbuk beberapa detik. Bella pun beranjak pergi begitu saja.
"Tumben tuh ondel-ondel gak marah-marah, sariawan kali ya?" Samuel yang masih menatap punggung Bela yang semakin menjauh. Memang hari ini Bella aneh, dan itu tidak menyenangkan bagi Samuel.
Raisa mendorong samuel hingga samuel selangkah ke belakang. "Keterlaluan lo sam!"
Raisa melenggang pergi menyusul Bella yang sudah agak jauh.
"Kok lo yang marah sih, Sa!" Ucap Samuel setengah teriak berharap Raisa mendengarnya. Raisa seperti ibu untuk Bella. Bella yang tersakiti Raisa yang marah-marah.
"Eh sam, emang ondel-ondel bisa sariawan ya?" Tanya Nando sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Au ah." Samuel melangkah pergi. Selera humornya hilang seketika, Bella yang menjadi bahan ejekannya tidak membalasnya.
Tatapan dari cewek itu mengisyaratkan ketakutan. Aldo berpikir sejenak. Apa yang ditakutkan Bella? Apa dia tau siapa Aldo?
Aldo pun mengikuti Samuel pergi. Darel juga ingin beranjak pergi namun Nando menahankan.
"Ondel-ondel bisa sariawan ya?" Nando masih penasaran dengan hal itu.
Darel tak habis pikir. Apa Nando masih punya otak? "Bisa kok!"
"Hah, Beneran? serius lo? tau dari mana lo?"
Nando memang tidak punya otak. bisa-bisanya mempercayai ucapan Darel yang jelas tidak masuk akal.
"Do, kalo gue bilang ondel-ondel bisa beranak lo percaya?"
"Percaya!"
"Kalo gue bilang bumi bentuknya kotak lo percaya?"
"Bisa percaya juga sih, kan gue gak pernah liat bumi secara langsung"
"Kalo gue bilang lo B**o lo percaya"
"Per..." Mata Aldo membulat Sempurna. "Apa lo bilang!"
*****
__ADS_1
Bantu support Saya yup. Caranya, tinggalin jejak berupa vote, like and comment.
Author sedih nih gak ada yang like...