
Halaman SMA Dhanista kembali ramai. Kerumuhan Siswa-siswi mengitari garis polisi. Kejadian yang sama terulang kembali. Dalam waktu singkat, Dhanista kembali memberikan kabar buruk. Abila Gleara adalah siswi ketiga setelah Amira dan Beni, yang mengakhiri hidupnya di sekolah ini.
Mati dengan cara yang sama dan ditempat yang sama, tentu membuat seluruh siswa Dhanista bingung. Kenapa mereka mengakhiri hidup mereka seperti ini?
Empat siswa berdiri sepuluh meter, memandangi kerumuhan itu. Seorang gadis turun dari mobil, rambut panjangnya yang tergerai dibiarkan diterpa angin. Bella melangkah menghampiri empat siswa itu.
Tangannya terulur menyentuh bahu salah satu dari empat cowok berseragam itu. Aldo menoleh, Bella menatapnya intens.
Satu alis Aldo terangkat. Kenapa Bella menatapnya seperti itu? Apa Bella ingat kejadian tadi malam?
"Ikut gue!" Bella mencekal pergelangan Aldo. Aldo hanya mengangguk sesekali, lalu mengikuti Bella.
Samuel tertegun, sebuah tangan menyentuh bahunya. Sesaat menoleh, lalu meluruskan maniknya kembali pada kerumuhan siswa itu. "Kenapa?"
"Gak pa-pa." Ucap serempak Darel dan Nando tanpa mengalihkan pandangannya.
Samuel menatap kedua sahabatnya bergantian. Siapa yang memberi pertanyaan pada mereka? Samuel menatap Raisa dibelakangnya.
Mendekatkan bibirnya pada telinga Samuel. Raisa berbisik lirih, supaya dua teman Samuel tak mendengarnya. "Gue mau ngomong sama lo, ini tentang Aldo."
Nyaris tak percaya, Samuel mengedarkan pandangannya. Tak ada Aldo, bukannya tadi Aldo berdiri di samping Darel? Lalu kemana sekarang? Kembali menatap Raisa, Samuel menarik lengan cewek itu membawanya pergi.
Satu tangan Darel masuk kedalam saku celannya. Maniknya masih lurus. "Gue heran sama Amira, Beni, dan Abila. Kematian mereka itu gak wajar, kaya ada yang ganjil gitu."
"Apa?" Nando menatap Darel bingung. Darel hanya mengankat bahunya, tanda tidak tau. Nando menghela nafas. "Sekolah kita jadi horor ya."
Sesaat, Darel menatap Nando. Menoleh, Aldo dan Samuel sudah pergi, sejak kapan? Darel celingukan mencari dua temannya itu.
Sedangkan Samuel yang masih menarik lengan Raisa, menghentikan langkahnya di bawah pohon rindang samping sekolah. Berbalik, menatap manik Raisa. "Apa yang mau lo omongin, cepetan sebelum ada orang liat kita disini."
"Bella udah tau rahasia Aldo." Raisa melipat dua tangannya. Samuel berkedip tak percaya. "Tapi, Bella gak mau ceritain semuannya ke gue dan Loli."
"Kenapa?"
"Karena Bella gak mau hianatin Aldo!" Raisa menatap arah lain. "Kata Bella, Aldo bilang itu semua karena dia percaya kalo Bella bakal jaga rahsianya, dan Bella gak mau hianatin kepercayaan Aldo ke dia."
Samuel berdecak kesal. Kenapa Aldo lebih percaya dengan Bella dari pada sahabatnya? Dan sejak kapan Aldo memberi tau Bella? Lalu kenapa Bella tak memberi tau Raisa yang juga sahabatnya? bukannya mereka bekerja sama untuk mencari tau rahasia Aldo. "Sumpah, egois banget si annabell."
"Gue sama Loli emang gak bisa sih, maksa Bella buat ceriain semuannya. Tapi..." Raisa memberi jeda. Samuel menatapnya bertanya. "Gue nyakin lo pasti bisa bujuk Bella."
"Gue?" Samuel menunjuk dirinya sendiri, merasa tidak percaya. Raisa mengangguk yakin. "Gue sama Bella, udah kaya kucing ama anjing, mustahil kalo gue bisa bikin Bella cerita semuanya."
"Gak ada yang mustahil." Raisa memiringkan kepalanya, tersenyum tipis. "Lo kan cowok, gunain kekuatan lo untuk mendapatkan semuanya."
Samuel mengerti maksud Raisa. Namun Samuel bimbang, jika ia berhasil membuat Bella membuka mulut, apa yang selanjutnya akan terjadi? Bagaimana hubungan Bella dan Aldo selanjutnya? Bahkan Samuel juga tak yakin persahabatanya dan Aldo akan tetap utuh.
Sedangkan di ruang kelas yang masih sepi. Bella menghentikan langkahnya, melepaskan cekalanya pada pergelangan Aldo. Berbalik, Bella menatap manik Aldo. "Gue mau tanya sesuatu sama lo."
Apa yang akan Bella tanyakan? Apa Bella masih ingat tadi malam Aldo diam-diam kerumahnya? Sesaat Aldo memejamkan maniknya, tak mungkin Bella mengingatnya. Aldo sudah menghapus ingatan Bella.
__ADS_1
"Lo pasti masih ingat sama Beni savian." Tangan Bella mengepal. Jujur ia takut, tapi Bella sangat penasaran. Aldo hanya menatapnya datar. "Gue udah pernah bilangkan ke lo, sebelum Beni bunuh diri dia ngirim chat ke gue, kata Beni dia tahu rahasia lo."
Aldo masih diam, menatap Bella datar.
"Hari ini kejadian itu terulang, kemarin Abila gleara bilang ke gue kalo dia tau rahasia lo, dan sekarang Abila udah mati karena bunuh diri." Bella menyipitkan pandangannya. "Aneh gak sih? Mereka mati gara-gara tau rahasia lo, dan...."
Bella menggantungkan kalimatnya. Tatapan Aldo semakin dingin, membuat tubuh Bella dibanjiri keringat dingin. Bella menelan susah ludahnya. "Sebenarnya apa rahasia lo?"
Apa gue harus bilang ke lo kalo gue adalah mayat? apa gue harus bilang ke lo kalo mereka mati karena gue? kalo lo tau semuanya apa lo mau bantu gue Bel? Enggakkan? Lo pacar gue, tapi gak semuanya tentang gue harus lo tau.
Kenapa Aldo hanya diam? "Al jawab!"
Yakin, lo ingin tau semuanya sekarang? Gue gak bisa jamin, kalo nanti setelah lo tau siapa gue, apa lo masih bisa bernapas? Jadi, nikmatin sisa hidup lo. Jangan minta gue buat memperpendek umur lo.
Sunyi. Aldo terus menatap Bella datar. Keduanya diam, manik mereka saling menumbuk.
"Aldo!"
"Bella!"
Aldo dan Bella serempak menoleh ke asal suara. Samuel dan Raisa sudah berdiri di ambang pintu kelas. Menghampiri mereka.
"Emp.." Samuel gugup, berpikir sejenak apa dia harus mensetujui ucapan Raisa. Raisa mengangguk mantap, menyakinkan Samuel. "Al gue pinjam pacar lo ya."
"Hah?" Pinjam. Bella menepis tangan Samuel yang nyaris mencekal pergelangannya. "Lo pikir gue apa? pinjam-pinjam, emangnya gue benda yang bisa di pinjam-pinjam!"
"Udah diam cerewet!" Samuel menarik tangan Bella. Nyaris terjungkal, Bella menyamakan langkahnya dengan Samuel. "Pinjam ya Al!"
Berdiri disamping Aldo, Dio memandang arah yang ditatap Aldo. "Firasat aku buruk, Bella pasti akan keceplosan."
"Tentang?" Ruka bertanya sok tak tau.
"Aldo bisa baca pikiran manusia." Andra menatap Ruka dengan sorot malas. Ruka hanya mengangguk mengerti.
Seringai miring mulai terukir di bibir Aldo. "Bella udah lupa."
*****
Malam tadi.....
Manik Bella kembali terbuka. Beberapa kali Bella memejamkan matanya, tetap saja ia tak bisa tidur. Gelisah, Bella terus memikirkan kematian Abila Gleara. Memiringkan badanya kekanan, kekiri Bella terus mencoba menenangkan dirinya.
Beringsut duduk manik Bella menatap dua temanya yang sudah menjelajahi alam mimpi. Meluruskan kembali pandangannya. "Ah... mana mungkin Abila dan Beni mati gara-gara Aldo. Tapi...."
Menggeleng. Bella menepis semua pikiran buruk tentang Aldo. Yang terpenting ia juga sudah tau apa rahasia Aldo.
"Bisa membaca pikiran orang lain." Bella terawa kecil. Entah itu nyata atau hanya lelucon, Bella tetap mempercayainya.
Kembali merebahkan tubuhnya. Bella memejamkan maniknya walau kantuk belum juga datang. Terbuka lagi, manik Bella menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
Suara deret pintu kamar memecah keheningan. Bella menelan ludahnya, lalu beringsut duduk kembali. Pandangannya terarah pada pintu kamar yang sudah terbuka.
Kaki jenjang Bella turun dari kasur. Melangkah perlahan. Tangan Bella terulur meraih kenop pintu. Pintu nyaris tertutup, sebuah tangan menahannya.
Bella tertegun. Pintu terbuka lebar kembali, memperlihatkan cowok tampan memakai jaket hitam berdiri didepan pintu. Tangan Bella gemetar. "Si-siap..."
Belum selesai berucap. Tangan cowok itu segera membekam mulut Bella. Menarik Bella, membawanya menjauh dari kamar itu.
Sampai diruang tengah. Cowok itu melepas tudung jaketnya yang menutupi sebagian wajahnya.
"Aldo." Bella bernafas lega. Ia kira rumah Raisa di bobol rampok. Kenapa tengah malam seperti ini Aldo bertamu dirumahnya? Entahlah Bella tak peduli, Ia malah senang sering bertemu pacar tampannya ini. Tapi... "Lo kok bisa masuk rumah ini?"
Aldo tersenyum miring. Bella sudah menyadari. Namun ini tujuan Aldo kesini. Untuk memberi tau Bella semua tentangnya.
"Lo punya kunci rumah ini?" Melihat seringai Aldo membuat Bella jadi merinding ketakutan. "Atau lo.."
"Gue gak perlu kunci buat masuk kesini." Tatapan Aldo berubah dingin. "Cukup gunain teleportasi."
"Tel..tele.."
"Teleportasi." Suara Berat Aldo semakin lirih. Membuat Bella semakin takut mendengarnya. "Dan..."
Aldo mencengkeram kedua bahu Bella. Mempertipis jarak mereka. "Tujuan gue kesini karena...."
"Mau ngambil ingatan lo, gue gak mau satu pun rahasia gue lo ketahui. Satu rahasia gue bisa ngambil satu umur lo. Jadi kalo lo mau hidup lama, jangan pernah cari tau siapa gue."
"Ini bukan saatnya lo mati, karena masih ada Raisa, Loli dan Samuel yang harus mati terlebih dulu!"
"Mak-maksud lo apa Al gue gak paham?" Tubuh Bella semakin gemetar. Keringat dingin mulai bercucuran. Ia sangat ingin berteriak memanggil dua sahabatnya dikamar.
"Gue akan bunuh mereka yang sudah mengganggu hidup gue. Kalo lo dan temen lo masih ingin hidup, sebaiknya kalian gak usah tau siapa gue!"
Aldo menarik Bella dalam pelukannya. Bella memberontak, namun Aldo tak melepaskannya. Aldo berbisik lembut. "Lo udah tau kan sekarang gue siapa? Lo udah tau kalo gue adalah iblis yang menyamar seperti kalian, lo udah banyak tau tentang gue Bell. Tapi maaf gue harus ngambil semua itu lagi, maaf...."
Tubuh Bella semakin lemas. Kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya, Aldo semakin mengeratkan pelukannya agar Bella tak terjatuh kelantai. Maniknya mulai tertutup. Bella masih mendengar Aldo yang terus berucap. Entah kenapa kepalanya tiba-tiba berdenyut, sakit. Bella tak menghiraukan lagi apa yang dikatan Aldo. Kepalanya terus berdenyut, seperti mendapatkan hantaman keras. Bibir Bella berucap lirih, merintih kesakitan.
"Al...sakit.."
_______________________________
Hai readers gimana nih ceritanya bikin ngantuk gak, semoga enggak ya inikan bukan dongeng pengantar tidur😂
Oke, readers semoga kalian tetap betah sama cerita saya sampai end, Aminn...😇
Setelah ini saya janji, upnya gak bakal lama-lama. Soalnya ceritanya sudah selesai saya ketik semua..horeee😆
Tapi kalo eps ini votenya sedikit, terpaksa saya upnya agak lama😭
Biar cepat nyampe ending, setelah baca jangan lupa vote and comment.
__ADS_1
luvyou readers😘