
"SAMUEL TOLONG GUE!" Takut, Bella terus berteriak histeris ditengah tangisannya. Menggedor kaca pintu mobil, berharap ada yang mendengarnya dari luar dan menolongnya. Namun nihil, jalanan malam ini sudah sunyi. Ingin Bella pecahkan saja kaca ini. Tapi tak bisa, kaca mobil terlalu tebal. Mana mungkin Bella mampu memecahkannya dengan tangan kosong.
"Beritau gue dimana sekarang bokap lo?" Aldo menatap lurus, mengemudi mobil yang ia tumpangi. Bella tak mempedulikan pertannyaannya, dan terus berusaha membuka pintu mobil itu. Sungguh....saat ini Aldo sangat geram dengan Bella.
"TOLONG GUE!" Gedoran itu semakin keras. Bella tak lagi peduli tangannya sakit karena memukul kaca itu. Saat ini dipikirannya hanya ingin keluar dari mobil, bagaimanapun caranya. "SIAPA PUN TOLONG GUE!"
Aldo tersenyum sinis.
Tangan Bella terulur menggenggam sisi lengan jaket Aldo. Menatap Aldo, memohon. "Al, gue masih pengen hidup. Pleasa....jangan bunuh gue. Gue kan pacar lo, Al. Gue janji gak akan bilang kesiapa pun soal siapa lo, asal lo mau lepasin gue."
Sesaat, Aldo melirik Bella lewat ekor matanya, lalu kembali meluruskan pandangannya pada jalanan. "Lo masih punya harapan buat hidup kok, asalkan.....Lo bawa gue ke bokap lo."
"Gak!" Bella melepaskan genggamannya pada jaket Aldo. "Lo mau bunuh bokap gue kan? gue gak mau!"
Mobil berhenti ditengah jalan yang sangat sunyi. Ini kesempatan bagi Bella untuk turun dari mobil, namun pintu masih terkunci.
"Lo gak mau kan bokap lo mati? Sama, gue juga gak mau orang tua gue mati ditangan bokap lo!" Aldo menatap Bella lekat. Bella semakin ketakutan. "Inget, nyawa harus dibalas nyawa!"
Bibir bawah Bella gemetar. Air matanya terus membasahi pipi. "Ta...tapi, gu.."
"DIMANA BOKAP LO?"
Bella menempelkan punggungnya dipintu mobil. Ia tertunduk, tak berani menatap manik Aldo yang sudah berubah merah. Tangannya gemetar, meremas ujung sweter yang ia gunakan.
Tertegun. Sebuah pisau mengusap pelan pipi Bella. Bella menahan tangisannya. Bibirnya yang masih gemetar ia paksakan berucap. "Al..."
Pisau itu turun tepat di leher Bella. Bella tak berani bergerak, bahkan ia berusaha tak bernafas. Satu gesekan bisa membuat urat di leher Bella putus.
"Amira yolanda....Beni savian....Abila gleara... Selanjutnya...." Satu sudut bibir Aldo terangkat. "Bella chalandra!"
Benar firasatnya selama ini. Aldo yang membuat tiga siswa Dhanista itu mati. Mereka tidak bunuh diri. Aldo adalah iblis, ia bisa melakukan apapun sesukannya, tanpa meninggalkan bukti.
Memberanikan diri menatap manik Aldo. Bella terisak. Apa hanya sampai sini hidupnya? Apa ini akhir hidupnya? Bella tak menyangka, ternyata pacarnya sendiri yang akan mengambil nyawanya.
"Lo cinta sama gue kan? Gue pacar lo kan?" Berucap pelan. Aldo mempertipis jaraknya dengan Bella. "Kita gak bisa satu Bel, kita beda. Satu-satunya cara agar kita tetap bersama.......Lo harus mati!"
Bella menggeleng. Aldo semakin menekankan pisaunya keleher Bella, membuat Bella semakin tegang.
"Kita hidup bersama......di neraka." Aldo meraih tangan Bella yang masih meremas sweternya takut. Pisau yang dipegang Aldo turun ke pergelangan Bella. Bella menggeleng cepat, memohon. "Mati demi gue ya!"
"Aaaaakh"
*****
"RAISAAA! LOLIII!"
Raisa membuka pintu utama rumahnya. Darel dan Nando menyelonong masuk begitu saja. Raisa kembali menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.
__ADS_1
Setelah mendapat chat dari Samuel. Mereka sangat ketakutan 'Aldo bukan manusia?' Bagaimana bisa?
Samuel juga sudah menjelaskan semua tentang ayah Bella, Alisa dan alasan ayah Bella membunuh keluarga Aldo. Saat ini Samuel menjemput Alisa dan bunda Bella, karena cuma mereka yang bisa membantunya.
Duduk disofa ruang tengah. Mereka menunggu Samuel yang akan menjemputnya.
"Samuel lama banget sih." Raisa menggigit ujung jari telunjuknya. Takut, bagaimana jika Aldo benar ingin membunuh Bella, dan selanjutnya adalah teman-temannya, termasuk dirinya juga. "Gue belum siap mati."
Memeluk lututnya sendiri. Nando menatap Raisa kaget. "Lo pikir kita semua disini mau mati? gak juga kale. Mana gue sering makan makanan sisanya Aldo lagi, pengen gue mutahin isi perut gue sekarang."
"Kalian pikir....sekarang Bella masih hidup gak?" Daren menatap tiga temannya bergantian. Raisa dan Nando menggeleng serempak. Loli hanya diam memeluk boneka sapinya. "Kita cuma bisa berharap semoga Samuel datang tepat waktu, sama Alisa."
Raisa mengangguk. "Cuma Alisa yang bisa cegah Aldo, cuma dia yang bisa selametin nyawa kita."
Daren mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada ponsel yang ia genggam. Tiba-tiba maniknya terarah pada Loli yang sejak tadi hanya diam. "Li lo gak kerasukan, kan?"
Nando dan Raisa serempak menatap Loli, aneh.
Loli menggeleng. Tangannya yang gemetar semakin erat memeluk boneka sapinya. "Samuel bilang dia mau jemput Alisa dan bunda Bella kan? Gue bingung banget, otak gue gak bisa mikir jernih. Bunda Bella itu, bukannya udah meninggal ya?"
Seketika, tengkuk mereka meremang. Kenapa tak terpikirkan dikepala mereka sejak tadi?
*****
Merebahkan tubuhnya dikasur. Alisa menarik selimutnya sampai menutupi setengah tubuhnya. Manik Alisa menatap langit-langit kamar. Gelisah, apa selanjutnya yang akan terjadi pada Aldo? Teman dan pacarnya sudah mengetahui rahasia terbesarnya.
Ini sudah terjadi, walau kak Aldo menyesal....Ia juga tidak bisa keluar dari takdirnya. Hidup abadi dineraka. Alisa tersenyum miris. Air matanya mulai mengalir. Hidup itu kejam, tak adil. Orang baik harus tersiksa oleh iblis, sedangkan pembunuh harus hidup bahagia dengan harta!
Memiringkan tubuhnya kekiri. Tangan Alisa terulur menyentuh mawar putih yang tergeletak di nakas samping ranjang. Kak Samuel.
"Alisaaa!"
Duduk spontan. Alisa menatap lurus. Ia mendengar suara Samuel memanggilnya. Apa Alisa salah dengar? mungkin iya, karena barusan ia menyebutkan nama Samuel dalam hatinya. Alisa kembali merebahkan tubuhnya. Mulai menutup maniknya yang sudah menahan kantuk.
"Alisaa!"
Manik Alisa kembali terbuka.
"Alisa ini gue, Samuel Xavier!"
Benar, tidak salah lagi. Itu memang suara Samuel. Alisa segera turun dari ranjang, memakai kaca matanya kembali, ia lalu keluar dari kamar.
Pintu utama terbuka. Alisa mendelik. Nafas Samuel terengah-engah. Apa Samuel baru selesai berlari? apa alasannya?
"Aldo..." Samuel memberi jeda, mengumpulkan oksigen untuk paru-parunya yang hampir kosong. Alisa masih diam, menunggu ucapan selanjutnya. "Mau...bunuh Bella."
Hah!
__ADS_1
"Bella mau dibunuh!" Seruni menghampiri Samuel dan Alisa. Dua remaja itu serempak mengangguk. Seruni lemas seketika, ingin sekali pingsan. "Bella..."
"Kita harus segera menolong kak Bella, tante jangan takut kak Bella pasti akan selamat kok." Alisa menenangkan Seruni yang sedang khawatir. Samuel menggeleng, satu alis Alisa terangkat."Apa maksudnya kak?"
Samuel menghela nafas. "Bella udah dibawa kabur sama Aldo. Kita gak tau kan, Aldo mau bawa Bella kemana?"
"Ke rumah om Toni. Kak Aldo pasti akan bunuh om Toni terlebih dahulu, sebelum kak Bella!" Alisa sangat yakin. Aldo tidak tau keberadaan Toni, hanya Bella yang bisa membantunya bertemu pembunuh papanya itu. Jika Bella mati terlebih dahulu, Aldo tak bisa membalaskan dendamnya kepada Toni.
"Ya sudah, Samuel tolong anterin tante ke rumah ayah Bella ya." Pinta Seruni, memohon. Seruni berharap, ia masih bisa berkumpul dengan putrinya nanti. Ia tak mau terpisah lagi dengan Bella.
"Iya tante, tapi kita jemput temen saya dulu ya. Saya gak tau rumah ayah Bella, tapi mungkin Raisa tau." Samuel pergi setelah disetujui Seruni.
Mereka berjalan mencari taxi. Jam selamam ini, memang susah mencari mobil lewat, tapi tak lama kemudian taxi lewat merekapun pergi menuju rumah Raisa.
*****
Pintu mulai terbuka. Pria paruh baya itu kaget saat melihat seorang gadis menangis sesegukan, duduk diteras rumahnya. Rambut menjutai menutupi wajahnya. Darah segar terus mengalir dari tangannya.
"Ay...yah." Suara serak milik gadis itu nyaris tak terdengar. Tenggorokannya kering. Sakit, perih beberapa sayatan ditangannya sangat menyiksa.
Suara itu. Toni tak yakin, dihadapannya ini apakah putrinya? "Bella."
Tangan Toni terhenti nyaris meraih bahu Bella. Maniknya terarah pada cowok memakai jaket hitam berdiri di samping pintu, bersender di dinding. Tangannya terus memainkan pisau yang sudah berlumuran darah.
"Si-siapa kamu?" Toni memberanikan diri, saat tekuknya tiba-tiba meremang. Sosok itu menghadapkan tubuhnya pada Toni, wajah tampannya kini terlihat jelas. Toni semakin gemetar ketakutan, maniknya membulat tak percaya. Ia sangat ingat betul dengan anak laki-laki ini. "A...Aldo!"
Toni melangkah mundur. Aldo menyeringai lebar. Tak peduli lagi dengan putrinya yang terus terisak, memanggilnya. Toni nyaris menutup pintu rumahnya saat tangan Aldo menahan pintu itu kuat. Ia pun segera berlari masuk kedalam rumahnya. Tak mempedulikan lagi putrinya terluka, Toni hanya memikirkan keselamatan nyawanya saja.
Aldo melangkah memasuki rumah, mengikuti Toni.
"Ayah..." Pandangan Bella buram, karena genangan air matanya. Bella berusaha berdiri, namun lagi-lagi jatuh. Kenapa tiba-tiba kakinya berat? tak bisa bergerak, padahal yang terluka tangannya.
Menggelesot. Bella berusaha menyeret kakinya yang sangat berat. Kembali terisak, Argh....tangannya sangat perih, semua urat ditangannya hampir putus. Darah terus becucuran, hingga meninggalkan bercak dilantai.
Bella terus menggelesot memasuki rumahnya.
"Ruka, kamu nahan kakinya Bella yang kuat dong!" Andra setengah teriak, andai Dio ada disini pasti semuanya akan lancar.
Ruka terus menarik kaki kanan Bella dengan kuat. Namun...."Bella terlalu kuat!"
______________________________
Hayoo! ada yang bisa nebak endingnya gak?😂
Btw saya ngetiknya sambil dengerin lagu hantu dari jepang lho😅 tapi bukannya nambah inspirasi saya jadi takut sendiriðŸ˜
Yuk tinggalkan like and commant.
__ADS_1
Support saya terus ya😘