Cowok Misterius

Cowok Misterius
Empat Belas


__ADS_3

Aldo duduk ditepi ranjang. Memainkan ponsel. Baru pertama ini Samuel melihat Aldo sibuk dengan benda pipih itu, biasanya keluar rumah saja tidak pernah dibawa.


Samuel sedikit tenang. Sejak pulang sekolah Aldo tak keluar kamar. Jadi, Dia dan Darel tak perlu repot-repot mencari cara untuk menghindarkan Aldo dari Nando. Lebam biru di wajah Aldo belum hilang, masa mau ditambah lagi.


Aldo meletakan ponselnya di nakas samping ranjang. Samuel bergegas menghalanginya, Aldo pasti ingin keluar. "Lo mau kemana?"


"Keluar." jawabnya datar.


"Gak. Lo dikamar aja, kalo lo lapar biar gue ambilin makanan. Lo gak boleh keluar!" tegas Samuel. Dia tahu, Nando masih diruang tengah menunggu Aldo keluar, dan pasti akan memukul Aldo habis-habisan.


"Gue sejak tadi gak ada keluar kamar, gue mau keluar." Aldo tetap ngotot ingin keluar. Dia sangat bosan hanya dikamar mengotak-atik benda pipih yang baginya tidak ada serunya.


"Tapi, Al...."


Belum selesai Samuel bicara. Aldo sudah melengang pergi melewatinya begitu saja. Samuel menghela nafas, mengikuti Aldo keluar kamar.


Sesuai dugaan Samuel, Nando masih duduk di ruang tengah ditemani Darel. Mata Aldo masih Mengisyaratka kemarahan.


Aldo menghentikan langkahnya. Menatap Nando dan Darel bergantian. Samuel hanya diam berdiri di samping Aldo.


"Gue pergi sebentar," pamitnya. Dia melengang pergi.


"Lo mau kemana?" Nando akhirnya bersuara. 


Langkah Aldo terhenti. Dia berbalik. Menatap lurus Nando. "Pergi."


"Ya kemana?" Suara Nando meninggi. Dia berdiri menghampiri Aldo.


"Do, udah dong. Lo percuma marah-marah kaya gini, Lo pikir dengan kaya gini Bella bakal luluh sama lo." Samuel menyadarkan Nando. Memang kalo Nando marah sangat seram, bahkan dia bisa bunuh orang.


Nando tak menghiraukan ucapan Samuel. Dia tetap fokus pada Aldo saat ini. "LO MAU KEMANA?"


"Pergi." Jawabnya dengan santai.


Samuel tidak bisa berpikir lagi. Bahkan wajah Aldo tetap datar. Aldo tidak takut dengan Nando? Tapi kenapa Aldo tidak membalas Nando? Apa Aldo memang bosen hidup? dan menyerahkan nyawanya pada Nando.


"Mau ketemu Bella?" tangan Nando mengepal. Bersiap melayangkan pukulannya kewajah Aldo, jika jawabannya 'iya'.


Aldo diam. Menatap Samuel yang menggelengkan kepalannya. Mengisyaratkan agar Aldo menjawab 'tidak'.


"Gue.." Aldo menatap Nando rendah. "Yang akan dapetin Bella selanjutnya."


Samuel menahan nafas. Aldo memang kepala batu. Bahkan Samuel tak yakin Aldo benar-benar mencintai Bella.

__ADS_1


Bukk.


Aldo terhuyun mundur. mengusap darah disudut bibirnya. Dia menyeringai. "Lo tau, kenapa gue diam walau lo pukul gue sampai bonyok kaya gini?"


Nando tak menjawab. bahunya naik turun. Nafasnya sudah tidak teratur. Dia sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.


Aldo menyeringai. menatap tajam Nando "Inget baik-baik!"


Samuel dan Darel juga ikut mendengarkan. Bagi Aldo ini permainan yang paling seru untuknya. Dia puas bisa memainkan salah satu manusia yang ada di depannya ini.


"Sekalipun lo tusuk gue dengan beribu pisau, gue gak akan pernah mati."


Nando berkedip dua kali. saat ini otaknya benar-benar tidak berfungsi, bahkan dia tak mengerti maksud ucapan Aldo.


Aldo berbalik. memunggungi Nando. tersenyum puas, senyum yang jarang terukir di wajahnya. Dia melangkah pergi.


Samuel, Darel dan Nando masih diam ditempatnya. pikiran mereka sama, mengartikan setiap kalimat yang Aldo ucapkan barusan.


Seakan Aldo itu kekal, tidak yang kekal hanya Tuhan. Lalu apa maksud Aldo? mereka benar-benar dibuat pusing oleh Aldo.


*****


Dikamar. Loli terus menarik kaki boneka sapi kesayangannya. Bella tak mau melepaskannya. Bella memeluk erat boneka itu. mengerutkan bibirnya. Pandangannya lurus menatap kosong.


"Bel gue gak bisa tidur kalo gak meluk sapi, jadi balikin sapi gue dong!" Loli terus menarik kaki boneka itu. Jika kaki bonekannya sampai putus maka Bella yang akan disalahkannya."kalo Aldo gak mau tanggung jawab, kedukun aja gugurin kandungan lo."


Loli meletakkan telunjuknya dipipinya. Berpikir sejenak. Saran apa lagi yang cocok untuk Bella saat ini. Padahal Loli yakin sarannya selalu baik untuk Bella, walau akhirnya Bella tak pernah menggunakan sarannya karena selalu dilarang Raisa.


Bella menghela nafas. Ia melempar boneka sapi itu ke sembarang arah.


Loli segera menyelamatkan Boneka kesayangannya yang terlempar jauh, dilantai. "Sapi kamu gak pa-pa kan? Aku janji gak akan biarin kamu dipeluk Bella lagi, jika begini akhirnya."


"Aldo gak suka sama gue." 


Raisa menoleh pada Bella. Tidak seperti biasanya Bella begini. Apa Bella kali ini benar-benar tulus mencintai cowok, dan itu Aldo?


Selama ini Bella memang tidak pernah galau kalo urusan cowok. Ditembak ya diterima. Dia nembak, ditolak ya gak masalah. Tapi kali ini Bella dibuat sedih karena cowok.


"Lo ditolak sama Aldo?" tanya Raisa penasaran.


Bella merebahkan badannya kekasur. Melirik Raisa sejenak lalu menatap langit-langit kamar. "Gue belum nembak Aldo, tapi dia udah nyuruh gue jauhin dia."


Raisa tersenyum. Dia harus memberi semangat kepada satu sahabatnya itu.Walau Raisa tidak terlalu yakin, apa benar Aldo tidak menyukai gadis secantik Bella? Atau Aldo sudah sadar kalo Bella tidak pernah tulus mencintai cowok. "Mungkin Aldo gak mau aja lo yang nembak duluan, Ya masa cewek nembak cowok. Tunggu aja, gue yakin kok Aldo tuh suka sama lo. Cowok mana sih, yang gak terpesona sama cewek secantik Bella?"

__ADS_1


Kalo dipikir-pikir aneh juga jika cewek nembak cowok, tapi Bella sudah biasa dengan hal itu. Bella memang sering nembak cowok, dan kebanyakan dari mereka menerima Bella.


Tapi mungkin benar kata Raisa. Aldo berbeda dari cowok lainnya. Bella mengulum senyum. "Bener kata lo, cowok mana yang gak terpana sama gue."


*****


"Kamu harus bisa dekat dengan manusia bernama Bella itu."


"Iya, cuma Dia yang bisa memberi tahu keberadaan manusia tua."


"Dia juga terlihat dekat dengan manusia tua."


Aldo berdecak. Tiga hantu dihadapannya ini hanya menambah beban hidupnya saja. Mana mungkin Aldo mendekati Bella, bahkan Aldo sudah menyuruh Bella menjauhinnya.


Tapi ada benarnya juga. Hanya Bella yang tau keberadaan orang yang dia cari Aldo.


Aldo menatap tajam tiga hantu dihadapannya. Mereka hanya menunduk dalam. sepertinya mereka takut Aldo akan memarahinya.


"Ternyata, manusia lebih berguna dari pada makhluk seperti kalian" Aldo menyeringai lebar. "apa aku lenyapkan saja kalian? karena yang akan membantuku, manusia bukan sampah seperti kalian!"


Salah satu hantu Bernama Ruka, bersuara "Tapi tanpa kami, kamu tidak tau kalau Bella dekat dengan manusia tua itu."


manik merah Aldo menyala. seringainya semakin lebar.


"Al, tolong jangan bunuh kami untuk kedua kalinya. Biarkan kami menikmati dunia walau dengan wujud seperti ini." Ucap satu hantu yang lainnya, namanya Dio.


Aldo tau pasti mereka sangat takut untuk dilenyapkan. Roh yang bergentang di dunia manusia, dan tidak mau kembali ke alamnya, padahan urusan dunianya sudah selesai. Tentu mereka pasti akan mendapatkan siksaan yang paling kejam di neraka. Maka dari itu, mereka ingin hidup lebih lama di dunia manusia, menikmatinya sebelum akhirnya mendapatkan hukuman paling kejam di neraka.


Mereka mati ditangan Aldo bukan karena kehendak mereka. Mereka menjadi hantu gentayangan, dan tidak kembali ke alam baka juga bukan keinginan mereka. Tapi semua karena keinginan Aldo. Aldo yang menyebabkan hidup mereka semenyedihkan seperti ini.


Aldo masih menyeringai. "Mungkin ini bukan waktu kalian meninggalkan dunia, silakan kalian bersenang-senang."


Tiga hantu itu serempak menatap Aldo tidak percaya. Mereka pikir Aldo akan melenyapkannya. Mereka segera pergi sebelum Aldo berubah pikiran "Terimakasih, Al. Kami akan berusaha membantumu."


Mereka menghilang.


Aldo masih berdiri ditempat. hembusan angin malam, diikuti suara burung hantu. Malam yang mencekam. Aldo memejamkan matanya.


"Keluarga ini tidak pantas hidup. Kalian semua harus mati, MATI!"


Mata Aldo terbuka. Seringainya semakin lebar. ingatan yang menyakitkan. Aldo berucap lirih. "Mati!"


*****

__ADS_1


Like, comentnya mana nih?


Author butuh penyemangat


__ADS_2