
Perempuan paruh baya itu memegang sapu, berdiri diteras rumah. Menatap kosong. Seminggu sudah ia meninggalkan kota tempat tinggal bersama keluarga kecilnya dulu. Rindu dengan sosok anak semata wayangnya harus ia pendam paling dalam. Tak ada harapan lagi untuk bertemu anak kandungnya.
Ditengah termenungnya, perempuan itu tertegun. Tangan mungil memeluknya dari belakang.
"Tante ngelamunin apa?"
Perempuan itu tersenyum, ia hafal betul dengan suara lembut milik gadis yang memeluknya itu. "Alisa, sudah pulang?"
Alisa melepaskan pelukannya. Seruni berbalik, tersenyum hangat. "Tante mikirin apa?"
Tak ingin membuat Alisa khawatir. Seruni mengambil beberapa jarak, lalu kembali menyapu. "Tante lagi bersih-bersih. Alisa masuk ya, ganti baju."
Alisa berjalan menghampiri perempuan yang sudah merawatnya sejak kecil itu. "Tante, aku gak papa kok kalo gk sekolah, Lagian kan DHANISTA itu terlalu mahal. Kenapa kita pindah kesini, kan sekolah aku yang dulu juga masih layak tante, walau gurunya sedikit sih."
"Alisa, kamu begini gara-gara suami tante." Membelai surai panjang Alisa, Seruni tersenyum. "Seandainya papa, mama kamu masih hidup, pasti kamu sekarang sekolah ditempat paling elit. Jadi tante usahain, kamu harus mendapatkan itu."
Air mata menggenang. Alisa memeluk Seruni erat. "Maafin Alisa tante, Alisa bikin tante tambah repot."
Seruni balas memeluk. "Enggak Alisa, seharusnya tante yang minta maaf, tante gak bisa memberi kehidupan yang layak untuk kamu, tante gak bisa memberikan apa yang seharusnya kamu dapatkan, maafin tante Alisa."
Dalam pelukan Seruni, Alisa menggeleng pelan. "Tante udah berikan semuannya ke Alisa. Tante udah Alisa anggap mama kedua untuk Alisa, Andai waktu itu tante gak datang mungkin, Alisa udah mati."
"Tapi tante terlambat." Seruni melepas pelukannya. "Tante gak bisa selamatin nyawa papa sama mama kamu."
Alisa tertunduk dalam. Memang Alisa masih tidak rela kedua orang tuanya meninggal diusiannya yang masih kecil. Andai tante Seruni-nya ini tak terlambat datang mungkin, papa dan mamanya masih hidup.
"Tapi," Alisa menatap manik Seruni. "Tante juga kehilangan anak tante, gara-gara nyelamatin aku."
"Enggak Alisa." Seruni mengambil sapunya yang ia sandarkan pada dinding. "Yang penting sekarang, tante bisa ngerawat Alisa."
Alisa tersenyum. Seruni kembali menyapu. Alisa bersyukur bisa dirawat baik dengan tante yang terlihat masih muda ini.
Padahal tante Seruni baik, tapi kenapa suaminya seperti iblis. Itu yang selalu Alisa pikirkan hingga saat ini.
Sepuluh tahun peristiwa itu berlalu, tapi Alisa masih terluka, tak terima apa yang dilakukan suami Seruni pada keluarganya. Alisa bersyukur bisa diselamatkan Seruni, tapi dia juga merasa bersalah. Karena dia, Seruni kehilangan putri kandungnya.
*****
Pelajaran sudah berakhir satu jam yang lalu. Kini DHANISTA menjadi sunyi. Hanya beberapa orang yang masih diparkiran dan kantin sekolah.
Setelah mengirim pesan lewat ponselnya, menyuruh ketiga temannya pulang terlebih dahulu. Aldo langsung memasuki gudang belakang sekolah. Dio, Ruka, dan Andra sudah melayang disana, menunggu kedatangan Aldo.
Aldo melempar tasnya kasar, kesembarang arah. Tiga hantu dihadapannya tertunduk dalam. Hanya satu dari mereka yang membuat kesalahan, tapi Aldo pasti menghukum semuannya.
Aldo menatap tajam ketiga hantu itu bergantian. Irisnya sudah berubah merah. "Ruka!"
Ruka mendongak takut. Menatap manik Aldo memohon, Semoga Aldo tak langsung mengirimnya ke akhirat.
"Berapa umur kamu hidup?"
__ADS_1
Ruka berpikir. Bukannya Aldo tau, Dia mati saat umur tujuh belas tahun.
"Jika dihitung sampai sekarang, berapa umur kamu?"
Ruka merasakan firasat yang tak enak. Raut wajah Aldo tak bisa dibaca. Ruka tertunduk lagi. "Dua puluh tahun."
Aldo menyeringai. "Bosen tinggal didunia manusia?"
Ruka mundur. Aldo mulai melangkah mendekatinya. Dia menggeleng cepat. "Tidak Aldo!"
"Lalu.." Aldo memberi jeda. Ruka kini menatapnya semakin takut. "Kenapa kamu ganggu Bella."
"Aku suka sama Bella, Aldo."
"Kalian itu hantu, kalian sudah mati, Jasad kalian sudah menjadi tanah, dan Bella..." Aldo tersenyum miring. "Bella adalah manusia, rohnya masih menyatu dengan jasadnya!"
"Bunuh Bella!" Nada Ruka mulai meninggi.
Tangan Aldo mengepal. Ruka berhenti mundur. Aldo semakin mendekat. "Bunuh Bella?"
Brukk!
Aldo berbalik. Ketiga hantu itu juga melihat apa yang Aldo lihat.
Cowok memakai seragam yang sama dengan Aldo. Terjatuh kelantai, karena tersandung potongan kayu dari kursi yang rusak. Ia membetulkan posisi kaca matanya yang hampir melorot. Matanya membulat saat mengetahui, Manik Aldo terarah kearahnya.
Panik. Cowok itu segera bangkit, dan langsung berlari keluar dari ruangan gudang itu.
"Dia bukan indigo, tapi dia pasti sudah mendengarkan pembicaraan kita, Bagaimana ini Aldo?" Dio terlihat panik.
Tanpa mengalihkan pandangannya, Aldo menjawab datar. "Tenang, hidupnya hanya sampai hari ini."
"Lalu?" Andra menatap Aldo yang masih membelakanginya.
Aldo berbalik menatap tiga hantu itu bergantian. "Kalian Bebas dari hukuman!"
Wajah tiga hantu itu langsung berseri. Tidak seperti biasanya Aldo bisa merubah niatnya.
Memunggungi lagi tiga hantu itu. Aldo menatap lurus. "Yang menerima hukuman kalian adalah si cupu itu."
*****
Seperti biasa, sebelum pulang. Beni selalu mengembalikan buku-buku perpus yang ia pinjam. Setelah selesai ia menutup perpus, tak sengaja maniknya menatap punggung Aldo yang berjalan semakin menjauh.
Sebenarnya Beni masih marah dengan Aldo karena kejadian tadi siang.
Jika diingat-ingat Aldo itu pendiam. Mungkin jika Beni menyuruh Aldo menjauhi Bella, Aldo pasti tidak keberatan. Ya pasti Aldo sadar dia yang merebut Bella dari Beni.
Beni memutuskan untuk mengikuti Aldo, dan Beni semakin bingun ketika ia tau, Aldo memasuki gudang yang sudah tidak terpakai dibelakang sekolah. Untuk apa Aldo kesitu?
__ADS_1
Mengendap. Bersembunyi di balik tumpukan meja rusak. Beni dibuat bingung, ketika ia melihat Aldo berbicara sendiri. Ini sangat aneh.
Beni mendengar Jelas suara Aldo, seperti mengajukan pertanyaan, tapi untuk siapa?
"Kalian itu hantu, kalian sudah mati, Jasad kalian sudah menjadi tanah, dan Bella..."
Dari nada bicara Aldo yang meninggi, Beni bisa tau Aldo sedang marah.
"Bella adalah manusia, rohnya masih menyatu dengan jasadnya!"
Jelas saja manusia, tapi kenapa Aldo bawa-bawa Bella?
"Bunuh Bella."
Mata Beni membelalak. Nyaris tak percaya ucapan Aldo. Ia takut, apa sebenarnya Aldo psikopat?
Berbalik. Beni hendak keluar dari tempat itu, dan menceritakan semuanya pada Bella. Berharap Bella bisa percaya padanya.
Sial. Kaki Beni tersandung potongan kayu besar, bekas meja rusak. Beni terjatuh. Membenarkan posisi kaca matanya, menoleh. Mata Beni membelalak. Aldo menatapnya. Ia bergegas pergi, sebelum Aldo mengejarnya.
Berlari disepanjang koridor yang sunyi. Sesaat, menoleh kebelakang, Aldo tak terlihat mengejarnya. Beni memekik, saat mendengar suara kaca-kaca pecah.
Tanpa pikir panjang Beni memasuki salah satu ruang kelas. Bersembunyi dibawah meja paling belakang. Menenangkan nafasnya.
Keringat dingin mulai bercucuran, ketika Beni mendengar suara langkah kaki memasuki ruang itu.
Beni bergegas mengambil posel disaku bajunya. Ia harus memberi tau Bella tentang Aldo sebenarnya.
To Bella : Bella tolong aku.
Tak ada balasan.
To Bella : Aku tau rahasia Aldo, tolong aku Bella.
Beni hendak mengirim pesan lagi, namun Bella menelponnya. Tapi Beni ragu, jika ia menjawab panggilan Bella, pasti Aldo mendengarnya.
"Ha-halo Bella.." Ucap Beni pelan.
"........"
"Bel.."
Beni merapatkan bibirnya. Saat suara langkah kaki itu semakin mendekat.
"Telponan sama pacar gue, ya?"
Suara berat itu, membuat Beni tertegun. Beni menoleh.
"Aaaaaa!!"
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya hehehe..
setelah baca Like and Comment ya.