
Setelah mengisi perutnya dikantin, semua murid kembali mengisi keramaian kelasnya masing-masing. Samuel yang duduk dibangkunya, menghadap ke belakang berseberangan dengan Darel dan Nando, seperti biasa berjanda tawa sebelum pelajaran mulai. Sedangkan Aldo memilih membaca buku pelajaran milik Samuel dari pada harus berbagi lelucon dengan tiga temannya itu.
Bahkan sepertinya Aldo tidak tau cara tertawa.
Suasana kelas seperti biasa, belum ada guru yang masuk. Sebagian murid perempuan berkumpul dipojok kelas, pasti ngerumpi. Ada yang baca buku, memang anak rajin. Sedangkan sebagian siswa cowok ada yang bermain game diponselnya. Ada juga yang tiduran dilantai, karena kekenyangan pastinya. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Bella yang baru masuk kelas langsung menuju ke arah Samuel dan teman-temannya.
BRAK.
Bela memukul meja di hadapan Aldo, membuat semua isi kelas tercengang, memusatkan perhatian pada Bella. Kecuali Aldo yang masih fokus pada buku bacaanya.
"SAM! lo kenapa sih? nyuruh Beni menjauh dari gue. Hah, kenapa? lo cemburu sama Beni?" Bella marah-marah dihadapan Aldo, matanya mengarah ke Samuel. Sebelum kekelas, Bella sempat bertemu Beni. Beni mengadu padanya, semua ucapan Samuel pada Beni.
"Sorry, gue gak cemburu sih. Gue gak mau aja, nilai lo lebih tinggi dari gue." Samuel mencebik, menatap Bella malas. Memang selama ini Samuel tetap menempati peringkat kedua, Jadi tak masalah kalo dia sombong.
"Ih Keterlaluan, sini lo!" Bella tak terima, dia menarik kerah baju Samuel dengan tangan satu. Bella agak kesusahan karena Samuel duduk di dekat dinding dan terhalang oleh meja dan Aldo.
"Lepasin, lepasin!" Samuel memberontak, berusaha melepaskan cengkeraman Bella dari kerah bajunya. Namun Bella terus mencengkeram kerah bajunya dengan kuat, Samuel tercekik. Darel dan Nando pun segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Bella. Mereka berdua menarik Bella agar menjauh dari Samuel.
"Woy pergi sono lo!"
Bela acuh tak mempedulikan perintah Darel, dan terus mencengkram kerah Baju Samuel.
"Cantik, jangan cekik Samuel, dia pasti ngerestuin hubungan kita kok." Nando mencoba merayu Bella. Namun Bukannya Bella melepaskan, dia malah semakin menguatkan cengkeramannya.
Kelas menjadi rusuh akibat ulah Bella.
"WOY BERHENTI!" Sang ketua kelas berteriak. Namun percuma mereka acuh.
"Gak usah teriak-teriak kali, seru nih." Ucap salah satu cowok yang berdiri di samping ketua kelas. Dia sangat bahagia melihat kelasnya rusuh seperti ini.
Ketua kelas hanya menghela nafas, mengelus dada. Jabatannya diremehkan. "Sabar."
Nando menarik bahu Bella sebelah kanan, dan Darel menarik sebelah kiri. Cengkeraman Bella terlalu kuat, hingga Samuel juga ikut tertarik.
Aldo yang dari tadi hanya diam, mulai terganggu oleh keributan yang terpampang di hadapannya. Menghempaskan buku yang ada ditanganya dengan kasar keatas mejanya, Aldo berdiri dan menarik tangan Bella yang mencekeram kerah baju Samuel.
__ADS_1
Pandangan Bella mengarah ke manik Aldo yang menatapnya tajam. Dia segera menarik tangannya dari cekalan Aldo, namun aldo tak melepaskanya dan malah menariknya mendekat. Tubuh bella tertarik selangkah lebih dekat dengan Aldo, memangkas jarak antara mereka. Bella mendongak, saat kini tubuhnya hanya berjarak sejengkal dari Aldo.
Bella memberanikan diri untuk kembali menatap mata tajam cowok yang ada dihadapannya itu.
Deg.
Bella merasakan jantungnya sudah berdegub tidak karuan. Aldo mulai menunduk, mempertipis jarak wajahnya dan Bella.
Suasana dikelas itu mendadak hening. Semua siswa memusatkan pandangannya pada Aldo dan Bella. Ada yang menutup matanya dengan telapak tangannya, dan menyaksikannya melalui sela-sela jarinya. Berjaga-jaga jika Aldo dan Bella melakukan adegan kiss. Jika benar mereka akan melakukan itu, para cewek-cewek ingin rasanya menggantikan posisi Bella saat ini.
Ketiga sahabat Aldo, hanya menganga. Tak mengerti, apa yang dilakukan Aldo kepada Bella?
Aldo terus mendekatkan wajahnya ke wajah Bella. Bella yang hanya diam seperti patung, berusaha menenangkan jantungnya yang nyaris melompat keluar, berharap Aldo tak mendengar deguban jantungnya itu. Kelopak matanya bergetar dan keringat dinginpun mulai keluar dari pori-porinya. Aldo semakin mendekatkan wajahnya ke Bela. Bibir tipis milik Aldo semakin dekat. Bella menelan susah ludahnya.
Kenapa harus sekarang? gue belum siap Al. Pikiran Bella sudah kacau.
"Kembali ke tempat duduk atau... gue akan lakuin sesuatu untuk lo!" Ancam Aldo dengan lirih, hanya Bella yang mendengar ucapanya.
Aldo menjauhkan wajahnya dari pandangan Bela dan melepaskan cekalan dari tangannya, kasar. Bella masih mematung ditempat, mengedipkan matanya beberapa kali. Apa barusan yang dikatakan Aldo padanya? Ia cepat-cepat berjalan menuju tempat duduknya.
"Lo gak papa kan Bel?" Raisa khawatir melihat wajah Bella sudah pucat seperti itu. Bela tak menjawab, terus berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegub kencang.
Aldo kembali duduk.
"Gue kira lo bakalan cium tuh ondel-ondel" Samuel terkekeh. Ternyata temannya ini masih waras.
Aldo kembali memfokuskan matanya pada buku yang sudah dia pegang lagi.
"*Gu*e kira Aldo mau cium Bella."
"*Gu*e bisa mati ditempat, kalo cowok setampan Aldo cium Bella."
"*Iy*a sih Bella cantik, tapi kalo buat Aldo, jangan Bella deh."
"Semoga aja Aldo gak suka ya sama Bella."
"Gue gak rela cowok tampan kaya Aldo, jadian sama cewek gak jelas kaya Bella."
__ADS_1
Cewek-cewek menggerutu dalam hatinya. Bella memang tak mendengar, tapi Aldo dapat mendengarnya.
Gue gak sebodoh kalian. Aldo tersenyum miring.
*****
"Bel, lo kenapa sih diam mulu, Aldo ngomong apa sama lo tadi?" Raisa masih khawatir. tentu saja, Bella tak ada berucap satu katapun setelah kejadian di kelas tadi.
"Jantung gue mau copot, Sa. Gue kira tadi Aldo bakalan ambil ciuman pertama gue, eh taunya..." Bella mengerutkanbibirnya, kesal.
Ternyata itu alasan Bella. Dia kecewa Aldo tak menciumnya.
"Jadi lo berharap nih, dicium Aldo?" Raisa meledek. Bisa-bisanya Bella berpikir seperti itu.
Bella mengangguk lemas. Raisa benar-benar tak habis pikir. Apa temannya ini masih sehat?
"Tapi menurut gue, sebelum lo ciuman lo harus nonton Drama korea dulu Bel, terus lo praktekin deh sama Aldo." Loli memberi saran bagus untuk Bella. Bella membulatkan bibirnya, lalu mengangguk tanda mengerti. "Tapi kayanya lo harus perang lagi sama Samuel di hadapan Aldo, Biar Aldo juga lakuin hal yang sama kaya tadi sama lo."
Bella mengangguk, semangat. Mensetujui saran yang diberika sahabatnya itu. Jika berkaitan tentang cinta seperti ini pasti Loli yang mendukungnya.
Raisa menghela nafas kasar. Kenapa Loli jadi mendukung keinginan Bella? kemana otak kedua temannya ini?
Raisa berjalan terlebih dahulu menuju mobil. Bella dan Loli masih berdiri dikoridor sekolah. tentu masih membicarakan rencana ciuman pertama Bella.
Sebelum masuk mobilnya. pandangannya terarah pada Samuel. "Sam!"
Samuel, Aldo, Darel, dan Nando menghentikan langkahnya. Raisa menghampiri.
Raisa menatap empat cowok didepannya bergantian. "Sam, mulai sekarang mendingan lo gak usah cari masalah sama Bella!"
Raisa memberi jeda. tatapannya beralih ke Nando.
"Do, lo suka kan sama Bella? Seharusnya lo bisa jauhin Bella dari masalah!" Raisa beralih menatap Darel. "Rel, gue tau lo mantan Bella. Tapi, jangan jadi mantan terjahat yang jerumusin mantan pacarnya kedalam masalah!"
Terakhir Aldo, apa yang akan dikatakan Raisa pada Aldo. "Dan lo Al, gue tau. Pasti lo juga tau, kan kalo Bella suka sama lo!"
Raisa melengang pergi begitu saja. keempat cowok itu hanya diam ditempat. Bingung, Mereka tidak mengerti apa maksud dari ucapan Raisa tersebut. Kecuali Aldo, ia paham betul apa yang diucapkan Raisa.
__ADS_1
"*P*ermainan manusia memang lucu, sampai buat gue gak bisa tertawa!" Satu sudut bibir Aldo terangkat. Aldo tak sabar masuk kedalam permainan selanjutnya.