
Dua pasang kaki melangkah beriringan, menyusuri koridor. Aldo dan Bella, keduanya saling diam, tak ada yang memulai percakapan. Mereka berjalan menuju kelas.
Hingga langkah Aldo terhenti saat maniknya menangkap satu siswi berjalan kearah mereka.
Melihat Aldo yang tiba-tiba terhenti, Bella ikut menghentikan langkahnya. "Al, kenapa?"
Tak menjawab pertanyaan Bella. Aldo memfokuskan pandangannya pada cewek berambut sebahu, yang sudah berdiri dua meter dihadapannya.
Gemetar, Maniknya membulat. Siswi bernama Abila Gleara itu, mulai melangkahkan kakinya kembali, nyaris melewati dua seniornya, langkahnya terhenti.
Bella menatap cewek berambut sebahu itu tajam. "Ngapain lo?"
Ternyata ini, cowok nomor satu di DHANISTA, yang menjadi kekasih Bella Calandra, senior cantik tapi ditakuti para juniornya. Abila menenangkan dirinya, menghilangkan rasa gugup dan takut. "Ma-maaf kak Bella..."
"Lo ngapain minta maaf?" Bella menyipitkan pandangannya. Ia sadar siswi bernama Abila itu ketakuta. "Kenapa lo ngeliatin gue, kaya liat setan?"
Bukan kak Bella yang setan, tapi pacar kakak. Menelan ludah susah. Tangannya kebas. Abila menggeleng. "Saya gak liat setan kok, kak Bel."
"Ya, iyalah." Bella mendesis kesal. "Siang bolong kaya gini mana ada setan."
"Kalo gitu saya permisi kak," Abila langsung melenggang pergi, tak mau berlama-lama didekat cowok bernama Aldo itu.
Menatap punggung cewek berambut sebahu yang semakin jauh dari pandangannya. Aldo menyeringai lebar. "Kenapa disekolah ini banyak anak indigo?"
Bella menatap Aldo tak mengerti. "Maksud lo?"
Sesaat, menatap Bella yang masih bingung. Tak menjawab pertanyaan kekasihnya, Aldo melangkah pergi begitu saja mendahului Bella.
Menatap punggung Aldo yang menjauh. Bella semakin bingun. "Jangan-jangan siswi tadi anak indigo, tapi Aldo tau dari mana?"
*****
Jam istirahat belum berakhir. Abila Gleara memberanikan diri mengirim pesan pada Bella. Walau Bella terkenal sebagai senior yang galak dan sombong, Abila harus menolongnya. Untung saja ada satu senior yang baik padanya dan memberikan nomor telpon Bella, tanpa banyak pertannyaan.
Abila duduk di salah satu kursi perpus. Membolak-balikkan satu persatu halaman buku didepannya. Sesaat, menoleh pada pintu perpus, menunggu kedatangan Bella.
Ia tak punya banyak waktu, dua puluh menit lagi pelajaran dimulai. Semoga Abila sempat menyampaikan semuannya pada seniornya itu.
Suara langkah menyita perhatian Abila. Abila tersenyum, Bella menghampirinya.
"Apa yang mau lo omongin, buruan!" Bella duduk dikursi sebelah Abila, tangannya terulur mengambil buku dihadapan Abila. "Kalo bukan soal Aldo, gue males kesini!"
Sudah Abila duga, jika pesan Abila tadi tak menyebutkan nama Aldo, pasti Bella tak akan menghampirinya.
"Kak Bella..." Abila ragu, apa Bella bisa percaya dengan ucapannya nanti. "Saya tau semua rahasia kak Aldo."
Bella menyipitkan pandangannya, dari mana cewek disampingnya ini tau rahasia Aldo. "Seberapa dekat hubungan lo sama Aldo, sampai lo bisa tau rahasia pacar gue?"
__ADS_1
"Maaf kak Bella, saya memang tidak dekat dengan kak Aldo." Abila meremas jari-jari tangannya. Satu alis Bella terangkat. "Saya anak indigo, kak."
Ternyata benar dugaan Bella, yang dimaksud indigo oleh Aldo tadi pasti Abila. Bella kembali menatap buku ditangannya. "Terus apa hubungannya lo indigo, sama rahasia Aldo?"
"Semua anak indigo pasti tau rahasia kak Aldo." Abila menelan ludah. Bella menatapnya bingung. "Karena kak Aldo itu..."
"Gue apa?"
Bella dan Abila serempak menoleh. Aldo sudah berdiri diambang pintu perpus.
Berjalan menghampiri Bella dan Abila. Aldo menatap mereka dingin.
Abila tak bisa berlama-lama didekat Aldo. Entah kenapa setiap didekat Aldo tubuhnya semakin lemas dan gemetar. "Ka-kak Bella, sa-saya mau masuk kelas."
Tanpa menunggu persetujuan Bella, Abila berlari keluar perpus. Meninggalkan Bella dan Aldo, berdua.
"Tunggu!" Bella berdiri, nyaris menyusul Abila.
Aldo menahan tangan Bella. Menatapnya datar. "Gak usah dikejar."
"Kenapa, lo takut rahasia buruk lo ketahuan gue?" Bella bertingkah sok kaget. "Oh, atau rahasia lo sama Alisa yang belum lo ceritain ke gue."
Gara-gara indigo! Tak menghiraukan ucapan Bella. Aldo melenggang pergi.
Mulut Bella membuka lebar. Tak habis pikir. "Pacarnya marah gak minta maaf malah minggat!"
*****
Samuel berdiri, menatap tiga temannya yang sedang mengemasi buku-buku dimeja. "Rel, Do, gue pulang duluan ya!"
"Lho Sam, kami bertiga pulang pake apa?" Protes Nando tak terima.
"Seterah, mau jalan kaki, merangkak, merayap juga boleh." Samuel tetawa humor. "Kalo lo Al, tadi lo bilang ada urusan kan, jadi gak bisa pulang bareng?"
Aldo hanya mengangguk.
"Ada urusan apa Al?" Tanya Darel yang mulai kepo. Aldo tak menjawab hanya menatapnya datar.
"Kalo lo, mau kemana Sam?" Nando juga kepo dengan urusan Samuel. Tidak seperti biasanya Samuel meninggalkan teman-temannya saat pulang sekolah.
"Ada deh." Samuel terkekeh, lalu melenggang pergi. Menghampiri Bella.
Bella tertegun saat tangannya tiba-tiba di tarik Samuel. "Lo kenapa sih Sam?"
"Balas perlakuan lo ke Alisa tadi!" Samuel menarik Bella, namun Bella memberontak.
"Gue gak mau!" Berusaha melepaskan cekalan Samuel. Bella menatap Samuel kesal, untuk apa Samuel membalaskan perlakuan Bella pada gadis cupu itu? "Lo suka kan, sama Alisa."
__ADS_1
"Udah, ikut aja ribet banget sih lo!"
Ya ogah lah, lo kan mau balas bully gue. "ALDO TOLONG GUE!" Teriak Bella, siswa yang tersisa dikelas itu serempak menatap Bella.
Aldo menghampiri, namun Samuel segera menyeret Bella paksa. Membuat Aldo semakin bingung. Apa yang akan dilakukan Samuel ke Bella?
"Tolongin Bella dong, Al." Raisa sudah berdiri disamping Aldo. Aldo menatapnya datar. "Samuel mau balas bully Bella."
Bully Bella? Aldo membeo dalam hati.
"Gue gak tau, yang dibully Bella kan Alisa, tapi yang marah malah Sam..." Raisa merapatkan bibirnya. Baru sadar, Raisa keceplosan.
Wajah Aldo masih datar. Maniknya menatap lurus. Jadi, Bella bully Alisa, tapi kenapa Alisa gak bilang sama gue, Samuel juga.
"Al, gue mohon sama lo, jangan putusin Bella. Bella itu bucin banget sama lo Al, sampai hukum Alisa biar gak deket lagi sama lo." Raisa menggenggam satu tangan Aldo, berharap Aldo menolong Bella dari perlakuan Samuel.
Tak menghiraukan ucapan Raisa. Aldo melangkah pergi, keluar kelas. Raisa dan Loli mengikutinya.
Darel dan Nando yang ikut penasaran, memutuskan untuk mengikuti Aldo.
Namun kedatangan Aldo terlambat. Samuel sudah membawa Bella pergi. Manik Aldo menatap mobil milik Samuel keluar halaman sekolah.
"Al, Tolongin Bella dong!" Raisa terus membujuk Aldo. Menyodorkan kunci mobilnya pada Aldo. "Lo boleh kok, bawa mobil gue!"
"Iya Al, tolongin Bella, masa lo tega sih pacar lo disiksa orang lain."Imbuh Loli yang ikut membujuk Aldo.
Itu hukuman buat Bella, dia udah berani nyakitin Alisa dibelakang gue. Gue harap Samuel memberikan penderitaan yang lebih sakit buat Bella. Tangan Aldo mengepal. Sesaat, maniknya memerah. Aldo melenggang pergi meninggalkan dua teman Bella dan temannya sendiri. Urusan Aldo lebih penting saat ini dari pada menolong pacarnya, lagian Aldo malah senang ada pengganti tiga hantunya yang membantunya.
Raisa mengerutkan bibirnya. Kenapa Aldo tetap bersikap dingin, disaat pacarnya dalam penderitaan.
"Yaudah Sa, buruan kita ikutin mobil Samuel!" Loli menarik tangan Raisa membawanya masuk mobil.
"Percuma, kita gak bisa lawan Samuel." Raisa sudah pasrah. Hanya bisa berharap, semoga Bella baik-baik saja.
"Gak percuma Sa." Loli bersemangat. "Samuel kan sendiri, kita bertiga sama Bella, Kita keroyok Samuel!"
Raisa hanya menatap Loli bingung.
Sedangkan Nando nyaris melangkah mengikuti Aldo, tangannya ditahan Darel.
"Lo mau kemana?"
Nando menunjuk arah Aldo pergi. "Ikut Aldo."
"Mending kita pulang!" Darel menarik paksa tangan Nando. Nando hanya menurut, mengikuti Darel.
Setelah baca jangan lupa like and Comment ya..
__ADS_1