Cowok Misterius

Cowok Misterius
Tiga Dua


__ADS_3

Sampai didepan kelas tujuannya. Nando  tak melihat cewek yang ia cari di dalam kelas itu. Kenapa Alisa selalu datang telat.


Menunggu. lagi-lagi Nando bertemu cewek tomboy yang waktu itu ia tanyai tentang Alisa.


Cewek itu menghentikan langkahnya sebelum memasuki kelas. "Cari Lisa lagi, kak?"


Nando mengangguk. "Namanya Alisa bukan Lisa."


"Sama aja, kak." Melangkah memasuki kelas. Cewek itu meninggalkan Nando.


"Ya beda lah." gumam Nando, pandangannya masih mengekori cewek tomboy yang kini sudah duduk dikursi kelas.


Nando mengukir senyum. Akhirnya cewek yang ia tunggu datang juga. "Hai cantik."


Alisa menghentikan langkahnya tepat dihadapan Nando. Menunduk, lagi-lagi senior yang sok akrab ini menunggunya. "Maaf kak saya harus masuk kelas, nanti saya kena marah lagi sama Bu Maya."


"Lo gak bisa ya, kalo ngomong gak usah pake kata maaf." Nando memberi jeda. Alisa menatapnya. "Gue cuma pengen jadi temen deket lo, tapi kayanya lo gak mau."


Eh!


Alisa menggeleng cepat. "Eng-engak kok kak, saya mau temenan sama kak Nando."


"Serius?" Memastikan. Senyum Nando semakin lebar.


Mengangguk ragu. Alisa merasakan ada yang aneh dengan senior didepannya ini. Tapi Alisa juga bahagia ada satu senior yang mau jadi temannya, selama disekolah ini Alisa tak banyak mempunyai teman, tentu karena Alisa pendiam tak banya bergaul.


"Kalo gitu kamu mau gak jalan sama aku nanti malam?" Menatap Alisa penuh harapan. Nando harus berhasil memperkenalkan Alisa pada dua sahabatnya yang selalu membully-nya.


Tertegun. Ini pertama kalinya Alisa diajak jalan oleh cowok. Ragu, apa tantenya akan mengijinkannya.


"Emp.." Alisa berpikir. Nando masih menunggu jawabannya. "I-iya deh kak."


Nando nyaris berterlompat karena kegirangan. Akhirnya dia bisa jalan dengan cewek. "Kalo gitu nanti malam gue jemput ya!"


"Jangan kak!" Alisa panik. Nando menatapnya bingung. "Eh.. maksudnya jemputnya jangan dirumah, nanti aku kasih tau tempat jemputnya dimana."


Nando mengangguk setuju. "Yaudah selamat belajar ya, nanti malam aku jemput."


Nando melenggang pergi. Alisa menghela nafas. Untung Nando tak banyak protes. Alisa pun memasuki kelasnya.


*****


Nando tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Darel yang melihatnya dari tadi sampai bergidik ngeri.


Menyentil punggung Samuel dengan polpennya. Samuel menoleh bertanya. Sesaat, Darel mengawasi Bu Rani yang masih menulis dipapan whiteboard, lalu berucap pelan pada Samuel. "Nando kenapa?"


Samuel mengarahkan pandangannya pada Nando yang duduk disebelah Darel. Aneh, bukannya mencatat Nando malah senyum-senyum sendiri. "Gue gak tau."


Memperhatikan teman sebangkunya yang masih tersenyum sendiri, bahkan tak sadar dari tadi dibicarakan oleh dua temannya. Darel menatap Samuel lagi. "Lo tanya Aldo, kali aja dia tau."


"Al," Samuel berbisik pada Aldo. Aldo menoleh menatapnya. "Lo tau Nando kenapa?"


Menatap Nando yang duduk dibelakangnya, lalu kembali pada Samuel. "Senyum."

__ADS_1


Mendengus kesal. Kalo itu Samuel juga tau Nando sedang senyum. "Maksud gue, kenapa Nando senyum-senyum sendiri kaya gitu?"


Meluruskan pandangannya. Aldo berucap datar. "Biasanya orang senyum tandanya sedang bahagia, berarti saat ini Nando sedang bahagia."


"Bahagia kenapa?" Tanya Samuel penasaran. Aldo hanya mengangkat dua bahunya.


Merasa punggungnya disentil lagi, Samuel menoleh. Darel menatapnya bertanya. "Gak tau!"


"Nanti malam." Ditengah senyumnya, Nando bersuara. Samuel dan Darel serempak menatapnya. "Gue bakalan kenalin gebetan gue kekalian."


"SERIUS?"


Samuel dan Darel membungkam mulutnya. Perhatian semua siswa dikelas itu beralih pada mereka, termasuk Bu Rani.


"Siapa yang ngomong tadi?" Berkacak pinggang. Bu Rani menatap tajam satu persatu muridnya.


"Mereka bu!" Tak mau kena hukuman. Nando menunjuk Samuel dan Darel bergantian. Dua sahabatnya serempak memelototinya.


Samuel Xaviero, Darel Eldiandra, BERDIRI!" Menatap murka dua siswanya yang beringsut berdiri. "KELUAR!"


*****


"Jadi Kalian suruh Samuel yang cari benda itu?" Bella menatap dua temannya bergantian.


Raisa dan Loli serempak mengangguk. Mereka sedang menikmati makanan dikantin langganan mereka. Kali ini Raisa berhasil membujuk Bella untuk tak membuntuti Aldo.


Bella menggehela nafas. "Kenapa gak gue aja sih, gue kira kita ngajak Samuel kerja sama itu, biar dia gak gagalin rencana kita."


"Udah deh Bel, biarin Samuel aja." Raisa menatap Bella dengan sorot memohon. "Kali ini aja lo ikutin saran gue."


Kedua temannya mendelik. Bella tersenyum lebar. Entah kenapa Bella ingin sekali membongkar barang-barang milik Aldo.


*****


Malam itu Nando menepati janjinya, memperkenalkan Alisa pada ketiga temannya. Samuel dan Darel menunggu Nando diruang tengah. Pukul Delapan malam Nando belum juga kembali kerumah. Mungkin menunggu Alisa berdandan, pikir dua sahabat itu.


Samuel dan Darel saling diam, tak ada pembicaraan untuk memecah keheningan. Mereka masih sibuk dengan gamenya masing-masing pada layar benda pipih digenggamannya.


Memejamkan mata. Samuel teringat rencananya dengan Raisa. "Rel, gue nyusul Aldo dulu kekamar, nanti kalo Nando sama Samiyem datang, panggil aja."


"Sip." Darel mengangkat ibu jarinya, tanpa mengalihkan pandangannya dari gamenya.


Sedangkan dikamar, Aldo duduk ditepi ranjang memainkan ponsel miliknya. Sudah dua malam, ketiga hantu itu tak memperlihatkan wujudnya padanya. Aldo semakin kesal.


Samuel melangkah menghampiri teman sekamarnya. "Al, gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Apa?" Aldo menatap Samuel datar. Samuel duduk disamping Aldo.


"Waktu itu Nando sama Darel pernah bilangkan ke lo, kalo gue nyimpen rahasia, kan?" Samuel mengingatkan Aldo. Aldo mengangguk. "Gue mau jujur sama lo, tentang rahasia gue."


"Gue gak maksa." Aldo meletakan ponselnya dinakas. "Itu rahasia lo, mau lo bagi atau simpan sendiri, itu hak lo. Kalo lo mau bagi ke gue, gue siap nerima dan jaga itu baik-baik."


"Jadi gini Al," Samuel mulai bercerita. Aldo menatapnya serius. "Bener yang dibilang Nando dan Darel, gue punya pacar."

__ADS_1


Samuel kira Aldo akan kaget, ternyata wajahnya tetap saja datar.


"Delia Arily, itu pacar gue, tapi dia udah meninggal. Gue kira satu tahun koma, dia bakalan bangun, ternyata dia malah pergi, selamanya"


"Setiap hari minggu, gue datang kemakamnya bawain bunga kesukaannya, gue berharap rindu yang gue pendam selama ini hilang." Samuel menggeleng pelan. Tersenyum pilu. "Tapi rindu gue ke Delia, gak pernah terobati. Sampai sekarang gue belum rela Delia pergi, gue masih sayang sama dia."


Gue gak pernah nemuin manusia seperti Samuel. Walau orang yang dia cintai sudah mati, Samuel tetap mencintainya, Delia Arily, dia beruntung selama hidup mencintai Samuel. Aldo tersenyum miring.


Samuel kini tersenyum lebar. "Nah gue udah cerita rahasia gue ke lo, sekarang lo ceritain rahasia lo ke gue."


Ternyata ada maunya. Wajah Aldo kembali lempeng


"Oke gue cerita," putus Aldo tanpa pikir panjang.


Ternyata gampang juga. Samuel nyaris tak percaya, semudah itu mendapatkan rahasia Aldo.


Gak segampang itu. Aldo meluruskan pandangannya, ia akan menceritakan semuannya pada Samuel. "Sebenarnya gue.."


"Al, Sam!"


Dua cowok yang sedang duduk ditepi ranjang itu, serempak menatap ke asal suara.


Samuel berdecak. Darel mengganggu saja, padahal Aldo akan menceritaka semuannya padanya. "Kenapa?"


"Nando dah datang, buruan keruang tengah!" Darel melenggang pergi, meninggalkan dua temannya yang belum beranjak.


Menghela nafas berat. Samuel menatap Aldo. "Yuk buruan!"


Samuel berjalan terlebih dahulu, Aldo membuntutinya.


Sampai diruang tengah. Mereka berkumpul, Seorang cewek berambut panjang berponi, memakai kaca mata, duduk disofa samping Nando.


Nando menatap ketiga temannya bergantian. Tersenyum mengejek. "Nih kenalin, Alisa calon pacar gue."


Alisa agak risih mendengar Nando menyebutnya calon pacar, bukannya mereka hanya temanan. Tapi Alisa memilih tak protes.


"Nah Alisa, kenalin mereka temen gue." Nando menunjuk temannya satu-persatu, Alisa menatap sesuai yang ditunjuk Nando. "Ini Darel, Samuel dan ini Aldo."


Alisa membelalak, saat pandangannya kini mengarah pada cowok yang bernama Aldo itu.


Alisa. Mata Aldo membulat. Nyaris tak percaya dengan cewek dihadapannya saat ini.


Keringat dingin mulai bercucuran. Tubuhnya gemetar. Alisa menggenggam kuat ujung kemeja Nando. "Sa-saya mau pulang!"


Menatap Alisa bingun. Nando melihat ada yang aneh dengan cewek cantik ini. "Kenapa?"


Menggeleng cepat. Alisa berdiri, lalu pergi begitu saja.


Nando mengejar Alisa. Samuel dan Darel saling menatap bingung.


Ternyata Alisa masih hidup. Satu sudut bibir Aldo terangkat. Air mata mulai menggenag.


*****

__ADS_1


Jangan lupa tinggkan jejak like and comment.


Author sangat berterima kasih sama kalian yang udah support Author sampai sini. Jangan bosen ya baca cerita ini.


__ADS_2