Cowok Misterius

Cowok Misterius
Sembilan


__ADS_3

Bela, Raisa tunggu!" Teriak Loli pada kedua temannya yang sudah jauh dari hadapannya.


Bela dan Raisa, menghentikan langkahnya di tengah koridor. mereka serempak menoleh kebelakang.


"Buruan!" Perintah Raisa setengah teriak.


Loli berlari kecil menyusul kedua temannya.


"Kalian tuh kalo jalan cepet banget sih." Loli mencondongkan badannya tangannya terulur pada kedua lututnya. Dia sudah berada disamping kedua temannya. Nafasnya terengah-engah. Padahal cuma lari beberapa meter.


Raisa melipat kedua tangannya didepan dada. Mendesis kesal. "Lo di suruh parkirin mobil gitu aja, lambat banget."


Jika sudah tau lambat, kenapa Raisa tetap menyuruhnya?


"Besok-besok," Loli memberi jeda. mengumpulkan banya oksigen untuk paru-parunya yang nyaris kosong. "Gue ogah, ah nyetir mobil. Ujung-ujungnya gue juga yang parkirin tuh mobil."


Bella menatap Loli tak percaya. Cuma disuruh parkirin mobil ngeluhnya minta ampun. "Eh, Li. Dari lo belum lahir, orang yang nyetir mobil pasti parkirin mobilnya juga. Gak ada sejarahnya tuh, habis mengemudi mobil, mobilnya lo tinggalin di tengah jalan."


Loli mengerutkan bibirnya. Pagi-pagi ia udah kena omel dua temannya. Entah dari dulu, Loli selalu lambat melakukan kegiatannya. Loli juga bingung, apa karena Loli jarang olahraga, hingga berjalanpun terasa lambat.


Tiba-tiba Aldo yang baru datang menghampiri mereka, dan diikuti ketiga temannya di belakangnya.


Aldo mencengkram lengan Bella dan menariknya paksa. "Ikut gue!"


"Ih, apaan sih. Lepasin!" Bella memberontak.


Aldo menatap tajam manik Bela. Beberapa detik manik mereka saling menumbuk. "Ikut gue!"


Jujur Bella takut, tapi dia juga suka


diperlakukan seperti ini oleh Aldo. Pipinya tiba-tiba hangat.


"Al, lo apa-apaan sih? baru datang juga udah main tarik tangan orang." Raisa mendedis, tak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.


"DIAM LO!" Bentak Aldo kasar.


Raisa tertegun. Ini pertama kalinya dia mendengar Aldo teriak. Selama ini Aldo lebih sering cuek, bahkan rasanya Aldo tidak pernah bicara dengan Raisa.


Darel menyenggol lengan Samuel dengan siku tangannya. Samuel menoleh, lalu mengangkat kedua bahunya jelas Samuel juga tidak tau. Sebelum berangkat ke sekolah Aldo terlihat biasa saja.


Samuel, Darel, Nando, Raisa dan Loli hanya bisa diam, bahkan sebagian siswa yang ada di koridor ikut menyaksikan. Apa yang sedang terjadi?


Tatapan Aldo kembali pada Bella.


"ikut gue!" Nadanya kembali dingin.


Aldo menarik paksa tangan Bella, menyeretnya.


Bella hanya bisa menurut, mengikuti Aldo yang membawanya entah kemana.


"Wah..udah gue duga, ini pasti gara-gara Aldo makan masakannya Samuel tuh," Nando mencebik.


"Kok gue?" Protes Samuel tak terima.


"Masakan lo banyak garamnya, liat tuh Aldo jadi marah-marah kebanyakan makan garam."

__ADS_1


"Jadi garam itu, bikin orang sering marah ya." Loli menganggukan kepalanya. Seakan ucapan Nando adalah pengetahuan baru untuknya.


Raisa hanya menggeleng kepala. Kenapa teman satunya ini mudah sekali percaya ucapan orang, bahkan orang seperti Nando.


"Li kita ke kelas aja, nanti otak lo konslet kaya mereka." Raisa menatap Nando sesaat, lalu menarik tangan Loli membawannya pergi.


"Dasar Betina" Cemooh Darel. Matanya masih menatap punggung Loli dan Raisa yang sudah jauh didepannya.


"Eh, emang kenapa sih Aldo?" Samuel masih penasaran. Tentu saja penasaran, ini pertama kali dia melihat Aldo marah. Anehnya, kenapa juga Aldo marah dengan Bella?


"Kan, udah gue bilang gara-gara makan masakan lo." Nando terkekeh pelan. Dia mengacungkan jempol ke arah Samuel. "Masakan lo, emang sip dah!"


"Emang iya?" Tanya Samuel sok tidak tau.


Nando menjawab dengan antusias. "Pastinya dong!"


"Oh jadi gitu ya" Samuel mengangguk. "G*bl*k dong gue, kalo percaya ucapan lo."


Eh?


Samuel melangkah pergi. Meninggalkan dua temanya yang masih berdiri ditempat.


Darel mendekati Nando. tersenyum dan dibalas senyuman juga oleh Nando. Dia terkekeh geli. "G*bl*k."


Nando mendengus kesal. teman-temannya memang sudah tak layak dianggap teman.


*****


Aldo membawa Bella di koridor yang sudah muali sunyi. Menghempaskan tubuh Bella hingga menghantam dinding. Bella meringis kesakitan, ketika punggungnya terbentur keras dengan tembok. Kenapa dengan Aldo?


"Lo liat apa, hah?" Nada Aldo masih sama, datar namun terdengar menakutkan untuk Bella.


Bella mengernyit tak paham. Apa yang di maksud cowok ini?


Aldo menguatkan cengkeramannya pada bahu Bella, hingga cewek didepannya ini merintih kesakitan. "Jawab!"


Apa maksudnya?


Gue gak paham.


Gue punya mata, yang gue lihat banyaklah.


Pertanyaan maca apa ini?


Bella benar-benar tidak paham maksud pertanyaan Aldo.


Aldo tau. sepertinya cewek didepannya ini bingung, atau cuma pura-pura bingung. "Perpus."


Bella tertegun. Dia baru mengingatnya. kejadian di perpus kemarin, ternyata Aldo melihatnya. Bella gugup. "Gu-gue, gue.."


"JAWAB!" Kali ini Aldo membentaknya.


Bella menelan susah ludahnya yang terasa pahit. Dia sangat takut, kakinya gemetaran. Ingin rasanya Bella pingsan sesaat. "Gu-gue, gu..."


"CEPAT JAWAB!"

__ADS_1


Lagi-lagi Aldo menghempas tubuh Bella ke tembok. Tak peduli penderitaan yang di rasakan cewek ini.


jahat..


Bella tersudut. Kedua tangan Aldo terulur ketembok, mengurung tubuhnya.


"Jawab." Suara Aldo kembali pelan. Tapi Bella tetap saja gemetar ketakutan.


Bella mendongak. Wajahnya dan Aldo sangat dekat. Dia semakin gugup. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Antara takut dan senang menjadi satu.


"Gu-gue tau," Bella memberi jeda. Mengumpulkan oksigen banyak-banyak, memberanikan diri. "LO GILA!"


Gila? Aldo membeo dalam hati.


"Lo gila, ngomong sendiri di perpus, lo gila kan? Lo pengidap gangguan jiwa, kan? lo pasien RSJ yang jalanin rawat jalan, kan?"


Apa Bella bercanda?


Bella benar mengucapkannya. Dia tak tau apa yang selanjutnya Aldo akan mencekiknya. Bella memejamkan maniknya rapat. pasrah, jika Aldo mencekiknya karena Bella sekarang tau rahasia Aldo. Tidak apa-apa Bella sudah siap mati. Dia berdo'a dalam hati, semoga tuhan menempatkan dirinya disurga.


Namun, beberapa detik. Tak ada yang terjadi pada dirinya. Bella perlahan membuka maniknya. Mendongak. Aldo masih diposisi yang sama. Kenapa, Aldo tak jadi membunuhnya?


Aldo hanya memberikan senyuman miring.


ganteng. sempat-sempatnya Bella memujinya, disaat seperti ini.


Aldo menepuki pucuk kepala Bella dengan pelan. "Cewek pintar."


Aldo melenggang pergi. Meninggalkan Bella yang masih terdiam, tak paham.


Apa maksudnya?


Permainan apa ini?


Bella diam mematung ditempatnya.


"Cewek pintar."


kalimat Aldo masih terngiang di telingannya. apa ini mimpi? Aldo memujinya. Padahal Bella menghinanya. Bella tak akan bangun untuk mimpi ini. Tapi, ini bukan mimpi.


Kaki Bella lemas. Dia terduduk dilantai koridor. Menyandarkan tubuhnya ketembok. matanya terpejam. Senyuman manis mulai terukir diwajahnya. "So sweet."


"Apanya yang so sweet?" Sebuah suara menyadarkan Bella.


Bella membuka matanya. mendongak. Ia tersenyum kikuk. "Eh, pak Umar."


Sejak kapan pak Umar ada di depannya?


"Hmm." Pak umar sudah Berkacak pinggang. Bella bangkit dari duduknya.


"Apa yang so sweet?" pak Umar mengulang pertanyaanya.


Bella hanya tersenyum dan.. .."Kabuuuur!"


Pak Umar hanya menggeleng Kepala.

__ADS_1


*****


__ADS_2