Cowok Misterius

Cowok Misterius
Tiga Enam


__ADS_3

Montor sport berwarna hitam terpakir dihalaman rumah. Cowok berseragam SMU itu memasuki pintu utama.


"Aldo."


Menoleh. Aldo menatap dua pria paruh baya, duduk berseberangan disofa. Menghampiri pria yang memanggilnya. "Hmm."


"Aldo kenalin." Salah satu pria bernama Bramana Altair, menatap Aldo lalu pria diseberangnya. "Ini teman papa, om Toni."


Aldo mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Toni menjabat tangan Aldo dan tersenyum padanya. Aldo menatapnya datar. "Aldo."


"Aldo." Bramana tersenyum. Anak sulungnya itu masih berwajah lempeng. "Walaupun om Toni ini masih muda lima tahun dari papa, tapi kami berteman baik."


"Hmm." Siapa yang bertanya. pikir Aldo.


"Om Toni ini, punya anak perempuan umurnya beda sedikit dengan adek kamu." Bramana terus bercerita. Padahal putranya tak ingin mendengarknnya.


"Aldo mau ke kamar." Tanpa menunggu persetujuan sang papa, Aldo melenggang pergi.


Menatap punggung Aldo yang mulai menjauh. Bramana menggeleng, lalu meluruskan pandangannya pada temannya. "Maaf, Aldo selalu dingin, tapi sebenarnya dia itu peduli dengan orang-orang disekitanya."


Sedangkan Aldo yang hendak masuk kekamar tertunda, ketika maniknya menatap sang mama sibuk didapur.


"Ma."


Perempuan bernama Ariana itu terperanjat, lalu menoleh. "Aldo, kamu ngagetin mama aja."


Ariana kembali melanjutkan aktivitasnya, membuatkan minuman untuk tamunya.


"Siapa teman papa itu?" Aldo melirik keruang tamu yang jaraknya lumayan jauh dari dapur. "Dari penampilanya kaya orang miskin."


Eh.


"Sssst." Ariana menepuk pelan bibir sulung Altair itu. "Kamu jangan bilang, gitu."


"Walau kenyataannya gitu," Guman Aldo.


"Om toni itu emang pengangguran sih, kata papa kamu." Ariana mengaduk minumannya pada cangkir. "dia kesini mau minta kerjaan, kasian om Toni anaknya udah waktunya sekolah."


Satu alis Aldo terangkat. "Terus?"


"Rencananya sih papa kamu mau, om Toni jadi supir pribadi mama."


"Supir.." Aldo membeo.


"Iya supir pribadi mama." Menatap sesaat putranya, Ariana kembali mengaduk minumannya yang dibuatnya.


"Aldo gak setuju!"


Menoleh. Ariana tertegun, kenapa dengan anaknya ini?


"Kan, masih ada Aldo ma." Aldo mentap mamanya lembut. "Aldo bisa nganterin mama ke kantor, ke mall, atau arisan sama temen-temen mama."


"No!" Ariana menghadap ke anaknya. Menangkup kedua pipi anak sulungnya yang tingginya sudah melebihinya lima centi. "Mama mau kamu fokus sama sekolah kamu!"


Aldo menatap manik mamanya memohon. "Ma.."


"Big no no."


Aldo menghela nafas berat. Membuat Ariana tidak suka mendengarnya.


"Seterah mama." Aldo melenggang pergi.


Ariana hanya menggeleng.


*****


Manik Aldo kembali terbuka. Tangannya mengepal. Semua itu telah berlalu, tapi hati Aldo masih sakit. Menyimpan dendam yang harus dibalaskan.


Andai kedua orang tuanya mengikuti perkataan Aldo, mungkin mereka masih hidup. Aldo juga tak mungkin menjadi iblis yang kejam seperti ini.


Beringsut duduk. Sesaat, menatap Samuel yang sudah tidur disampingnya.


"Gue harus cari manusia tua itu." Aldo berucap lirih. "Ruka, Dio, Andra kembalilah!"


Iris Aldo berubah merah. Berdiri, ia mengambil jaket hitamnya, lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Setelah langkah Aldo tak terdengar lagi disekitarnya, Samuel membuka maniknya. Mengelilingkan pandangannya. Aldo benar sudah pergi.


Samuel tak tidur, ia hanya pura-pura tidur. Ia mendengarkan semua ucapan Aldo tadi. "Manusia tua, Ruka, Dio, Andra, Apa mereka ada hubungannya sama pembunuhan keluarga Aldo, sepuluh tahun lalu?"


Samuel semakin bingung, sepertinya Aldo belum menceritakan semua rahasiannya ke Samuel. Samuel harus mencari tau sendiri.


Nyaris berdiri, Samuel mendengar langkah kaki mendekat keruang kamarnya.


Itu pasti Aldo. Pikir Samuel. Ia segera membaringkan tubuhnya kembali, menarik selimut sampai atas kepalannya.


Aldo kembali. Duduk di tepi ranjang. Mengacak rambutnya frustasi. "Kemana mereka?"


Samuel masih mendengarkannya. Matanya terpejam.


"Apa mereka.."


Kalimat Aldo menggantung. Samuel semakin penasaran.


Mereka siapa, dan kenapa? Tanya Samuel dalam hati.


Aldo menyipitkan pandangannya. Melirik ke arah Samuel dengan ekor matannya. Aldo bisa mendengarkannya.


Ternyata Samuel belum tidur. Aldo tersenyum miring.


Merebahkan tubuhnya, Aldo memejamkan matanya. sekarang Aldo yang akan pura-pura tidur.


Membuka maniknya. Samuel menatap Aldo yang sudah memunggunginya.


Kok malah tidur, sumpah gue penasaran banget sama ucapan Aldo tadi. Gerutu Samuel dalam hati.


Gue sengaja bikin lo penasaran Sam. Aldo tersenyum jahat.


*****


Setelah memarkirkan mobilnya diparkiran sekolah, Samuel dan tiga temannya keluar dari mobil.


Berjalan dikoridor beriringan. Langkah Samuel terhenti, tiga temannya terus melangkah meninggalkan Samuel. Samuel membuka pesan yang dikirim Raisa.


Raisa.


"Gue tunggu didepan toilet cewek."


Samuel.


"Kok ditoilet sih, gak enak. Mending kehotel."


Raisa.


"Sam, gue serius."


Samuel.


"Gue juga, mau berapa ronde?"


Raisa.


"Seratus!"


Samuel.


"Buset, lo yakin sanggup?"


Raisa.


"BURUAN!"


Samuel.


"Emang lo cabe-cabean kualitas terbaik dah."


Samuel terkekeh, lalu melenggang pergi.


Sedangkan didepan pintu masuk toilet. Tiga cewek cantik berdiri. Hampir satu jam, Orang yang mereka tunggu belum juga datang.


"Sa, mana sih Samuel?" Loli mengerutkan bibirnya. Kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya.

__ADS_1


"Udah gue chat kok, tapi balasnya malah gak jelas kaya gini." Raisa menatap layar benda pipih yang ia pegang. "Masa dia bilang kenapa ditoilet gak dihotel, terus mau berapa ronde."


Bella mendesis. "Dasar cowok otak mesum!"


"Siapa yang otak mesum?"


Tiga cewek itu serempak menatap ke asal suara itu. Samuel sudah berdiri tak jauh dari mereka.


Berjalan ke arah tiga cewek yang sudah menunggunya sejak tadi. Samuel menatap Bella tajam. "Siapa yang otak mesum?"


"Ya elo, lah!" Nada Bella meninggi. Entah kenapa setiap bertemu Samuel, darahnya selalu naik.


"Dari pada lo.." Samuel mengacungkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Bella. "Kuntilanak cabe-cabean."


Bella melotot. "Dasar cowok otak mesum!"


"Kuntilanak cabe-cabean!"


"Cowok otak mesum!"


"Kuntilank cabe-cabean!"


"Cowok otak mesum!"


"Kuntilanak cabe-cabean!"


"Cowok otak mesum!"


"STOOOPPPP!!" Teriakan Raisa menggema. Loli menutup telingannya.


Raisa menatap tajam Bella dan Samuel bergantian. "Kalian bisa gak sih, sehari aja gak berantem!"


"Gue kalo liat dia." Samuel menunjuk Bella dengan dagunya. "Hati gue terbakar, pengen gue makan hidup-hidup nih orang!"


"Lo karnibal?" Teriak Bella pada Samuel.


"Iya gue Karnibal!" Samuel melirik Bella. "Lo Annabell!"


"What!, Apa lo bilang?"


Samuel menghadap Bella, mempertipis jarak wajah mereka. "An-na-Bella, kan?"


"SAMUEL!!" Teriak Bella tak terima.


"STOOOOPPPP!!" Kali ini teriakan Raisa lebih keras, membuat gendang telinga yang mendengarkan ingin pecah.


Setelah Bella dan Samuel sama-sama diam. Raisa mendengus kesal. "Silent, okey!"


"Sa, Buruan gue capek banget berdiri dari tadi." Loli mencondongkan tubunya, tangannya terulur memegang lututnya.


"Sam, gue nyuruh lo kesini, cuma pengen tanya, lo udah tau rahasia Aldo?" Raisa mentap Samuel penasaran. Berharap Samuel sudah mendapatkan informasi lebih tentang Aldo.


Samuel diam. Apa yang harus ia katakan pada cewek didepannya ini. Jika ia jujur, pasti Aldo nanti tak mempercayainya lagi.


"Woy!" Teriakan Bella menyadarkan lamunan Samuel. "Malah Bengong, jawab dong!"


Samuel berdecak. Bella memang cewek menyebalkan dalam hidup Samuel. "Kenapa harus ada kembaran Annabell disini?"


"Siapa?" Bella menatap tajam Samuel. Ia tau sebutan 'Annabell' itu pasti untuknya.


"Ya el..."


"Cukup!" Bentak Raisa mehentikan ucapan Samuel. "Jawab pertannyaan gue, Sam!"


"Gue gak tau!" Bohong. Tentu Samuel memilih menyembunyikan rahasia Aldo, dari pada harus membaginya dengan tiga cewek menyebalkan dalamm hidupnya itu.


Melenggang pergi. Samuel menunggalkan tiga cewek itu, sebelum mereka bertanya macam-macam dengannya.


Menatap punggung Samuel yang semakin menjauh dari pandangannya. Bella menggeleng. "Udah gue duga, kita gak bisa ngandelin dia!"


.....Yang udah baca cerita ini, pasti bingung....Karena flasback Aldo dengan orang tuanya sepuluh tahun yang lalu, tapi kok Aldo pakek seragam SMU...


......


Baca terus ya biar gak penasaran..

__ADS_1


Tinggalin like and Comment untuk memberi semangat Author..


Terimakasih..


__ADS_2