
Setelah selesai sekolah, Aldo tak langsung pulang kerumah. Hari ini Aldo sudah berjanji dengan teman-temannya untuk bermain game bersama, di salah satu rumah sahabatnya.
Pulang kerumah hingga larut malam. Aldo lupa memberitau kedua orangnya, pasti sampai rumah ia akan dimarahi habis-habisan oleh papa dan mamanya.
Turun dari montor sportnya. Aldo menatap rumahnya bingung. Tumben, sudah semalam ini pintu rumah masih terbuka lebar. Aldo melangkah pelan, memasuki rumah mewahnya.
Sunyi. Kemana kedua orang tuanya? Biasanya jam segini sang papa masih menonton televisi. Suara adik perempuannya juga tak terdengar. Apa mereka sudah tidur? Tentu, inikan sudah hampir tengah malam. Tapi kenapa pintu utama dibiarkan terbuka?
Langkahnya terhenti di ruang tengah. Aldo menjatuhkan tasnya kelantai. Maniknya membelalak, tak percaya.
Apa ini?
Darah berceceran dimana-mana. Lantai, sofa semuannya dipenuhi bercak darah.
"Pa...!" Aldo segera menghampiri Bramana yang tergeletak begitu saja di lantai. Menggoncangkan tubuh papanya. Namun percuma, Bramana tak juga terbangun. Tangan Aldo terulur menyentuh bagian perut Bramana yang sudah dipenuhi darah segar. "Pa..papa!"
Siapa yang melakukan ini? Aldo mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan rumahnya. Dimana Ariana dan Alisa?
Berdiri, meninggalkan jasad papanya. Aldo menelusuri seluruh ruangan di rumahnya.
"Mama!" Berlari, menghampiri sang mama yang sudah terlungkup di samping pintu masuk kamarnya. Aldo membalik tubuh Ariana. Manik Aldo menggenang. Mamanya juga sudah tak bernyawa, memiliki luka tusukan yang sama dengan sang papa. Siapa yang sampai hati melakukan semua ini?
"Alisa!" Berdiri, Aldo harus menemukan adiknya itu. Ia tak tega jika harus melihat adik kecilnya juga kehilangan nyawa. Aldo berbalik, nyaris melangkah saat sebuah pisau tepat menancap di perutnya.
Aldo terjatuh, tertunduk. Tangannya terulur menggenggam pisau yang masih menancap sempurna di perutnya. Mendongak, Aldo menatap pria dihadapannya.
Tak ada raut kesakitan, atau sedih. Tatapan Aldo tetap datar. Nyeri, Aldo mencabut pisau dari tubuhnya. Darah segar bercucuran deras dari tubuhnya, mungkin sebentar lagi Aldo akan kehabisan darah. Ia melempar pisau itu kesembarang arah.
Pria itu tersenyum puas. "Keluarga ini tidak pantas hidup. Kalian semua harus mati, MATI!"
Aldo membuka mulutnya, hendak membalas ucapan pria yang menjadi supir pribadi mamanya ini. Namun belum sempat berucap, mulunya menyembuarkan darah. Tubuh Aldo semakin lemas. Ia semakin geram saat pria itu tertawa keras.
Pandangannya semakin buram. Aldo masih menatap pria itu. Tangannya mengepal saat pria itu menendangnya sampai tubuhnya tak berdaya, tergeletak dilantai.
Tawa pria itu semakin keras. Salah satu kakinya menginjak tangan Aldo sampai tulangnya patah. "Kalian harus mati!"
*****
"Dan anda juga harus.....mati!" Aldo mengarahkan ujung mata pisau ke leher Toni. Toni melangkah mundur, hingga punggungnya menempel pada pintu kamarnya. Aldo tersenyum miring, mempertipis jaraknya dengan Toni. "Anda harus mati!"
__ADS_1
Panik. Tangan Toni meraih kenop pintu kamar dibelakangnya. Terbuka, nyaris masuk saat tangannya ditarik kuat oleh Aldo, hingga tubuhnya terbanting kelantai. Toni meringis kesakitan. Aldo menginjak perutnya, tak membiarkan pria dibawah kakinya bergerak sedikit pun.
"Ini sudah saatnya Toni parthenios, Dambala sudah menunggu darah anda!" Aldo mengangkat pisaunya. Toni semakin histeris, berusaha meloloskan diri. Namun injakan ditubuhnya semakin kuat. Tatapan Aldo semakin tajam.
"Aldo!"
Sorot manik Aldo terarah pada Bella yang berusaha menggelesot ke arahnya.
Bella menggeleng. Menatap Aldo, memohon. Seburuk apapun ayahnya sekarang, Bella masih menyanyanginnya. Bella tak ingin kehilangan Toni, ia baru saja bertemu Seruni. Bersama dengan kedua orang tuanya adalah hal yang sangat Bella rindukan. "Aldo....gue mohon jangan bunuh ayah gue!"
"Iya Aldo jangan bunuh saya. Kamu dan keluarga kamu mati gara-gara dia!" Jari telunjuk Toni mengarah pada Bella. Bella menatapnya tak percaya. "Andai dia tak meminta sekolah, mainan dan hal lainnya, saya pasti tak akan menginginkan harta keluarga mu. Aldo bunuh saja dia jangan bunuh saya!"
Aldo memiringkan kepalanya. Satu sudut dibibirnya terangkat. "Jadi, yang seharusnya mati adalah Bella chalandra parthenios?"
"Iya, anak itu yang salah bukan saya." Toni mengangguk meyakinkan. Sepertinya iblis yang menginjaknya ini bisa mempercayainya. Ia tak peduli anaknya mati yang terpenting nyawanya selamat.
Aldo menghampiri Bella. Berjongkok didepannya, berbisik. "Gak ada yang menginginkan lo hidup Bel. Jadi, ikut gue ya!"
Bella menggeleng. Air matanya terus membasahi wajahnya. Mata pisau itu sudah menyentuh lehernya. Tangan Bella terulur, menahan tangan Aldo. Namun, sekuat apapun Bella menahannya, kekuatannya tak seimbang dengan cowok dihadapannya ini.
Perih. Pisau tajam itu sudah mengkoyak kulit lehernya. Tangan Bella mencengkeram erat sisi lengan jaket Aldo, menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan.
Aldo masih fokus pada Bella. Manik Bella juga terpejam karena menahan rasa sakit. Ini kesempatan bagi Toni untuk melarikan diri. Ia pun berdiri, mulai melangkah pelan, jangan sampai Aldo melihatnya pergi.
Manik Aldo masih lurus pada kekasihnya ini. "Bunuh dia!"
Seketika, Tubuh Toni terseret dengan sendirinya. Menghantam tembok dengan sangat keras. Tubuh Toni tak berdaya tergeletak dilantai, pandangannya mulai buram.
Aldo meninggalkan Bella, menghampiri pria tua yang sudah tak bisa berucap lagi. Manik Aldo membara. Akhirnya dendamnya terbalaskan. Ia tersenyum miris, lalu menancapkan pisaunya secara perlahan ke perut Toni. Toni mengejang, darah segar mulai mengalir. Aldo mencabut pisaunya, dan kembali menancapkannya ke tubuh pria tua itu berkali-kali, hingga nyawa Toni pun hilang.
Bella yang menyaksikan kematian ayahnya secara langsung, hanya bisa menutup mulut. Menahan tangis, bibirnya tak sanggup berucap lagi. Apakah selanjutnya dirinya?
Aldo berjalan menghampiri cewek yang masih terisak, lalu berjongkok. Tangannya terulur mengusap lembut surai panjang Bella. Tubuh Bella bergetar, takut. Tangan Aldo turun menyusuri wajah cantik Bella, menghapus air mata yang membasahi pipinya. Tatapan Aldo masih datar. "Mati ya."
Bella menggeleng. Aldo berdiri mencabut pisau yang masih menancap di tubuh Toni, lalu kembali berjongkok didepan Bella.
"Gue mohon Al..." Suara Bella parau. Lagi-lagi satu sudut bibir Aldo terangkat. Membuat Bella semakin takut.
Memejamkan maniknya rapat-rapat. Bella menggigit bibir bawahnya yang bergetar, menahan rasa sakit. Sebentar lagi pisau ini berhasil memutus urat dilehernya.
__ADS_1
"Kak Aldo!"
Suara itu....
Aldo menoleh. Alisa berdiri lima meter darinya. Pisau ditangan Aldo terjatuh kelantai. Alisa tak sendiri, ia bersama teman-temannya, dan juga perempuan paruh baya berdiri disamping Alisa. Siapa dia?
Alisa mulai melangkah menghampiri Aldo.
"Jangan mendekat!"
Tak menghiraukan ucapan Aldo. Alisa terus melangkah.
"BERHENTI!"
Langkah Alisa terhenti. Takut, Kenapa dengan kakaknya ini? Apa Aldo juga marah dengan Alisa?
"Aldo...jangan bunuh Bella ya." Seruni memohon, ia tak tega melihat putrinya terluka parah seperti itu. "Bella gak tau apa-apa Aldo, Bunuh saya saja jangan Bella."
Tatapan Aldo masih dingin. Apa hubungan Bella dengan perempuan itu, hingga rela mengorbankan nyawanya demi Bella. "Siapa anda?"
"Kak, tante Seruni istinya om Toni, Bundanya kak Bella." Alisa memberi jeda. Tangan Aldo mengepal, mungkin kakaknya itu juga marah setelah tau siapa perempuan yang ia panggil tante tersebut. "Tante Seruni yang selametin Alisa, saat om Toni bunuh mama papa. Tante Seruni juga rela meninggalkan kak Bella, bertahun-tahun gak bertemu anak kandungnya, demi sembunyiin Alisa dari om Toni."
"Kak Al, kak Bella sangan sayang sama kak Aldo, jadi sayangin juga kak Bella, jangan sakiti dia...."
"Tapi dia nyakitin kamu!" Aldo memotong ucapan Alisa. Semuanya kini diam, tak berkutik. Memang benar Bella selalu menyakiti adik kandunnya itu. Walau pun nanti Bella mati itu bukan karena perbuatan ayahnya, tapi ulahnya sendiri. Manik Aldo menatap Bella tajam. "Iya kan?"
Aldo meraih tengkuk Bella. Mempertipis jarang wajahnya dan kekasihnya. Ia mencium kening Bella lama.
Bella masih terisak. Aldo menariknya dalam dekapannya, lalu berbisik. Membuat tengkuk Bella semakin meremang.
"Mati buat gue ya!"
________________________________
Silakan tinggalkan Comment😊
Eitss jangan lupa like and rate cerita saya.âš
Saya janji deh bakal boom like and rate cerita kalian juga yang setia baca "Cowok Misterius" dari awal sampai end✌
__ADS_1