Cowok Misterius

Cowok Misterius
Delapan


__ADS_3

Malam semakin larut namun Aldo belum juga pulang. Samuel duduk diatas kasur menunggu teman sekamarnya pulang.


Sedangkan Darel dan Nando mungkin sudah tidur dikamar mereka.


"Tuh anak kemana sih, udah tengah malam kaya gini, belum pulang juga," gerutunya.


Merebahkan tubuhnya dikasur, mencoba memejamkan matanya beberapa kali. Namun percuma, Samuel terus mengkhawatirkan Aldo, kantuknya pun tak kunjung datang.


Kemana Aldo?


Apa Aldo tersesat?


Iya. Aldo baru ditempat ini, mana dia hafal jalanan disekitar sini.


Samuel menggelengkan kepalanya, menepis semua pikiran buruk tentang Aldo. Aldo sudah seumurannya. Seharusnya dia bisa berpikir mencari jalan pulang jika benar tersesat, tapi bagaimana?


Samuel mengusap wajahnya kasar.


Kreeet


suara pintu kamar mulai terbuka, membuat Samuel spontan terduduk.


"Aldo!" Samuel menghelai nafas lega. akhirnya temannya ini pulang juga. "Lo kemana aja sih? tengah malam kaya gini baru pulang. Lo pengen jadi kelelawar yang tiap malam keluyuran, hah?"


Aldo tersenyum kecil. Dia duduk diatas kasur sebelah Samuel. "Gue tadi ada urusan."


"Urusan lo, gak inget waktu," Samuel kesal. Urusan seperti apa yang dilakukan Aldo hingga tengah malam seperti ini?


Samuel hendak bertanya, tapi Aldo lebih dulu bersuara.


"Sam, gue penasaran sama ucapan lo yang dipotong Bu Rani tadi."


Samuel memiringkan kepalanya, mengingat. "Oh yang tadi."


Diam. Beberapa detik kemudian, tawa Samuel pecah.


Aldo mengangkat satu alisnya, pandangannya lurus pada Samuel. Apanya yang lucu?


"Oke, jadi gini Al. HUAHAHAHA"


Belum juga menjelaskan Samuel sudah kembali tertawa. Aldo menahan nafas. Manusia disebelahnya ini, ingin sekali Aldo cekik lehernya. Tidak bisakah serius?


Samuel menghentikan tawanya. Aldo masih menatapnya datar. "Tadi, pas lo keluar kelas, Bela tuh disuruh keluar kelas juga sama Bu Rani, lo tau gak gara-gara kenapa?"


"Bu Rani nyuruh Bella ngikutin gue." Aldo menjawab asal-asalan. Ya mana dia tau, Aldo saja sudah lebih dulu keluar kelas.


"Salah!" Tawa Samuel pecah lagi.

__ADS_1


Kalo jawaban Aldo salah, kenapa tidak langsung di ceritakan aja semuanya. Kenapa harus tertawa lagi? Aldo mulai malas berbincang dengan teman disampingnya ini.


Kenapa dengan human yang satu ini? Aldo menatap arah lain. "gue tau, Bella tidur dikelas, kan?"


Eh?


Samuel tertegun. Kenapa tebakan Aldo tepat sasaran.


"Lo kok tau?" Samuel menyipitkan pandangannya kearah Aldo "Lo tadi berduaan ya sama Bella? dimana? ngapain aja?"


Aldo menatap Samuel. Dia tidak berpikir lagi kali ini. Dia tidak akan menjawab pertanyaan konyol Samuel lagi. Alhasil dia akan lebih jauh dari topik.


"Jangan-jangan, Bella lari ketakuan gara-gara mau lo apa-apain. Waduh, Al sabar bro." Samuel tertawa lagi. "Dimana lo ngajak Bella, gudang sekolah? Saran gue sih, jangan di lingkungan sekolah. Lo boleh kok bawa Bella kesini, kalo perlu ke hotel sekalian."


Aldo hanya diam. Bicara dengan Samuel bisa menguras kesabarannya. Tunggu, tadi Samuel bilang...."Bella lari ketakutan?"


"Lah iya, gara-gara mau lo apa-apain, kan? Mungkin Bella belum siap." Lagi- lagi samuel tertawa.


"Gue serius, Sam." Nada Aldo berubah dingin.


Samuel menelan ludahnya, lalu tersenyumlebar pada Aldo. Kasian juga temannya inj dari tadi menunggu jawabannya yang tepat. "Jadi gini, Al. gara-gara dia ketahuan tidur pas pelajaran Bu Rani. Bu Rani marah, terus ngusir Bella deh, dari kelas."


"Nah dia kan keluar tuh, terus gak lama Bella balik tuh kekelas, tapi sambil lari, nyelonong masuk tanpa izin bu Rani. Untung Bu Rani gak marah lagi, " Samuel terkekeh. "Nah, yang paling lucu tuh, wajah bela tuh sampai pucat keringatan, gue yakin Bela tuh dikejar kembarannya. Lo tau gak kembaranya Bella tuh siapa?"


Aldo tak menjawab.


Namun Aldo tak tertawa sedikit pun.


apa cerita Samuel selucu itu?


Selera humor manusia memang sangat receh.


Pikiran Aldo kembali pada pintu perpus yang terbuka.


Menghentikan tawanya, lalu menoleh. Aldo tidak tertawa sedikit pun. Samuel menghelai nafas kasar. "Al.. lo kok gak ketawa sih, gue ceritain panjang kali lebar juga, heran gue sama lo." 


Emang benar kata Nando, ada yang salah dengan Aldo. Tidak bisa tertawa. Samuel menarik selimut sampai keatas kepala, menutupi seluruh tubuhnya.


Aldo menatap lurus.  menyeringai lebar. Iris hitamnya berganti merah. Mudah sekali baginya menemukan informasi seperti ini.


*****


Nando yang baru keluar dari kamar. menghampiri tiga temannya yang sudah melahap makanannya diruang tengah.


Nando mengamati tiga piring makanan di meja. Ketiga temanya sudah mengambil jatah makanannya masing-masing, lalu..."Makanan buat gue mana?"


Hening. Tidak ada jawaban. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.

__ADS_1


"MAKANAN GUE MANA?" Kali ini Nando berteriak. Mungkin temannya sakit telinga.


Tetap tidak ada jawaban. Nando mendengus. Diacuhkan begitu saja, hatinya terasa sakit sekali. Jika dipikir-pikir Nando tidak punya kesalahan dengan ketiga temannya. Lebih sering ketiga temanya yang berbuat kesalahan padanya.


Nando mengulang pertanyaanya. kali ini dia lebih santai. Jika tidak dijawab juga, dipastikan sepatunya akan melayang. "Mak.."


"Bikin sendiri sono," potong Samuel cepat. Mulutnya masih penuh dengan makanan.


Nando berdecak, "lo semua tega! masa, masak cuma buat kalian bertiga, dirumah ini kan orangnya ada empat!" 


"Gue aja masak sediri, Samuel tuh masak cuma buat dia sama Aldo, doang." Darel mencibir, lalu kembali menyuap sarapannya.


Nando memukul punggung Samuel, hingga samuel batuk karena tersedak makanan. "Lo masak cuma buat lo sama Aldo aja?"


Samuel meletakan gelas yang baru dia gunakan untuk minum, ke meja. "kenapa lo cemburu, masakan gue cuma gue bagi buat Aldo doang?"


Nando menjulurkan lidahnya, seakan-akan isi perutnya ingin keluar ketika mendengar ucapan Samuel barusan.


Untuk apa Nando cemburu? Samuel menghilang dari muka bumipun Nando malah lebih bahagia.


"Makan dikantin sekolah aja, sekarang kita buruan berangkat." ucap Aldo datar.


"Eh gak lo habisin makanan lo nih?" tanya Samuel, ketika melihat piring Aldo masih penuh makanan. Apa Aldo benar-benar memakannya tadi? jika dikira-kira Aldo cuma makan tiga suap. Apa sudah kenyang? atau masakanya tidak enak?


"Gue kenyang." Aldo sudah berdiri lalu mengambil tas disampingnya.


Samuel menggeleng tak percaya. Sisa makananya sebanyak itu, Aldo bilang sudah kenyang?


"yaudah gue yang habisin." Nando mengambil piring sisa makanan Aldo. "Bekas orang ganteng, biar ketularan ganteng." 


Belum sempat Nando memakannya. Samuel merebut piring yang sudah dipegang Nando, meletakkan ke meja kembali. "gak usah, nanti kita terlambat."


"Tega banget sih lo sam," ucap Nando setengah teriak.


Aldo keluar rumah terlebih dahulu, Samuel menyusulnya.


"Rel, laper." Nando memegangi perutnya, berharap Darel lebih perhatian dari pada Samuel dan Aldo.


"Yaudah, makan di kantin aja." Darel melengos pergi.


Nando hanya mengelus dadanya sambil menghelai nafas kasar. Memang semua temannya tak berguna. Nando mengambil satu sendok makanan sisa Aldo tadi, satu suap mungkin cukup untuk mengganjal perutnya.


Darel kembali menghampiri, menarik tangan Nando. "Sarapan dikantin aja!"


*****


Kuy bantu beri semangat Author. Tinggalkan jejak Like and coment.

__ADS_1


Jangan lupa ya!


__ADS_2