Cowok Misterius

Cowok Misterius
Tiga Delapan


__ADS_3

Semilir angin malam yang berhembus, terasa sangat dingin hingga menusuk tulang. Sunyi dan sepi, Cewek berponi memakai kacamata, duduk sendiri di kursi taman. Hanya ditemani cahaya lampu taman dan suara jangkrik yang saling bersautan.


Jujur Alisa sangat takut, apa lagi dia sudah tau mau bertemu dengan siapa. Tapi, dari pada Aldo menemuinya dirumahnya. Alisa tak ingin Aldo tau sekarang dirinya tinggal bersama tante Seruni, istri dari orang yang telah membunuh keluargannya.


"Alisa."


Suara agak berat itu menyadarkan lamunan Alisa. Aldo berjalan menghampiri cewek berkaca mata itu, lalu duduk disampingnya.


Tangan Alisa gemetar. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Alisa tertunduk takut.


"Alisa." Aldo menoleh, Alisa tetap tertunduk. "Kakak gak akan lukai kamu!"


Alisa hanya diam.


"Karena kamu harta kakak, satu-satunya yang tersisa." Aldo meluruskan pandangannya. "Setelah kematian papa sama mama!"


Diam. Alisa tetap tertunduk.


"Gak nyanka kita masih bisa ketemu, setelah sepuluh tahun berpisah..."


"Kak!" Alisa berucap lirih. Memberanikan diri menatap Aldo. "Jelaskan semuanya, Kamu bukan kak Aldo, kak Aldo udah mati!"


"Kakak masih hidup."


Kepala Alisa berdenyut sakit. Mana mungkin cowok disampingnya ini kakaknya, Sepuluh tahun yang lalu saat umurnya enam tahun, Aldo sudah bersekolah di SMU, dan sekarang umur Alisa dengan Aldo hanya beda satu tahun. Sulit dicerna akal bukan?


Aldo tau, Alisa pasti dibuatnya bingung. Tapi Aldo harus menceritakan semuannya, kepada adik kandungnya itu. "Sekarang kita berbeda, kamu masih hidup sebagai manusia, tapi kakak hidup sebagai mayat!"


Alisa tertegun. Ternyata benar firasatnya selama ini, Aldo memang sudah meninggal dan sekarang, didepannya adalah mayat hidup, tapi bagaimana bisa?


"Setelah membunuh kakak, om Toni pergi." Aldo tersenyum kosong. "Dan setelah itu kakak berjanji pada diri kakak, tidak akan mati sebelum om Toni mati juga!"


Aldo memejamkan maniknya, mengingat masa lalunya yang mengerikan.


"Aku bisa menghidupkan mu kemabali, tapi aku tidak bisa merubah takdirmu. Kematian mu sudah menjemputmu, ini sudah direncanakan Tuhan, siapapun tidak bisa merubahnya. Jika kamu bersedia hidup bersamaku dineraka, aku akan menghidupkan mu kembali, tapi bukan sebagai manusia, kamu tetaplah mayat, namun hidup seperti mereka. Tubuhmu masih bernyawa, tapi jantungmu tak berdetak, tak ada darah yang mengalir ditubuhmu, tapi kamu masih bisa bernafas. Aku juga akan membantu mu menemukan manusia itu, membantumu membalaskan dendammu. Ikutlah denganku Aldo!"


"Gara-gara om Toni, kakak mensetujui tawaran iblis terkutuk itu dan hidup kakak akan berakhir di neraka." Tangan Aldo mengepal. "Maka dari itu, bagaimanapun caranya om Toni juga harus ikut kakak ke neraka!"


Hanya karena dendam, hidup kakaknya akan berakhir ditempat yang menyedihkan. Kakaknya telah menjadi siluman penyembah iblis. Alisa tak menyangka kakaknya akan berbuat senekat ini demi membalaskan dendam.


"K-kak." Alisa memanggil gugup. Aldo menatapnya lembut. "Selain kehidupan kembali, apa yang diberikan iblis itu untuk kakak."


"Banyak!" Aldo kembali meluruskan pandangannya. "Kecuali surga."

__ADS_1


Alisa menelan ludahnya susah. Saat ini ia tak ingin menerima kenyataan, Alisa harap ini mimpi buruknya yang segera berlalu. Namun mustahil, ini memang nyata. Aldo memang bukan manusia, Aldo hanya seorang mayat yang dihidupkan kembali oleh iblis.


"Iblis itu memberi petunjuk, walau tidak secara langsung. Bersekolah di DHANISTA itu salah satu petunjuk dari iblis itu."


Aldo tersenyum miring. "Dan ternyata benar, kakak bertemu Bella, dia tau keberadaan om Toni, tapi sampai sekarang kakak belum mendapatkan petunjuk selanjutnya darinya."


"Sebaiknya kakak iklaskan semuannya, biarkan om Toni menikmati hidupnya.." Alisa kembali menunduk, Aldo menatapnya tajam. "Alisa gak mau kakak terperangkap dalam permainan iblis."


Aldo berdiri. Maniknya menatap lurus. Semua sudah terlambat, walau Aldo menyesal menerima tawaran iblis, tapi ia sudah berhianat kepada tuhan. Tak ada harapan untuk Aldo bisa menikmati keindahan surga. Maka dari itu Aldo harus membalaskan dendamnya di dunia, agar ia sedikit puas. "Gak, om Toni harus mati!"


Alisa berdiri. "Kak.."


Aldo menoleh. Alisa tertunduk lagi. Iris Aldo berwarna merah, Alisa semakin takut. Mungkin tubuh kakaknya ini sudah sepenuhnya dikendalikan iblis.


"Alisa akan menjaga rahasia kakak. Alisa pulang ya kak." Tak menunggu persetujuan Aldo, Alisa melenggang pergi. Ia tak mau berurusan lagi dengan kakaknya itu.


Maniknya berkedip, menatap punggung Alisa yang semakin lenyap dari pandangannya. Aldo nyaris mengikuti Adiknya, namun langkahnya terhenti. Tiga hantu yang beberapa hari tak menunjukan wujudnya didepan Aldo, kini datang. Tapi ada yang berbeda dengan mereka.


"Kalian..."


Aldo bingung apa yang terjadi dengan tiga teman hantunya ini.


Ruka. Satu sudut bibirnya robek sampai telinga, Kemeja putihnya lusuh penuh darah, lehernya terkoyak.


Dio. Sebagian wajahnya hancur. Tangan kanannya patah. Dua pisau masih menancap diperutnya.


"Kenapa!" Marah dan bingun menjadi satu dalam diri Aldo. Marah karena beberapa hari mereka menghilang tanpa kabar. Bingung karena wujud mereka berubah mengerikan, padahal mereka mati hanya karena lehernya tercekik. Lalu wujud yang sekarang karena apa?


*****


Pagi ini Bella bangun lebih awal. Raisa dan Loli merasa ada yang aneh dengan Bella, tidak seperti biasanya Bella bersemangat sekolah.


"Yuk berangkat!" Ajak Bella bersemangat. Dua temannya belum selesai melahap makanannya.


"Bell, lo tumben.."


"Loli buruan habisin makanan lo," Bella memotong ucapan Loli.


Bella rela bangun pagi-pagi agar segera sampai disekolah lebih awal, tapi dua temannya malah lambat.


Setelah selesai, mereka langsung masuk ke mobil. Raisa dan loli duduk di jok depan, sedangkan Bella di jok belakang.


Raisa tak mau bertanya, apa alasan Bella ingin berangkat lebih awal ke sekolah, ya..mungkin Bella mau bertemu Aldo, atau membuat kejutan untuk cowok dingin itu. Pikir Raisa.

__ADS_1


"Oh ya, kalian buka chat dari gue ya!" Bella tersenyum sumeringah, jarinya masih sibuk mengotak-atik layar benda pipih di genggamannya.


Raisa dan Loli menuruti perintah Bella. Sempat bingung, kenapa harus lewat pesan di telpon, kenapa tidak langsung bicara saja, padahal mereka satu mobil.


Nyaris tak percaya. Raisa dan Loli serempak membelalak setelah membaca pesan dari Bella.


"Lo serius Bel?" Raisa berharap ini hanya gurauan Bella. Tapi Bella malah mengangguk yakin.


"Ini pembalasan dari gue." Bella tersenyum sinis. "siapapun yang berani ngerebut Aldo dari gue, gue pastiin hidupnya akan menderita!"


"Tapi Bel.."


"Li!" Raisa menghentikan kalimat Loli. Raisa tau pemikirannya dan Loli saat ini sama. Bukan Alisa yang merebut Aldo, tapi Aldo yang beralih ke Alisa.


*****


Nando yang baru keluar dari kamar langsung ikut gabung dengan ketiga temannya, yang masih sibuk melahab makanannya.


Hanya mengaduk makanan dipiringnya. Aldo tak selera makan, baginya makanan manusia tak enak, hambar. Dulu waktu dirinya masih menjadi manusia, makanan apapun pasti terasa enak, namun sekarang beda. Makanan mahalpun rasanya sama. Lagi pula Aldo juga tak pernah merasa lapar, ia harus berpura-pura makan didepan manusia-manusia itu. Menyebalkan!.


Pikiran Aldo saat ini sedang kacau. Teringat pada tiga teman hantunya, yang harus menerima hukuman dari iblis. Seharusnya Aldo tidak perlu menceritakan rahasiannya pada Alisa. Masih untung tiga hantu itu yang bersedia menggantikan hukuman yang seharunya untuk dirinya, jika tidak, wujud Aldolah yang sekarang berubah mengerikan.


Apa gue harus menghapus ingatan Alisa. Pikir Aldo. Tapi Alisa adiknya, pasti Alisa juga mendukung rencananya untuk membunuh om Toni.


"Lo mikirin apa sih, Al?" Sejak tadi Samuel memperhatikan Aldo. Tak memakan makanannya, hanya termenung.


Aldo menggeleng pelan. "Gak ada."


"Gue tau, lo sekarang nyerah deketin Alisa kan? " Tebak Nando asal-asalan. "Alisa tuh emang cocoknya sama gue, lo udah cocok kok sama Bella."


"Cocok dari mananya?" Darel terkekeh. "Lo itu cocoknya sama Amira.."


Nando mendelik. "Amira kan udah mati, be*o!"


"Betul kata Darel." Terbahak-bahak, Samuel mensetujui ucapan Darel.


Aldo menghela nafas berat. Tiga temannya menatapnya. "Udah gue bilang, jangan dekati Alisa tanpa ijin dari gue!"


Nando hendak protes, namun Aldo sudah melenggang pergi.


*************


**Yeey..akhirnya kita tau siapa Aldo..

__ADS_1


Jangan bosen baca ceritanya ya..


Dan jangan lupa like and comment**..


__ADS_2