Cowok Misterius

Cowok Misterius
Tiga Belas


__ADS_3

Pelan-pelan matanya terbuka.


Manik hazel itu kembali berkedip. Bella beringsut duduk begitu saja.


"Lo udah enakan kan Bel?"


Bella menoleh. Raisa tampak begitu khawatir. Bella mengangguk. Dia sudah baikan, Badannya sudah tidak terasa sakit lagi.


"Emang Aldo ngapain lo sih, Bel?" Raisa masih saja khawatir. "Pas gue tanya ke Aldo, gak dijawab!"


Aldo? Bella jadi teringat Aldo, kemana cowok itu sekarang? Apa Aldo masih di kelas?


"Aldo mana? badan gue sakit semua gara-gara kemarin Aldo dorong gue sampe bentur dinding. Bukannya tanggung jawab tuh anak, malah ngilang." Bella mendengus kesal. Seharusnya saat ini Aldo yang menemaninya di sini.


Raisa sedikit lega. Dia kira, Bella meminta tanggung jawab dari Aldo, karena hamil. Ternyata bukan itu Alasannya. "Tadi sih yang gendong lo kesini, dia."


Bella tertegun. Aldo yang mendong Bella dari kelas ke UKS. Pasti cewek-cewek yang melihatnya, iri pada Bella. Tentu saja iri, Bella yakin kali ini dirinya menang lagi. Cewek pertama yang mendapatkan cowok nomor satu disekolah diraihnya lagi.


Harusnya gue tadi pura-pura pingsan aja, biar bisa tau rasanya digendong pangeran. Bella mengulum senyum. Dia ingin mengulang waktu, agar bisa merasakan hangatnya gendongan Aldo.


Raisa berdecak. Menatap Bella dengan sorot jijik. Kenapa Bella malah senyum-senyum sendiri? "Bell, kalo udah gak sakit, kita kekantin aja yuk."


Kantin? Mata Bella membulat sesaat. Berapa lama dia pingsan? "Ini udah jam istirahat?"


Raisa mengangguk malas. "Udah."


hah.


*****


"Sam, gue lagi kasian nih, sama temen sekelas gue, gebetannya di ambil sama temennya." Darel mencibir. Melirik Nando disampingnya hanya mengaduk-aduk makanannya. Nando tak nafsu makan?


Samuel terkekeh geli. Di tau cemohan Darel kali ini untuk siapa. "Bilangin sama temen lo Rel, Bangun! jangan mimpi terus."


"Gue jamin Sam, pulang kerumah gulung-gulung dikasur, habisin tisu lima karung tuh." Darel mendelik saat tatapan Nando kini mengarah padanya tajam.


"Rel ini rahasia temen lo, jangan dibongkar sama temen satu sekolah."


Samuel dan Darel terbahak-bahak.


Padahal obrolan mereka sampai menarik perhatian seluruh penghuni kantin. masih dibilang Rahasia?


"UDAH LO BONGKAR ****!" Nando menggeberak meja didepannya. Batas kesabarannya kini habis, Nando termakan emosi. Matanya melotot ke Samuel dan Darel bergantian. Tangannya mengepal.


Samuel dan Darel tertegun. Benarkah Nando semarah ini?


Nando menghampiri Aldo, mencengkeram kerah bajunya kuat. Aldo menatapnya datar. "INI SEMUA GARA-GARA LO BERENGSEK! GEBETAN GUE LO AMBIL! TEMEN GUE LO AMBIL JUGA! GUE SALAH APA SAMA LO HAH?"


Bruk.


Nando membanting tubuh Aldo ke lantai dengan kasar. mengundang teriakan cewek-cewek dikantin yang melihatnya.


"Sorry." Ucap Aldo dengan santainya. Disaat seperti ini wajahnya tetap datar, tidak menunjukan raut kesakitan atau takut. Nando menarik kerah baju Aldo, menghempaskannya kembali ke kursi kantin. Hingha perut Aldo terbentur sudut meja.


Nando menghampiri Aldo, mencengkeram kerah bajunya, menariknya hingga Aldo berdiri.


"DO CUKUP!" Samuel tak tinggal diam. Nando terus menghajar Aldo habis-habisan, tapi Aldo tak sekalipun membalasnya. Apa Aldo tidak tau cara memukul orang?

__ADS_1


Bukk.


Kali ini Nando memukul perutnya. Aldo bisa-bisa mati jika terus seperti ini. Samuel segera memegang lengan kanan Nando sedangkan Darel memegang lengan kiri Nando. Menahan Nando, membiarkan Aldo agar meloloskan diri.


"LEPASIN GUE!" Nando memberontak. Maniknya masih berkobar menyorot Aldo.


"Do lo mau bunuh Aldo? kalo anak orang mati gimana? lo jangan gila do, cuma gara-gara cewek, lo mau bunuh orang." Samuel berusaha menyadarkan Nando, Namun Nando meacuhkannya. Cowok keribo itu benar-benar ingin membunuh Aldo.


Aldo masih berdiri dihadapan Nando, walaupun sudut bibir dan sudut matanya sudah membiru, wajahnya tetap datar. "Sam, Rel, lepasin Nando."


Samuel heran dengan satu temannya ini, Bukannya lari cari tempat sembunyi malah meminta musuhnya dilepaskan. "Al, lo gila? LARI ****!"


"Gue gak suka lari, gue suka mati. Lepasin Nando!"


Samuel tak percaya apa yang dikatakan Aldo barusan. Apa Aldo memang gantle atau memang sudah bosen hidup? Samuel tak punya pilihan. Walaupun dirinya dan Darel menyelamatkan Aldo, tapi Aldo tak mendukungnya. Mungkin itu cara Aldo menyelesaikan masalah.


"Rel." Samuel menganggukan kepalanya, memberi tanda mundur. Samuel dan Darel melepaskan Nando.


Bukk.


Kali ini Nando meloloskan pukulannya ke wajah Aldo. Mungkin Nando ingin membuat wajah tampan Aldo turun level. Mana mungkin bisa?


Cewek-cewek berteriak histeris. Tak terima cowok setampan Aldo harus bonyok ditangan Nando.


"NANDO STOP!"


Nando mengambangkan pukulannya. memalingkan wajah.


Bella.


Bella menghampiri Nando. "Kenapa lo pukul Aldo?"


"Gu-gue, g-gue..."


Celaka. penyakit Nando kumat, Nando sangat gugup saat ini. apa yang harus dijelaskan ke Bella? apa Nando akan bilang dia ingin bunuh Aldo? bisa-bisa Bella membunuhnya juga.


"Lo marah sama Aldo? kalo lo marah, pukul dia aja!" Bella menunjuk Samuel dengan dagunya.


"Woy, kenapa gue jadi sasaran?" protes Samuel tak terima.


"Wajah lo tuh, emang cocok kok buat pelampiasan emosi orang."


Buset, Dia pikir gue apa? Samuel mendesis, marah. Ingin sekali menyumpal mulut pedas Bella dengan sepatu. Namun, dia memilih diam. Ini bukan saat yang tepat untuk berperang dengan Bella.


Bella menoleh ke Aldo, menghampirinya. Tangannya terulur mengusap lembut sudut bibir Aldo yang membiru karena pukulan Nando, berharap bisa meredakan rasa sakitnya. "Sakit ya?"


Aldo tak menjawab pertanyaan Bella. Dia menatap manik Bella. Tatapan mereka saling menumbuk. Bibir Aldo berucap lirih. "Maaf udah buat lo sakit."


Deg.


Bella mengulum senyum. Apa Aldo memberi sebuah tanda, jika dia mulai menyukainya?


Mata Nando terasa terbakar. Dadanya sesak. pemandangan macam apa dihadapannya sekarang? Samuel yang menyadarinya, segera menarik Nando membawannya pergi.


Bukan hanya Nando. Beberapa cewek yang melihat, juga ikut terbakar hatinya. Kenapa lagi-lagi Bella yang berhasil mendapatkan cowok setampan Aldo. terasa hidup tidak adil saja.


Aldo mencengkeram kuat tangan Bella yang sedang mengusap lebam diwajahnya.

__ADS_1


"Ugh....sakit Al." Bella merintih kesakitan. Tadi minta maaf, sekarang menyakitinya lagi. Cowok aneh. "Al, lepasin tangan gue sak...."


Jari telunjuk Aldo menempel dibibir Bella. Membuat Bella merapatkan bibirnya. Aldo mendekatkan bibirnya pada telinga Bella, berbisik. "Lo suka sama gue kan?"


Mata Bella membulat. Tubuhnya menegang. Pertanyaan macam apa ini? tentu saja jawabannya iya.


Bella mengangguk sesekali, tanpa ragu. Aldo hanya menatapnya dingin. Ekspresi Aldo tak bisa di tebak. Apa Aldo akan menembak Bella saat ini juga? beberapa mata menjadi saksi jika hari ini Aldo menembaknya.


"Lo." Aldo memberi jeda. Bella sudah tidak sabar apa kalimat selanjutnya. "Harus jauhin gue!"


Aldo melepaskan cengkeramannya pada pergelangan Bella dengan kasar, lalu melengang pergi. Meninggalkan Bella yang masih diam mematung ditempat.


"Gue kira bakal di tembak tuh cewek."


"Ternyata Aldo masih normal."


"Masih ada kesempatan buat mepet Aldo."


"WOY! percuma lo semua bisik-bisik, gue gak tuli ya." Teriak Bella mengkagetkan beberapa cewek dikantin itu. Bella melenggang pergi begitu saja.


Mereka hanya menahan tawa. Sebenarnya mereka sengaja berbisik dengan suara yang keras, agar membuat Bella semakin emosi.


*****


BRAK.


Samuel dan Darel hanya diam. Nando sudah menghancurkan beberapa kursi yang tidak terpakai dalam ruang itu. Memang gudang sekolah adalah tempat yang cocok untuk Nando saat ini.


"Sam, sampai kapan tuh bocah kaya gini?" Darel sudah mulai jenuh. Dia ingin kembali ke kelas tapi Samuel melarang.


"Sampai tuh tangan patah." Jawab Samuel enteng. Dia tak peduli, yang akan merasakan sakit juga Nando, bukan dirinya. Itu yang terpenting bagi Samuel.


"Kenapa kalian disini?"


Samuel dan Darel tertegun. Aldo sudah ada diambang pintu. Menghampiri mereka.


"Lo ngapain sih Al, kesini? Lo mau cari mati?" Samuel panik. Jika Nando yang sekarat dia tak peduli, tapi jika Aldo entah kenapa jiwa kepeduliannya muncul.


"Al, lo balik kekelas, disini gak aman buat lo!" Darel tak kalah panik. Nando masih sibuk menghancurkan kursi yang sudah hancur. "Buruan sono, Nanti lo dibunuh Nando tau rasa lo!"


Aldo menatap Samuel dan Darel bergantian. Khawatir? jelas terpampang diwajah dua manusia dihadapannya itu.


Bodoh. Batin Aldo.


"oke, gue kekelas" putus Aldo. Samuel dan Darel bernafas lega. "Biar Nando bunuh gue dirumah."


Aldo melengang pergi. Samuel dan Darel membelalak tak percaya.


"Rel, gue gak salah dengar kan?"


Darel hanya menggeleng pelan.


"Sumpah tuh bocah ******!"


Yang undah baca tinggalin like and commentnya ya.


Author butuh penyemangat nih.

__ADS_1


__ADS_2