Cowok Misterius

Cowok Misterius
Dua Tiga


__ADS_3

"Duh, Bel lo mau bawa gue kemana sih?" Protes Raisa. Ia sudah jengkel dengan Bella. Bella sejak tadi menyeretnya kesepanjang koridor tapi tak memberitahu tujuannya. "Gue laper, pengen kekantin."


Bella masih mencekal erat pergelangan Raisa. Membawa paksa Raisa disepanjang koridor. Pandangannya masih lurus kedepan. "Udah ikut aja."


"Katanya jam istirahat lo mau kekantin bareng Aldo." Raisa Berhasil menghentikan langkah Bella. Bella berbalik menatapnya. "Ini hari pertama lo jadian sama Aldo, jangan sia-siain."


Kenapa Bella bisa lupa. Benar kata Raisa ini hari pertama Ia dan Aldo pacaran, seharusnya ia merayakannya saat ini dengan Aldo.


Melihat Bella yang tiba-tiba termenung. Raisa menjentikkan Ibu jari dan jari telunjuknya, tepat didepan wajah Bella. Membuat Bella tersadar. "Jadi lo mau ngapain gue?"


Sepertinya Bella harus jujur saja dengan Raisa apa tujuannya sekarang. "Gue masih penasaran, Sa. Penyebab kematian Amira."


Raisa menatap Bella tak percaya. "Bel, sejak kapan kepo lo jadi sebesar ini?"


"Gue gak tau kenapa tiba-tiba gue jadi sekepo ini. Yang jelas, gue penasaran banget penyebab Amira bunuh diri."


"Seterah lo, deh. Gue ngikut aja," ucap Raisa pasrah.


"yaudah yuk." Bella langsung menarik kembali pergelangan Raisa. Raisa menyamakan langkahnya. "Soal gue sama Aldo, gue bisa kok ajak dia diner nanti malam."


Raisa hanya diam tak besuara. Mengikuti Bella yang entah kemana membawanya. Hingga Bella berhenti saat berpapasan dengan siswi yang membawa setumpuk buku.


"Stop!" Bella menghentikan langkah cewek didepannya. "Lo tau dimana kelasnya Amira yang bunuh diri kemaren tuh?"


Cewek itu menunduk. Tak berani menatap manik Bella . Ia Menggeleng cepat. "Ma'af kak, saya gak tau. Saya siswi kelas sebelas. Amira, kan kelas sepuluh."


Bella menoleh, menatap Raisa. "Emang iya, Sa. Si Amira tuh kelas sepuluh."


Raisa menatap Bella malas. "Lo gimana sih? Bukannya kemarin lo yang baca beritanya langsung, Lo juga bilang amira kelas sepuluh."


"Gue kok gak inget ya?" Bella cengingisan.


"Lo mah gak pernah nginget." Gumam Raisa.


"Yaudah pergi sana!" usir Bella. Membuat cewek didepannya ketakukan dan langsung pergi melewati Bella.


"Duh, siapa sih yang kenal sama Amira?" Tanya Bella frustasi. Raisa tak menjawab.


"Bel,"


Bella dan Raisa serempak membalik badanya.


Aldo.


Sejak kapan Aldo dibelakangnya?


Aldo berjalan menghampiri Bella. Maniknya dan Bella saling menumbuk. "Kenapa lo cari Amira?"


Bella berkedip. "gue gak nyari Amira, kok. Gue cuma mau nyari kelasnya, pengen tau aja temen dekat Amira siapa. Siapa tau gue dapat informasi penyebab Amira Bunuh diri."

__ADS_1


"Gue gak suka." ucap Aldo dingin.


Satu alis Bella terangkat. "Kena.."


"Gue gak suka lo ikut campur sama urusan orang lain." Potong Aldo. Bella masih bingung apa maksud Aldo. "Lo gak perlu cari tau kematian orang lain, Yang terpenting bukan lo yang mati, kan?"


Bella mengulum senyum. Ucapan Aldo barusan seperti memberi isyarat untuknya, jika Aldo tak mau kehilangan dirinya.


Raisa menautkan alinya. Mendengar ucapan Aldo sepertinya ada yang ganjil. Tapi Bella malah tersenyum.


Apa ya?. Pikir Raisa.


Bella mendongak menatap manik Aldo. "yaudah, gue gak bakal lagi kepo sama orang lain. Sekarang kantin yuk."


"gue udah kekantin."


Bella mengerutkan bibirnya. Kenapa Aldo pergi kekantin tidak dengannya.


"Lo kekantin aja." Aldo menatap Raisa dingin. Raisa memalingkan wajahnya. "Bareng Raisa."


"Tapi Al.." Belum selesai Bella berucap, Aldo sudah melenggang pergi begitu saja. Bella menganga tak percaya.


Raisa mendekat. "Sabar Bel."


Tangan Bella terulur memegang bahu Raisa. Mengoncangkan tubuh sahabatnya. "Dia tuh pacar gue bukan sih, Sa?"


"Kenapa lo tanya sama gue?"


"Aldo."


"Sa..!"


*****


"Jadi kapan nih, do lo kenalin kita sama Samiyem?." Darel malah tertawa ketika Nando melototinya.


Samuel yang mengikuti mereka juga ikut tertawa.


Mereka selesai dari kantin, berjalan dikoridor menunuju kelas.


Nando jengkel mendengar suara tawa dua temanya ini. Ia harus bisa memperkenalkan gebetan barunya ke mereka. "Jadi kapan kalian ada waktu?, gue mau kenalin cewek gue ke kalian."


Samuel dan Darel menghentikan tawanya.


"Bawa aja kerumah, tapi lo beneran gebet cewek, kan?" Samuel bertanya curiga. Biasanya Nando selalu gagal mendekati cewek manapun.


Nando berdecak. "Ya iya lah cewek. Emang gue kaya lo, Sam. Gay."


Samuel menjitak kepala Nando, hingga Nando meringis kesakitan. Ia tak terima dengan ucapan Nando. "Enak aja bilang gue gay. Tanya aja sama Aldo gue gak pernah tuh meluk dia pas tidur, iya kan Al."

__ADS_1


Samuel menoleh kebelakang, Darel dan Nando juga mengikutinya.


"Aldo mana?" Tanya Darel bingung. Dua temannya juga tidak tau. Mereka sibuk dengan pembicaraan mereka sampai tak mengetahui Aldo pergi kemana. Padahal keluar dari kantin tadi mereka masih berempat.


Samuel menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Kalian ngerasa ada yang aneh gak sama Aldo?"


Darel dan Nando menatap Samuel penasaran. Maksud dari ucapan Samuel apa?


"Sekarang gue mau jujur sama kalian. Gue tau semua rahasia Aldo. Aldo itu sebenarnya.." Samuel menatap Darel dan Nando bergantian. Dua temannya itu sudah tak sabar apa ucapannya selanjutnya. "Sebenarnya lebih ganteng dari Nando!"


Samuel Tertawa keras. Darel hanya berdecak, ia kira Samuel akan bicara serius.


Sedangkan Nando yang lagi-lagi jadi bahan guyonan ia mendengus kesal. "Seenggaknya gue sama Aldo saat ini berada diposisi yang sama."


Samuel menghentikan tawanya. "Apanya yang sama?, jelas-jelas beda jauh. Aldo ganteng kaya gue, lah elo secuil aja kagak ada."


"Ada kok yang sama dari gue sama Aldo, tapi lo malah gak ada." Nando menatap Samuel sinis. "Gue sama Aldo sama-sama punya cewek, lah kalo lo?"


Kali ini Nando tertawa puas. Darel juga ikut-ikutan tertawa, padahal Darel juga tidak punya cewek.


"Gue gak punya gebetan, tapi.." Samuel tersenyum kecut. Kedua sahabarnya berhenti tertawa. "Gue udah punya pacar."


Samuel melangkah pergi. Darel dan Nando hanya menatap punggung temannya yang semakin menjauh. Bingung, benarkah ucapan Samuel?


"Emang iya?" tanya Nando yang masih belum percaya.


Darel berkedip beberapa kali. Jika dipikir-pikir sejak kelas sepuluh Samuel memang sering menghindari cewek yang mendekatinya. Apa itu alasan Samuel, karena dia sudah punya pacar. "Tapi siapa?"


"Siapa?"


Darel dan Nando serempak menoleh. "Aldo!"


Aldo berjalan menghampiri dua temannya yang masih berdiri ditempat.


"Lo tadi kemana aja?" Darel masih penasaran kenapa tiba-tiba tadi menghilang.


"Biasa," jawab Aldo datar. Darel mengangkat satu Alisnya. "ada urusan."


Aldo berjalan melewati mereka. Mengikuti arah Samuel pergi.


Darel menatapnya bingung. "Aldo, Samuel mereka sama."


Nando menautkan alisnya. "maksud lo mereka anak kembar."


Darel mendengus kesal. "Mulai sekarang lo jangan lagi makan cicak mentah."


Nando menggaruk rambutnya yang tak gatal. sejak kapan dia makan cicak.


"Banyakkin makan ikan. Kalo perlu lo sekalian aja tinggal di laut biar bisa makan ikan yang banyak, biar lo tambah pinter juga." Darel melenggang pergi.

__ADS_1


Nando paham. secara tidak langsung Darel mengatakan bahwa Nando tidak pintar. Tapi Nando tidak peduli ia lebih penasaran dengan ucapan Darel. Apa maksudnya Aldo dan Samuel sama?


Jangan lupa like and comment ya!


__ADS_2