
Kejadian tadi malam, masih terngiang dikepala Nando. Sampai sekarang Nando juga belum tau apa alasan Alisa, tiba-tiba pergi begitu saja. Nando tak sempat bertanya, Alisa sudah masuk kedalam taxi yang ia hentikan.
Setelah turun dari mobil, Nando ingin segera menemui Alisa dikelasnya.
"Woy mau kemana?" Tanya Samuel yang tau arah langkah Nando berbeda dengan mereka.
"Gue mau.." Nando menjawab ragu. "Temuin Alisa."
Samuel hanya membulatkan bibirnya sambil mengangguk.
"Gak usah!" Aldo menghentikan Nando yang nyaris melangkah, Nando menatapnya bingung. "Nanti aja, jam istirahat."
"Kena.." Belum sempat Nando bertanya kenapa Aldo melarangnya, Aldo melenggang pergi. Nando berdecak kesal. Tumben sekali Aldo melarangnya.
Menatap Samuel yang juga menatapnya. Darel menunjuk Aldo yang sudah melangkah jauh dengan dagunya, tanda bertanya 'kenapa'.
Samuel hanya mengangkat kedua bahunya, lalu melangkah pergi mengikuti Aldo.
"Udah." Darel menatap Nando yang berkacak pinggang. "Kekelas aja, gih."
Darel melenggang pergi. Nando membuntutinya.
*****
jam istirahat..
Menyusuri koridor sendiri, tanpa tiga sahabat yang biasa bersamanya. Aldo menghampiri cewek berkacamata yang duduk dibawah pohon, sambil memakan bekalnya.
Mengamati cowok yang duduk disampingnya. Cewek itu tertegun.
"Kenapa?" Aldo terus memperhatikan cewek disebelahnya, tangan mungil itu gemetar menutup kotak nasi dipangkuannya. Cewek itu tak menjawab pertannyaan Aldo.
Nyaris berdiri. Tangan Alisa ditahan Aldo, membut tubuhnya dibanjiri keringat dingin.
"Alisa."
Suara berat Aldo terdengar sangat pelan, hampir tak terdengar.
"Kenapa kamu berubah?"
Diam. Alisa tak berani menatap manik cowok disampingnya.
Aldo bisa merasakan tangan cewek yang ia cekal, terasa semakin gemetar. "Alisa jawab!"
"Kamu bukan Kak Aldo!" Alisa berbisik parau. Air matanya mulai menggenang.
Aldo tau, ia membuat Alisa ketakutan. Aldo tak tega melihat air mata Alisa mengalir dipipi manisnya. Menarik Alisa dalam pelukannya. "Alisa, ternyata kamu masih hidup."
"Kamu bukan kak Aldo!" Alisa memberontak. Pelukan Aldo semakin erat, Alisa hanya pasrah. Terisak dalam dekapan Aldo.
*****
Nando sejak tadi gelisah memikirkan Alisa. Samuel dan Darel hanya diam, menyantap makanannya, tak mempedulikan sahabat berambut keribonya itu sedang galau.
"Eh krupuk terasi, lo mikirin cewek lo?" Samuel menujuk Nando dengan sendok makannya. Nando hanya menatap Samuel, lempeng.
"Siapa lagi, Sam?" Darel terkekeh.
"Yaudah." Meletakan sendoknya dipiring, Samuel berdiri. Dua sahabatnya menatapnya bingung. "Kita temuin cewek lo, kita minta dia jelasin, kenapa tadi malam dia nyelonong pergi gitu aja. Gak ada sopan-sopannya."
__ADS_1
Nyaris tak berkedip. Nando menatap Samuel tak percaya. Tumben Samuel mau membantu dirinya. "Gue gak salah dengar kan?"
Samuel mendesis. "Kalo kelamaan, keputusan gue bisa berubah."
Berdiri. Nando menatap Samuel terharu. "Lo emang sahabat gue yang terbaik, Sam."
Terkekeh, Darel beringsut berdiri. Melirik Nando lewat ekor matanya. "Gak usah lebay, buruan temuin Alisa!"
Mengukir senyum. Nando mengangguk, lalu melangkah pergi. Kedua temannya membuntutinya.
Tiga cowok itu menyusuri koridor yang masih ramai, siswa DHANISTA berlalu lalang. Mereka berjalan menuju ruang kelas Alisa.
"Stop!" Samuel menghentikan langkah dua temannya, saat maniknya menangkap dua siswa dibawah pohon rindang.
"Kenapa?" Darel bertanya bingung.
Tangan Samuel terulur, menunjuk arah yang ia lihat. Darel dan Nando serempak menoleh kearah yang ditunjuk Samuel.
Aldo! Alisa!
Mata mereka serempak membelalak. Aldo berpelukan dengan Alisa. Apa maksudnya?
*****
Setelah selesai mengisi perutnya. Tiga cewek hitz DHANISTA keluar dari kantin. Menyusuri setiap lorong koridor sekolah, mereka mencari cowok tampan nomor dua setelah Aldo.
"Eh, Bella lo kok disini sih?" Cowok bertubuh jakung, dengan penampilan acak-acakan itu menghentikan langkah Bella dan dua temannya.
Sesaat, Bella menatap cowok didepannya, lalu memutar kedua matanya malas. "Mau gue disini, di jepang, di neraka, itu bukan urusan lo!"
Cowok itu mencebik. "Dulu lo ngejar-ngejar gue, sekarang udah ada Aldo lo buang gue. Dasar mantan!"
"Mantan, kan?" Bella mendelik. "Gak ada urusannya lagi sekarang!"
Mulut Bella terbuka lebar. Tak percaya ucapan cowok yang pernah menjadi kekasihnya itu.
Cowok itu hanya tersenyum. Lalu pergi.
"Aldo selingkuh!" Bella mendesis. "Gak mungkin lah."
"Kita coba cari Aldo," Sahut Raisa.
Bella mengangguk, lalu melangkah pergi diikuti dua sahabatnya. Tak lama, mereka menemukan Samuel, Darel dan Nando termangau di tengah korido. Mereka menghampiri.
"Kalian pada ngapain sih?" Tanya Bella penasaran.
Tak menjawab Samuel hanya menunjuk lurus. Tiga cewek itu menoleh sesuai tunjukan Samuel.
Nyaris tak percaya. Bella membelalak. "Aldo pelukan!"
"Alisa." ucap Nando. Tatapanya masih lurus. "Gebetan gue, direbut Aldo!"
"Cewek lo yang rebut Aldo, dasar cewek genit, ganjen, Pelac*ur!" Teriak Bella pada Nando. Nando menatapnya tajam.
"Maksud lo apa, ngatain Alisa kaya gitu!" Protes Nando tak terima.
Sedangkan dibawah pohon, Aldo masih memeluk erat Alisa. Tangis Alisa terhenti, saat maniknya terarah pada beberapa siswa yang menimbulkan keributan.
"Nando!"
__ADS_1
Aldo melepaskan pelukannya. Cewek dihadapannya ini tertegun. Aldo menoleh kearah Alisa menatap. Ternyata ketiga temannya disana, dan Bella juga. Pasti semuanya sudah melihatnya.
Kembali menatap Alisa. Aldo menangkup kedua pipi cewek berkaca mata itu. "Alisa, Kakak akan jelasin semuannya ke kamu, dan jangan pernah bilang ke siapapun, tentang hubungan kita."
Alisa mengangguk ragu.
"Cewek itu." Aldo menunjuk Bella. "Pacar kakak, dia mungkin tau dimana om Toni sekarang, kakak akan balas dendam, kakak pasti bisa menemukan keberadaan keluarga om Toni, Jadi kamu harus dukung kakak."
Alisa menunduk dalam. Ia semakin takut dengan cowok didepannya ini.
"Alisa, Kamu jangan dekati Nando." Aldo menatap tajam Alisa. Alisa mendongak, menatapnya tak percaya. "Mulai sekarang jauhi Nando!"
Alisa masih terdiam. Aldo bangkit dari duduknya.
"Sebaiknya kamu kekelas!" Aldo melenggang pergi.
Termenung. Alisa semakin takut, ternyata Aldo masih menyimpan dendam dengan om toni. "Kalo kak Aldo tau, Alisa sekarang tinggal satu rumah dengan istrinya om Toni, bagaimana?"
Sibuk menyaksika Bella dan Nando beradu mulut. Samuel yang pertama melihat kedatangan Aldo. "Eh Al."
Bella menghentikan perangnya dengan Nando. Menghampiri Aldo, mempertipis jarak mereka. "Dia siapa lo?"
Tangan Aldo terulur, nyaris menggenggam tangan Bella. Bella segera menepisnya kasar.
"Dia cewek Nando, kan?" Teriak Bella. Beberapa siswa yang ada dikoridor ikut menyaksikan.
Dua sahabat Bella dan tiga temana Aldo hanya bungkam tak berkutik, menyaksikan dua kekasih itu.
"Bukan!" Aldo menatap Bella dingin. Bella membelalak, kaget. "Dia bukan cewek Nando."
"Al, gue tadi malam udah kenalin ke lo, dia calon pacar gue!" Nando tak terima dengan ucapan temannya itu. Aldo sudah memeluknya tanpa ijin, sekarang bilang ke semua orang Alisa bukan ceweknya. Membuat Nando semakin kesal saja.
"Gak ada yang jadiin Alisa pacar." Aldo menatap Nando tajam. "Tanpa ijin gue!"
"Lo siapanya Alisa?" Mata Bella mulai menggenang. Aldo kembali menatapnya. "Kalian teman atau.."
"Lebih dari teman!" Potong Aldo.
Bella tak sanggung menahan air mata, pipinya mulai basah. Tangannya mengepal. Ingin sekali rasanya menampar cowok didepannya.
Satu langkah mundur. Bella tertunduk.
Dua langkah mundur. Air matanya terjatuh.
Tiga langkah mundur. "Brengs*k!"
Empat langkah mundur. "Cewek brengs*k!"
Aldo masih menatap cewek didepannya. Menarik nafas dalam. Ia sangat marah, tapi ia tahan. Tak mungkin Aldo meninggalkan Bella, ia harus ingat Bella kunci satu-satunya. Mulai melangkah menghampiri Bella.
Lima langkah. Bella mendongak, bahunya sudah dipegang Aldo. "Pergi!"
"Gue gak akan pergi." Sahut Aldo datar.
"PERGI! peluk lagi cewek pelac*r itu. Dasar Breng.."
Aldo membungkam bibir Bella. Mempertipis jarak wajahnya dan Bella. "Jangan pernah panggil Alisa, dengan sebutan pelac*r!"
Bantu support Author ya!
__ADS_1
Berikan semangat, saran dan kritikan ya..
Tinggalkan Like and Comment..