Cowok Misterius

Cowok Misterius
Tujuh Belas


__ADS_3

Nando jengah. Samuel sejak tadi mondar-mandir di depan televisi. padahal Nando sedang asyik nonton kartun. Ia mengambil bantal yang ada di sofa sampingnya, lalu melemparnkanya kearah Samuel.


Tepat Mengenai kepala Samuel. Nando tertawa.


"Woy!. apa-apa'an lo, mau cari ribut sama gue?" Samuel marah tiba-tiba Nando melemparinya bantal. padahal dirinya sedang gelisah.


Nando diam tak menjawab. Menatap Samuel lempeng. Seharusnya tanpa diberi tau, Samuel harus sadar diri, apa penyebabnya bantal itu melayang kearahnya.


.


Darel menatap Samuel dan Nando bergantian. Ia tau kenapa Nando melemparnya bantal. "Sam, lo kenapa? mondar-mandir, mondar-mandir..kagak ada kerjaan lain apa? nyuci baju kek, nyapu, atau cuci piring gitu!"


Dia pikir Samuel ibu rumah tangga disuruh nyapu sama cuci piring.


Samuel duduk di sofa samping Nando. Ia mencoba menenangkan diri. "Gue kepikiran sama Aldo, ini udah jam tujuh malam, belum pulang juga dari sekolah. Kalo tau kaya gini gue gak bakalan ninggalin dia tadi."


Nando berdecak. Ia bertopang dagu. Menatap kearah Samuel. "Sam, sam, lo tuh khawatir terus sama Aldo. Aldo tuh udah gede bro, udah hafal jalan pulang. lagian lo, sama Aldo peduli amat, kalo sama gue aja, lo ngasih ludah gak pernah pikir panjang." Nando menyipitkan pandangannya kearah Samuel. "jangan-jangan lo suka ya sama Aldo?"


Nando meringis. Samuel menjitak kepalanya. 


"Lo kira gue cowok apaan?"


Nando terkekeh geli. "habisnya lo juga gak pernah punya pacar sih, yang di nomor satuin Aldo terus. Jangan-jangan pas Aldo tidur lo apa-apain lagi!"


Nando mengaduh kesakitan. Samuel menjitaknya kedua kalinya.


Samuel juga tidak tau kenapa dirinya bisa sekhawatir ini dengan Aldo. Bukan karena Samuel gay, tentu saja ia masih cowok normal. Tapi dia belum menemukan cewek yang pas untuknya.


*****


Duduk diatas kasur. Menggigit jari telunjuknya. Bella berpikir bagamana cara menggagalkan kencan Aldo dan Vera malam ini.


Berpikir, berpikir, berpikir, terus berpikir.


"Aaarghhhhh!" Kenapa disaat seperti ini otaknya tidak bekerja. Bella frustasi, ia menjambak rambutnya sendiri.


Raisa yang tadinya diruang makan bersama Loli. Karena mendengar teriakan sang sahabat, iapun menghampirinya.


Duduk disebelah Bella. Raisa baru pertama ini melihat Bella gila karena cowok, Biasanya cowok yang tergila-gila dengan Bella. Apa ini yang dinamakan karma? "Bel, lo mikirin Aldo sama Vera, kan?" 


Menoleh. Bella menggembungkan kedua pipinya. Mengangguk mensetujui ucapan Raisa.


Raisa menghela nafas panjang. Ia sebenarnya tidak mau mengatakan tapi....."ini yang terbaik buat lo. Ikutin kata hati lo, gue gak larang."


Berkedip beberapa kali. Apa yang Raisa katakan? Tumben. Bella mengangguk. "pinjam mobil ya!" Mengambil kunci mobil dimeja, lalu berlari keluar kamar.


"Bel, tapi.." 


Bella sudah pergi. Bella salah mengerti ucapan Raisa. Maksudnya, Raisa tidak melarang Bella menyatakan perasaannya pada Aldo, bukan menyuruh Bella menemui Aldo saat ini.


Loli masuk kamar. Menghampiri Raisa. "Sa, Bella mau kemana? dia gak pergi jauh kan?"

__ADS_1


Raisa mengerutkan keningnya. "kenapa? tumben lo jadi kepo."


"soalnya dia pake piyama, rambut acak-acakan, gak pake farfum sama make up"


Raisa baru sadar. Bella pasti malu, ketemu cowok dengan penampilan seperti itu. Apa yang harus ia lakukan saat ini.


Telpon!.


Bella lupa bawa hapenya!. Kenapa Raisa jadi ikut frustasi?


*****


Samuel masih duduk disofa ruang tengah. Menunggu Aldo. Sudah Pukul delapan malam, Aldo belum juga pulang. Telponnya juga tidak aktif.


Darel dan Nando juga menunggu, Menemani Samuel. Tapi tidak seperti Samuel yang terlalu khawatir. Darel dan Nando malah terbahak-bahak melihat kartun lucu di televisi.


krett.


Suara pintu utama menarik perhatian mereka.


"Aldo!" teriak Samuel. Ia berlari, memeluk Aldo erat. layaknya ibu yang melihat anaknya yang baru ditemukan dari penculikan.


"Tuh gue bilang apa, Samuel itu gay. Dia cinta mati tuh sama Aldo!" Nando mencibir.


Samuel melepas pelukannya. Menatap Nando sinis. "bilang aja lo cemburu, gue meluk Aldo, kan?"


Nando meludah sembarangan. "Najis. Lagian gue udah punya gebetan. cewek lho gebetan gue"


Nando mendengus. Kenapa Darel masih ingat dengan nama Samiyem?.


"kapan-kapan bawa Samiyem kesini dong!" imbuh Samuel.


Samuel dan Darel tertawa keras sampai menangis. Entah kenapa, mendengar nama Samiyem perutnya geli.


Apanya yang lucu?. batin Aldo. Kenapa selera humor temannya itu selalu sereceh ini. "Gue ke kamar."


Aldo melangkah melewati Samuel.


"Lo lama banget kemana sih, Al?" tanya Samuel menghentikan langkah Aldo.


Tanpa menoleh Aldo menjawab "urusan pribadi." iapun melanjutkan langkahnya.


Samuel menggaruk tengkuknya. Urusan pribadi apa yang dilakukan Aldo sampai semalam ini.


Tok. tok. tok.


Ketukan pintu utama. Siapa? 


Darel dan Nando serempak menatap Samuel yang berdiri lebih dekat dengan pintu. Menyuruhnya membukakan pintu utama itu.


Samuel meraih kenop pintu. Perlahan terbuka. 

__ADS_1


Cewek bersurai ikal. Mengenakan atasan off Shoulder berwarna blue pastel, dengan bawahan denim short. Ia menyelonong masuk begitu saja.


Darel dan Nando nyaris tak berkedip melihat cewek dihadapannya itu.


"Woy, salah alamat!" Samuel membentak.


Menoleh. Cewek itu memainkan ujung rambutnya yang tergerai. "Aldo mana? gue mau ketemu Aldo!"


"ada urusan apa?"


Vera memutar matanya "kepo banget sih, lo!"


Samuel mendengus. "Gue gak ijinin, Aldo keluar malam!"


"Sam.."


Belum selesai Vera bicara, Samuel memotongnya "gue gak tega aja Aldo dibawa pergi jenis cabe-cabean kaya lo"


"cabe-cabean" Vera membeo. "cabe-cabean maksud lo!"


"Cabe dapur!" Sahut Darel.


"kebagusan kalo cabe dapur. cabe.." Samuel berpikir. "Cabe yang dilampu merah kali ya!"


Samuel dan Darel terbahak-bahak. Nando hanya diam. Air liurnya hampir menetes. Ia baru sadar, Vera teman sekelasnya secantik ini, sesexy ini.


Vera menatap Nando. Diantara tiga cowok ini hanya Nando yang tidak menertawainya. Vera tau sekarang. Ia tersenyum ke Nando, senyum yang paling cantik bagi Nando tapi tidak untuk Samuel, dan Darel.


"hai, do.!" Vera melambaikan tangan. Berkedip genit.


"haaii" Nando mulai luluh. Memang jika melihat cewek cantik Nando langsung jinak.


Darel berdecak. bersenandung "Samiyem, oy Samiyem"


"iya Aa," Samuel menirukan suara perempuan.


"Sama aku aj.." Belum selesai, sebuah bantal menghantam kepala Darel.


"Jangan macem-maceng lo sama gebetan gue," Ancam Nando. Ia melirik ke Vera. "sorry, gue gak tergoda ya sama cabe-cabean"


Vera berdecak kesal. Masa dia kalah dengan Samiyem. Bodo amat lah, ia kini mendekati Samuel, memegang lengan Samuel, namun ditepisnya. Vera mendengus. "Sam panggilin Aldo, ya" Vera membujuk. "kalo gue sama Aldo, lo sama Bella"


"Idih najis. amit-amit, dah"


"Mendingan sama gue, kan?"


"Iya"


"iya!"


"iya, iya dua kali lipat amit-amitnya."

__ADS_1


"Sam!"


__ADS_2